ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C85. Hukuman



Keesokan harinya..


"Katakan! Bagaimana cara menghukum kalian?." Ucap Nayla saat anak-anaknya telah sadar akan kesalahan. Mereka semuanya menunduk takut tetapi beda hal nya sama Lathe.


"Menulis nama seribu kali gimana mommy?."


"Kalian bukan akan kecil lagi, hukuman itu sudah gak pantas untuk kalian. Ingin memakai kekerasan juga Dady pasti melindungi kalian. Mommy gak ngerti lagi jalan pikiran kalian bagaimana." Ucap Nayla memberikan nasehat.


"Tapi kan kami gak kenapa-kenapa mom, bisa jaga diri juga koqq. Mommy nya aja yang banyak khawatir padahal semuanya juga baik-baik aja tuh." Timpal Lathe seenaknya.


"Hughh.. lihatlah kakakmu apakah dia baik-baik saja, kening memar begitu. Nathe juga wajahnya pada memar, kau selalu bikin masalah! Dan sekarang bilang gak kenapa-kenapa. Mengajak kakak mu menjadi liar seperti mu, sifat ceroboh, pembangkang, ingin menang sendiri apa baiknya coba?." Ucap Nayla sangat kesal.


"Benar kata mommy, Dady mendukung mommy. Kalian harus di hukum!." Sahut Theo. Ia mengelus pundak Nayla dengan lembut lalu berkata lagi.


"Sayang.. jangan banyak marah ya."


"Yaa.. itu karna mereka aja gak bisa jaga diri, kakak terjatuh sedangkan Nathe.." Lathe melihat ke arah kembarannya yang semalam ia lempar pakai sepatunya membuatnya tersenyum. Sedangkan Nathe menatap Lathe dengan sinis.


"Maafkan Yuyu mommy karena sebagai kakak tertua malah memberikan contoh yang gak baik untuk adik-adik. Yuyu salah, apapun hukumannya akan Yuyu terima tapi tolong jangan salahkan Lathe. Ia hanya mengajak saja, itu juga karna kemauan Yuyu." Jawab Xinyue merasa bersalah.


"Gak perlu melindungi adikmu, kalian semua pantas di hukum. Membuat mommy banyak pikiran karna ulah kalian, Yuyu dan Lathe merasa bahwa hukuman selama ini sangat ringan ya?." Ucap Theo.


"Ringan apanya? Tapi lebih baik dari pada harus menuruti semua peraturan mommy sih. Hukuman muncul karna adanya pelanggaran, pelanggaran ada karna enggak taat peraturan. Jadi yang harusnya di salahkan adalah yang membuat peraturan kenapa harus menyusahkan, apalagi peraturan nya hanya untuk anak-anak seperti ku." Sahut Lathe menyalahkan Nayla.


"Hidup harus punya peraturan agar dislipin! Ada aturan saja masih kau abaikan apalagi jika diberi kebebasan pasti semakin gak punya pikiran. Merusak diri sendiri, mau jadi apa dirimu hah?." Teriak Nayla tetapi Lathe hanya cemberut saja.


"Sayang.. biarkan aku saja yang menghukum mereka, kamu tenangkan dirimu dulu ya. Biii... Tolong bantu nyonya ke kamarnya ya." Pinta Theo. Ia tak ingin ada keributan lagi.


"Gak bisa gini loh sayang. Semakin hari Lathe makin kurang ajar. Kamu harus tegas dong jangan selalu melindunginya." Ucap Nayla tak beranjak.


"Iya, aku pasti menghukum nya. kamu seperti ini, sering marah-marah membuatku takut sama kesehatan mu. masalah ini serahkan saja padaku ya." Jawab Theo khawatir.


"Gak bisa, kalian bersujud sana di rumah ibadah. Jangan berhenti terus lakukan! Renungkan kesalahan yang sudah kalian buat. Jangan ada yang keluar tanpa izin dariku atau jangan ada yang memberi mereka makan siang! Jika ada yang coba membantu nya akan ditambah lagi hari bersujud mereka. Dan satu lagi tolong kembalikan semua kartu ATM yang ada sama kalian. Sangat senang berfoya ya? jadi sebagai hukuman nya kartu tersebut akan dibekukan selama seminggu." Tegas Nayla untuk kesalahan kali ini.


"Ya gak bisa gitu dong mommy, bagaimana pun juga kan itu uang bulanan kami. selama seminggu gak bisa menggunakannya kami akan kelaparan di sekolah, mommy kenapa sih tega banget sama anak sendiri sudah seperti ibu tiri aja." Protes Lathe.


"Kakak? Kenapa diam aja sih, bilang keberatan kek. apa kek, jangan terima gitu aja dong!." Sambung Lathe emosi melihat kakaknya.


"Mommy benar dek, itu kesalahan kita yang bikin. Hukuman nya juga sebentar koqq gak lama."


"Hmm.. kakak gak bisa diandalkan! Dady.. tolong Lathe dong huhuhuu.. mommy sangat kejam, apakah kami bukan anak kandungnya?." Tutur Lathe yang dengan cepat menghampiri Theo lalu memeluknya dengan dramatis.


"Terimalah hukuman mu karna membuat mommy marah, maaf Dady gak akan bantu kamu." Ucap Theo dengan suara keras di depan Nayla. Lathe langsung menatap wajah Dady nya tetapi Theo malah mengedipkan sebelah matanya dan Lathe pun tersenyum riang.


"Kasih aja dulu kartu nya ke mommy, nanti Dady kasih cash yaa uang buat jajan mu." Bisik Theo.


"Ehmm.. ya sudah tunggu apalagi, bahkan Dady juga gak bisa bantu kalian. Cepat pergi jalani hukuman sekarang!." Perintah Nayla jutek.


"Baiklah mommy." Sahut Xinyue.


"Hughhh..." Sambung Lathe menampakkan wajah kesalnya pada Nayla.


"Haishhh.. anak-anak bikin pusing aja. bahkan pagi-pagi begini sudah berhasil membuat tekanan darah ku menjadi tinggi." Ucap Nayla setelah mereka pergi dari ruang tamu menuju tempat ibadah yang tak jauh dari rumah utama.


"Sabar ya sayang, sifat anak-anak mempunyai perbedaan. Jika Nathe sangat penurut pasti Lathe kebalikannya, Yuyu anak yang baik tapi mudah di hasut oleh adiknya yang cerdik itu." Ujar Theo memperhatikan sifat anaknya.


"Iya aku mengerti koqq, sedang memberikan pelajaran aja biar lebih baik lagi kedepannya." Sahut Nayla tersenyum pada Theo.


"Kakakkk..." Teriak Meimei saat keduanya sedang terdiam saling pandang.


"Eh ada adek ipar, bagaimana kabarmu? Anak sama suami pada sehat kah?." Tutur Nayla.


"Ahh.. kakak. Aku merindukan mu, mengapa yang keluar dari mulutmu anak dan suami hmphhh.."


"Hahahaha.. aku juga merindukan mu, makin subur setelah punya anak ya." Ledek Nayla.


"Susah kak mengembalikan bentuk tubuh ku seperti semula karna terlalu bahagia hehe. Sebaliknya kakak semakin kurus saja apakah kak Theo menyusahkan mu dan membuatmu sedih?." Balas Meimei memeluk Nayla.


Setelah beberapa tahun berlalu Meimei dan Rakha akhirnya menikah, dan kini telah mempunyai seorang anak yang tampan. Mereka jarang bertemu walaupun rumah keduanya tak terlalu jauh tapi kesibukan Rakha membuat Meimei sungkan pergi jauh darinya. Ia juga sangat nyaman berada di kediaman Rakha karena punya mertua yang sangat baik padanya. Perusahaan Rakha berkembang pesat dan keluarga dalam keadaan baik membuat Meimei bahagia.


"Hmm.. kalau gak ada kakakmu mungkin aku gak bisa menjalani hidup ini, Lathe sangat nakal setiap kali berpikir banyak karna nya menambah kerutan di wajahku saja. Ahh sudahlah membicarakan anak itu hanya merusak suasana hatiku." Keluh Nayla.


"Sabar ya kak, nanti juga berubah pada waktunya. Mereka beda dari kita yang sangat cepat ditinggalkan kedua orang tua sehingga dewasa sebelum waktunya. Aku sangat mengerti jalan pikiran kakak ipar semua hanya untuk kebaikan anak tapi jangan sampai melupakan kesehatan mu ya, kau sangat kurus bahkan memelukmu gak ada rasanya." Ucap Meimei tersenyum.


"Begitu terlihat ya? Tapi suamiku tak terlalu suka wanita dengan berat badan berlebihan ya kan sayang?." Ucap Nayla menoleh ke Theo.


"Tentu, segitu juga udah pas koqq. Meimei nya aja terlalu berisi jadi saat memeluk mu gak berasa." Ucap Theo menoleh ke adiknya.


"Hehehe kakak.. gak apa-apa sedikit gendut yang penting Rakha gak keberatan." Senyum Meimei malu-malu meong menatap Rakha.


"Hahaha.. aku lebih suka kamu yang sekarang sayang, tips rumah tangga bahagia salah satunya menggendut bersama." Balas Rakha tertawa.


"Setuju, kalau begitu harus banyak makan ya." Ucap Meimei lagi dan Rakha hanya mengangguk.


"Yuk makan kakak sudah masak." Ucap Theo.


"Yeyyy.. suka banget masakan kakak." Jawab Meimei bahagia karena baru sampai di suguhkan makanan yang lezat. Nayla dan Rakha hanya tersenyum melihat tingkah laku Meimei yang tak berubah walaupun sudah menjadi nyonya besar di keluarga Rakha.