
Keesokan harinya..
Nayla membuka kedua matanya dengan pelan, pandangan nya langsung menuju langit-langit rumah Lingmei..
Dilihatnya waktu menunjukan pukul 06.00 pagi waktu Tokyo, Jepang. Nayla ingin menghubungi Putra kembali tetapi perbedaan waktu nya lebih cepat satu jam di Tokyo. Jadi, saat Nayla melihat waktu menunjukan jam 06.00 pagi, tetapi saat itu juga waktu di China lebih lambat satu jam, yakni jam 05.00 pagi. bisa jadi Putra masih tertidur. Nayla pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi adiknya tersebut. Lalu memutuskan untuk mandi.
Ditengah mandinya, Lingtheo datang menghampiri kamar Nayla. Entahlah mengapa ia bisa salah masuk kamar. Nayla yang saat itu sedang menikmati mandinya, air yang hangat dan penuh busa melimpah dalam bak mandinya. Tak menghiraukan kadatangan Lingtheo, hingga berapa lama kemudian Lingtheo masuk kedalam kamar mandi yang sedang dipakai Nayla untuk mandi.
"Arghhhhh.."
"Pencuri!! rumah ini telah masuk pencuri. Keluar kau pencuri!! Teriak Nayla panik.
Lalu ia pun melempar kepala Lingtheo dengan botol shampo, hingga mengenai kening tampan Lingtheo. dan Lingtheo pun berkata.
"Kamu yang pencuri, ini adalah rumahku. Aku akan membunuhmu."
Mata Nayla saat itu dipenuhi dengan busa sehingga keduanya tak bisa melihat dengan jelas, seluruh tubuh Nayla berbusa sehingga sulit dikenali oleh Lingtheo. Akhirnya Lingtheo dengan cepat memegang Nayla agar tak kabur.
"Dasarr pencuri, kau tak akan bisa pergi lagi. Akan ku kirim kau ke penjara." Ucap Lingtheo, kemudian tangannya tak sengaja memegang kedua buah dada Nayla. Lalu Nayla teriak dengan keras karena merasa sangat malu. dengan mengelap kedua matanya yang berbusa. Nayla Ingin melihat siapa pria yang berani berbuat tak senonoh padanya.
"Arghhh.. Dasar pria mesum!!!"
"Pergi kau. Astaga.. Pria sok kebersihan, ternyata kau juga pria yang mesum. Tak cukup dengan ciuman pertama ku yang telah kau rebut, bahkan kau berani ingin berbuat mesum." Nayla sangat marah.
"Gadis kecil? sejak kapan kau berada dikamar ku? Sangat tidak sopan. Aku tak sengaja berbuat seperti itu. Aku tak bisa mengenalimu, sehingga kau dituduh pencuri. aku bukan pria seperti yang kau pikirkan." Ucap Lingtheo menjelaskan.
Lingmei yang baru saja membuka kedua matanya karena masih pagi buta, tetapi mendengar suara keributan. Akhirnya Lingmei menghampiri.
"Situasi macam apa ini? Astaga kak Lingtheo bersama ibu kecil? sejak kapan kalian punya hubungan spesial? Apakah sudah tidur bersama?" Lingmei salah paham atas apa yang dilihatnya ia terus saja berbicara.
"Ibu kecil sungguh hebat bisa menaklukkan hati kakak, ia udah bertahun-tahun tak ingin mengenal yang namanya wanita. Aku bahagia kakak bersama ibu kecil. Lanjutkan saja, maaf aku sudah mengganggu kalian." Ucap Lingmei tertawa kecil melihat tingkah laku kakaknya bersama ibu kecil.
"Ahhh.. tidak, bukan, ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku tidak mempunyai hubungan dengan kakakmu. Pria ini, mengapa masuk dalam kamarku? Apa aku yang sudah salah kamar?" Tanya nayla sekaligus menjelaskan pada Lingmei.
"wahh.. ternyata kakak yang salah kamar, ini adalah kamar ibu kecil yang aku berikan padanya. kamar pribadi kakak berada di sebelah nya. kakak? Tak bisa kah, kau tahan sedikit saja sampai kalian menikah dahulu. Ibu kecil jadi kaget karena ulahmu." Jawab Lingmei.
"Tidak, ini hanya salah paham saja. walaupun aku yang dirugikan tetapi kejadian ini tak ada unsur kesengajaan. Maka dari itu, aku telah memaafkan nya." Tutur Nayla dengan raut wajah malunya, ia tersenyum dengan terpaksa didepan Lingmei.
"Cihh.. aku tak pernah meminta maaf padamu, gadis kecil yang begitu percaya diri seperti mu. Tak ada rasa salah sama sekali. Lihatlah wajahku memar karena mu. Bagaimana kamu akan bertanggung jawab atas ini?" Ucap Lingtheo menunjukkan luka pada keningnya.
"Astaga, aku tak sengaja. Tenyata lemparan ku tepat sasaran walaupun melempar botol shampo nya dengan mata tertutup. Hahaha..' aku minta maaf. Ini juga salahmu." Nayla tertawa melihat kening Lingtheo yang memar karenanya.
"Hahaha.. kalian pasangan yang sangat cocok, sebaiknya ibu kecil mengobati luka memar pada kakak ku saja. Meimei ingin mandi dahulu ya." Lingmei pun meninggalkan kamar tersebut.
Nayla pun bergegas menyelesaikan mandinya, lalu datang ke kamar Lingtheo sambil membawa kotak obat. Guna mengobati luka di kening nya.
"Permisi!!! Aku datang bersama obat, jangan menganggap ku sebagai pencuri lagi. Atau aku akan memukul mu." Ucap Nayla yang berada diluar pintu kamar Lingtheo. Lalu Lingtheo berkata.
"Masuk saja pintunya tidak dikunci."
Kemudian Nayla memasang kan pekerat bergambar hati untuk menutup luka memarnya, hingga Lingtheo terlihat sangat lucu di balik badan kekarnya.
"Sudah selesai tugasku, aku akan kembali ke kamar ku lagi." Ucap Nayla terburu-buru beranjak dari tempatnya semula. tetapi dengan cepat tangan Lingtheo menggapai tubuh Nayla, hingga Nayla terduduk di pangkuan Lingtheo.
"Ini bukan cara pengobatan yang baik, aku akan semakin sakit jika cara mu mengobati seperti ini. Perban yang begitu erat membuatku merasa pusing." Bisik Lingtheo dekat telinganya, lalu telinga Nayla pun di gigit dengan lembut.
Nayla menoleh ke samping, dilihatnya tatapan Lingtheo sangat lembut. Membuat pipinya merona, sungguh ketampanan Lingtheo membuat Nayla tak bisa berbuat apa-apa. Mereka saling bertatapan seperti akan melakukan adegan berciuman, lalu tangan Lingtheo mengelus rambut Nayla dengan pelan.
Mata Lingtheo perlahan terpejam, tetapi tak ingin mencuri ciuman. Ia terus saja menunggu Nayla. Tetapi bukannya ciuman yang didapatkan Lingtheo malah tiupan dari mulut Nayla. Kelopak mata Lingtheo dengan cepat mengerut.
"Gadis kecil.." ucap Lingtheo sambil tersenyum, membuat Nayla tersipu malu. Ia tak bisa melakukan ciuman pada Lingtheo, karena ia sudah mempunyai kekasih yakni Adi.
Lingtheo kemudian dengan lembut dan penuh perhatian mengajari Nayla cara mengobati luka yang baik dan benar.
*****
Setelahnya mereka memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu..
Lingtheo bersama Nayla, turun menggunakan lift. Lingmei terlalu lama berdandan, sehingga ia berbicara untuk kakaknya dan ibu kecil dulu-an saja.
Situasi dalam lift sangat canggung. tiba-tiba lift nya pun mati mendadak. Nayla yang saat itu takut gelap akhirnya tanpa sadar memeluk Lingtheo dengan erat. "Aku takut. kenapa liftnya mati mendadak?" Ucap Nayla bertanya.
"Aku juga belum mengetahui nya, aku akan segera menelpon bagian teknisi. Agar secepatnya mengeluarkan kita yang terjebak dalam lift ini." Tutur Lingtheo.
Setelah Lingtheo menelpon, ia bersama Nayla kekurangan oksigen dalam lift nya. Keringat mereka bercucuran dengan derasnya. hingga Nayla merasa lemas, dan Lingtheo terlihat khawatir. takut gadis kecil ini akan tiada karena terlalu lama terjebak dalam lift nya.
Tak ada cara lain baginya untuk menolong Nayla, Lingtheo pun memberikan nafas buatan. Dilakukan nya terus menerus untuk membantu Nayla. Lingtheo tak peduli apa yang akan dikatakan Nayla. Ini semata-mata ia lakukan untuk pertolongan pertama.
Bibir mereka bertemu, kecupan itu akan selalu di ingat Nayla dalam hati. Ia masih sedikit sadar dan mendengar kepanikan yang dirasakan Lingtheo. Ia terus menerima hembusan nafas yang keluar dari mulut Lingtheo. Pria ini sungguh baik hati, hingga lift nya kembali normal lagi. Ternyata ada pemadaman listrik, sangat sial. Ini terjadi saat Lingtheo dan Nayla sedang dalam lift.
"Terimakasih sudah membantuku. Aku tak tahu, jika hembusan nafasmu sangat berarti bagiku. Tapi, aku tak bisa membalas baik budimu untuk yang kedua kalinya." Ucap Nayla tersanjung atas perbuatan yang dilakukan Lingtheo.
"Tak mengapa, aku hanya khawatir saja. Lagian kamu akan berkerja keras untuk pembuatan iklan kali ini, kasihan Meimei jika harus pusing mencari bintang iklan nya lagi. Maka dari itu, aku berusaha menolongmu." Jawab Lingtheo.
"Hughh.. dahulu waktu belum kenal juga, kamu menolong ku dari kejahatan para preman. Hahaha..' mungkin kamu sudah jatuh cinta padaku. sehingga selalu saja menolongku, mengikuti kemana pun aku pergi." Ucap Nayla.
"Berapa kali aku harus mendengar perkataan mu yang seperti ini, hidupmu sungguh penuh dengan percaya diri. Gadis kecil yang sangat malang."
"Hueekk.."
Mereka kemudian kembali berdebat seperti biasanya, hingga di meja makan, selesai sarapan, lalu mencari lokasi yang pass untuk pengambilan gambar, tetap saja mereka selalu berbeda pendapat. sepertinya Lingtheo mempermainkan Nayla dengan senang hingga seharian.
Itulah sebabnya mereka berdebat, sehingga proses syuting hari itu menjadi kacau, karena Lingtheo sangat jahil pada Nayla. Lingmei hanya terdiam. Ia bertanya-tanya dalam hati. Apakah begini cara orang yang sedang jatuh cinta, dalam menyampaikan rasa suka nya. Mereka terlihat aneh tetapi cukup romantis sampai harus berlari-lari mengelilingi bunga yang sedang bermekaran. Indahnya pemandangan ini.
*****