
Setelah seharian melihat lokasi syuting, mereka terasa cukup puas akan hasilnya. Hanya saja, mereka harus memulai waktu yang pas untuk pengambilan gambarnya. Saat makan malam tiba.
"Besok sepertinya kita udah bisa memulai pengambilan gambar nya. untuk waktu. saat pagi hari lebih bagus, jadi kalian lakukan seperti yang aku perintahkan saja." Ucap Lingtheo.
"Kakak? Sehabis dari Jepang, liburku masih tersisa panjang. Jadi, aku ingin kembali lagi ke China saja." Tutur Lingmei meminta kakaknya untuk mengizinkan berlibur ke China lagi.
"Boleh saja. Bukan masalah, atau ada keinginan untuk pergi ke rumah wai po saja kah? Sudah lama Meimei tak kesana." Ucap Lingtheo.
Lingtheo dan Lingmei memanggil nenek mereka dengan sebutan wai po. wai po dalam bahasa mandarin artinya nenek sebelah ibu. yahh.. Lingtheo dan Lingmei hanya mempunyai satu nenek saja.
"Hmm.. Meimei tak ingin kesana. Meimei ingin ke China saja setelah tugas iklan ini selesai ya kak. boleh kan? Masih ingin dekat sama ibu kecil." Jawab Lingmei.
"Ya sudah, aku tak pernah menghalangi keinginanmu." Balasnya tenang.
Nayla hanya menyimak pembicaraan dua kakak beradik ini, ia fokus makan. sesekali membalas chat Adi di ponsel nya. Nayla sering kali mengirim fotonya di jepang agar Adi dan Putra melihatnya.
Perjalanan nya hingga ke Jepang membuatnya banyak mendapatkan pengalaman baru. Ia berharap bisa melakukan yang terbaik untuk pekerjaan nya.
"Ibu kecil, aku ingin ke pemakaman ibu kandungku. Aku harap ibu kecil dapat menemani Meimei kesana."
"Baiklah, ibu kecil bersedia menemani Meimei kemanapun."
"Terimakasih ibu kecil. Aku sungguh menyayangimu." Ucap Lingmei sembari memeluk Nayla.
Keesokkan harinya..
Setelah makan selesai mereka mengawali perjalanan ke pemakaman. kali ini hanya Lingmei bersama Nayla saja. Lingtheo tak ingin mengikuti ke pemakaman ibunya.
Pemakaman ibunya lumayan jauh dari tempat tinggalnya, tetapi selalu di urus oleh penjaga makam. Sehingga selalu terawat dengan baik. Lingmei berhenti sejenak saat mobilnya melaju, ia ingin membeli beberapa plastik bunga dan air.
"Ibu kecil? entah mengapa kedatangan ibu kecil membuatku merasa senang. Yang biasanya aku datang ke pemakaman dengan langkah berat. Karena terus saja kerinduan yang aku rasakan itu selalu menghampiri. Aku bukan tak mengiklaskan kepergian ibu tapi rasa sedih itu selalu ada. dengan ditemani ibu kecil aku perlahan bisa mengurangi rasa sedihku." Tutur Lingmei.
"Tak mengapa. Aku sudah ada didekatmu, jadi tak akan pergi meninggalkan mu nak." Ucap Nayla. Tetapi ia jadi mengingat mendiang ibunya, ia sangat mengerti perasaan yang Lingmei rasakan. Lebih sedih lagi jika melihat adiknya Putra.
Mereka sampai dipemakaman yang terletak bawah kaki gunung. Yang bernama gunung Fuji. Terdapat di daerah Shizuoka tempat makamnya sangat luas dan tertata rapi.
Bagi keluarga yang ditinggal kan harus membeli tanah di tempat pemakaman ini walau statusnya sudah dibeli tapi tanahnya tidak bisa dimiliki oleh kita. Jadi, kita hanya bisa beli hak menggunakan tanah kubur. Nah tanah kubur ini setelah kita miliki. maka, kita harus membayar uang perawatan atau uang kebersihan dan keamanan yang dibayar perbulan. Tetapi tak ada masalah bagi keluarga Ling. Mereka tetap membayar sesuai kebijakan.
Mereka sedikit berjalan untuk menghampiri makam ibu kandungnya.
Tetapi sesampainya dimakam, Lingmei melihat kuburan ibunya sudah bertaburan bunga mawar biru kesukaan ibunya Lingmei. Bunganya terlihat masih segar seolah ada yang baru saja berkunjung ke pemakaman tersebut.
Lingmei hanya terdiam melihatnya. Tetapi pandangan nya penuh dengan pertanyaan. Ia mendekati nisan ibunya lalu mencium nya, berdoa sejenak dan menceritakan Nayla yang kini menjadi ibu kecil nya. Nayla hanya tersenyum sembari memandang wajah Lingmei dengan lembut. Ia merasa tersentuh.
Lingmei menekan tombol pada handphone nya, seperti nya ia menghubungi seseorang tapi Nayla hanya memperhatikan nya saja. Ternyata benar saja ia menelpon seseorang. Tak lama kemudian terdengar suara bapak paruh baya datang menghampiri.
"Iya ada apa non, ada yang bisa saya bantu?" Tanya bapak tersebut berbicara dengan bahasa Jepang.
"Apakah ada orang yang baru saja datang ke makam ini sebelum saya pak" balas Lingmei berbicara bahasa Jepang.
Karena Lingmei kuliah di Jepang. jadi ia sudah terbiasa menggunakan bahasa jepang dalam sehari-harinya.
"Memang betul ada seseorang yang selalu datang setiap harinya. ke makam ini, ia datang ditemani dengan supirnya saja. Bapak tak pernah menanyakan namanya tetapi ia sering kali menangis saat melihat pemakaman ini nak." Jelas bapak paruh baya tersebut.
"Bagaimana ciri-ciri dari seseorang tersebut pak. Mohon maaf banyak bertanya." Ucap Lingmei sangat sopan.
"Seseorang itu adalah wanita tua, saat ia berjalan masih terlihat sehat tetapi seperti tak ada semangat dalam hidup nya, bapak merasa wanita itu sangat kehilangan sesosok dalam makam tersebut." Jawab bapak paruh baya.
"Terimakasih pak, saya sudah mengetahuinya." Tutur Lingmei sambil memberi beberapa lembar Yen pada bapak paruh baya tersebut. Kemudian bapak tersebut menundukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan di negara Jepang, karena sudah tradisi nya.
Setelah bapak paruh baya itu berlalu. Lingmei kembali terdiam tetapi ia berpikir dalam hati. "Sampai kapan wai po seperti ini. Sudah bertahun-tahun setelah kepergian ibu. Mengapa ia tak bisa sedikit saja mengiklaskan anaknya."
Lalu Lingmei tak sadar meneteskan air matanya, Nayla yang melihat langsung mengelap air matanya dan memeluknya dengan erat. kemudian berkata.
"Aku mengerti perasaanmu. Menangis lah nak, ibu kecil akan selalu ada."
mereka pun berpelukan ditengah suasana makam yang sepi. Sangat dingin tetapi terasa hangat untuk Lingmei dan Nayla. Mereka memutuskan untuk pulang dan ditaburkan nya bunga mawar biru pada makam ibunya kemudian berkata. "Ibu aku pamit"
Drgttt.. Drgttt.. Dgrttt...
"Haloo. Iya kak sebentar lagi Meimei dan ibu kecil akan kesana." Ucap Lingmei
"Berhati-hatilah dan jangan terburu-buru saat mengemudi." Jawab Lingtheo mengingatkan adiknya.
"Ibu kecil kita harus ke lokasi syuting nya. Kakak sudah menunggu disana." Tutur Lingmei sembari memasukkan handphone nya ke dalam tasnya kembali.
"Baiklah. Biarkan ibu kecil saja yang mengemudikan mobilnya." Balas Nayla dengan lembut. Mengusap kedua pipi Lingmei yang masih basah karena tangisannya.
Mereka berjalan menuju keberadaan mobil dibahu jalan. Ditengah jalan Nayla mendengar suara tangisan anak kecil yang sedang duduk sendiri tepat di pemakaman seorang pria. Terlihat pajangan foto di atas nisan namanya.
Nayla tak tega melihatnya, ia jadi mengingat Putra. Karena anak kecil itu tak jauh beda seusia Putra. Nayla melepaskan genggaman tangan Meimei. Ia menghampiri anak tersebut.
"Jangan menangis. Anak baik tak boleh menangis, kakak jadi mengingat adik kakak. Ia begitu kuat, padahal ia seumuran dengan kamu. Ia berkata Putra sudah besar tak akan pernah menangis. Putra pria kuat mana mungkin bisa menangis. Padahal saat itu kedua orangtuanya telah tiada. Ia berkata akan menjaga kakaknya. Aku ingin dirimu seperti Putra. Orang yang kita cintai mungkin akan meninggalkan kita, tetapi kehidupan kita harus terus berjalan." Ucap Nayla memeluk anak tersebut.
"Ayahmu mungkin akan merasa sedih di alam sana jika dirimu terus saja menangis di pemakaman nya. berilah ayahmu kebahagiaan dengan membuat dirimu bahagia menjalani kehidupan." Sambung Nayla sambil mengelus rambut anak kecil tersebut, kemudian mengelap air matanya.
"Kakak benar, aku tak ingin ayahku bersedih melihatku menangis. Aku ingin menjadi seperti Putra. Terimakasih kakak begitu baik." Ucap anak tersebut.
Lalu Nayla memberikan beberapa lembar Yuan yang ia punya. tetapi belum sampai pada anak kecil tersebut Lingmei berkata. "Ibu kecil itu adalah mata uang China. Saat ini kita sedang dijepang. berikan adik kecil dengan yang ini saja."
Lingmei memberi beberapa lembar Yen pada Nayla kemudian mengambil Yuan yang berada ditangan Nayla.
"Kakak lupa. Kakak hanya punya Yuan saja. Tetapi ini untuk mu, jangan menangis lagi mulai detik ini ya." Tutur Nayla kepada anak kecil tersebut memberikan mata uang Jepang yang baru saja dikasih Lingmei.
Anak kecil tersebut memeluk Nayla dengan suasana hati yang sudah senang atas apa yang Nayla sampaikan.
Nayla dan Lingmei melanjutkan perjalanan nya menuju lokasi syuting.
Didalam mobil mereka berbicara santai tetapi Nayla mengemudi dengan kecepatan sedang agar tak lama menghabiskan waktu untuk melakukan pengambilan gambar.
Selama seminggu mereka menghabiskan waktu untuk pengambilan gambar, tetapi ada juga perjalanan yang membuat mereka bahagia. Nayla selalu menghubungi Putra, ia begitu merindukan adiknya dan ingin segera bisa pulang. Maka dari itu Nayla berusaha sebaik mungkin melakukan pemotretan dengan mengesampingkan gerogi dalam dirinya.
Sesampainya di lokasi syuting...
Semua crew sudah menunggu. Nayla melihat Lingtheo yang menyambut mereka dengan menyeringai, entah apa yang dipikirkan pria tampan ini.
"Wahh.. tempatnya begitu bagus, aku ingin mengambil gambar disini. Ibu kecil bisa bantu Meimei untuk mengambil gambar Meimei yang cantik ini." Ucap Lingmei memberikan handphone nya pada Nayla, Lingmei sangat antusias ingin berfoto dengan pemandangan bunga sakura yang mengelilingi nya.
Nayla pun mengambil foto Lingmei dengan bagus. Lingmei merasa senang kemudian berkata. "Kakak kemari lah, aku ingin mengambil gambar kakak bersama ibu kecil, sebagai kenangan saja." Lingmei menarik tangan kakaknya yang sedang memperhatikan tingkah laku mereka yang baru saja datang.
Nayla dan Lingtheo hanya menuruti keinginan adiknya tersebut. Lingtheo tahu, jika ia menolak Lingmei akan cemberut seperti anak kecil. Mereka pun berdiri berdekatan seperti patung.
Nayla merasa sungkan, tetapi Lingmei terus meminta lalu berkata.
"Kakak dan ibu kecil berikan senyuman. Emm.. tak usah melihat kamera, rangkul bahu ibu kecil kak. Lalu pandang wajahnya. Kalian saling pandang saja."
"Hmm.. senyum, ayolah." Tutur Lingmei sedikit memaksa keduanya. Mereka hanya bisa pasrah atas perkataan Lingmei, berfoto seperti layaknya sepasang kekasih. Setelahnya Nayla fokus pada pekerjaan nya saat pengambilan gambar sebagai bintang iklan brand. walaupun belum ada pengalaman tetapi nayla berusaha keras dalam menjalani nya.
[{*ILUSTRASI GAMBAR*}]
(ilustrasi gambar Lingmei)
*****