
Setelah dua minggu berlalu anak-anak akan libur panjang akhir tahun menurut kalender masehi. Dan hari ini adalah pembagian buku nilai belajar masing-masing anak membawa kedua orangtuanya.
"Dady menghadiri rapat Lathe aja ya. Mommy akan melihat Nathe." Ucap Nayla.
"Mommy kenapa gak ingin pergi ke sekolah Lathe?." Tanya Theo tersenyum.
"Mommy bosan mendengar gurunya memberikan nasehat mengenai prilaku Lathe sekali-kali Dady harus mendengarkan agar gak selalu melindungi nya." Jawab Nayla menatap Lathe.
"Baiklah, Lathe sama Dady ya?." Tutur Theo.
"Lebih baik sama Dady dong, kalau sama mommy Lathe gak tahan dengerin mommy ngomel mulu." Sahut Lathe tak suka di tatap Nayla selalu.
"Ya kan nilaimu gak ada yang bagus, jarang belajar bisanya cuma hura-hura." Balas Nayla dengan raut wajah cemberut.
"Sudahlah, anak sama ibu selalu gak pernah akur. Dady gak bisa membela salah satu dari kalian karena kalian sama-sama penting dalam hidup Dady." Ucap Theo menengahi pembicaraan.
"Yuyu hari ini juga ke kampus ada banyak tugas." Sahut Xinyue mengganti topik.
"Semangat sayang, belajar yang baik ya." Ucap Nayla tersenyum. dan Theo juga ikut menyahuti perbicangan itu.
"Setelah urusan Lathe selesai Dady akan menjemput Yuyu juga ya. Sudah lama enggak melihat kampus nya kamu nak."
Kampus yang dulu tempat belajar Theo dan Jia tentu meninggalkan banyak kenangan disana bagi keduanya tapi Theo ingin melihat kampus itu bukan karena mengingat Jia melainkan ingin melihat perkembangan dari kampus tersebut. Pasti lebih bagus dan maju jika perlu ia ingin memberikan sedikit bantuan agar lebih baik lagi.
"Terimakasih Dady, Yuyu tunggu ya." Balas Xinyue bahagia lalu ia pun pergi dengan terburu-buru.
Yang biasanya Lathe akan pergi bersama Nayla dan Nathe akan pergi bersama Theo sekarang keduanya bertukar tugas. Nathe melihat Nayla yang saat itu memperhatikan nya di kursi khusus orang tua. Pembagian raport sekaligus pengumuman juara terbaik, Nayla sangat bangga pada Nathe karena berhasil mendapatkan juara terbaik diantara semua siswa sekolahnya. Mewakili semua tingkatan Nathe lah yang paling berprestasi dan betapa terharunya Nayla saat itu.
Berbanding terbalik dengan kembaran nya. Theo pun merasakan apa yang setiap tahun Nayla rasakan setiap kali pembagian nilai hasil belajar selama setahun. nama Lathe tak terpanggil seperti seruan nama Nathe bahkan Theo di panggil ke ruangan guru untuk mengambil raport nya.
"Dengan orang tua Lathe?." Ucap guru bertanya.
"Betul Bu, Lathe anak saya." Balas Theo.
"Anak bapak sebetulnya sangat baik dalam nilai ekstrakulikuler kungfu, olahraga, kerajinan tangan, catur, dan masih banyak lagi tetapi sangat disayangkan pelajaran seperti itu bukan pelajaran umum yang ada di nilai raport jadi sebaik apapun kemahiran itu tak bisa menutupi semua kekurangan nya di bidang akademik. Sedangkan sekolah ini lebih mengutamakan nilai di bidang tersebut jadi dengan berat hati saya selaku guru di kelasnya hanya bisa memberikan nilai raport seadanya mohon bapak lebih perhatikan lagi belajar anaknya dibidang akademik ya. Ia menjadi siswa dengan nilai terendah di lima siswa yang mengikuti dibelakangnya artinya sangat kurang memuaskan bagi saya sebagai walikelas nya." Ucap guru tersebut menyayangkan.
"Baiklah Bu, maaf membuat Bu guru banyak bekerja karena nilai anak saya yang kurang bagus. Saya selaku orang tua nya bisa menerima apapun hasil dari belajar anak saya." Tutur Theo tak menyalahkan gurunya karena sadar bagaimana sifat Lathe itu sendiri.
"Baiklah terimakasih juga Bu." Ucap Theo sembari mengambil nilai raport Lathe dan berlalu dihadapan sang guru tersebut dengan cepat.
"Dady? Bagaimana. Apakah aku naik kelas?." Tanya Lathe, ia hanya bertanya apakah dirinya masih ada kesempatan melanjutkan kelasnya atau malah tinggal kelas. Ia sama sekali tak berpikir mendapatkan juara menurutnya naik kelas saja sudah cukup. Ia tak ingin bekerja keras dalam belajar lebih baik melakukan hal yang membuatnya lebih bahagia.
"Naik. Kita jemput kak Yuyu dulu ya." Ucap Theo singkat setelah bertemu anaknya.
"Dady memang terbaik, gak kayak mommy saat keluar dari ruang guru dia akan diam aja tapi saat di dalam mobil dia akan marah gak berhenti sampai masuk rumah dan masih marah hingga keesokan harinya masih saja di ungkitnya. Apa untungnya belajar teori jika bisa langsung praktek saja tapi sekolah sekarang sangat payah memberikan pelajaran sejarah yang tiada henti membuatku pusing dan tersiksa." Ucap Lathe memberi penjelasan pada Theo.
"Maksudnya mommy baik hanya ingin kamu lebih banyak wawasannya, semakin banyak membaca maka semakin banyak pengetahuannya. Jika sangat berat bisa di mulai sedikit demi sedikit nak, gak ada orang tua yang ingin menyiksa anaknya belajar itu kebutuhan agar lebih cerdas." Sahut Theo memberi nasehat dengan lembut.
"Hughhh.. jika benar-benar enggak suka mau bagaimana pun caranya pasti gak akan masuk dalam hati dan pikiran Dady." Ucap Lathe menghembuskan nafas yang terasa berat.
Theo hanya diam saja, sangat sulit baginya menjelaskan persoalan belajar pada Lathe. Di lain tempat jam kelas Xinyue telah usai, ia duduk sendiri di dekat tanam yang menghadap jalan raya. Tiba-tiba ada seorang perempuan mendekatinya, ia sama sekali tak mengenal perempuan tersebut. Mencoba di abaikan tetapi perempuan itu terus mengajaknya berbicara.
"Mohon maaf Tante saya benar-benar tak mengenal anda, mungkin anda salah orang. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Xinyue sopan. Tetapi perempuan yang tak lain adalah Jia Li selalu berusaha menghentikan langkahnya.
"Nak? Tolong dengarkan aku. Kamu adalah anakku, anak kandungku. Ibu sangat merindukanmu." Jawab Jia yang membuat Xinyue semakin tak nyaman.
"Maaf Tante, ibuku ada dirumah jadi tak mungkin kamu ibuku. Aku udah sangat sopan padamu tapi tolong jaga batasan, kita tak pernah saling kenal dan aku tak mengerti maksudmu apa berbicara seperti ini, kalau ingin mencari korban tentang kejahatan anda seperti nya anda salah orang." Sahut Xinyue beranjak pergi.
"Apa? Gak mungkin melakukan kejahatan padamu. Kau benar-benar anakku, ayahmu bernama Lingtheo kan? Dan ayahmu mempunyai adik yang bernama Lingmei. nama mu adalah Xinyue nama itu adalah nama pemberian Oma. Ibu mengingat semuanya sayang, sini peluklah ibu yang sangat merindukanmu." Ucap Jia menangis.
"Tante ini pasti sangat merindukan anaknya, ehh tunggu dulu mengapa ia bisa tahu semua. Ia bersikeras menganggap aku anaknya pasti ini jenis kejahatan baru. Aku harus pergi sekarang." Pikir Xinyue dengan ekspresi waspada. Ia ingin berlari sejauh mungkin dari tempat itu tetapi Jia juga tak menyerah terus mengejar Xinyue hingga Theo melihat keberadaan Xinyue yang tergesa-gesa.
"Yuyu???." Teriak Theo.
"Dady! Yuyu sangat takut huhu.. untunglah Dady datang tepat waktu." Ucap Xinyue setelah melihat Theo dan Lathe menghampirinya.
"Ada apa nak? Kamu baik-baik saja kan. Tenanglah ada Dady disini, jangan takut lagi ya." Balas Theo dengan memberikan pelukan hangat.
"Dady, ada seorang wanita yang ingin mencelakai Yuyu. Ia terus berkata anakku hiks." Ucap Xinyue menceritakan dengan wajah ketakutan lalu Theo menyuruh nya masuk ke dalam mobil dan melayangkan pemikiran.
"Aku tahu dia telah kembali, tapi aku tak ingin kehidupan yang sudah bahagia ini dirusaknya begitu saja. Jia Li entah seberapa besar kau ingin memiliki semua nya lagi tapi aku Lingtheo tak akan membiarkan itu terjadi."