ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C47. Pertemuan dengan nenek



Theo sangat menghargai wanita yang berhasil mengisi hatinya itu, ia bukan pria yang haus akan gairah. Mereka tak pernah melakukan hal yang dipandang orang negatif saat melihatnya. Tapi justru mereka selalu melakukan hal yang positif.


Usai makan malam bersama, mereka berbelanja untuk esok pergi ke Jepang. Nayla begitu semangat memilih oleh-oleh untuk Xinyue. Ia juga sudah tidak sabar melihat anak itu.


Hingga larut malam, Meimei yang menunggu di rumah terasa mengantuk. Pikiran Meimei, kakaknya itu sudah punya keberanian melakukan sesuatu yang menyenangkan dan menikmati keindahan hidup sebagai sepasang kekasih baru jadi ia hanya sabar menunggu tanpa menggangu dengan cara menelponnya. Adiknya itu sudah sangat dewasa dalam berpikir yang macam-macam karena sangat senang menonton drama jadi pikiran nya ikut kebawa dalam cerita itu juga. Tapi siapa sangka, melakukan hal yang intim seperti itu bukanlah hal yang mudah bagi pasangan yang baru saja jadian.


Tak lama kemudian suara pintu diketuk pun terdengar ketelinga Meimei. Ia sampai ketiduran menunggu Nayla dan juga Theo. Ternyata mereka sudah pulang. Meimei membuka pintu dengan cepat tapi ia tak mendapati apa-apa dalam tangan keduanya. Meimei pun terlihat lesu kembali.


"Ada apa sayang? Koqq jadi lesu begitu?" Tanya Theo yang memperhatikan raut wajah adiknya itu.


"Hmm, kalian enggak niat gitu bawakan Meimei makanan? Kan tadi pamitnya makan malam."


"Ya ampun kita lupa, aduh. Lupa sekali, maaf ya dek. Kakak benar lupa sama kamu." Jawab Theo. Meimei hanya merajuk tanpa berbicara.


"Hehehe, jangan gitu sayang. Kasian Meimei, kamu atau aku yang mengambil nya?" Tanya Nayla.


"Aku aja, tadi belanjaan nya bawa sini apa tetap dimobil aja? Biar besok gak repot lagi bawanya."


"Ya udah dalam mobil aja, soalnya udah aku rapikan tadi. Tinggal bawa aja besok." Jawab Nayla. Meimei semakin tidak mengerti dengan perbicangan kedua orang ini. "Emang besok mau kemana? Koqq belanja segala?" Tanya Meimei.


"Ke Jepang, lihat Xinyue. Sekalian minta restu sama nenek jadi dibawain sedikit oleh-oleh khas China yang disukai nenek." Balas Nayla.


"Oh begitu, aku ikut juga ya. Soalnya bingung disini tanpa kegiatan." Kata Meimei tak lama kemudian Theo datang dengan membawa makanan untuk Meimei. Meimei yang melihatnya tersenyum senang.


"Makasih kakak, oyaa kak Meimei ikut yaa ke Jepang besok. Boleh kan?" Sambung Meimei.


Theo melihat Nayla, tapi Nayla hanya senyum saja.


Lalu Theo menyetujui permintaan adiknya itu.


Malam pun berlalu tiba lah keesokan harinya mereka berangkat dari China ke Jepang dengan membawa sedikit barang dalam tasnya. Nayla meninggalkan Putra, karena Putra dijagain oleh dokter dan suster dalam 24jam.


Sesampainya di Jepang, Meimei sangat bahagia. Ia seperti nostalgia jaman ia kuliah di Jepang. Kini, kuliah S2 nya belum dia lanjutkan masih sibuk mencari kesenangan dahulu. Theo selalu menuruti kemauan adiknya itu. Tak pernah memaksa juga dalam keinginan nya, tapi Meimei belum pernah mengenalkan kekasihnya pada Theo. Sejauh yang Theo tahu, Meimei belum pernah berpacaran.


Bagaimana tidak, adiknya itu selalu mengikuti alur kehidupan kakaknya. Mengatur percintaan, membantu pekerjaan, bahkan menemaninya kemana pun ia akan selalu begitu. Theo berpikir saat Meimei menemukan takdir kehidupannya barulah dia merasakan kebebasan.


"Ya Tuhan, kamu sangat mirip dengan putriku. Andai putriku masih hidup pasti dia bahagia sekali melihat kekasih Theo secantik dirinya."


"Terimakasih nek, mungkin hanya kebetulan saja. Di dunia ini katanya terdapat tujuh wajah dengan kemiripan yang bisa dibilang 70% keatas. Mungkin aku salah satunya yang mirip dengan ibunda Theo."


"Panggil aku dengan sebutan Oma saja ya nak." Kata nenek dengan mengelus wajah Nayla.


"Tuh kan, Meimei bilang juga apa? Oma sih tidak percaya Meimei. Ibu kecil sangat mirip dengan ibunya Meimei." Ucap Meimei.


"Melihat ibu kecil dapat mengobati rasa rindu kita sama ibu kan kak?" Sambung Meimei.


"Iya, memang ada kemiripan. Oya Oma, kenalin ini Nayla calon istri Theo dan juga ibu pengganti bagi Xinyue." Tutur Theo yang ikut duduk.


"Oh jadi ini perempuan yang berhasil membuatmu jatuh cinta. tak salah, memang perempuan yang begitu mirip dengan kepribadian ibumu juga sangat sopan dan baik hatinya." Puji nenek.


"Syukurlah kamu akhirnya memikirkan Yuyu juga. Tapi anak itu masih tertidur, beberapa hari ini ia selalu membicarakan kalian. Saat sudah terbangun dia pasti akan senang sekali." Sambung nenek.


Nayla hanya tersenyum melihat perlakuan nenek padanya, ia sangat rindu kasih sayang orang tua. Maka dari itu, Nayla meminta izin untuk memeluk nenek dengan sikap yang sangat sopan.


"Mohon maaf Oma, jika Nayla meminta izin dapat memeluk Oma apakah di perbolehkan?" Tanya Nayla. Tapi sebelum Oma berhasil memeluk Nayla, Theo sudah lebih dulu memeluk kekasihnya itu.


Nayla hanya bisa membalas pelukan Theo dengan wajah memerah, Oma dan juga Meimei hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku Theo.


"Hehehehe.." Theo tertawa setelah memeluk Nayla.


Lalu Nayla pun memeluk nenek dengan erat. Ia begitu terharu pada pelukan hangat yang diberikan nenek untuknya. Kemudian Meimei pun ikut berpelukan pada keduanya.


"Sudah. Mengapa kita jadi berpelukan terus sih, sampai lupa untuk menghidangkan makanan." Kata nenek pada cucu-cucunya dan mereka hanya bisa tertawa. Walaupun begitu Nayla sangat mudah akrab dengan nenek dan nenek sangat baik orangnya, ia juga menerima Nayla dengan senang hati. Xinyue tidurnya sangat lama tapi kemudian ia terganggu karena banyaknya suara dalam rumah nenek. Yang biasanya sangat sepi sekarang menjadi ramai ia pun penasaran siapa yang datang, tapi anak itu masih enggan untuk bangun.


"Untungnya Meimei memberi tahu kalau kalian akan datang ke Jepang, jadi Oma ada persiapan buat menyambut kalian. Yaa.. beginilah keadaan rumah Oma Nay, Oma tidak terlalu suka dengan konsep rumah modern. Entah karena Oma memang sudah tua atau karena Oma tak bisa mengikuti perkembangan zaman jadinya hanya bisa melihat rumah Jepang dengan konsep tradisional, hihi."


"Nayla senang dengan konsep rumah Oma, terasa sejuk dan nyaman. Rumah modern sekarang penuh dengan kaca, jadi seperti rumah kaca. Sangat panas jadi kurang nyaman. Rumah Oma sangat indah, banyak pohon sakura nya. Sayangnya sedang musim panas jadi bunga sakura tak bermekaran." Jawab Nayla sangat sopan.


"Hehe, Oma pikir Nayla kurang nyaman. Bagus dech kalau Nayla menyukainya." Sahut nenek.