ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C37. Melamar di pemakaman



Sementara itu...


"Nay, emm.. aku sudah membayar semua biaya rumah sakit Putra termasuk biaya tahap pemulihan pasca operasi nya. Kamu jangan khawatir lagi ya." Ucap Theo memberi tahu.


"Beneran? aduhh maaf merepotkan mu aku akan bayar nyicil yaa. Ini kamu pegang semua tabungan ku yaa aku janji pasti akan mengembalikan semua uangmu." Jawab Nayla.


"Tapi harus berapa puluh tahun aku melunasinya, kerjaanku aja cuman sebagai SPG sama sampingan yang ga seberapa. Tabunganku gak ada apa-apanya dibandingkan nominal yang harus dikeluarkan di operasi Putra. Beruntung ada orang baik yang menolongku tanpa harus melakukan pekerjaan yang menjijikkan. Dipikir, jadi pembantunya seumur hidup pun bukan hal yang buruk. Bersyukur enggak jadi Rika, si cewek yang melemparkan tubuhnya ke ranjang hidung belang." Pikir Nayla sembari melamun, ia tak mendengar kan ucapan Theo sama sekali. Beberapa kali Lingtheo mengayunkan tangan nya di depan wajah Nayla.


"Ehhh.. iya? Maaf aku jadi ngelamun, kamu bicara apa tadi. Kerumah sakit kah? Ayo kita kesana sekarang." Ucap Nayla dengan gerak semerawut. "Gadis ini, seenaknya aja mau langsung kerumah sakit. Bahkan dia tak mendengar apa yang aku ucapkan. Hmm.." Lingtheo berbicara dalam hati.


"Nanti dulu, kita berteduh sebentar di bawah pohon rindang itu." Ucap Lingtheo menunjuk sebuah pohon karena cuaca hari ini di China begitu panas, tak tahan baginya terlalu lama di bawah terik matahari. Mereka pun mendekati sebuah pohon lalu duduk disana dan Theo melanjutkan apa yang hendak dikatakannya.


"Aku punya penawaran untukmu, Menikahlah denganku! Maka semua hutangmu dianggap lunas."


"APAAA???" Nayla kaget bukan kepalang, tak pernah berpikir akan menikah dengan pria ini. Malah dipikiran Nayla ia akan menjadi pembantu seumur hidupnya.


"Menikahlah denganku!!!"


"Emm.. aku udah denger koqq, aku cuman kaget aja tadi. Kamu yakin mau nikah? Koqq gampang banget yaa bilang menikah! Ini adalah perkataan yang sakral loh, tunggu bentar kenapa aku harus menikah dengan mu? Aku bisa koqq melunasi hutangku. Ini masa depanku, aku gak bisa sembarangan menikah dengan seorang yang ga ada cinta didalam nya." Ucap Nayla.


"Biarin aja dech, emang enak? melamar ditempat kayak gini, mana gak ada romantisnya lagi nih cowok. Aku gak semudah itu terima lamaran mu, hughh." Gumam Nayla. Dan Theo pun berpikir. "Hmm, gadis ini masih ingin tawar menawar disaat begini. yakin akan menyulitkan ku? Masih mau tarik ulur ya baik aku ladenin dech."


"Oh, jadi kamu menolak? Gampang koqq lunasi hutangmu dalam 3hari ini, jangan coba tawar menawar lagi. Ini sudah harga mati."


"Ehh koqq jadi gini sihh, mana bisa aku melunasi hutang nya dalam 3hari. Dari mana dapat uang sebanyak itu dalam 3 hari, aishh. Ya sudahlah aku juga gak mungkin membiarkan adikku kenapa-kenapa. Menikah dengan nya bukan hal buruk juga." Gumam Nayla dalam hati.


"Emm, hehe. Bukan begitu, aku masih kaget aja jika harus menikah secepat ini. Lagian masih harus melihat Putra juga kan. Tapi aku bersedia menikah denganmu, tunggu Putra sembuh yaa." Jawab Nayla sembari menggaruk kepalanya sedikit malu rasanya dan terlihat canggung.


Kali ini pembicaraan mereka sudah begitu serius, Nayla hanya berpikir apa yang menimpa nya belakangan ini, kenapa hidupnya begitu sial. Terjebak dalam kehidupan pria yang sudah memiliki anak? Atau bahkan dia menjadi orang ketiga, atau bahasa gaulnya zaman sekarang pelakor.


"Hah? Koqq alurnya jadi gini sih? Apa mungkin aku akan jadi pelakor? Gak mungkin kan anaknya lahir sendiri atau Theo melahirkan! Pasti ada ibunya dong yaa, Nayla sial amat sih hidupmu." Gumam Nayla dengan wajah tak nyaman setelah mendengar kejelasan dari Theo.


" Terus kenapa kamu mencari istri lagi? Kan udah punya anak dan istri. Aku gak bisa menikah dengan pria yang sudah beristri, apa kata dunia. Semua akan membenciku! Pilihan yang lain aja, aku gak bisa untuk yang satu ini." Tegas Nayla.


"Kamu salah paham, aku akan menceritakan semua masalalu ku denganmu. Beberapa hari yang lalu tepatnya saat Putra dinyatakan hilang dan di culik itu, aku resmi bercerai dengan ibu dari anakku. Sebetulnya aku sangat kecewa dengan keputusan nya ini, bertahun-tahun aku menunggu kesembuhan nya dan berharap akan selalu bersamanya tapi dia dengan mudah melayangkan surat cerai melalui kuasa hukumnya, tak ada pilihan lain bagiku selain menandatangani surat itu. Karena ini kedua kalinya ia meminta cerai, aku pikir cinta pertama ku akan menjadi cinta terakhirku. Karena aku percaya cinta sejati itu ada, tapi ternyata salah. Cintaku kandas dalam 7tahun saja. Aku masih sangat kecewa, patah hati, berasa perjuangan ku selama ini tak dihargainya tak pernah ada dalam hidupnya, cinta yang kutunggu kapan pun itu telah musnah. Aku mencintainya tanpa syarat, mau dia sakit keras pun tak akan merubah apapun. Tapi hari itu, saat perceraian itu terjadi aku putuskan membuang semua cerita cinta yang pernah aku bangun dengannya. Cintaku telah mati, semua tentang nya tak akan pernah ku ingat lagi." Tangisan Theo pecah di depan Nayla, ia meluapkan semua yang ada dihatinya, kekecewaan yang amat berat.


Nayla melihatnya ikut bersedih, dengan spontan ia memeluk Theo yang saat itu butuh ketenangan.


"Luapkanlah semuanya.. jangan ada perasaan yang ditahan lagi, karena setelah ini aku akan membuat hidupmu lebih berwarna lagi bahkan kekecewaan ini akan hilang dalam pikiran mu mengenai dia. Aku akan membawa cinta sejati dalam hidup mu dan menjadi cinta terakhir mu selamanya." Ucap Nayla sangat serius, ia tak peduli lagi tentang perasaan nya. Dia harus membuat Theo hidup dalam kebahagiaan, karena dari kemarin pun Nayla sudah tertarik pada Theo. Walaupun tak tahu itu rasa cinta atau sekedar kagum. Yang terpenting Theo telah masuk dalam hidupnya. Ditambah lagi ia telah banyak membantu dan memiliki adik yang begitu baik, pasti hidupnya selalu dikelilingi kebaikan.


"Terimakasih banyak begitu cepat hadir dalam hidup ku, disaat aku berpikir tidak memiliki keinginan untuk hidup lagi. Tapi berkat kamu dan anak yang akan menjadi anakmu nanti, aku bisa melewati hidup ini. Nayla.. berjanji lah, kamu akan tetap menjadi perempuan terakhir dalam hidupku." Dan Nayla pun menjawab. " Aku Nayla, berjanji. Akan menjadi cinta terakhir mu dan kamu adalah cinta terakhirku."


Kruyukkkkkk...


Suara perut Nayla berbunyi begitu keras, hingga terdengar ketelinga Theo. Theo pun melepas pelukannya dan tertawa kecil.


"Hahaha. Kamu sepertinya sangat lapar, kita lanjutkan berbicara di restoran aja yaa sambil makan." Ucap Theo


"Eh? Maaf, hari pertama aku menjadi kekasihmu sudah membuatmu malu." Jawab Nayla


"Emm.. kamu gak perlu minta maaf, lagian itu hal yang lumrah kok. Panggilan alam namanya semua orang pasti merasakannya. Hehe"


"Hahahaha gitu yaa, yaudah yukk." Balas Nayla sambil beranjak pergi meninggalkan pemakaman dan mereka pun terlihat bahagia. Berpegangan tangan menuju parkiran mobil dan melaju dengan kecepatan sedang.