ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C71. Niat jahat



"Hmm.. kenapa sangat terasa sepi saat mereka beraktivitas diluar rumah. Putra dan Meimei sekolah sedangkan Theo sibuk bekerja. Aku gak melakukan apapun dirumah sangat bosan andai punya bayi pasti rumah ini penuh dengan suara tangisannya." Gumam Nayla setelah melihat mereka berangkat, sesekali Nayla menemani Putra dalam belajar disekolah nya. Sedangkan adik ipar nya itu sangat sibuk dengan dunia percintaan nya.


"Haishhh.. kelas sangat padat. Aku benci belajar tapi sudah berjanji pada kakak untuk bersungguh-sungguh dalam kuliah kali ini." Gumam Meimei yang berlari menuju ruang kelasnya dan di lihat oleh Rakha yang saat itu juga sedang terburu-buru.


"Mei? Mengapa sangat gelisah."


"Belum mengerjakan tugas sisa sedikit lagi, semalam aku sibuk nonton drama China jadi lupa sama tugas. Hehe.." senyum Meimei sembari bicara.


"Ahh gak usah khawatir ya, aku sudah membantumu jadi tinggal kirim email aja trus ganti nama selesai dech."Ucap Rakha.


"Emm.. biar aku ubah sedikit agar enggak sama banget ya tapi makasih banyak loh." Ujar Meimei.


"Sama-sama, lain kali jika ada kesulitan kita bisa belajar bersama saja. Jika dua pemikiran bersatu pasti lebih cepat selesai kan." Tutur Rakha.


"Emm.. iya juga sih, nanti kedepannya kita harus lebih banyak bertemu kalau begitu hihihi.."


"Haha.. bukan masalah. Setiap hari bertemu akan lebih bagus lagi bagiku." Ucap Rakha spontan.


"Hah! Setiap hari? Dikampus udah sering bertemu apa harus bertemu lagi setelahnya?."


"Mengapa? Kamu gak suka ya. Kalau begitu lupakan saja." Balas Rakha dengan senyum terpaksa.


"Ehh.. bukan begitu, kamu kan harus bekerja juga jadi ku pikir mana sempat bertemu tiap hari."


"Hahaha.. aku hanya bercanda, saat ada tugas saja kita bertemu ya." Ucap Rakha.


"Emm.. baiklah, aku juga mau dech kalau bisa ketemu tiap hari nya." Jawab Meimei tak ada pendirian alias plin plan.


"Mengapa tadi seperti enggak siap?."


"Itu krna aku gak sanggup terlalu dekat denganmu hatiku akan semakin merasa jatuh cinta lebih dalam lagi." Gumam Meimei dalam hatinya.


Meimei hanya melamun tak menjawab pertanyaan Rakha, ia masih ragu apakah Rakha menyukainya atau hanya sekedar menjadi teman biasa. Tak lama kemudian Marissa muncul diantara diam keduanya.


"Haiyoo.. kenapa sih kamu harus dekat terus dengan Rakha? Apa beneran gak ada temen lagi? Tempel mulu kek prangko aja." Celetuk Meimei.


"Kenapa? Kamu cemburu. bukannya Rakha pacarku jadi udah seharusnya dekat. aku lebih dulu kenal Rakha! ada hak apa kamu mengatur ku untuk dekat dengannya. kamu yang seharusnya pergi!." Dorong Marissa dan Meimei hampir jatuh karena tak tahu jika Marissa akan mendorong nya sangat keras.


"Kamu gak kenapa-kenapa kan? Ada yang sakit gak?." Tanya Rakha pada Meimei.


"Aku gak apa-apa koqq tenang saja ya." Jawab Meimei tersenyum.


"Bagaimana aku menyingkirkan Marissa yang selalu menggangguku dan Rakha." Gumam Meimei.


"Kamu kenapa sihh!!! selalu ganggu kehidupanku. Harus berapa juta kali aku berkata aku gak suka sama kamu dan gak akan pernah." Tegas Rakha.


"Karna apapun kelebihan mu tetap saja gak bisa buat aku jatuh cinta lantas mengapa aku harus memaksakan jika gak ada getaran cinta sama sekali. Marissa? Terakhir aku berkata tolong pergi jauh dari hidupku. Dan beribu maaf aku katakan agar kamu mengerti bahwa aku benar-benar gak bisa bersama kamu. Dengan kelebihan mu ini carilah pria lain karna di dunia ini pria bukan cuman aku saja." Ucap Rakha dengan jelas.


Lalu Rakha memegang tangan Meimei ingin pergi dari hadapan Marissa, tetapi Marissa mencegahnya dengan sangat kasar membuat Meimei dan Rakha kaget karena tangan Meimei terlepas dari genggaman Rakha.


"Marissa!!! Apa yang coba kamu lakukan. Jangan bertindak bodoh seperti ini. Lepaskan Meimei ia gak tahu apapun." Teriak Rakha dan semua yang melihat jadi penasaran ada apa diantara ketiganya tetapi tak ada yang berani mendekat.


"Hah hah hah.. aku mengenalmu lebih lama tapi kenapa dia yang membuatmu jatuh cinta! Apakah ini adil bagiku? Kenapa kamu sedikit aja gak pernah menghargai perjuangan ku. Jika dia menjadi penghalang ku maka untuk apa dia hidup." Tertawa Marissa ditengah keputusasaannya mengejar cinta.


"Bodoh!!! Jika dalam hatinya dari awal gak ada kamu maka siapapun yang datang dalam hidupnya gak akan bisa membuatmu memilikinya. Bahkan jika aku mati sekalipun gak akan bisa merubah hatinya untukmu." Marah Meimei.


"Hoo.. kamu pasti sangat senang kan? Melihat cintaku yang hanya sepihak. Jika aku gak bisa milikinya jangan harap kamu akan mendapatkan nya." Ucap Marissa ditengah tangis frustasi.


"Marissa jangan seperti ini tolong, lepaskan Meimei itu sangat berbahaya. Bagaimana bisa kau membawa benda setajam itu ke kampus, mari kita bicara baik-baik ya. Jangan bertindak gegabah seperti ini." Rakha sangat mengkhawatirkan keadaan Meimei karena pisau tajam menempel dilehernya dan Marissa dalam keadaan kacau.


Ia sangat nekat berbuat jahat pada Meimei diluar akal sehatnya.


"STOP!!! JANGAN ADA YANG BERANI MENDEKAT KALAU TIDAK AKU AKAN MEMBUNUHNYA." Teriak Marissa semakin keras tetapi Meimei masih dalam keadaan tenang.


"Marissa? mengapa begitu terburu-buru begini, aku dan Rakha saja belum ada status dalam hubungan apapun dan kami hanya berteman biasa." Ucap Meimei coba menenangkan Marissa.


"Apa kamu bilang? Aku bahkan sangat sakit hati saat Rakha berkata dia mencintaimu dan hanya kamu wanita terakhir dalam hatinya. Itu yang kamu bilang bukan siapa-siapa nya! Hah?."


"Jangan berdalih dan menutup semua mata mu. Kamu pasti lebih tahu. Dan ini sangat membuatku marah aku gak bisa terima!." Sahut Marissa.


"Marissa? Kamu dulu sangat baik mengapa jadi seperti ini tolong lepaskan Meimei." Pinta Rakha.


"Kalau begitu mengapa kamu menerima Meimei dalam hidupmu bukankah aku sangat baik?."


"Karna hanya dia yang bisa mengeluarkan aku dari gelapnya kehidupan. dingin nya perasaanku membuatnya memberikan begitu banyak kehangatan. Sudah lebih dari setahun aku bahkan gak bisa keluar dari ikatan rantai yang sangat melukai tubuhku. Hatiku sangat sesak tetapi seperti terisi kapas di dalamnya (sangat kosong). Karna nya hidupku kembali berwarna dan itu yang gak pernah aku dapatkan dari siapapun termasuk kamu Marissa. Jadi stop mengejar ku karna hatiku sudah ada wanita lain."


"Rakha.." Ucap Meimei terharu atas pernyataannya yang begitu dalam. Ia sangat ingin memeluk Rakha kala itu dan berkata bahwa ia juga mencintai Rakha dengan ketulusan nya.


Marissa yang mendengar nya menangis tertawa hatinya sangat tercabik dan ingin melukai Meimei karena rasa frustasinya tak bisa dihentikan tetapi dalam keadaan lengah Meimei berusaha membuang pisau dekat lehernya dan otomatis pisaunya terjatuh. Secepatnya Meimei berlari ke arah Rakha.


"Kurang ajar!! Kau sengaja mengalihkan fokus ku karena suasana hatiku. Lihatlah aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!!!." Ucap Marissa seperti psikopat.


"Kamu gak apa-apa kan? Ada yang sakit gak? Aku sangat khawatir padamu. Maafkan aku yang gak bisa melindungimu." Tutur Rakha.


"Sudahlah aku gak kenapa-napa koqq. Pernah belajar kungfu jadi jangan khawatir ya. Tapi dia pasti akan lebih berniat mencelakai ku." Ucap Meimei berpikir harus lebih waspada lagi.


"Maafkan aku membawamu pada penderitaan." Jawab Rakha sangat sedih dan Meimei hanya bisa memeluknya agar lebih tenang.