
Pertemuan hangat ini membuat Theo sangat bahagia, dia belum pernah sebahagia ini. Tak disangka kehadiran Nayla membawa kehangatan bagi keluarga mereka termasuk Xinyue.
"Hoammm... Oma? Yuyu udah bangun nih, apakah Oma ada dirumah." Teriak Xinyue.
"Eh anak Dady udah bangun ya? Bagaimana tidurnya, apakah bermimpi indah?" Ucap Theo mendekati Xinyue.
"Dadyyyyy..!!! Huhu.. Apakah benar ini Dady?" Timbal Xinyue pada Theo. Ia sangat merindukan Dady nya itu. Di peluknya dengan erat tubuh Theo.
"Yaa sayang, Dady disini untuk Yuyu. Dady sangat rindu pada Yuyu, makasih ya sayang selama ini udah jadi anak baik. Tak pernah menyusahkan Oma. Dady bahagia sekali memiliki anak seperti Yuyu." Sahut Theo dengan lembut.
Nayla hanya memperhatikan keduanya, ia sangat terharu pada Theo karena mempunyai hati yang begitu lembut. Dan melihat Xinyue yang tak dapat melihat dunia membuat Nayla sangat sedih. Xinyue anak yang kuat, dia bisa melewati harinya tanpa perhatian dari kedua orangtuanya.
Lalu muncul Meimei, si aunty yang sangat menyayangi Yuyu. Selama di Jepang Meimei juga yang mengurus Yuyu dari kecil. Sifat manja nya bersama kakaknya adalah hanya untuk membuatnya nyaman dengan keadaan, padahal mereka hidup mandiri dan bertanggung jawab.
"Yuyuuu... Aunty pulang, apakah Yuyu ingin bermain bersama aunty?" Tanya Meimei.
"Wahhh.. kalian pulang semua ya, apakah akan ada perayaan besar? Yuyu senang sekali kalian pulang bersama. Yuyu ingin lebih banyak lagi menghabiskan waktu bersama Dady dan aunty juga Oma. Kita akan pergi berlibur bukan?" Jawab Xinyue sangat bergembira. Ia tak tahu Nayla ada disana, jika Nayla membuka suaranya kebahagiaan akan berlipat ganda. Nayla hanya mendengarkan mereka berbicara tetapi Theo menyuruh Nayla untuk mendekatinya.
"Xinyue, Dady ada sesuatu hadiah untuk kamu. Karena kamu selalu menjadi anak yang baik. Anak baik tentu harus banyak dapat hadiah." Ucap Theo.
"Oya, apa dong. Tapi dengan hadirnya Dady dan juga aunty Yuyu udah bahagia Dad, kalian masih mengingat Yuyu aja Yuyu udah bahagia sekali."
Hati Nayla sangat tersentuh mendengar Xinyue berbicara, anak seusia Yuyu sudah bisa berbicara sedewasa itu. Disaat anak lain banyak menuntut menginginkan apapun yang menyusahkan kedua orangtuanya. Yuyu malah tak pernah meminta apapun, bahkan tak dapat melihat dunia saja ia masih bisa tersenyum bahagia. Yuyu, kamu sangat berjiwa besar menerima keadaan mu.
Tanpa Nayla sadari ia telah meneteskan air matanya, Xinyue tak pernah menanyakan soal ibunya. Entahlah, mengapa bisa ia melewati hari-hari nya dengan tersenyum.
"Dady masih disana kan? Kok diam saja sih. Memangnya hadiah apa yang Dady berikan, Yuyu mau menerimanya." Sambung Xinyue lagi.
Theo melihat Nayla menangis memberikan pelukan hangat, dan Meimei hanya bisa terdiam. Tak lama kemudian Nayla dan Theo mendekati Xinyue.
"Emm siapa emangnya? Biar Yuyu peluk dulu dech, seorang perempuan ternyata. Baiklah, Yuyu akan menyentuh wajahnya. Sangat cantik, sepertinya ini adalah mommy. Apakah benar mommy datang untuk Yuyu. Apakah ini mimpi?" Tutur Xinyue, Nayla tak dapat menahannya lagi. Ia memeluk Xinyue dalam tangisan. Nayla berjanji akan selalu menemani Xinyue dan merawatnya seperti anak kandungnya sendiri. Dan Xinyue kembali memeluk Nayla.
"Mommy jangan menangis ya, Yuyu sayang sekali sama mommy. Yuyu tak pernah marah saat mommy tak berkunjung menemui Yuyu. Karena Yuyu tahu mommy pasti sangat sibuk. Sudah ya, Yuyu bahagia memiliki mommy dan Dady yang bekerja keras untuk kehidupan Yuyu." Ujar Xinyue.
Tangis Nayla semakin pecah mendengar nya, jiwa keibuan nya sangat tajam. Ia tak ingin mendengar Xinyue mengatakan hal yang menyedihkan itu. Ia pun mengusap kembali air matanya.
"Tidak sayang, mommy hanya terharu. Begitu merindukan Yuyu. Saat bisa melihat Yuyu mommy merasa hidup mommy sangat berarti. Ada Yuyu yang sangat menyayangi mommy, ada Dady yang selalu melindungi Mommy, ada aunty yang selalu membuat hari mommy berwarna, ada Oma juga yang selalu baik sama mommy dan ada uncle Putra yang membuat mommy bisa sekuat ini. Kalian sangat berharga dalam hidup mommy, mommy jadi terharu dengan adanya kalian." Ungkapan Nayla.
Theo yang mendengar nya ikut terhanyut sedangkan Meimei mencoba berusaha mencairkan suasana yang bikin menangis ini, kalau tidak. Meimei pun akan ikut menangis dan ia tak ingin menangis.
"Oya aunty punya hadiah untuk Yuyu." Sahut Meimei sembari menyodorkan sebuah kotak yang dilapisi kertas kado dan ditambah sebuah Vita.
"Wahh apa ini? Hari ini Yuyu begitu bahagia. Mendapatkan banyak hadiah dari kalian, Yuyu akan bermain dan memakai pakaian ini dengan senang." Ujar Xinyue, dia sangat menghargai pemberian seseorang. Dan juga sangat baik dalam berkata. Ini adalah ajaran dari Oma nya. Karena Oma juga memiliki sifat yang baik sehingga mengajarkan hal tersebut kepada Theo, Meimei dan Xinyue. Mereka berhasil di didik dengan sentuhan kebaikan.
"Ehmmm, karena semua sudah memberi Yuyu hadiah. Mommy juga tak ingin kalah dong, mommy juga akan memberikan hadiah untuk Yuyu. Apakah Yuyu penasaran sama hadiah yang akan diberikan oleh mommy. Karena hadiah ini sangat spesial jadi Yuyu harus bersiap dengan semangat yaa."
"Ya Tuhan, mommy juga memberi Yuyu hadiah ya. Yuyu jadi tak sabar menunggu mommy memberi hadiah nya." Sahut Xinyue, Nayla melihat ke arah Theo dan Theo hanya mengangguk tersenyum.
"Sayang, jika Dady dapat membawa mommy kesini sebagai hadiah Dady. Maka, mommy akan berbicara hal serius pada Yuyu. Apa Yuyu sudah siap mendengarkan mommy?" Tanya Nayla.
"Iiihh.. mommy kasih apa ya? Sangat rahasia sepertinya. Yuyu dari tadi sudah mendengar mommy berbicara. Yuyu jadi semakin penasaran nihh." Jawab Xinyue yang sangat ingin tahu hadiah apa yang akan Nayla berikan.
Tapi sebelum Nayla mengatakan nya, Oma malah memotong pembicaraan mereka.
"Yuyu makan dulu ya. Kamu belum makan, Oma udah siapin sup hangat kesukaanmu."
"Yahhh.. Omaaa.. Hmm..." Tutur Xinyue tak bersemangat lagi.