ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C35. Putra Kecelakaan



"Halo, ya? APAAA? TIDAK. INI TIDAK MUNGKIN"


Tangisan Nayla pecah saat mendengar berita kecelakaan adik semata wayangnya.


"PUTRAKUUU... HIKSSS.."


Bagaimana mungkin dia mendengar kabar yang begitu menyayat hati, membuat mentalnya bergetar saat pikiran nya sangat mengkhawatirkan adiknya. Dia sangat ingin mendengar kabar adiknya tapi bukan dengan kabar buruk seperti ini. Gejolak emosi dalam raga nya membuat Meimei yang saat itu memperhatikan nya merasa panik.


Dalam kedaan kalut Lingmei tak mungkin meninggalkan Nayla seorang diri, dia terus dirumah Nayla sambil menunggu kabar Putra. sedangkan Theo pergi karena ada urusan usai mengantar Nayla dan Meimei dari kantor polisi.


"Ibu kecil, Putra mengapa? Apa yang terjadi padanya? Jangan menangis ibu kecil, Aku mohon." Ucap Lingmei mengayunkan pelan tubuh Nayla yang saat itu terkulai lemas tak berdaya.


"Putra, adikku dia kecelakaan. Hikss... Hmm"


"APA?" Lingmei kaget. "Bagaimana bisa? Kan putra sedang di culik" gerakan spontan dari Meimei membuat Nayla sedikit nyaman, ia memberikan Nayla pelukan walau dalam tangisan.


Flashback


Sebetulnya mereka berhasil keluar dari hutan itu menyusuri jalan mobil dari para penculik. Akan tetapi para penculik berhasil melihat keberadaan mereka, saking takutnya Qiara saat itu Putra sangat kesulitan. Setiap langkah dari kaki kecil mereka yang terus berusaha lari meninggalkan jejak para penculik serta kondisi yang sudah lelah.


"Qiara!!! Jangan lari menengah, kau bisa tertabrak kendaraan." Ucap Putra yang berlari tak jauh dibelakang Qiara. Putra sengaja menyuruh Qiara berlari di depan nya agar ia bisa melindungi Qiara dari para penculik.


"Kakak besar.. aku takut.." dengan nafas terengah Qiara masih bisa menjawab Putra. Qiara menoleh melihat Putra tetapi naas nya ada sebuah mobil yang melaju sangat kencang berlawanan arah tengah mengklakson Qiara dengan sigap Putra berlari mendahului Qiara lalu mendorong tubuh Qiara ketepian jalan. Sedetik kemudian semua jantung berhenti berdetak, Qiara yang melihat kejadian naas tersebut hanya bisa pingsan.


Lalu bagaimana dengan para penculik? Mereka hanya bisa bersembunyi karena jika mereka menolong maka hukuman penjara sudah menanti, polisi sudah tau betul wajah penculik ini karena sudah berulang kali profesi ini mereka lakoni.


Dan bodohnya mobil yang menabrak Putra masih bisa melarikan diri, tidak ada rasa kemanusiaan sama sekali dan tanggung jawab telah hilang.


Nayla masih menangis melihat Putra yang terbaring dalam ruang unit gawat darurat. Dokter pun keluar dengan keringat dan wajah sendu.


"Bagaimana keadaan Putraku dok?" Ucap Nayla, Meimei hanya mengelus-elus pundak Nayla.


"Putra saat ini masih koma, lukanya sangat parah. Harus dilakukan operasi untuk mengembalikan wajahnya. Tadi saya berhasil membersihkan sebagian lukanya tetapi dengan kondisi yang seperti ini sangat sulit dikenali. Maka tindakan yang tepat adalah harus di operasi segera mungkin. Dan mohon untuk terus berdoa agar Putra bisa melewati semua ini."


Tangisan Nayla semakin menjadi, hatinya begitu hancur, dia terus menyalahkan takdir. Mengapa memberi cobaan pada anak sekecil Putra.


"Hikss, berapa biayanya dok? Karena saya harus pulang dahulu mengambil uangnya."


Dokter pun menyarankan untuk segera kebagian administrasi dan betapa kagetnya Nayla dengan nominal tertara, darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu. Nayla pun memutuskan untuk pulang tetapi Lingmei tetap berada dirumah sakit.


Sesampainya dirumah ia membuka rekening tabungan yang ia kumpulkan dari kerja kerasnya untuk masa depan Putra, namun ia menghela nafas panjang uang yang ia kumpulkan masih jauh berbeda dari biaya pengobatan adiknya. Maklum Nayla hanya berkerja di mall dan cafe dengan part time uang yang dianggap nya lumayan besar ternyata tidak ada apa-apa nya dengan biaya pengobatan Putra. Dalam kebingungan Nayla berpikir untuk mengikuti jejak Rika.


Nayla menyusuri sepanjang jalan guna mencari keberadaan Rika, tapi ga kunjung menemukan nya. Tak sengaja langkah kakinya stop di pemakaman umum tempat kedua orangtuanya di makamkan.


Air mata Nayla belum kering meratapi nasibnya yang begitu tragis, kini dihadapkan dengan kesulitan yang amat dahsyat.


"Ibu ayah? Mengapa kau meninggalkanku secepat ini, aku tak bisa tanpa kalian. Maafkan aku tak bisa menjaga Putra dengan baik, aku bukan kakak yang baik untuknya. Kenapa bukan aku saja yang mengalaminya, hatiku hancur mengdengar kepedihan yang dialami Putra. Ayah.. mengapa kau diam saja, apa yang bisa kau lakukan untuk anakmu. Ibu.. aku rapuh, aku tak berdaya." Tangisan Nayla tak bisa berhenti begitu saja.


Disamping itu Lingmei menghubungi kakaknya dan menceritakan semua kejadian yang dialami Nayla.


Lingmei juga menyuruh Theo menemuinya dirumah sakit. Dan biaya pengobatan Putra ditanggung seutuhnya oleh Lingtheo. Pria tampan yang akan selalu berada di sisi Nayla, walaupun status mereka tak jelas apa. Tetapi Theo bukanlah menolong tanpa pamrih. Tentu dia ingin Nayla berbalas budi atas kebaikannya.