
Jika Nayla sangat berbahagia bertemu dengan anak sambung nya yakni Xinyue, beda cerita dengan Adi yang bingung dengan keadaan. Dalam duka nya akhirnya ia mendapatkan kecerahan warna dalam hidupnya lagi.
"Paman.. Qiara mohon, kita tetap disini saja ya. Qiara ingin tinggal di kota ini saja."
"Tidak bisa Qiara, paman sudah tak ingin tinggal dirumah itu lagi. paman harus melupakan semua kejadian yang pedih ini." Jawab Adi.
"Paman tidak bisa sendiri disini, Paman ingin memulai hidup baru dengan suasana yang baru juga. Mamanya paman udah tiada jadi paman tak bersemangat tinggal disini." Sambung Adi.
"Nak, ayo kita pergi. Kenapa tidak ingin tinggal bersama ayah dan ibumu. Bukannya bahagia bisa berkumpul kembali sama orang tua mu." Sahut ibunya Qiara yakni anak dari saudara ibunya Adi.
"Qiara bukan tidak bahagia tapi Qiara lebih nyaman tinggal disini Bu, Qiara ingin sekolah disini juga."
"Terutama Qiara tak ingin berpisah dengan kakak besar, bagaimanapun ia telah menolong Qiara. Menyelamatkan hidup Qiara." Batin Qiara.
"Waktunya sudah tidak lama lagi, ayok nak kita pergi. Kamu bisa sekolah di Jepang dengan teman yang lebih baik dari sekolah lamamu." Ucap Ibunya.
Saat ibunya Qiara sedang berbicara dengan Qiara tiba-tiba handphone Adi berdering keras, dilihatnya nomor tidak dikenal. Awalnya ia tidak mempedulikan handphone nya dan beranjak pergi. Tapi handphone nya terus berbunyi hingga tak bisa mengabaikan nya lagi.
"Sebentar ya kak, ada telepon nih." Ucap Adi pada ibunya Qiara lalu Adi menjauh sedikit dari hadapannya. Ia pun mengangkat telponnya.
"Halo? Maaf dengan siapa ya?." Ucap Adi yang tak kenal siapa dibalik suara itu. Terdengar suara perempuan tetapi ia tetap tak kenal.
"Yaa.. Halo, ini aku Ani. Bagaimana keadaan Qiara ya? Maaf aku mengganggu mu karena ini sangat penting menurutku. Jadi Qiara benar kecelakaan?."
Ujar perempuan dibalik telepon tersebut.
"A-ani? Emm.. siapa ya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya? maaf Qiara baik-baik saja, Tidak mengalami kecelakaan. Yang mengalaminya adalah Putra teman sekolah Qiara, emm.. tunggu dulu, ini Ani ibu gurunya Qiara bukan?." Ucap Adi kembali mengingat nya. Karena sebelumnya hanya berkenalan dengan gurunya Qiara saja yang bernama Ani.
"Ya kamu benar, maaf aku baru menghubungi mu setelah perkenalan kita di sekolah waktu lalu karena sibuk dengan pendaftaran CPNS, dan bersyukur aku telah diterima menjadi pegawai negeri sipil (PNS) untuk merayakan nya bagaimana kalau kita minum teh bersama?." Jawab Ani antusias.
"Baguslah kalau begitu, tapi mohon maaf aku tidak bisa karena hari ini juga aku pindah ke Jepang." Balas Adi yang menolak ajakan Ani dengan sopan.
"Yah, sayang sekali kita tak bisa berjumpa, aku terlambat ya. Semoga lain waktu bisa berjumpa lagi Aku masih ada hutang janji padamu. Tapi mengapa begitu mendadak pindahnya? Bukannya nama Qiara masih tercatat sebagai siswi di sekolah nya?." Sahut Ani penasaran.
"Eeemm... kamu tak perlu sungkan ya itu hanya janji minum teh saja. Iya sih, karena sesuatu hal yang mengharuskan aku tidak bisa berada disini lagi. Dan Qiara ikut bersamaku juga, Maaf ya." Jawab Adi sedikit merasa bersalah.
"Tak mengapa, ya sudah hati-hati ya. Semoga selalu dilindungi tuhan." Balas Ani lagi.
Adi ingin beranjak pergi menemui Qiara dan ibunya, tapi handphone Adi berdering sekali lagi. Dilihat handphone nya ternyata yang menelpon adalah kuasa hukum dari Ibunda Adi. Adi mengernyitkan alisnya entah apa yang dipikirkannya, lalu ia pun mengangkat telepon nya untuk kedua kalinya.
"Halo? Iya? Oh ya bicara saja pak." Jawab Adi.
"Makasih nak Adi udah mau berbicara, saya tadi sudah ke kediaman anda tapi tak ada seorang pun yang berada disana. Rumah tertutup rapat tetapi bersyukur nomor handphone nak Adi masih bisa dihubungi. Saya ingin menyerahkan surat wasiat yang ditulis oleh ibunda nak Adi semasa hidupnya." Jawab kuasa hukum tersebut.
"Apa? Mama menulis surat wasiat? Koqq bisa?."
"Ya tentu bisa, beliau menulisnya jauh dalam keadaan masih sehat. Bisa nak Adi bertemu dengan saya? Ini sangat penting mengenai pembagian harta warisan, kalau bisa silahkan hubungi saya jam dan tempat nya kembali. Baik seperti itu saja yang ingin saya katakan. Terimakasih ya." Ucap kuasa hukum dengan serius. Ia ingin mematikan sambungan teleponnya tetapi Adi menahan nya.
"Sebentar pak, bukan nya harta yang di punya adalah milik dari papa saya. Mengapa ada kata pembagian?." Tanya Adi penasaran. Selama ini Adi hanya tahu jika papa nya yang bekerja keras untuk semuanya, apa mama nya itu masih mempunyai hak atas perusahaan yang papa nya tekuni itu.
"Sepertinya anda belum tahu banyak, sebaiknya kita berbicara secara langsung saja ya." Jawab kuasa hukum ibunda Adi.
"Begitu ya pak, kalau begitu apa besok pagi bapak ada waktu? Kita bisa bertemu besok pagi di rumah saya pak." Sahut Adi yang masih penasaran.
"Baiklah, saya akan kesana. Terimakasih nak Adi. Mohon maaf telponnya saya tutup dulu karena ada urusan yang harus saya selesaikan." Ucap nya dengan sopan dan Adi mengiyakan perkataan dari kuasa hukum ibunda nya.
"Sepertinya mama menyiapkan semuanya untukku, aku gak bisa pergi begitu aja. Beliau ingin aku ada disini, baiklah ma! Adi akan berjuang untuk mama sekali lagi." Ujar Adi dan dia tetap manatap handphone nya kemudian mengirim pesan kepada Bu guru Ani.
"Aku tidak jadi pergi ke Jepang, kamu masih bisa melunasi hutang janji denganku." Tulis Adi.
Suara handphone Ani berbunyi dan di lihatnya pesan dari Adi. Ani sangat bahagia lalu ia pun menjawab pesan Adi dengan cepat.
"Sepertinya kita memang ditakdirkan bertemu kembali, aku akan atur pertemuan kita." Tulis Ani.
"Baiklah, semoga kita bisa berteman baik." Tulis Adi lagi dengan senyuman dan Ani menjawab.
"Hahaha, aku harap begitu." Tulis Ani lagi.
Kemudian mereka pun tersenyum bahagia, Ani jauh lebih bahagia saat tahu Adi tidak jadi pindah ke Jepang, tapi dia juga penasaran mengapa tidak jadi pindah. Tak ingin mengetahui alasannya dari Adi karena yang terpenting baginya adalah Adi bisa bertemu lagi dengannya.
"Terimakasih Tuhan.. telah mendekatkan ku dengannya, aku ingin menjadi seseorang yang lebih dari teman untuk nya." Pikir Ani berharap.