ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
Chapter 29. Ibu kecil mencintainya?



"Ibu kecil mencintainya?"


"Aku sendiri bingung dengan perasaanku, setelah apa yang dia perbuat cukup membuat batinku trauma. Tetapi entah mengapa aku tak bisa membenci nya. Aku terus mengingat masalah yang sedang dihadapinya tetapi pikiran ku juga tak bisa jauh dari apa yang sudah dia perbuat. Setelah kejadian semalam, aku cukup takut mendekatinya, semua rasa nyaman sebelum ini terjadi tiba-tiba menghilang bersamaan apa yang sudah dia lakukan padaku. Apakah aku masih mencintainya? atau aku hanya merasa kasihan padanya ?" Tutur Nayla bercerita.


"Mengapa bisa begitu? Apa ibu kecil sudah mempunyai hubungan dengannya. Cinta?" Tutur Lingmei setengah kaget mendengar ucapan Nayla.


"Sebelumnya kami memang sudah mempunyai hubungan sebagai kekasih. Aku menerimanya karena ia selalu ada untukku. Tak masalah bagiku jika menerimanya sebagai kekasih."


"Oh begitu, aku akan coba menghubungi kakak dahulu yaa. Ibu kecil tunggu sebentar." Lingmei mengambil handphone nya dalam tas yang berada di kamar Nayla. Ia mencoba menelpon kakaknya. Tak sampai lama ia menunggu telepon nya pun dijawab sama Lingtheo.


"Haloo, ada apa? Apa butuh bantuan kakak. Telepon kakak saat keadaan penting saja." Ucap Lingtheo.


"Ehh.. sebentar kak. Aku tak akan menggangu waktu kerja kakak. Ibu kecil ingin berbicara padamu." Sahut Lingmei.


Lingmei pun memberikan handphone nya pada Nayla dengan cepat.


"Berbicara pada kakak. Ia sudah menerima telepon ku."


"Ada apa gadis kecil. baru saja aku tinggal sebentar ternyata sudah merindukanku ya." Ucap Lingtheo penuh percaya diri.


"Aku ingin berbicara serius. Iya aku merindukan mu. Ahh.. maaf bukan itu maksudku. Aku mohon untuk mencabut laporanmu pada Adi. Ia tak bisa melihat ibunya yang sedang sakit parah dirumah sakit. Aku merasa kasihan atas nya. biarkan ia menemani ibunya, kita tak pernah tahu kapan nyawa akan tiada."


"Mengapa kamu begitu peduli atas hidupnya. Ia telah melukaimu. Aku sampai tak habis pikir dengan perasaan mu. sepertinya kamu sangat mencintai nya. Tapi aku tak bisa mengabulkan keinginan mu. tuntutan itu harus tetap berjalan sesuai hukum yang berlaku."


"Bukan begitu, aku hanya kasihan pada ibunya. tak ada yang mengurusnya dirumah sakit. Dokter juga perlu berbicara pada keluarga pasien. Jika Adi tak menemaninya bagaimana dokter akan menindak lanjut tentang penyakitnya. keluarga nya tak ada yang peduli. Aku mohon padamu." Ucap Nayla dengan perasaan sedihnya.


"Akan aku pikirkan kembali nanti."


"Jangan terlalu lama. Segera lepaskan tuntutan terhadap nya. Aku sudah bisa menerima semua perbuatannya."


"Aku yang belum menerimanya."


"Mengapa begitu, atau kamu sudah menyukai ku ya! jadi tak bisa menerima orang lain yang menyakiti ku. Karena kamu telah jatuh cinta padaku."


"Tak usah kepedean ya. yang bersalah harus menerima hukumannya."


"Hahaha..' sudah. Jangan mengelak lagi dech. Aku tunggu kabarmu secepatnya. Jangan terlalu lama berpikir." Ujar Nayla. Ia pun menutup teleponnya.


Mereka bercerita sangat lama sehingga waktu menjemput Putra mereka lupakan. Putra menunggu jemputan yang bisa dibilang sudah lama jam sekolah berakhir. Tetapi ia tidak sendiri, Qiara juga belum ada yang menjemput nya.


"Lama sekali kakak menjemput ku, apa dia sedang sibuk. Tapi kan ia sedang sakit. Massa bisa sibuk, lagian ia belum masuk kerja." Pikir Putra sembari duduk menunggu depan sekolahnya.


Tak lama kemudian datanglah seorang badut lucu menghampiri Putra. Ia memainkan sulap bagus di depan Putra.


Gayanya yang lucu membuat Putra mengalihkan pandangan yang semula menunduk lalu melihat badutnya tanpa berkedip mata.


"Kosong.. kosong.. kosong.." sang badut menunjukkan tangan nya yang tak nampak apa-apa kemudian dengan sekejap mata memegang beberapa permen lalu memberikan nya pada Putra. Putra yang melihatnya merasa senang. ia mengambil permen yang diberikan badut tersebut.


Qiara hanya melihat dari kejauhan.


"Astaga aku lupa menjemput Putra. Ini sudah jam 12.15. aku telat 15 menit menjemputnya, Putra pasti menunggu ku. Aku harus secepatnya kesana."


"Meimei ingin ikut, pakai mobil Meimei saja. agar segera sampai." Sahut Lingmei.


"Woww.. kakak kecil dikasih permen, aku juga mau dong om badut. Qiara ingin makan permen juga." Sahut Qiara yang menghampiri Putra karena penasaran.


Tetapi badut tersebut tak menghiraukan perkataan Qiara, ia melihat kiri-kanan suasana yang begitu sepi. lalu menjalankan aksi kejahatannya. Ia menggendong Putra dengan paksa.


"Ahh.. lepaskan aku. Aku tak ingin digendong. Siapa kamu? Kok badut sangat jahat." Putra memberontak dalam gendongan badut itu.


"Diamm.. aku adalah penculik, diam!! atau mau aku bunuh."


"Astaga.. om badut, jangan culik kakak kecil, ia tak punya uang banyak. Culik Qiara saja, orang tua Qiara punya banyak uang. kalau kakak kecil hanya punya seorang kakak. Tak punya orang tua. Maka, uangnya juga tak banyak." Celoteh Qiara dengan wajah polosnya.


"Cepat masuk mobil, jangan bergerak. Kami memegang senjata tajam."


Putra pun masuk mobil, tetapi Qiara mengikuti nya juga ingin masuk mobil. Jadi, keduanya masuk mobil penculik tersebut. Mobil tersebut melaju dengan kencang meninggalkan sekolah.


Saat Nayla sampai sekolah, ia langsung bergegas menuju kelasnya Putra. Tetapi tak ditemukan nya keberadaan Putra disana. Ia berpikir. "Adi masih dalam penjara. lalu siapa yang menjemput Putra." Ia terus mencari sekeliling sekolahan yang sudah sangat sepi. Ia mulai panik dan terus berteriak nama Putra.


Penculik itu berjumlah 3orang dewasa. Sepertinya sudah biasa menculik anak-anak yang sedang menunggu jemputan orang tua nya. Karena mereka tahu sekolah Putra adalah sekolah termahal tempat anak pengusaha kaya raya yang bersekolah disana. Mereka juga sudah menargetkan anak mana yang harus mereka culik lalu meminta tebusan sebagai gantinya.


"Cepat telepon orangtuanya, kita akan berpesta malam ini. Mangsa ini sudah ada dalam genggaman tangan kita." Ucap salah seorang penculik.


"Orang tua siapa? Orang tua ku sudah lama meninggal saat aku masih kecil dan belum bersekolah. Ada kakak sih, tapi handphone sudah rusak gara-gara paman nya Qiara. Lalu ngapain Qiara ikutan masuk mobil, aku yang di culik bukan kamu." Ucap Putra.


"Tak mengapa, aku ingin menemani kakak kecil, kali aja kakak kecil takut. Atau menangis jadi aku bisa melindungi kakak kecil." Sahut Qiara dengan nada lucu nya.


"Mana mungkin aku menangis. kenapa harus ikut di culik, kamu akan membuatku repot saja. Jika menangis siapa yang mau merayumu untuk diam. Penculik bodoh ini mana mengerti cara membuat anak kecil seperti mu diam." Putra terus berbicara dengan kesal.


"Aku tak akan menangis, aku bukan anak kecil lagi. tuh lihat saja orang tua ku mau ditelepon sama om badutnya. tapi apa aku sudah memberi nomor telepon nya, perasaan ku belum sih. Apa om badutnya bisa sulap mengambil nomor telepon orang tuaku secara diam-diam. Lalu mengapa tak mengambil uang orang tua ku saja. jadi tak harus menculik kita ya kak. Tetapi aku rasa penculik ini memang bodoh." Ucap Qiara sambil memandang badut tersebut lalu berbicara panjang sama Putra tak hentinya.


"Masa sih, bukannya hanya aku yang diculik tadi. kamu kan hanya ikutan saja. Apa iya nomor telepon orang tua mu yang mereka bilang." Jawab Putra.


"Coba tanya saja, orang tua kakak kecil kan sudah meninggal dunia. Yang diculik hanya aku dan kakak kecil. kemungkinan mereka akan menelpon orang tuaku."


Putra melihat aktivitas yang dilakukan para penculik tersebut, mereka tertawa dan Putra tak bisa mendengar percakapan antara penculik tersebut.


Sementara Nayla sangat panik, ia menangis dengan keras. kesalahan telah diperbuatnya dengan terlambat menjemput Putra. lalu Lingmei menghubungi kakaknya guna meminta bantuan.


Ia menceritakan semua kejadian nya kepada Lingtheo, lalu Lingtheo menyarankan untuk mengecek cctv yang ada disekolah tersebut. dan benar saja Putra diculik lalu di bawa dalam sebuah mobil tertutup sepertinya mobil tersebut sudah di desain agar tak ada yang curiga, nomor plat pada mobil juga tak bisa dilacak. Tetapi Nayla juga melihat ada Qiara yang ikut masuk dalam mobil tersebut. Ia berpikir Qiara juga belum dijemput pantas saja ikut diculik.


"Aku harus membujuk Theo untuk mengeluarkan Adi, agar pencarian terhadap Putra dan Qiara berjalan dengan cepat." Gumam Nayla dalam hati.


Tak lama kemudian Lingtheo sampai dimana tempat Putra di culik, ia melihat sekolahnya adalah salah satu sekolah yang ia dirikan. Sekolah itu adalah salah satu jenis usaha yang ia dirikan untuk investasi nilai uang. tak heran jika murid disana berada di kelas orang kaya.


"Akhirnya kamu sampai juga. cabutlah tuntutan terhadap Adi terlebih dahulu."


"Adikmu dalam bahaya, bagaimana bisa kamu memikirkan orang lain. kamu sudah tak waras, aku tak bisa percaya ini." Ucap Lingtheo dengan kesal.


"Bukan begitu, masalahnya keponakan Adi juga ikut bersama Putra dalam penculikan itu. Orang tua keponakan nya sedang berada di luar negeri. Siapa yang akan mengurusnya nanti. Aku mohon lepaskanlah Adi dalam masa tahanan di penjara. Ini demi kebaikan bersama."


"ya sudahlah. kali ini aku yang mengalah. Tapi bukan berarti ia bisa menyakiti mu lagi." Ucap Lingtheo


Ia menelpon pihak kepolisian atas pencabutan laporan nya kepada Adi. Lalu melaporkan kepada pihak polisi atas tuduhan penculikan dengan memberikan semua bukti, polisi yang menerima laporan tersebut dengan cepat bergerak mencari keberadaan penculik itu. polisi juga melepaskan Adi dalam jeruji besi. Ia terbebas dari tuntutan Lingtheo dengan cepat.