
Theo menyelesaikan tugas nya lebih awal sehingga bisa menjemput kekasihnya dan juga adik semata wayangnya itu. Tetapi dalam perjalanan ia mengingat saat pertama kali melamar Nayla.
"Aku melamar nya tanpa persiapan, ditempat yang sangat tidak romantis dan waktu yang kurang tepat. Sebaiknya aku singgah sebentar ke toko perhiasan untuk membelikan nya sebuah cincin." Gumam Theo sembari menyetir.
Ia melaju dengan kecepatan sedang dan mencari keberadaan toko perhiasan, walaupun dibelinya tanpa memesan terlebih dahulu tapi dia ingin sebuah cincin terbaik yang berada di toko tersebut. Tak lama kemudian Theo melihat toko perhiasan dan berhenti di bahu jalan.
"Ada yang bisa saya bantu? Ingin model yang seperti apa ya, disini juga ada perhiasan berbentuk berlian pak." Sahut pelayan toko dengan ramah dan Theo menjawabnya.
"Adakah pilihan yang terbaik dari toko perhiasan ini, saya ingin membeli cincin untuk kekasih saya."
"Maaf kalau boleh tahu size jarinya berapa ya pak? Karena cincin memiliki berbagai macam ukuran jadi agar ukuran tepat di jarinya akan lebih baik jika tahu size nya terlebih dahulu." Tutur pelayan tokonya.
"Oh begitu yaa.. saya kurang tahu size jarinya, ini juga membelinya tanpa sepengetahuan dirinya kalau begitu saya hubungi dulu kekasih saya ya." Balas Theo dan pelayan tokonya terkesima dengan sifat Theo yang sangat berani menghadiahkan kekasihnya dengan sebuah cincin.
"Sudah tampan, mapan, lembut sekali dalam bersikap juga sangat romantis ya." Ucap pelayan toko tersebut pada teman nya yang juga menjadi pelayan toko perhiasan itu.
"Kamu benar, beruntung sekali perempuan yang menjadi kekasihnya itu aku jadi iri." Balasnya.
Jika Theo bicara akan menanyakan size jari kekasihnya itu tapi salah besar, karena Theo tidak ingin Nayla tahu bahwa dia sedang kebingungan karena tidak tahu ukuran jari manis Nayla. Maka, Meimei adalah semua jawaban dari keraguan nya.
"Halo? Ya kak. Oh begitu sebentar ya. Apa?."
"Jangan sampai Nayla tahu, kamu harus cari cara agar Nayla mengatakan size jari manis nya tanpa curiga kali ini kakak percaya padamu. Kakak tunggu dalam lima menit ke depan." Ucap Theo dan sambungan telepon nya pun terputus tanpa mendengar dahulu perkataan dari adiknya itu.
"Haishhhh.. selalu begini, untunglah ibu kecil sedang ke toilet jadi gak akan nanya siapa yang telepon. kakak hanya bisa mengandalkan ku! Baiklah aku akan selalu membantu mu kak."
"Tangan ibu kecil tidak terlalu besar, sepertinya ukuran ku sama ibu kecil gak jauh beda dech." Gumam Meimei dalam lamunan nya dan Nayla yang baru datang memperhatikan adik iparnya itu.
"Mei? Apa kak Theo udah sampai?." Ucap Nayla tapi Meimei terus melamun dan Nayla berkata lagi.
"Meiiiiii...!!!!" Dan Meimei pun terkejut bukan main.
"Ahhhh.. haishhh.. ibu kecil mengagetkan ku saja hughhh... Aku kira ada apa hahaha.."
"Maaf habisnya kamu di ajak berbicara enggak mendengar, takut aja kalau sampai ke sambet kan? Apalagi ini di lobi biasanya ada penghuninya." Balas Nayla ketakutan karena Meimei tak bergerak saat diajak interaksi dengannya.
"Hah? Massa sihh.. ibu kecil percaya banget yang begituan, ini kan belum malam jadi hantu nya enggak bisa menampakkan diri apalagi sampai masuk ke ragaku. Hahaha.." jawab Meimei.
"Oyaa coba lihat tangan ibu kecil apakah ada yang mengikuti aku bisa menerawang nya." Sambung Meimei lagi padahal hanya ingin tahu ukuran jari Nayla tetapi Nayla tak curiga jadi ia hanya mengikuti perkataan Meimei.
"Hah? Beneran bisa? Coba dech lihat ada apa enggak yang mengikuti ku." Menjulurkan tangannya pada Meimei dan Meimei meraba tangan kiri Nayla dengan wajah serius lalu berkata.
"Akan ku lihat dengan cara mengusapnya, tapi harus tahu dulu ukuran cincin yang biasa ibu kecil pakai karena biasanya dari cincin bisa jadi penangkal hantu itu mengikuti."
"Oh begitu, penting juga ya ternyata memiliki cincin bisa jadi penangkal hantu. Tapi aku enggak punya ukuran sihh tahu kalo gak salah ingat 11 atau 12 gitu terus gimana dong?." Ucapan Nayla telah menyelesaikan masalah Meimei pada kakaknya. Ia pun sangat senang dan berkata.
"Setelah aku terawang ternyata enggak ada hantu yang mengikuti ibu kecil, sebenarnya keberadaan cincin juga enggak bisa jadi penangkal hantu tadi Meimei hanya mengikuti dalam sebuah televisi yang menayangkan film horor. Hehee.."
Meimei pun ikut lega karena berhasil mendapatkan size jarinya Nayla ia pun dengan cepat mengirim pesan kepada kakaknya itu dan Theo langsung tersenyum bahagia melihat pesan adiknya.
"Kakak lama banget ya, apa ibu kecil lapar? Sepertinya kita harus membeli makanan dahulu dech." Sahut Meimei yang mulai terasa bosan menunggu kehadiran kakaknya itu.
"Apa kita langsung pulang aja pesan taksi online dulu, kalau membeli makanan dekat sini dimana ya?." Tanya Nayla.
"Jangan langsung pulang karena kakak udah bilang akan menjemput kita pasti dia sedang berusaha menyelesaikan pekerjaan nya. Sepertinya di depan ada toko roti, kita kesana aja yaa ibu kecil." Jawab Meimei mengajak Nayla pergi dari lobi.
Nayla hanya mengikuti apa yang Meimei bilang sementara Theo dalam perjalanan menemui mereka setelah membeli sebuah cincin berlian untuk Nayla.
Belom beranjak dari tempat semula tiba-tiba Meimei ingin buang air kecil dahulu jadi Nayla terpaksa menunggu Meimei di lobi seperti yang Meimei lakukan tadi sebelum Theo menelponnya.
Harinya sangat terasa panjang karena menunggu dengan begitu lamanya ditambah perut yang mulai keroncongan, tapi Nayla masih sabar menunggu kakak adik itu. Hingga Theo pun sampai di lobi mall dia mencari keberadaan Nayla dan juga Meimei.
"Sayang? Koqq sendirian menunggu disini? Meimei kemana? Haishhh.. anak itu selalu meninggalkan mu." Ujar Theo yang baru bertemu Nayla.
"Enggak koqq, tadi Meimei ingin buang air kecil sebentar sebelum nya kami bersama. Bagaimana denganmu apa udah selesai pekerjaan nya? Maaf jadi merepotkan mu karena harus menjemputku."
"Oh begitu kirain Meimei selalu meninggalkan mu, anak itu jika udah masuk mall pasti ingin dilihat semua pakaian, baguslah jika dia bersama mu selalu. Ini keinginan ku menjemput mu jadi jangan katakan hal semacam itu yaa." Jawab Theo lagi.
"Oyaa aku ada sesuatu untukmu." Sambungnya.
"Apa itu?." Tanya Nayla penasaran.
Theo membuka kotak perhiasan nya dan duduk bersimpuh di depan Nayla, ia melamar Nayla untuk kedua kalian dengan sangat romantis. Semua orang yang berada di lobi melihat adegan romantis Theo.
"Theo.. kamu mau ngapain? Gak perlu sampai berlutut gitu. Aku kan udah menerima mu menjadi pemilik hatiku." Ucap Nayla tersentuh.
"Hari ini di jam ini aku Lingtheo akan selalu menjadi milikmu dan kamu akan selalu menjadi milikku, cinta kita tak akan pernah sirna dan akan selalu hidup bersama waktu walaupun diantara kita punya kekurangan. Nayla.. kamu memang bukan yang pertama dihatiku tapi, aku pastikan kamu adalah yang terakhir mengisi hati ini." Ungkap Theo dengan ketulusan.
Nayla sangat terharu mendengar pernyataan cinta dari Theo, Theo sangat romantis ia menyukainya.
Dan Nayla pun berkata pada Theo.
"Cinta mengajarimu melihat dengan cara memejam dan mengerti tanpa harus menjelaskan, cinta tidak pernah melihat kekurangan yang ada dan hanya dengan mu aku bisa merasakannya. Tak peduli kapan datangnya diriku di hidupmu yang harus kamu tahu cintaku lebih besar dari yang pernah hadir dalam hidupmu."
Mereka yang melihat nya ikut terhanyut dalam suasana bahagia begitu juga Meimei yang sudah dari tadi melihat kakaknya itu menyatakan perasaannya pada seorang gadis yang sangat mirip ibunya. Meimei tak ingin ketinggalan momen secepatnya dia mengambil gambar untuk dokumentasi, Theo memakaikan cincin dijari manis Nayla dan dikirim kan juga kepada nenek di Jepang.
nenek hanya tersenyum bahagia melihat cucu nya yang sebentar lagi akan menikah.