ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C87. Dinding pemisah



"Sangat susah mengajaknya bertemu, apa yang harus aku lakukan. Gak mungkin diam saja seperti sekarang setelah belasan tahun melupakan tanggung jawab ku sebagai ibu kandungnya. Theo sangat kejam memisahkan aku dan Xinyue." Ujar Jia menatap dokter Rangga yang setia di sampingnya mendengar semua keluh kesah Jia.


"Aku akan cari cara agar dia menemui mu dan bersedia berbicara padamu." Jawab Rangga dengan senyuman tulusnya.


"Benar? Kau bersungguh-sungguh kan?." Tanya Jia meminta kepastian dan Rangga mengangguk cepat.


"Baiklah aku menunggu dia datang untukku, terimakasih telah menjadi temanku dan mengerti aku selama ini." Balas Jia tersenyum.


"Gak perlu sungkan begini, tapi ada yang ingin aku katakan padamu ini mengenai mantan suamimu. Aku mendapatkan kabar jika dia sudah menikah dan mempunyai anak sepertinya kehidupannya begitu bahagia. Jia? kau diberikan kesempatan hidup setelah sakit yang luar biasa kau rasakan, tapi kenapa tak bisa melepaskan masa lalu mu? Padahal kau tahu itu akan menyakitimu lagi." Ucap Rangga dengan serius dan Jia tersenyum pahit mendengar Rangga mengatakannya.


"Aku sudah tahu karena saat aku menemui anakku lalu ia berkata jika ibu kandungannya ada di rumah dan menolak ku dengan kepahitan, tapi sebuah kebenaran akan terungkap jika aku terus menyakinkan nya. Tak bisa menyia-nyiakan waktu ku bagaimanapun aku hidup untuk mereka."


"Jia? Jika aku berkata aku menyukaimu apakah kamu masih tak ingin melepaskan nya?." Tanya Rangga menatap wajah Jia Li.


"Maaf..." Balas Jia memalingkan wajahnya.


"Tak usah dilanjutkan aku tahu jawabannya." Sambung Rangga kemudian memalingkan tubuhnya dengan cepat tetapi raut wajahnya sangat sendu.


"Kalau begitu istirahat lah, aku akan pergi menemuinya untuk mu." Tutur Rangga lagi dan pergi meninggalkan Jia yang saat itu melihat punggungnya.


"Rangga.. kau tak boleh mencintaiku karena dari awal hatiku hanya ada Theo seorang." Gumam Jia.


Keesokan harinya..


"Temui dia bahkan untuk terakhir kalinya, ia butuh penjelasan mu dan kamu tak bisa terus menjauhinya. jika ingin menyelesaikan maka hadapi lah! Aku tahu kau tak menginginkannya lagi tapi bagaimanapun dia adalah bagian dari masalalu mu." Ucap Rangga pada Theo, ia sengaja datang ke perusahaan Theo demi Jia Li.


"Hughh.. bukan aku yang menjauhinya tapi dia sendirilah yang memutuskan hubungan. Tak ada yang perlu di jelaskan lagi setelah perceraian itu terjadi, ini keinginannya aku hanya mengiyakan saja. Jika tak ada lagi yang perlu di bicarakan silahkan lakukan pekerjaan anda dokter." Tolak Theo tanpa perasaan, ia benar-benar tak ingin bertemu lagi.


"Kau masih punya hutang budi padaku karena kau meminta ku untuk menjaga nya hingga belasan tahun aku lakukan, maka bayarlah dengan menemuinya setelah selesai kita tak akan saling mengganggu lagi." Pinta Rangga.


"Kau bersih keras untuk dia. Kau menyukainya?." Tanya Theo dengan serius.


"Iya. Tapi dihatinya hanya ada kamu, aku ingin berjuang untuknya walaupun perjuangan ku ini mungkin akan sia-sia saja." Jawab Rangga.


"Tapi dihatiku hanya ada istriku, karena aku menghargai istriku maka tak ingin menemuinya."


"Tolonglah, hatiku sakit memohon padamu untuk menemuinya tapi lebih tercabik saat melihat kesedihannya tentang kamu." Tutur Rangga.


"Pria ini sangat memaksa ku, melihatnya begini membuatku tak tega." Pikir Theo beberapa saat.


"Baiklah, aku mau bertemu dengannya karna kau! Aku harap setelah ini kau bisa menjaganya." Balas Theo tersenyum.


"Terimakasih banyak, ayo ikut denganku." Ucap Rangga membalas senyuman Theo.


Berkat bantuan sang dokter akhirnya Jia Li bisa bertemu dengan Theo. Perasaan bahagia terukir dalam wajah Jia tetapi Rangga menahan sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan.


Ditempat yang berbeda Nayla dengan Xinyue sedang bermain catur sedangkan Lathe hanya memperhatikan jika ada salah satu diantara mereka yang kalah dalam permainan itu maka Lathe yang menggantikan nya, ditemani alunan musik dari piano yang dimainkan Nathe membuat suasana malam itu penuh dengan kehangatan.


"Yeyyy.. Yuyu menang! Mommy terima hukuman ya." Ucap Xinyue ceria.


"Haishhh.. semakin hari permainan caturmu makin meningkat. Katakan ingin memberi hukuman apa?." Keluh Nayla dan Xinyue menjawabnya.


"Masak makanan kesukaan Yuyu sehari semalam."


"Apakah mungkin aku bukan anak kandung mu, tetapi perlakuan mu sangat lembut padaku. Memberikan kasih sayang dengan ketulusan bahkan kau tak akan tidur semalaman saat aku sakit. Aku tak ingin mempercayai orang lain tapi kenapa perempuan itu selalu menggangguku dengan mengatakan ia adalah ibu kandungku." Gumam Xinyue dalam hatinya lalu menatap Nayla lembut.


"Kakak! Jika memberi mommy hukuman sebaiknya teraktir makanan restoran terkenal atau tambahin uang saku aja bukan minta di masakin mommy. Itu hal biasa mommy lakukan untuk kita loh." Sahut Lathe memberi saran.


"Bisa terus dekat dan merasakan masakan mommy aja membuat Yuyu bahagia. Mommy kau adalah ibu terbaik di dunia ini." Tutur Xinyue terharu.


"Yuyu baik-baik saja kan? Perkataan mu seperti akan pergi jauh. Mommy akan selalu ada di dekatmu dan menemani kalian. Nak.. walaupun mommy sering berkata tegas tapi dihati mommy kalian adalah anak yang baik." Balas Nayla.


"Hmm.. mengapa suasana nya jadi penuh haru sih! Pasti karna suara piano Nathe ya." Sahut Lathe.


"Hahaha ya sudah kalian lanjutkan saja ya."


"Baiklah mommy." Sahut Lathe lagi.


"Theo belum pulang jam segini biasanya dia udah dirumah, pasti pekerjaan nya sangat banyak sampai melupakan jam pulang." Pikir Nayla.


"Theo!!" Ucap Jia saat melihat kedatangan Theo. Ia datang bersama Rangga tetapi yang dilihat Jia hanya Theo saja, ia memeluk Theo dengan penuh kerinduan Rangga yang melihatnya hanya menampakkan wajah sedihnya. Lalu Theo dengan cepat melepaskan tangan Jia yang melingkar di pinggang nya.


"Sayang lihatlah aku, aku kembali untukmu. Aku sembuh dan melewati semua penyakit itu." Ucap Jia memberi kebahagiaan nya.


"Syukurlah jika sudah sembuh. Berkat bantuan dokter Rangga kau menjadi sehat kembali." Jawab Theo melihat ke arah Rangga.


"Ahh iya memang Rangga banyak membantu tapi berkat doa mu juga aku bisa berdiri dekat kamu." Sahut Jia tersenyum.


"Kalau begitu kalian mengobrol saja ya, aku tak akan menggangu obrolan kalian." Ucap Rangga sembari meninggalkan keduanya.


"Theo. Kenapa sangat sulit bertemu denganmu? Xinyue bagaimana? Aku merindukan kalian."


"Jangan temui aku lagi, jalan kita sudah berbeda. Takdir kita tak mungkin bersama seperti dulu lagi. Aku telah memiliki istri dan kamu hanyalah masa lalu ku. Karna dari awal Xinyue tak tahu wajahmu maka lebih baik tak berhubungan saja, biarkan ia tak mengetahui kebenaran ini." Sahut Theo.


"Hah? Bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti ini, aku adalah ibu kandungnya dia harus tahu Theo! Memang kesalahan ku melepaskan mu ke pelukan wanita lain tapi bukan berarti tak bisa menyambungkan nya lagi. Aku kembali maka wanita itu yang harus pergi dari hidupmu karna yang seharusnya menjadi milikku akan tetap bersamaku." Ujar Jia tak terima.


"Ketika kau telah melepaskan takdir itu maka tak bisa kau gapai kembali, dan aku memiliki takdirku sendiri harus hidup bersama siapa. Jangan menyesal atas perbuatan mu! Buka lah hatimu untuk Rangga, ia mencintaimu lebih dari aku yang pernah singgah di hatimu." Tutur Theo menatap Jia


"Jangan katakan pria lain di hadapanku. Aku tahu betul kau masih mencintaiku, aku akan terus mengejarmu dan kau masih tetap milikku. Kita akan terus bersama selamanya." Ungkap Jia.


"Jangan omong kosong! Hatiku telah berpaling dan tak bisa menerima mu kembali." Tegas Theo.


"Sebenarnya kenapa? Jelas-jelas aku mengenalmu dulu. Jelas-jelas aku mencintaimu dulu. Jelas-jelas aku baik padamu dulu. Namun, kenapa begitu wanita itu muncul kau langsung mencintainya?." Balas Jia sedih.


"Hal ini tak bisa dipaksa. Ada orang bersama puluhan tahun pun belum tentu bisa suka, namun ada orang hanya butuh satu tatapan."


"Satu tatapan? Puluhan tahunku tak sebanding dengan satu tatapannya!." Teriak Jia.


"Jia.. kita punya hubungan puluhan tahun. Kau adalah teman terbaikku kala itu aku sungguh tak ingin melihatmu begini aku peduli denganmu. Jangan terikat dengan masa lalu, jangan terikat padaku juga. karena aku tak akan pernah kembali padamu." Ucap Theo mengingatkan.


"Theo jangan meninggalkan ku aku mohon, beri satu kali kesempatan untuk memperbaiki semua. Aku ingin bersama mu seperti dulu hiks." Tangis Jia pecah saat Theo menolak untuk bersamanya lagi dan perlahan Theo meninggalkan tempat itu.


Rangga hanya melihat Theo berlalu dan menatap Jia dengan kesedihannya.