
Hingga keesokkan harinya...
"Duhh.."
Nayla terbangun mengelus keningnya yang masih terluka, ia merasa sedikit sakit saat bangun dari tidurnya..
Ia membuka kedua matanya secara perlahan. menoleh ke arah Putra dan Lingtheo yang masih tertidur..
"Mereka tidur di kamarku, sepertinya Putra kedinginan. tapi Lingtheo memeluknya, terlihat seperti sudah lama dekat. padahal baru saja kemarin mereka berkenalan." pikir Nayla sembari melihat Putra yang sedang tertidur.
"Emmm.."
Lingtheo menggeliatkan tubuhnya. kemudian memandang Nayla yang sedang fokus melihatnya.
"Kamu sudah bangun, maaf aku jadi bermalam dirumahmu."
"Tak mengapa, aku yang sudah merepotkan mu. Maafkan aku selalu membuatmu susah." Ungkap Nayla.
"Jangan banyak berpikir, aku hanya menolong wanita yang membutuhkan pertolongan. aku tak bisa diam saat melihat pria yang tak bisa menghargai wanita. Lupakan, bagaimana keadaan mu?" Ucap Lingtheo beranjak duduk.
Lingtheo mengelus kepala Putra, lalu mencium keningnya dan memberikan selimut pada tubuhnya. Tangannya menyentuh pipi Putra dengan lembut sehingga Putra merespon sentuhan nya walaupun masih tertidur.
Kemudian Lingtheo berdiri menghampiri Nayla dan duduk dalam ranjangnya. ia menatap wajah Nayla.
Nayla mengangkat kedua alisnya, seperti sedang membalas tatapan Lingtheo dengan pertanyaan. Ia tak berkata untuk menjawab pertanyaan yang Lingtheo lontarkan padanya. Nayla menundukkan kepalanya sejenak.
"Ada apa?"
"Aku hanya sedih melihat Adi, ia mempunyai banyak masalah. Aku tak bisa membencinya." Tutur Nayla.
"Hmm.. bukan seperti itu cara menyelesaikan masalah. dengan mabuk bisa membuat nya dalam masalah lain. Sekarang ia ada di kantor polisi, aku tak akan mencabut tuntutan ku padanya."
"Memang betul perbuatan nya salah. Ia juga tak ingin menceritakan nya padaku. Aku tak tahu mengapa."
"Mungkin ia tak ingin membuat mu kepikiran atas masalahnya. sudahlah jangan banyak berpikir. tubuhmu masih lemah. Tapi terlihat sudah bisa memikirkan orang lain." Sahut Lingtheo.
Kemudian Lingtheo beranjak ke dapur mengambil segelas air minum untuk Nayla. ia mengambil air hangat dalam sebuah tempat air panas listrik. Menuangkan setengah air panas lalu setengahnya lagi menggunakan air dingin. Ia berjalan ke kamar lalu memberikan nya pada Nayla.
Nayla meminumnya secara perlahan dan berpikir. " Pria ini sungguh baik hati."
Lingtheo kemudian kedapur kembali, ia membuka lemari pendingin. dilihatnya banyak bahan masakan, ia mengambil beberapa diantara bahan masakan tersebut. Ia memulai untuk memasak sarapan pagi, ternyata Lingtheo seorang pengusaha nomor satu di China sangat mahir dalam memasak. Tak tahu mengapa ia begitu pandai dalam memasak. Apakah ia kursus memasak?
Terdengar suara berisik dari dapur, sampai ke kamar Nayla. Ia berpikir, apa yang dilakukan pria sok kebersihan tersebut. suara masakan nya terdengar ke telinga Putra yang saat itu masih tertidur, kemudian Putra membuka matanya. Memandangi sekelilingnya.
"Kakak.."
"Selamat pagii sayang."
"Pagi kak, kakak udah bangun. Maafkan Putra tidur di kamar kakak. Putra khawatir pada kakak, bagaimana tubuh kakak? Masih sakit ya."
Putra menghampiri Nayla, lalu meniup luka pada keningnya. Tetapi Nayla memberikan ia minum yang diambil kan Lingtheo. Putra pun meminum air hangatnya.
"Kakak baik-baik saja. Ini hanya luka kecil besok juga sudah sembuh. Paman Adi hanya sedang mabuk, ia sebetulnya orang yang baik."
"Aku sudah tak menyukai nya. Ia tak boleh datang kerumah ini lagi. Putra tak ingin kakak berteman dengan nya lagi." Tegas Putra saat mengingat kejadian malam itu. Ia jadi membenci Adi.
"Aku tak ingin melihatnya lagi, paman baik sudah datang. ia akan selalu menemani kakak dan Putra. kita tak butuh paman Adi lagi, paman baik lebih bisa menjaga kakak." Sambung Putra.
Nayla mengelus kepala Putra. Ia tak ingin adiknya menaruh dendam pada Adi. bagaimana pun juga Adi pernah menjaga Putra dalam seminggu saat ia berada di Jepang.
"Sayang, paman Adi punya banyak masalah. Ia juga baik seperti paman baik. hanya saja semalam paman Adi salah melihat orang, ia mengira kakak adalah wanita yang dibencinya."
Putra sangat marah, ia membelakangi Nayla yang berusaha membela Adi didepan nya. Nayla memeluk Putra dari belakang tetapi Putra melepaskan pelukannya. Ia kecewa pada kakaknya. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu rumah Nayla.
Putra berlari menghampiri pintu, untuk melihat siapa yang datang. "Jika paman Adi yang datang aku tak akan membuka pintu untuk dirinya." pikir Putra sembari melihat siapa yang datang dari dalam jendela. Ternyata Lingmei yang datang kerumah Nayla dengan membawa banyak makanan terdapat pada kedua tangannya. Putra dengan cepat membuka pintu, lalu tersenyum pada Lingmei.
"Putra kerajaan, senyum mu sangat manis. Ibu kecil ada?" Tanya Lingmei.
"Kakak masuk saja. Ia ada di dalam kamar. biar aku yang membawakan makanan ditangan kakak."
"Anak baik. Ini cukup berat, Putra bawa cemilan saja biar tak berat."
"Baiklah, Putra bisa melakukan nya."
"Anak pandai. Terimakasih ya."
Mereka pun menutup pintunya lalu pergi ke ruang kamar Nayla. Lingmei memeluk erat Nayla. Ia menangis melihat ibu kecil nya dalam bahaya.
"Wajah yang indah itu, mengapa bisa ia terluka. Tetapi masih terlihat senyum tulusnya pada semua orang, ia wanita baik. Mengapa mengalami hal yang mengerikan seperti ini." Gumam Lingmei yang masih dalam pelukan Nayla.
"Ibu kecil, aku khawatir padamu. aku begitu menyayangi mu, semoga cepat pulih kembali ya." Tangis Lingmei saat berbicara pada Nayla.
"Ibu kecil baik-baik saja. Meimei jangan khawatir ya, kakakmu begitu baik. Menolong ibu kecil saat dalam bahaya."
"Oh ya, kakak kemana? Aku belum melihatnya pulang kerumah."
"Kakakmu bermalam disini. Ia menemani Putra, karena ibu kecil udah tertidur tetapi tak memperhatikan Putra. Maka dari itu, kakakmu yang menjaganya." Ucap Nayla dengan lembut.
Putra pergi ke dapur melihat Lingtheo memasak. Masakannya tercium wangi semerbak memenuhi semua ruangan. Maklum saja rumah Nayla tak terlalu besar. Ventilasi udara juga kurang.
"Wahh.. Putra sangat ingin makan masakan paman baik. sepertinya sangat enak. dalam piringnya penuh warna makanan." Tutur Putra yang baru saja datang menghampiri Lingtheo.
"Udah selesai, siap disajikan. Putra mau? Paman akan ambilkan yang banyak agar Putra cepat bertumbuh besar seperti paman."
"Putra mau dong, Putra sangat lapar setelah melihat masakan paman."
"Biar paman saja yang membawanya. Makanan nya masih panas, jika melukai tangan Putra bagaimana. Putra duduk saja ya, tunggu paman disana."
Lingtheo mempersiapkan semua makanan yang ia masak. setelahnya ia pun memanggil Nayla untuk sarapan bersama. tetapi ia melihat Lingmei sudah ada dalam kamarnya.
"Lohh. Meimei, sejak kapan kamu disini? Mengapa kakak tak sadar."
"Kakak.. aku baru saja datang, kakak ternyata belum pulang. Aku sebetulnya sangat ingin datang semalam saat kakak memberi kabar, tetapi kakak tak memberi izin. Jadi aku datang pagi sekali agar bisa bertemu ibu kecil."
"Iya kan sudah malam. tak baik untuk kesehatan mu, mari kita makan dahulu. Aku sudah masak makanan China."
"Wahh Meimei ingin makan banyak, masakan kakak begitu lezat. Aku mau menyuapi ibu kecil dikamar saja."
Nayla hanya tersenyum mendengar pembicaraan mereka. ia bersyukur bisa mengenal Lingmei dan Lingtheo. setiap kesulitannya selalu ada teman bersama nya. suasana begitu terasa hangat.
Sementara itu Adi mulai terbangun, ia melihat sekelilingnya terasa asing. Ia merasa sangat pusing. "Aku dimana." Pikirnya saat melihat sekelilingnya.
Tangan nya memegang kepala. Mencoba duduk tapi masih lemas. disertai mual-mual yang ia rasakan. dilihatnya ada seorang pria yang memberinya air perasan lemon hangat.
"Minumlah. Ini bisa menghilangkan sedikit rasa lelah ditubuhmu."
"Mengapa aku bisa disini?"
"Apakah kamu tak sadar atas apa yang kamu perbuat?"
Adi meminum air yang diberikan pria tersebut, ia masih berpikir kejadian apa yang menimpa nya.