ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
Chapter 23. Putraku



Nayla yang baru saja selesai mandi kemudian melihat Putra sedang membaca komik terbaru nya. Ia memperhatikan komik yang dibaca Putra. Seingatnya bulan ini ia belum membelikan Putra komik terbaru.


"Sayang? Sedang membaca komik apa? Kelihatannya serius banget." Ucap Nayla.


"Paman baik yang baru saja memberi. Ini handphone kakak yang ketinggalan, ia kesini untuk mengembalikan handphone kakak saja." Balas Putra dengan fokus matanya masih melihat komik tetapi tangan nya memberikan handphone.


"Wahh.. komik terbaru kesukaan Putra. Paman baik? Sekarang sudah punya teman baru ya." Sahut Nayla yang memperhatikan komiknya. Nayla berpikir paman baik pasti Lingtheo.


"Iya dong, paman baik juga menyukai anime. Itulah sebabnya Putra mau menjadi temannya." Balas Putra senang.


"Hahaha..' lanjutkan membacanya."


Nayla mengambil handphone lalu menelpon Meimei.


Tut.. Tut.. Tut..


"Haloo.. Terimakasih ya nak, sudah mengembalikan handphone ibu kecil. Maaf jadi merepotkan mu." Ucap Nayla.


"Tak merepotkan sama sekali, aku tahu ibu kecil pasti membutuhkan nya." Sahut Meimei.


"Oh ya, tadi kakak titip pesan. Ia bilang sudah memberi bonus pada pekerjaan ibu kecil. Katanya uang sudah masuk dalam rekening ibu kecil, ia juga mengucapkan terimakasih." Sambung Lingmei saat di telepon.


"Wahh.. syukurlah, terimakasih ya nak sampaikan pada kakakmu. semoga usahanya lancar selalu. Terimakasih Meimei telah banyak membantu ibu kecil saat proses pengambilan gambar." Balas Nayla dengan sangat senang.


"Baiklah, sampai jumpa lagi ya ibu kecil. Meimei menyayangimu." Tutur Lingmei.


"Ibu kecil juga akan selalu menyayangi Meimei." Ucap Nayla sembari memutuskan sambungan teleponnya.


Saat sore hari aku ingin mengajak Putra jalan-jalan. Aku akan menghabiskan waktu bersama Putra berdua saja.


Disamping itu...


Setelah Lingmei beristirahat, ia memutuskan untuk bertanya pada kakaknya tentang wanita bernama Jia Li itu. Lingmei sangat ingin menemuinya.


"Kakak. kapan Meimei bisa bertemu dengan kak Jia. bagaimana keadaannya sekarang? Bagaimanapun juga Meimei adalah adik iparnya. Tak enak jika tak pernah menemuinya, kapan terakhir kali kakak menemuinya?" Ucap Lingmei.


Lingtheo yang saat itu mendengar perkataan Lingmei hanya terdiam, minum sejenak lalu berbicara.


"Semenjak ia menanyakan kapan kakak bisa mencari penggantinya, saat itu kakak sudah tak menemui nya lagi. Aku berpikir tak bisa mencari wanita lain. Tetapi ia terus saja memaksa keinginan nya hanya untuk membuatku bahagia dirasanya. Apakah mencari penggantinya bisa membuatku bahagia?"


"Kak Jia berkata benar, kakak juga berhak bahagia. Hanya karena ia sakit jadi kakak terus memendam keinginan kakak untuk mempunyai keturunan." Tutur Lingmei sangat lembut.


"Aku tak bisa menyakitinya. saat tubuhnya dalam kekurangan. Aku tak mampu melakukan nya walaupun ia yang meminta." Jawab Lingtheo.


"Kakak.. sudah bertahun-tahun ia sakit. dan kehidupan nya terus bergantung pada obat rumah sakit. Jika dia yang meminta, maka lakukanlah untuknya. Kakak mencari penggantinya. bukan meninggalkan nya. Sudah waktunya untuk kakak melanjutkan kehidupan."


"Aku tak bisa mempunyai keturunan dengan wanita yang tak pernah aku cintai sebelumnya. Terus menunggu kesembuhan nya, mungkin adalah cara terbaik." Sahut Lingtheo.


"Kakak.. bagaimana kakak bisa mencintai wanita lain sedangkan kakak tak pernah mencoba melakukan nya." Tutur Lingmei merasa sedih dengan kakaknya.


"Akan aku pikirkan lain waktu." Balas Lingtheo dengan tenang.


"Aku boleh menemuinya kan? Tetapi pergi bersama kakak lebih baik. Kakak mau menemani Meimei kesana kan?" Ucap Lingmei memohon dengan menempel kedua tangan dan mata terpejam ia berharap kakaknya akan mengiyakan permintaan nya.


"Hmm.. baiklah, aku tak bisa menolak jika kamu yang memintanya."


"Yeahh.. kakak emang yang terbaik." Lingmei pun memeluk kakaknya dan mencium pipinya dengan lembut.


Lingtheo hanya tersenyum pada Lingmei. Ia sangat menyayangi adiknya itu, dari kecil ia tak pernah lelah menjaga adiknya.


*****


"Kakak? Apakah sudah menerima gaji bulan ini? Putra merasa, kakak terlalu cepat mengajak Putra jalan-jalan."


"Emm.. belum sih, tapi kakak dapat bonus karena ikut berangkat ke Jepang. Sebagai tebusan nya itulah, sebabnya kakak mengajak Putra jalan-jalan lebih awal. selama ditinggal kakaknya seminggu, Putraku menjadi kurus. Apakah Putra makan dengan baik?" Ucap Nayla memegang tangan kecil Putra.


"Oh begitu, tetapi Putra makan seperti biasa kok. Apakah terlihat kurus? Mungkin Putra terlalu merindukan kakak. Putra kan kuat, jadi akan sehat selalu saat bersama kakak. Saat kakak tiada kakak, Putra pun menjadi kurus." Balas Putra dengan pintarnya.


"Hahaha..' Putraku memang cerdas. kakak baru saja tahu, jika rindu bisa membuat seseorang menjadi kurus." Tutur Nayla tertawa atas jawaban dari adiknya itu.


"Kakak, maafkan Putra jika selama ini membuat kakak bekerja keras. Putra membebani kakak. Tapi Putra sangat menyayangi kakak." Ucapnya sedih.


"Hmm.. Putra adalah adik satu-satunya yang kakak miliki. Jika Putra tak ada, untuk siapa kakak bekerja? Kakak bekerja dengan penuh semangat karena adanya Putra. Jangan berbicara begitu lagi ya. Atau kakak akan merasa sedih. Huhuhu.. Tuhan lihatlah Putraku. Ia berbicara dengan membuat kakaknya menangis. Lagi-lagi Nayla bertingkah seperti anak kecil didepan adiknya. Ia menangis tanpa air mata.


"Tidak.. Kak Nayla hanya bercanda Tuhan, Putra tak akan berbicara seperti itu lagi." Ucap Putra dengan melihat ke langit seperti memohon ampun.


"Hahaha..' Putraku sangat lucu. Aku ingin membelikan nya es cream untuk anak lucu seperti nya." Nayla meledek Putra yang saat itu memandang nya dengan mengigit bibir kecilnya.


Nayla pun menggendong Putra bersama membeli es cream tetapi saat berada di kedai es cream Putra ingin turun dari pelukan Nayla. Ia tak ingin terus di gendong. Nayla hanya mengiyakan saja.


Ia berbicara dengan pelayan, memesan dua es cream rasa coklat. sehabis memesan Nayla tak melihat keberadaan Putra. Mungkin Putra sudah duduk di dalam dulu-an jadi ia tak menghiraukan.


Ia membayar kedua es cream yang dibelinya tetapi setelah masuk dalam kedainya ia tak melihat Putra.


Perasaan Nayla sangat panik. Kemana Putra pergi, ia terus mencari kesana kemari tak menemukan Putra. Kemudian ia bertanya pada seseorang yang berada didekatnya.


"Mohon maaf, apakah melihat anak kecil umurnya tujuh tahun, tinggi badannya segini, pakai baju warna merah. jam tangan merah, lalu memakai sepatu hitam. Apakah anda melihatnya?" Tanya Nayla dengan rasa khawatirnya.


"Saya tidak melihatnya, coba tanya pada orang yang berada disana mungkin ia melihatnya." Tutur seorang pemuda sembari menunjuk ke orang lain.


"Ya tuhan, dimana dia? Putra!!" Teriak Nayla, ia terlihat sedih.


Nayla berusaha menelpon Adi tetapi handphone Adi tak bisa dihubungi.


Ia terus mencari disekeliling kedai. Berlari kesana-kemari mencari keberadaan Putra. Ia mengingat satu tempat yang belum dia cek.


"Putra!! Aku harus mencarinya di toilet. Yahh.. mungkin ia ada disana. semoga ada disana. Putra.."


"Putra.. sayang.. Putraku.. apakah kamu ada disana?" Teriak Nayla dibalik pintu toilet kedai es cream.


"Kakak.. aku disini, tolong buka pintunya. Aku tak bisa membukanya." Sahut Putra yang sudah dari tadi berdiam diri dalam toilet.


"Astaga.. sayang.. adikku.. dirimu terkunci, kakak akan menolongmu. menjauhlah sebentar dari pintunya."


Nayla sekuat tenaga mendobrak pintu tersebut. Ia tak ingin adiknya menunggu terlalu lama didalam toilet. dilihatnya ada sapu yang terletak di dekat wastafell. Nayla menggunakan sapu tersebut untuk merusak kunci pintunya. dan akhirnya ia bisa melihat adiknya.


"Putra ku.. sayang, maafkan kakak. Ini semua salah kakak. Huhuhu..' mengapa aku begitu ceroboh melepaskan pelukanmu, aku begitu khawatir padamu. Maafkan kakak membuatmu dalam kesulitan." Nayla menangis sambil memeluk adiknya dengan erat. Rasa takut yang begitu dalam ia rasakan.


Pikiran Nayla sudah bercampur aduk, takut sekali adiknya dalam bahaya. Apalagi sekarang sedang banyak berita tentang penculikan anak. Membuat Nayla semakin ketakutan.


Tetapi ia bersyukur pada Tuhan. Adiknya tidak dalam bahaya walaupun begitu, Nayla tetap merasa bersalah.


"Kakak.. jangan menangis, aku akan menangis jika kakak terus menangis. Aku baik-baik saja, maafkan aku sudah membuat kakak khawatir. tidak seharusnya aku pergi sendiri tanpa izin darimu. Aku yang salah. Maafkan Putra kak." Tutur Putra sembari mengelap air mata Nayla dengan pelan.


"Tidak, kakak yang salah tak bisa menjaga Putra dengan baik. Kakak terlalu lengah saat Putra pergi dari dekat kakak. Sayang, kakak begitu mengkhawatirkan dirimu." Tatapan Nayla begitu sedih melihat adiknya.


Bersyukur Putra tidak dalam bahaya, aku tak tahu bagaimana harus mempertanggung jawabkan kepada ayah dan ibu jika terjadi sesuatu pada Putra.


Nayla berjanji kejadian ini tak akan terulang lagi. untuk sebentar saja ia tak sanggup kehilangan Putra.


*****