
Usai pertengkaran itu Marissa pulang dengan hati yang sangat sakit dan wajahnya menyimpan banyak kekesalan. Ayahnya berjalan mendekati putri semata wayangnya itu yang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Mengapa begitu sulit melepaskan mu, perasaan hebat ini membuatku terbelenggu oleh sakit yang luar biasa. Adakah yang lebih sakit dari cinta bertepuk sebelah tangan." Lamunan itu membuat ayahnya berpikir lalu ia berkata.
"Nak, mengapa ekspresi wajahmu sangat lelah? Apakah ada yang menyulitkan mu di kampus atau ada yang sengaja melukaimu? Katakan saja pada ayah, secepatnya akan ayah balas perbuatan mereka."
"Ayah.. terimakasih sudah mengerti aku selama ini. Ayah sangat tahu kesulitan ku, tetapi aku di kampus baik-baik saja. Oyaa.. apakah ayah pernah mencintai seseorang tapi dia tak mencintaimu."
"Ayah mengerti, sepertinya kamu sedang mengalaminya ya? Itulah sebabnya suasana hatimu menjadi tak baik." Sahut ayahnya.
"Emm.. aku merasa sangat lelah Yah, bisakah kau meminjamkan pundakmu untukku?."
"Aiyoo.. putriku sudah sebesar ini tapi mengapa jadi tak bersemangat begini. Peluk dulu sini.."
"Ayah.. aku mencintai pria yang tak memiliki keinginan untuk menerima cintaku, aku sudah berusaha keras tapi hatinya terus menolak keberadaan ku." Ujar Marissa menangis di pelukan cinta pertama seorang perempuan yakni ayahnya.
"Nak, jangan menangis lagi. Tentu kau akan mendapatkan nya dan ayah pastikan pria itu bersama mu selalu ya." Jawab ayahnya.
"Huhu.. apakah benar ayah? Tapi kan ayah tidak tahu nama pria itu bagaimana sangat yakin dia akan bersama ku."
"Sayang.. apa yang tak bisa kau miliki di dunia ini! Selama ini ayah selalu memberi apapun keinginan mu. Jadi, katakan! Siapa pria itu."
"Namanya Rakha ayah."
"Oh itu? Emm.. seperti nama nya familiar ya."
"Apakah ayah mengenalnya?." Sambung Marissa.
"Emm.. Rakha ya.. Oh anaknya teman ayah bukan? Punya perusahaan kan ayahnya." Ayah Marissa mengingat beberapa hari lalu ia berkunjung ke rumah pak Leo yakni ayah Rakha. Sempat berkenalan dengan Rakha yang saat itu berada dirumah juga.
"Ya.. ayah benar. Nama perusahaan nya MAHAKARYA PRIMA kan? apakah benar Rakha adalah anaknya dari teman ayah? Kalau begitu kebetulan sekali ya yah."
"Emm... Sepertinya benar ya kalau begitu ayah akan mengatakan kepada teman ayah jika kalian harus ada ikatan perjodohan. Masalah ini biar ayah yang urus. Kamu jangan sedih lagi ya." Ucap ayahnya Marissa yang sangat memanjakan putrinya. Ia mengatur perjodohan untuk Rakha dan Marissa tanpa peduli perasaan Rakha.
"Rissa sayang banget sama ayah. Hehe.. terimakasih banyak ayah emuahh.." Marissa sangat bahagia mendengar perjodohan itu hingga beberapa kali mencium ayahnya dengan raut wajah yang ceria.
Dibalik cerita setelahnya...
"Apa? Maaf yah. Rakha gak bisa patuh untuk pertama kalinya pada ayah, Rakha enggak cinta sama dia dan juga gak akan bisa menerima perjodohan apapun dalam hidup Rakha." Ucap Rakha kaget mendengar perjodohan nya dengan Marissa. Marissa ini selalu menjadi penghalang semala hidupnya bahkan Rakha sangat muak mendengar nama itu.
"Ayah enggak memaksa mu untuk menjalani perjodohan ini, setuju atau enggak itu bukan hak ayah dan ibu. Kamu bebas memilih takdirmu sendiri nak, maaf ayah dan ibu selama ini selalu membuat kesulitan dalam hidupmu. bisa melihatmu seperti ini saja sudah membuat hati ayah tenang." Jawab ayahnya dengan penuh perhatian sekaligus sedih akan nasib anaknya.
"Ibu dan ayah belum pernah memberikan yang terbaik dalam hidup mu, bagaimana mungkin masih bisa menyusahkan mu dalam hal percintaan. Ibu bertemu ayah pada pandangan pertama dan saat itu orang tua ayahmu enggak menyetujui hubungan kami lalu berlari sejauh mungkin mengejar cinta kami agar tetap utuh. itulah mengapa ayahmu sangat gak suka terhadap perjodohan seperti ini. Rakha.. kami sangat tahu rasanya karena kami sudah melewati masa-masa itu." Sahut ibunya yang kembali mengingat kejadian kabur bersama demi hidup bersama cinta sejati.
"Syukurlah ayah dan ibu mengerti ku. Lalu mengapa kalian mengatakan ini padaku? Apakah aku harus melaksanakan nya?." Tutur Rakha bingung.
"Hemm.. enggak perlu mengorbankan hatimu jika kamu gak mencintai nya. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui ayahnya Marissa adalah Investor terbesar dalam perusahaan ayah saat ini. Ada kemungkinan jika perjodohan ini gak terlaksana maka nasib perusahaan yang kita bangun bersama akan ayah tutup. karena ayah gak akan mampu produksi tanpa adanya modal, belum lagi pembayaran upah tenaga karyawan." Ayahnya menarik nafas panjang dengan pernyataan yang sangat tidak baik untuk keduanya.
"Apaa? Rakha selama ini gak mengetahuinya ayah, itu artinya kita akan jatuh bangkrut."
"Ya. Tapi ayah akan berusaha mencari Investor mulai saat ini kalau pun harus ditutup ayah, ibu, dan kamu bisa tetap hidup dengan baik. Jadi jangan pernah berkorban untuk cintamu yang bukan pilihan mu. Hidup sederhana lebih damai dan tentram jauh dari kota juga bukan masalah bagi ayah dan ibu." Tutur ayah nya.
"Keberuntungan ku adalah dilahirkan dengan orang tua yang sangat harmonis dan peduli kehidupan anaknya, selalu mengutamakan pemikiran bersama. Maafkan Rakha yang belum bisa membahagiakan ayah dan ibu." Tutur Rakha.
"Anak bodoh. Untuk apa minta maaf. Selama ini ibu selalu mengatur kehidupan mu tanpa tahu keinginan dari dirimu sendiri. dan bodohnya kamu selalu patuh bahkan dalam hal sekolah."
"Asalkan ayah dan ibu bahagia aku pasti akan patuh tapi soal cinta aku sudah punya pilihan sendiri. Ia juga kuliah di jurusan sama seperti yang ayah dan ibu berikan untukku."
"Hahaha.. anakku sudah dewasa. Ibu ingin berkenalan sama wanita itu, yang berhasil mengisi hatimu setelah terpukul karena mendiang Rina."
"Akan aku kenalkan segera." Balas Rakha bahagia.
Pembicaraan terakhir itu membuat Rakha mengingat perempuan yang bermarga Ling itu. Hingga Rakha tak sabar ingin menyudahi perbincangan malam itu bersama orang tuanya. ia bergegas ke kamarnya dan menelpon Meimei.
"Halo?" Ucap Rakha membuka suara telepon.
"Ya, sudah malam belum tidur kah?."
"Belum mengantuk sih, kamu bagaimana?."
"Belum juga aku sedang menonton drama China nih, Oyaa ada apa?."
"Hmm.. Marissa sangat nekat dan bermuka tebal, bisa-bisanya dia menyuruh ayahnya untuk menjodohkan aku dan dia." Ucap Rakha.
"Apa? Mengapa bisa begitu. Oh.. aku paham pasti orang tua kalian sangat dekat ya." Jawab Meimei fokus pada perkataan Rakha hingga film favoritnya ia jeda sebentar.
"Enggak begitu dekat koqq, aku aja baru tahu sekarang jika ayah ada hubungan bisnis bersama ayahnya Marissa."
"Oh begitu. Jadi kamu akan menikah dengan dia kah? Sepertinya ini poin sangat penting bagiku."
"Yaa... Enggak lah. Masa harus memaksakan bersama dia setelah menolaknya dengan kasar. Sama seperti men-jilat ludahku sendiri dong. Lagian mana sanggup kehilangan orang yang aku cintai ini, kamu lebih tahu isi hatiku ada siapa kan."
"Gak tahu!."
"Hahahaha.. sedang cemberut ya. Ingin cubit pipi chubby nya dech. Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu selamanya."
Meimei tersenyum lebar mendengar perkataan Rakha, jantungnya terus berdegup kencang. Tetapi nada bicara nya sama seperti biasanya padahal sangat bahagia.
"Aku juga mencintaimu. Oyaa, jika perjodohan ini gak jadi pasti Marissa sangat marah. bagaimana jika ayahnya dan ayahmu memutuskan kerja sama dalam bisnis nya?." Tanya Meimei.
"Hughhh.. ayah telah mengambil keputusan ini. Beliau gak setuju dengan perjodohan ku dan dia. Walaupun harus mengorbankan perusahaan yang selama ini susah payah dibangunnya tapi dalam hatiku saat mereka tua nanti gak akan membuat kehidupan susah dan mulai saat ini aku akan berusaha lebih keras lagi untuk keluarga ku."
"Aku akan selalu mendukungmu dan berada disampingmu dalam situasi apapun, dengan begini usaha ayahmu menolak perjodohan anaknya enggak akan sia-sia kan." Tutur Meimei
"Ya. Terimakasih sayang sudah bersedia berdampingan dengan pria seperti ku, bahkan saat jatuh bangkrut perusahaan kamu tetap berada di sisi ku." Sahut Rakha karena setiap masa terpuruknya Meimei selalu bersamanya.
"Kamu harus buktikan pada orang tuamu dengan membuat mereka bangga memiliki kamu ya." Ucap Meimei memberi Rakha semangat.
Rakha hanya tersenyum bahagia dan perlahan menutup sambungan telepon nya.