
Rakha pun pergi meninggalkan tempat tersebut dan kembali menemui Adi. Ia melihat Nayla yang juga berada disana.
"Eh, ada Nayla. Sudah lama sampai nya kah?" Ucap Rakha sembari mendekati Nayla dan Adi. Nayla sedikit terkejut melihat Rakha yang juga berada disana. Tampilan baru Rakha sekarang jauh lebih enak dipandang, dibandingkan beberapa bulan belakangan. "Sepertinya Rakha sudah bisa menerima keadaan." Pikir Nayla.
"Oh! Kamu juga disini Kha, kirain udah ngelupain teman. Bagus dech sekarang lebih fresh keliatan nya ya. Hahaha.. Apa aktivitas mu sekarang?"
"Hehe, ini juga pertama kalinya aku ketemu kalian setelah Rina pergi. Aku sadar, walaupun kami udah gak sama-sama tapi aku harus melanjutkan hidup. Rina juga gak ingin lihat aku terus terpuruk kan?"
"Iya juga sih, syukurlah kalau gitu. Masih kerja kah? Kuliahnya gimana?" Tanya Nayla lagi.
"Haha, kamu juga gak kerja? Kuliah sih cuti dulu. Nanti di lanjut lagi karna baru bisa menata hidup lagi. Perlahan juga kembali seperti biasa."
"Emm, iya sih. Beberapa Minggu ini gak kerja. Gak tau dech di pecat atau enggak karna kan harus mengurus adikku. Setelah di culik dia jadi kecelakaan. Ada banyak masalah yang dihadapinya." Jawab Nayla dengan raut sedih.
"Yang sabar ya Nay, semua juga sesuai pada masalahnya masing-masing. Tak luput dari masalah jika masih hidup. Namun perlahan kita bisa menyelesaikan nya hanya butuh waktu aja." Ungkap Rakha sambil menatap Nayla.
"Hahaha, iya kamu juga ya. Adi juga, kita bertiga harus kuat. Walaupun Adi akan pergi, aku dan Rakha berharap kamu juga selalu kuat Di." Jawab Nayla sembari menguatkan Adi.
"Iya, aku tau apa yang harus aku lakukan. Makasih ya, kalian udah repot-repot datang." Sahut Adi.
"Emm, ya udah aku pamit dulu ya. Kalian lanjut ngobrol aja. Hari ini aku udah mulai kerja lagi, tentunya dengan semangat baru. Walaupun tempat itu banyak menyimpan kenangan aku dan Rina. Tapi, aku udah bisa menerima nya." Tutur Rakha.
"Ya, semangat Rakha." Jawab Nayla.
"Rakha? Hati-hati ya, semoga kapan-kapan bisa bertemu kembali." Ucap Adi.
"Oke, kalian juga jaga diri ya." Teriak Rakha yang melangkah semakin jauh hingga tak terlihat lagi.
Setelah itu, Nayla yang dari tadi terus melihat jam merasa tak tenang, Adi hanya memperhatikan nya. Ia tau, operasi adiknya akan segera dilaksanakan tapi perempuan yang datang bersama nya tadi tak terlihat jua batang hidungnya.
"Ada apa Nay? Wanita itu belum ada kabar nya juga ya? Apa enggak coba telpon aja mungkin dia udah ninggalin kamu." Ucap Adi.
"Hmm, gak mungkin dia ninggalin aku. Aku tau dia orangnya gimana. Aku takut aja ada masalah dengannya, benar katamu sebaiknya aku telpon aja dech." Jawab Nayla sembari mengambil handphonenya guna menelpon Meimei. Setalah ia mendengar Meimei berbicara barulah ia sedikit lega, tak lama kemudian Meimei pun datang.
"Ibu kecil, maaf membuatmu menunggu lama. Meimei kesulitan mencari toiletnya. Apa ibu kecil udah selesai? Kalau iya, Ayuk kita pulang."
"Semoga apa yang kamu bilang kembali kepada mu juga ya, aku akan baik-baik saja." Jawab Adi.
Nayla hanya tersenyum perlahan meninggalkan Adi yang kini diam sendiri di pemakaman Ibunda nya.
Disamping itu Theo berbicara pada dokter yang bertugas menangani operasi Putra, dengan persetujuan Theo juga operasi Putra dilaksanakan tanpa menunggu banyak waktu terbuang. Ada Theo semua pasti akan baik-baik saja. Theo memang selalu sigap dan cepat dalam hal membantu apalagi membantu adik dari calon istrinya. Ia ingin hasil yang terbaik, biaya bukan masalah baginya. Dalam detik itu juga operasi Putra dilakukan. Lalu Theo menelpon Nayla.
"Halo, Dimana? Oh. Putra sedang operasi. Berdoa lah agar diberi kelancaran. Ya, aku menunggumu."
Ucap Theo dan Nayla pun menjawab.
"Theo, makasih banyak ya udah membantu ku. Aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu."
"Apa? Ini pernyataan dari hati kan?"
"Ya iya lah, kamu percaya kan? Memang terkesan cepat sekali tapi aku udah gak bisa menyimpan nya lebih lama lagi. Aku bilang ini di depan adikmu, ia hanya tersenyum saja pura-pura tak mendengar. Sedikit malu tapi aku menyukai nya." Tutur Nayla penuh perasaan, ia berhasil mengatakan cintanya.
"Hehe, Meimei udah dewasa. Dia pasti udah tau. Berhati-hatilah di jalan ya. Aku juga mencintaimu. Love you Nayla." Balas Theo bahagia.
Wajah Nayla memerah, melalui telpon saja ia udah baper setengah mati. Apalagi jika bertemu, pasti hari-harinya ditumbuhi dengan cinta. Semoga besarnya cinta mereka bisa mengalahkan semua masalah dalam kehidupan. Seperti yang Rakha bilang hidup tak luput dari masalah.
Dan Rakha, kini hidup nya mulai terarah. Berkat perkataan Meimei ia bisa melanjutkan hidupnya kembali, tetapi Marissa terus mengikutinya. Ia tak bisa jatuh cinta pada Marissa, berulang kali Rakha mencoba tapi tetap hatinya menolak. Besarnya cinta Marissa pada Rakha tak pernah Rakha anggap, perjuangan Marissa seperti nya sia-sia.
"Rakha, mulai hari ini juga aku ikut kerja di tempat mu. Aku selalu menemani mu selama ini." Ucap Marissa kepada Rakha yang ingin pergi bekerja.
"Ya gak bisa lah, kamu kan bukan karyawan."
"Bisa dong, aku udah diterima bekerja disana juga. Ayuk!!! aku ikut nebeng. Aku mau sama kamu pokoknya. Dikampus udah gak ketemu kamu, massa di rumah juga ga ketemu kamu. Aku putuskan bekerja aja agar bisa bersamamu." Sahut Marissa lagi, yang tiba-tiba sudah di motor Rakha.
Rakha hanya menghela nafas panjang, tak bisa menolak lagi. Sudah berulangkali bersikap kasar sama Marissa tetap saja wanita ini mengikutinya.
Tak ada pilihan lain selain mengiyakan nya. Mereka pun berangkat kerja dan betapa senangnya Marissa saat dibonceng Rakha.
"Semoga perlahan kamu bisa menerima cintaku Rakha, aku akan terus berjuang selama kamu belum memiliki wanita lain. Jika ada pun, aku akan tetap berjuang untuk cintaku." Gumam Marissa.