ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C65. Insting Meimei



"Menangis lah kak gak perlu terlihat kuat dihadapan ku karna aku sangat mengenalmu. Aku tahu beberapa hari ini kalian sangat pendiam. Mungkin bagi kalian yang lain gak akan pernah tahu permasalahan rumah tangga kalian tapi enggak denganku, aku punya insting yang kuat." Ucap Meimei sembari memeluk Nayla.


"Tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan. Apakah dengan berdiam begini membuat kalian nyaman? Aku ingin kakak jujur bercerita jika aku bisa membantu maka akan aku lakukan."


Sejenak Nayla melepaskan emosinya pada pelukan hangat dari Meimei dan terus menghembuskan nafas nya yang terasa berat.


"Aku gak bisa menjadi istri yang baik untuk Theo. Mengapa trauma itu muncul kembali disaat Theo menginginkan sesuatu dalam diriku. Bagaimana aku bisa melewatinya tanpa harus membuat Theo kecewa lagi." Tutur Nayla merasakan sakit juga atas apa yang dia alami.


"Apa? Jadi selama seminggu lebih kalian belum melakukan hubungan suami istri? Bagaimana bisa kakak menunggu selama itu."


"Haishhh.. kakak selalu seperti ini. Benar-benar aku yang harus turun tangan dalam masalah besar begini. Jika bukan kakak ipar yang memulai maka pernikahan mereka akan tetap seperti ini gak ada romantisnya. Bagaimana bisa enggak melakukan sesuatu yang menyenangkan padahal udah terikat pernikahan hughhh.. kau sangat payah kak!." Batin Meimei kesal pada kakaknya itu karena tak bisa menyakinkan istrinya untuk tidak takut.


"Ya. Ini semua kesalahanku, mengapa jadi seperti ini hubungan ku dengan kakakmu."


"Sudah! jangan terus menyalahkan dirimu kak, ini bukan salahmu sepenuhnya. Baiklah coba kakak perbaiki masalah ini dengan rasa yang tenang. Tanamkan pada pikiran kakak saat trauma itu muncul kembali maka kakak harus melawannya dengan berpikir bahwa kakak cinta Theo dan rasa sayangmu melebihi kapasitas trauma mu. Maka saat itu pula perlahan kakak akan menikmatinya."


"Ahh.. kamu bisa berbicara begini ajaran dari siapa hah?! Aku sangat malu denganmu." Ucap Nayla dan Meimei pun kembali menjawab.


"Kak! Aku bukan anak kecil lagi. Hal seperti ini sudah bisa ditebak tanpa harus merasakannya dahulu. Jika gak ada rasanya gak mungkin kekerasan pelecehan dimana-mana kak!. Kakak harus bangun berhenti merasa malu saat dihadapan suami mu. Jika kak Theo sangat menghargai wanita maka hanya kakak yang bisa memulai semua hubungan ini dengan bahagia. Mau sampai kapan kalian akan terus berdiam diri begini tanpa adanya penyelesaian?." Ucap Meimei dengan tegas dan menyakinkan Nayla agar mengambil inisiatif duluan pada suaminya itu.


"Kamu benar, kakak gak mungkin terus berlarut dengan trauma ini dan melupakan kewajiban kakak untuk melayani suami. Kasian Theo bisa menahannya sampai sejauh ini. Kakak berjanji harus bisa memulai nya duluan dan menciptakan suasana yang nyaman untuk kakakmu. Ini harus kakak lakukan segera mungkin! Tunggu kakakmu pulang dari perusahaannya ya." Balas Nayla dengan percaya diri yang tinggi padahal masih dihantui rasa takut.


"Baiklah aku pasti bisa! Lupakan semua hal yang tidak berguna dalam pikiran ku." Gumam Nayla dalam hatinya.


"Nah gitu dong! Meimei suka dengan semangat kakak yang sekarang, semoga berhasil ya kak. Oya Meimei sampai lupa memberikan hadiah pernikahan untuk kakak. Sebentar ya Meimei ambil dulu." Ucap Meimei sembari mengambil pakaian lingerie dress yang ia beli saat di mall kemarin dan setelahnya memberikan hadiah tersebut pada Nayla.


"Wah.. apa nih? Pake repot segala ngasih hadiah untuk kakak. Hihihi.." Jawab Nayla girang.


"Buka aja dulu kak mungkin akan berguna untuk nanti malam. Hahaha.." Ujar Meimei.


"Emm.. baiklah, ya ampun ini pakaian apa? Sangat terbuka. Darimana kamu mendapatkan pakaian seperti ini?." Tanya Nayla yang merasa kaget setelah melihat isinya.


"Ahh kakak sangat kuno begitupun gak tahu. Di mall sangat banyak pakaian seperti itu dengan model dan bentuk body yang berbeda-beda."


"Hushhht.. jangan di perjelas lagi ya. Kakak mengerti, cukup ini saja." Balas Nayla.


"Ya kali kakak mau model yang lebih hot, akan Meimei cari jika berkunjung ke mall ya. Hahaha.."


"Heh? Ingin meledek kakak yaa.. terima hukuman ini." Ujar Nayla menggelitik tubuh Meimei.


"Hahaha.. ampun kak! Enggak bakal meledek lagi."


"Hehe, makasih ya dek udah menghibur kakak hari ini dan memberi solusi setiap masalah kakak."


"Gak masalah, hanya saja kakak harus meneraktir ku jika berhasil ya." Tutur Meimei tersenyum.


"Baiklah kalau begitu kakak harus bersiap membersihkan diri dahulu sembari menunggu suami kakak pulang. Luluran bisa merilekskan pikiran dan pergi kesalon agar rambutnya lebih wangi." Ucap Nayla dengan semangat.


"Hahaha.. aku mendukung kakak! Lakukanlah sesuka hatimu dan jangan biarkan kak Theo kecewa ya." Jawab Meimei melihat Nayla berlalu dari kamarnya. Walaupun Meimei masih meragukan keseriusan Nayla soal rasa takut itu.


Siang berganti malam dengan sangat cepat. Nayla sudah bersiap menunggu kedatangan Theo tapi suaminya itu sangat gila dalam bekerja. sepanjang harinya dihabiskan dengan bekerja, bekerja, dan bekerja itulah mengapa perusahaan nya menjadi berkembang dengan pesat.


"Aku sangat gugup, semoga malam ini aku enggak bikin masalah lebih runyam lagi. Harus bisa! Huhh.. hahh.." Gumam Nayla mengatur nafasnya.


"Apakah aku memakai dress nya sekarang aja ya? Begitu Theo melihatku pasti dia udah bisa menebak keinginan ku. Yaa.. begini saja."


Nayla sangat mempersiapkan semuanya berkat bantuan dari adik iparnya itu, ia memakai dress yang menonjol kan panorama indah jika dipandang. Sangat tegang apalagi setelah mendengar suara klakson mobil Theo tanda suaminya telah pulang.


"Kak udah pulang?." Tanya Meimei setelah melihat kakaknya diruang dapur.


"Iya, Nayla mana? Tumben gak turun. Biasanya dia udah di depan pintu menyambut ku." Ujar Theo penasaran apa yang dilakukan Nayla.


"Oh itu kakak ipar menunggumu dikamar. Aku sedang bikin teh hangat untuknya, kakak ingin teh hangat gak biar sekalian dibikin?." Ucap Meimei.


"Ada apa nih? Tumben kamu bikin minuman saat malam begini. Apa Nayla kurang enak badan?."


"Ahh tidak, coba saja kakak lihat istrimu. Hihi.."


"Nih anak ada apa sihh.. cengengesan gak berhenti dari tadi." Ujar Theo yang bingung melihat adiknya karena tingkah aneh nya itu.


"Udah sana, ngapain disini sih? Keburu tidur nanti istrimu itu." Usir Meimei yang tak sabar kakaknya ke kamar guna melihat Nayla. Dan Theo pun pergi ke lantai atas dengan penasaran.


"Teh hangat nya sudah jadi, tinggal masukan ramuan cinta aja biar makin bergairah jadi lupa dech rasa takut atau trauma nya. Hihihi.." Gumam Meimei sembari membawa teh hangat nya ke kamar atas.


"Emm.. Nay? Kamu sakit kah. Koqq udah selimutan aja tubuhmu, biar aku lihat suhu tubuh mu ya." Ucap Theo mendekati Nayla yang saat itu sangat gugup dan tegang bercampur aduk.


"Ehh gak usah, aku gak apa-apa."


"Udah diam ya biar aku lihat dulu."


Theo terkejut melihat Nayla memakai dress yang sangat terbuka dan perasaan ingin itu tiba-tiba muncul kembali, ingin sekali Theo melakukan nya tapi tak ingin bersifat brutal maka tetap dalam pikiran dan hati yang sabar.


"Hehe, maaf. Meimei yang memberi baju ini."


"Gak apa-apa bagus koqq. Memangnya udah beneran siap?." Tanya Theo menyakinkan lagi.


Dengan wajah yang merona Nayla menjawabnya


"Iya aku udah siap."


"Hehehe.. Kalau begitu aku mandi dulu ya. Habis dari bekerja membuat tubuhku kurang segar."


"Iya, aku menunggumu." Balas Nayla tersenyum.


"Ya Tuhan bantu aku, perasaan tegang ini gak bisa berhenti. Semoga malam ini cepat berlalu."