
Sebulan berlalu Nayla merasakan ada perubahan dalam tubuhnya, ia berpikir apakah promil inseminasi nya berhasil. Pikiran nya terus pada gejala seperti orang hamil, ia sangat semangat untuk cepat-cepat test pack dan berharap garis dua yang muncul. Pagi itu setelah bangun tidur Nayla mencadangkan air urine pertamanya.
"Semoga kabar baik menghampiri rumah tangga ku, positif, positif, positif." Gumam Nayla melihat garis urine yang terus berjalan ke atas.
Dan tampil dengan garis satu saja, ia tak yakin berpikir positif mungkin alat test kehamilan nya rusak jadi ingin mengulanginya lagi.
Theo membuka matanya dan tak di dapati istri nya itu, ia berpikir Nayla pasti sedang test pack dalam kamar mandi karena semalam ia sudah mengatakan pada Theo. Theo bangkit dan menghampiri Nayla.
"Sayang.." ucapnya masih lesu.
"Nay? Kamu di dalam kan? Buka dong.."
Tiada sahutan dalam kamar mandi, ia pun pergi ke dapur mungkin sudah menyiapkan sarapan untuknya pikir Theo.
"Hikssss.. kenapa garis nya satu terus sih!!! Sudah aku coba se pack alat test nya dan hasilnya masih sama aja. Huhuhu.." Ucap Nayla sedih.
'mengapa hasilnya negatif padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin, menjaga diri dari lelah dan juga makan makanan bergizi. Apa yang salah, mengapa promilnya gak berhasil sihh.. hah. Tuhan kau beri aku rasa yang sangat menyakitkan, merasa di beri harapan palsu dari gejala yang ku alami ini. Huhuhu..'
Di tengah tangisnya Nayla. hatinya juga menyalahkan keadaan ia sangat kecewa karena belum bisa memberi keturunan untuk suaminya itu.
Hingga Theo kembali ke kamar dan melihat istrinya itu sudah nangis sesenggukan.
"Sayang? Ada apa. Jangan menangis ya." Peluk Theo tetapi Nayla masih saja menangis. Tentu dalam pernikahan semua wanita ingin merasakan bagaimana rasanya melahirkan seorang anak, siapapun yang mengalaminya pasti sangat kecewa jika buah hati tak kunjung hadir. Kehidupan selalu mempunyai tantangan tersendiri jadi langkah pertama yang bisa di petik adalah berdamai dengan diri sendiri maka semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu.
"Aku gagal, mengapa harus terjadi padaku? Apa salahku hikssss..." Ucap Nayla gemetar.
"Sudah, jangan menyiksa dirimu seperti ini sayang. Kita istirahat dulu ya jangan memikirkan apapun tentang anak. Jika udah siap promil lagi, kita coba lagi ya. Masih banyak kesempatan koqq. Gagal sekali bukan berarti gak bisa mencobanya lagi." Sahut Theo, ia ingin Nayla dalam keadaan lebih baik lagi. Psikisnya terganggu akibat masalah keturunan dan gagal inseminasi ini.
Meimei pergi ke lantai atas karena saat Theo ke bawah ia bertanya pada Meimei, dan belum melihat kakak iparnya turun. Sedikit khawatir jadi ia memastikannya.
"Hmm.. tumben sekali kakak mencari kakak ipar sampai keluar rumah, di halaman juga gak bertemu dengan siapapun." Gumam Meimei berjalan mendekati kamar kakaknya.
"Tok tok tok" suara pintu diketuk walaupun pintu nya tidak tertutup tapi Meimei sangat sopan.
Ia melihat kakaknya sedang memeluk Nayla dengan sentuhan tangan yang lembut pada pundak.
"Kakak ipar kenapa kak?." Sahut Meimei dan Nayla kembali menangis sedih. Theo menyuruh Meimei keluar sebentar pakai bahasa isyarat. Meimei mengerti dan pergi dengan cepat.
Theo membaringkan Nayla di kasur, ia menemani Nayla yang sangat membutuhkan nya. Mengelus kening Nayla dengan lembut dan berkata.
"Jangan terlalu larut dalam memikirkan masalah ya, masih ada aku, Meimei, Putra yang akan selalu bersama mu. Kita tinggal di atap yang sama, jika kamu sedih seperti ini adik-adik pasti akan khawatir padamu."
Nayla hanya terdiam tetapi Theo pengertian. Mual dalam tubuhnya terus mengganggu Nayla di usapkan minyak aroma terapi yang menghangatkan tubuh pada istrinya itu terutama bagian perut.
"Aku turun kebawah sebentar ya, memasak sup hangat untukmu mungkin bisa mengurangi mualnya." Ucap Theo tetapi Nayla terus menahan tangan suaminya untuk pergi ke dapur.
Theo tersenyum kemudian berkata. "sebentar."
Sesaat ketemu Meimei yang sudah menunggu di meja dapur, ia melihat kakaknya menghampiri.
"Kakak ipar kenapa?." Tanya Meimei.
"Inseminasi nya gagal, ia kecewa." Jawab Theo.
"Ya. Ia hanya terbawa suasana saja sama gejala seperti orang hamil muda tapi mungkin itu berasal dari pola pikir nya." Ucap Theo.
"Kakak mau ngapain nih?."
"Masak sup untuk Nayla."
"Gak usah kak, tadi bibi udah masak. Langsung antar ke atas aja ya masih hangat koqq." Ucap Meimei, ia tak ingin kakak ipar sendirian.
"Baiklah, kakak ke atas dulu ya. Kalau ada keperluan naik aja oke." Jawab Theo.
"Oya kak, kakak tahu gak? Perusahaan yang mencuri brand kita itu punya anak seorang perempuan dan aku dengar anaknya meninggal kemarin karna kecelakaan." Sambung Meimei.
"Oh, kamu hati-hati jika berpergian ya." Balas Theo singkat. Ia tak memikirkan orang lain dalam hidupnya padahal Meimei ingin bercerita.
"Haishhh.. ya sudahlah." Ucap Meimei mengerti jika kakaknya sedang sibuk mengurus istrinya.
"Sangat di sayangkan meninggal pada usia muda, mana sedang mengejar cinta nya yang bertepuk sebelah tangan. Kematian nya meninggalkan rasa penasaran gak ya." Gumam Meimei tiba-tiba ia halusinasi dan merinding mikirin Marissa.
"Iiihhhh... Atut..." Meimei berlari ke kamarnya.
Sementara Theo masih melihat istrinya melamun, ia tak ingin bicara walaupun makanan masih masuk dalam mulutnya. Theo memberi suapan dengan sabar pada Nayla dan tidak bekerja demi menemani nya, yang terpenting selalu bersama istrinya. Setelah makan masih tetap terdiam.
"Tidur lagi ya sayang.. tenangkan dirimu dulu." Ucap Theo dan Nayla kembali mual hingga memuntahkan semua makanan yang baru saja masuk dalam perutnya. Theo sangat khawatir, ia bergegas menelpon dokter yang biasa datang ke rumahnya jikalau ada anggota keluarga yang sakit dokter ini siap siaga dalam kondisi mendadak.
"Dek? Buruan ke atas ya. Kakak ipar muntah terus nihh bantu pijit ya." Ucap Theo melalui sambungan telepon nya dan Meimei tanpa menjawab langsung pergi ke lantai atas dengan tergesa-gesa.
Selama dalam lift dia terus mondar-mandir mengkhawatirkan kakak iparnya hingga setelahnya ia berlari ke kamar kakaknya.
"Kak??? Jangan sakit ya. Nanti kalo kakak sakit siapa yang akan mendengarkan curahan hatiku. Huwaaaaa.." tutur Meimei sedih. Nayla menoleh ke arah Meimei, Indra penglihatannya merespon perkataan Meimei.
"Malah mikirin curhat! Nih anak dalam situasi begini masih aja bercanda." Gumam Theo menatap Meimei dan Meimei hanya tersenyum malu.
Tak lama kemudian dokter pribadi dari keluarga Ling sudah masuk ke kamar melihat keadaan Nayla.
"Saya periksa dulu ya." Ucapnya.
"Silahkan dokter." Jawab Theo.
Ia memeriksa secara keseluruhan dalam ilmu medis, detak jantung, denyut nadi, tensi darah, bagian-bagian lain yang dapat menyimpulkan sebuah jenis penyakit apa dalam tubuh Nayla.
"Baiklah, jangan terlalu stress ya. Utamakan kesehatan dulu, kurangi makan pedas." Ucap dokter pada Nayla dan Theo menyahut perkataan dokter.
"Kira-kira sakit apa ya dok, beberapa hari ini selalu mual dan kurang enak badan."
"Dari gejala yang di alami nyonya dapat di simpulkan bahwa beliau sedang sakit gerd. Saya akan meresepkan obat yang mendukung kesembuhan nya ya tapi perlu menghindari makanan yang memicu penyakit nya kambuh lagi." Ucap dokter sembari menuliskan banyak resep obat pada penyakit yang di derita Nayla.
GERD (gastroesophageal reflux disease) atau penyakit asam lambung disebabkan oleh melemahnya katup atau sfingter yang terletak di kerongkongan bagian bawah. Normalnya, katup ini akan terbuka untuk memungkinkan makanan serta minuman masuk menuju lambung dan dicerna. Setelah makanan atau minuman masuk ke lambung, katup ini akan tertutup kencang guna mencegah isi lambung kembali naik ke kerongkongan.
Nayla kembali tertidur setelah dokter memberi infusan melalui tangan Nayla dan Theo mencium keningnya lalu kembali menyelimuti tubuh sang istri. Meimei menemani Nayla di sampingnya dan Theo pergi mengantar sang dokter keluar rumah.