
Disamping itu Putra terlihat masih kesal dengan kakaknya walaupun sudah berlalu...
"Putra? Kak Nayla hanya bercanda, Udah dong cemberutnya. Nanti adik kecil yang disamping mu menjadi takut melihatmu." Ucap Adi yang merayu sambil terus melihat Putra di kaca spion mobil nya.
"Betul kata paman, kakak kecil gak boleh marah. Nanti aku sebagai adik kecil jadi gak mau berteman dengan kakak kecil." Tutur Qiara dengan suara lucunya saat merayu Putra yang sedang cemberut.
"Iya, kakak enggak akan marah lagi kok. Tapi adik kecil tetap berteman sama kakak ya. Emm.. panggil kakak besar saja. Jika aku menjadi kakak kecil bagaimana aku bisa melindungi adik kecil dari penjahat besar." Ucap Putra dengan lugunya.
Adi hanya tersenyum melihat Putra dan Qiara berbicara dengan lucunya.
"Tapi kan tubuh kakak masih kecil, jadi lebih cocok jika adik kecil memanggil kakak dengan sebutan kakak kecil. Kakak besar itu seperti kakak Nayla, jika kakak kecil udah sebesar kakak Nayla atau paman Adi maka aku akan memanggil kakak besar untuk kakak yaa." Ucap Qiara memberi tahu Putra dengan menepuk-nepuk bahu Putra yang sedang menatap Qiara dengan bingung.
"Kakak kecil, aku belum tahu nama kakak kecil siapa ya?" Tanya Qiara dengan penasaran tetapi Putra hanya menjawab.
"Wahhh... Apakah ini sekolahnya? Sangat bagus sekali yaa! Enggak seperti sekolahku dulu yang gak ada pohonnya."
Putra terlihat kagum akan sekolah baru nya yang sangat indah dipandang dari kaca mobil. Warna warni cat sekolahnya seperti sedang berada di taman bermain anak-anak. Penuh bunga-bunga dan pepohon yang rindang. Terlihat juga gugus depan sekolahnya sangat cantik. Bersih dan tertata rapi.
Saat mobilnya berhenti Putra bergegas turun dari mobil tetapi tetap menjaga Qiara agar tak jatuh, memegang tangan Qiara yang sangat kecil dan lucu membuat Adi semakin senang pada Putra. Mereka terlihat bermain bersama.
Adi pun mengajak Putra untuk keruang kepala sekolah terlebih dahulu. Sementara Qiara sudah masuk kelasnya dengan berjalan sendiri.
*****
"Qiara? Yang turun dari mobil bersama kamu siapa ya?" Tanya Gita pada Qiara.
"Ohh itu ya." Jawab Qiara yang terlihat bingung karena belum tahu nama Putra.
"Iyaa cowok ganteng yang turun bersama kamu itu loh. Ajak aku kenalan sama dia dong." Ucap Gita yang menyukai Putra saat pertama melihatnya
"Ehh.. itu kakak kecil. Nanti juga masuk kelas, kamu sendiri aja yang ajak dia kenalan." Jawab Qiara sambil tersenyum.
"Kalian berkumpul didepan kelas, Ada apa sih?" Sahut Xi yang menghampiri karena penasaran apa yang dibicarakan teman-temannya.
"Ada murid baru, aku suka dia. tapi belum tahu namanya siapa." Jawab Gita.
"Mana? Aku gak lihat." Ucap Xi sambil menolehkan kepala kesana kesini, seolah sedang mencari tahu. Tetapi Xi tak melihat murid baru tersebut.
"Hmm.. kakak kecil sedang diruang kepala sekolah, sebaiknya kita tunggu saja. Lagian kakak kecil pasti mau berteman sama kalian. Kakak kecil baik kok tapi aku juga belum tahu namanya." Tutur Qiara memberi tahu.
Mereka pun masuk ke kelasnya dan Qiara duduk disebelah Gita.
Saat duduk mereka tak berhenti membicarakan Putra, dan sangat senang akan mempunyai teman baru.
"Anak-anak silahkan duduk di tempat duduk masing-masing dengan tertib. Dan tanpa suara yaa." Tutu Bu guru dengan lemah lembut sambil berdiri di depan kelas dengan tangan nya memegang buku pelajaran. Tetapi tangan satunya lagi memegang tangan Putra.
Putra terlihat diam tetapi matanya mengarah ke semua murid lainnya, dilihatnya atap-atap kelas yang sangat cantik karena ada gambar murid-murid kelas. Kursi dalam kelasnya warna warni dan berkelompok. Meja yang bundar dan besar. Serta dinding kelas bergambar bunga dan pepohonan.
"Baiklah anak-anak, kalian mempunyai teman baru dan ibu harap kalian akan memperlakukan teman baru seperti teman kalian sendiri. Jangan berkelahi, Jangan membenci dia, Jangan nakal, Jangan membully sesama teman. Ingat kata-kata Bu guru ya." Ucap Bu guru dengan menunjukkan jari nya seraya menghitung yang larangnya.
"Baiklah nak, silahkan perkenalkan dirimu ya. Jangan takut dan bicara lah agak keras agar semua teman baru mu mendengarkan." Ucap Bu guru pada Putra yang sedang berada di dekat papan tulis kelas. Sambil menghela nafas Putra pun membuka suaranya.
"Hai teman-teman !!! Namaku Putra Xiu, kalian bisa memanggil ku dengan nama Putra. Hobi ku jika dirumah membaca komik serta menggambar. Jika sedang diluar rumah maka aku akan bermain sepak bola. Tetapi aku suka menyukai bola basket." Jawab Putra memberi tahu.
"Wahh dia suka gambar, aku juga suka. Kita bisa menggambar bersama di perpustakaan jika jam istirahat." Ajak seorang teman yang bernama Aldi.
"Aku ikut kakak kecil juga." Ucap Qiara yang tak ingin ketinggalan.
"Putra? Maukah kita main bola basket bersama?" Ajak teman lainnya.
"Sudah.. dibicarakan nanti saja jika jam belajar sudah usai ya." Ucap Bu guru.
"Kakak kecil, kita bisa belajar bersama ya. Qiara bisa meminjam kan semua buku buat kakak kecil pelajari." Sahut Qiara dengan berbisik-bisik saat belajar.
Tempat duduk Qiara berdekatan dengan Xi dan Gita, sehingga seperti satu kelompok.
"Baiklah. Terimakasih kasih adik kecil." Jawab Putra sambil berbisik mengangkat tangannya tepat di samping mulutnya.
Mereka pun belajar dengan tertib dan santai sampai jam pelajaran pertama usai, kemudian semua murid beristirahat sambil memakan bekal dari orangtuanya. Putra juga mengambil roti dalam tasnya yang dibawakan oleh Nayla serta susu kotak rasa coklat. Tetapi saat mau makan.
"Ini bekalku, jangan diambil. Berikan padaku. Huhuhu." Ucap Gita sambil melihat bekalnya diambil oleh Gentar dan teman-temannya. Lalu Gita pun hanya bisa menangis.
Putra mendengar tetapi Putra tak ingin membuat masalah saat pertama kehadiran sekolah baru nya.
"Jangan menangis, Anak baik gak boleh menangis kata kakakku. Ini ambil aja roti ku, aku kenyang kok minum susu. Sudah ya, anak manis jangan menangis lagi." Ucap Putra sambil memberi sebungkus roti untuk Gita. Qiara yang melihatnya pun hanya terdiam.
"Makasih Putra, kamu baik sekali. Jika sudah besar aku ingin menikahimu.!!" Ucap Gita mengambil sebungkus roti dari Putra sambil tersenyum.
"Kakak kecil. Aku juga mau menikahimu. Aku kan sayang kakak kecil." Ucap Qiara yang merasa cemburu.
"Apakah Xi juga akan menikahi ku?" Tanya Putra sambil tersenyum menggoda Xi yang saat itu sedang asik bermain game online dengan memakan bekalnya.
"Hahaha.. Xi tidak akan menikah. Xi ingin menjadi pendeta jika sudah besar nanti." Sahut Xi memberi tahu Putra.
*****
Mereka pun tertawa bersama, Putra sangat senang karena mempunyai banyak teman dan bermain bersama. Walaupun ada diantara mereka memiliki banyak perbedaan agama, budaya, ras, maupun marga, tetapi tetap pada kebaikan masing-masing, sehingga pertemanan bisa mengalahkan semua perbedaan.
Berbeda bukan berarti saling membenci dan tak ingin mengenal satu sama lain. Tetapi berbeda bisa memperdekat hubungan antara manusia lain. Manusia yang baik akan bertemu dengan lingkungan yang baik juga walaupun memiliki perbedaan.
"Putra mari kita ke perpustakaan bersama, aku ingin melihat gambaran mu seperti apa.!!" Sahut Aldi sambil menghampiri Putra yang tengah asik tertawa. Dilihatnya Aldi sudah membawa buku gambar dan chat warna. Maka putra pun menyetujuinya.
"Kakak kecil, aku ikut juga ya. Aku ingin melihat kakak kecil menggambar wajahku yang manis ini." Sahut Qiara sambil tersenyum menunjuk dengan kedua tangannya pada pipi yang lucu.
"Baiklah adik kecil boleh ikut dan aku akan menggambar wajah adik kecil dengan indah." Tutur Putra sambil mengeluarkan semua keperluan menggambar nya.
Kemudian Adi yang saat itu memutuskan untuk menunggu sampai jam pelajaran berakhir hanya bisa berduduk diam dalam mobilnya sesekali keluar untuk membeli minum dan menghirup udara segar pagi, Adi melihat Putra menggandeng Qiara keluar kelasnya tetapi hanya diperhatikan Adi dari kejauhan. Terlihat mereka menuju perpustakaan dan masuk sambil tertawa bersama. Entah apa yang dibicarakan mereka tetapi Adi tetap tersenyum melihatnya.
"Kenapa senyum sendiri? Apakah ada yang membuatmu tertarik untuk senyum." Sahut seorang wanita yang berseragam dinas menghampiri Adi yang saat itu tengah berada didepan mobilnya sambil sesekali meminum air yang dipegangnya.
Adi pun melihat wajah yang menyapanya. Matanya terlihat mencari sumber suara, tetapi ditemukannya seorang wanita berada dibelakangnya. Yang sejak tadi memperhatikan Adi hingga wanita itu dua kali bolak balik hanya untuk melihat Adi.
Terlihat seumuran tetapi Adi merasa wanita ini mungkin 2tahun lebih tua darinya. Adi hanya terdiam saat di sapa.
"Sedang menunggu adiknya ya? Kebetulan saya seorang guru disini. Nama adiknya siapa?" Tanya seorang wanita itu dengan penasaran.
"Ahh.. bukan, itu hanya keponakan ku. Aku anak tunggal. Namanya Qiara." Jawab Adi dengan seadanya tanpa balik bertanya pada seorang wanita itu.
"Oh anda pamannya Qiara. Lalu siapa namamu? Mohon maaf hanya ingin berkenalan saja." Ucap wanita tersebut.
"Iya saya pamannya. Nama saya Adi, salam kenal ya kak." Jawab Adi.
"Ahh.. jangan sungkan. Panggil saya Ani saja, biar lebih akrab. Makasih sudah mau berkenalan jika ada waktu mari kita minum teh bersama." Ajak Ani.
"Terimakasih. Lain waktu saja ya." Ucap Adi yang kembali meminum air dingin nya.
"Baiklah jika begitu, boleh minta nomor handphone mu. Supaya bisa saling komunikasi untuk mencari waktu yang senggang." Pinta Ani pada Adi.
Sebenarnya Adi tak ingin memberi nomor handphone nya tetapi Adi merasa tak enak hati jika menolaknya. Akhirnya Adi pun memberi nomor handphone nya pada Ani. Wanita yang baru saja dikenalnya.
*****