ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
Chapter 32. Bukti Penculikan



Nayla sesekali melirik Adi yang sedang terdiam tanpa kata, ia bersyukur Adi telah bebas. sebetulnya ia sangat ingin bertanya pada Adi, apakah ibu nya sudah siuman namun keinginan nya teralihkan dengan keberadaan adiknya Putra.


Kepolisian telah mengecek semua bukti penculikan, dan memang terlihat suasana yang sepi membuat penculik melancarkan aksinya dengan cepat.


Tiba-tiba dering handphone Adi berbunyi, ia mengangkat telepon nya dengan bergegas keluar ruangan kepala sekolah tanpa berpamitan pada orang-orang yang berada disana. Sepertinya sangat penting sehingga ia tak sempat melihat orang yang berada disana, padahal saat dering handphone nya berbunyi semua mata yang ada disana teralihkan pada Adi.


Nayla diam-diam memperhatikan Adi. Ia mengalihkan pandangannya pada Adi yang bergegas meninggalkan ruangan kepala sekolah, Lingtheo tersadar akan tatapan Nayla pada Adi. Ia memandang ke arah Nayla. dan berpura-pura batuk.


"Uhukk.." Nayla tersadar lalu mengalihkan pandangannya ke arah Lingtheo. Lalu berkata.


"Apa kamu mau minum? Jika iya aku akan membelikan air minum ke depan."


"Mau ngapain ke depan, pasti masih khawatir pada Adi. Wanita ini sangat baik, tak peduli sebesar apapun kesalahan yang Adi lakukan untuknya. Ia punya hati yang tulus untuk Adi. sangat mengagumkan walaupun banyak kesulitan yang ia hadapi, tapi masih bisa memikirkan orang lain." Gumam Lingtheo dalam hati sambil memandang wajah Nayla yang terlihat sembab karena tak berhenti memikirkan Putra.


"Baiklah, aku sedikit haus juga." Balasnya singkat pada Nayla, Nayla pergi membelikan air minum untuk Lingtheo. Ia kembali memperhatikan Adi.


Nayla melangkahkan kakinya menuju mini market terdekat, tapi langkah nya terhalang karena ia melihat Adi dengan suasana sangat buruk. Tanpa tersadar ia melangkah mendekati Adi dan berkata.


"Ada apa? Apa ada masalah? Aku melihatmu dalam keadaan buruk, siapa yang menelepon mu. Apa terjadi sesuatu buruk pada Qiara?"


Adi tak menjawab Nayla, ia memeluk tubuh Nayla yang penuh dengan luka itu.


"Aku minta maaf, biarkan aku memelukmu sebentar saja. Aku lelah."


Nayla tak menolak pelukan Adi. Ia hanya terdiam dalam pelukan hangat Adi. Cuaca sangat panas, karena telah memasuki musim kemarau. Nayla memegang kepala Adi dan mengelus rambutnya, ia tak bisa membenci Adi. Kesalahan mungkin akan terjadi pada setiap hubungan, tapi tergantung bagaimana kita bisa menyikapinya. Jangan sampai dengan ke egoisan masing-masing bisa memudarkan perasaan sayang kepada pasangan. Nayla ikut merasakan kesedihan Adi. Lalu berbicara dengan pelan walau masih dalam pelukan.


"Berbicaralah jika sudah tenang, aku menunggu jawaban mu."


Adi memejamkan kedua matanya, ia kemudian menghembuskan nafasnya. Sedikit lebih tenang karena Nayla masih memperdulikan nya lalu ia membuka pembicaraan pada Nayla.


"Ini bukan soal Qiara, aku baru saja menerima kabar dari rumah sakit mengenai mama ku, keadaannya semakin memburuk dan dokter sudah gak sanggup lagi. Aku benar-benar sudah putus harapan untuk mama bisa kembali seperti dulu lagi. Apa yang harus aku lakukan, aku tak ingin mama seperti ini."


Adi dan Nayla melepaskan pelukan mereka. Adi menatap wajah Nayla.


"Kamu benar Nay, aku harus ke rumah sakit menemani mama ku. Aku minta maaf gak bisa menemanimu di sini. Aku harus selalu ada di saat mama membutuhkan aku. Makasih untuk pengertian mu. Aku minta maaf atas semua kesalahanku." Ucap Adi sambil melangkah berlalu perlahan meninggalkan Nayla. Nayla hanya memandangi Adi. Ia lupa akan tugasnya membelikan air minum untuk Lingtheo lalu Nayla beranjak pergi ke mini market terdekat. Ia membeli beberapa botol air minum.


Sementara itu Lingtheo menunggu kedatangan Nayla, ia berpikir. Mana nih anak belum juga sampai, pergi sudah sangat lama. sejauh apa sih mini market nya. ia memandang jendela ruangan, kemudian melangkah kakinya melekatkan wajahnya ke arah depan sekolah. Ia mendapati Nayla berjalan ke arah ruangan kepala sekolah dengan banyak bawaan yang berada di kedua tangannya, ia terlihat keberatan dengan belanjaan nya. Lingtheo menghampiri Nayla ke depan pintu. tak lama Lingmei memperhatikan kakaknya juga, ia mengikuti langkah kakaknya yang berada depan pintu.


Lingmei juga mendapati Nayla yang sedang kesulitan membawa belanjaan.


"Astaga kakak, bukannya bergegas menolong ibu kecil, malah diam saja. Emang yaa cowok itu tak ada rasa peka nya terhadap wanita. Udah kelihatan ibu kecil dengan susah membawa belanjaan nya, bukannya berinisiatif membawakan tapi kakak dengan santai menunggu disini." Gerutu Lingmei kesal pada kakaknya, lalu kakak nya hanya tersenyum kecil mendengarkan adiknya.


Lingmei berlari kecil menghampiri Nayla dan mencoba meraih yang ada di tangan Nayla. "Biar aku bantu ibu kecil."


"Ahh.. Meimei baik sekali, terimakasih sayang. Sebetulnya ibu kecil bisa melakukan nya sendiri tapi jika Meimei ingin membantu ibu kecil juga tak akan menolak." Ucap Nayla merasa senang.


Ia memberikan sebagian belanjaan yang berada ditangannya, minuman dingin yang dibelinya sangat menyegarkan di musim panas begini. Tapi kemudian tatapannya bertemu pada Lingtheo yang sudah dari tadi memperhatikan keduanya. Ia tersenyum kecil pada Lingtheo dan Lingtheo membalas nya hanya dengan menyeringai.


Kemudian Lingtheo kembali kedalam tanpa menunggu mereka sampai ke depan pintu, Lingtheo berbicara pada kepolisian. "Temukan anak itu dengan segera. Aku tak ingin sesuatu buruk terjadi padanya. Lakukan tugas kalian dengan sebaik mungkin. Aku dan seluruh anak buah ku tak akan tinggal diam. Kami akan turut mencari keberadaan para penculik."


"Bapak tenang saja, kami akan bekerja dengan semaksimal mungkin meringkus kejahatan ini. memang penculik ini sudah beberapa kali menjalankan aksinya seperti ini. Kali ini kami akan bertindak lebih tegas lagi mengenai hukumannya." Ucap salah satu polisi.


"Baiklah, terimakasih atas bantuannya. kami menunggu kabar baik dari bapak kepolisian." Jawab Lingtheo. Tak lama kemudian Nayla membawakan air minum untuk Lingtheo dan beberapa polisi disana.


"Oke, kami bisa mulai bekerja sekarang." Ucap bapak polisi itu tapi saat hendak pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah, Nayla berkata.


"Minumlah terlebih dahulu pak, saya sudah membelikan air minum nya. dan terimakasih sudah mau membantu menemukan adikku dan teman satu sekolahnya. Aku sangat berharap agar segera ditemukan dalam keadaan baik-baik saja."


"Bu Nayla tenang saja, terus berdoa agar semuanya dipermudah dan adiknya dalam keadaan baik-baik saja. baiklah kami permisi dahulu." Ucap polisi tersebut sambil mengambil beberapa botol air minum dan diberikan kepada beberapa teman nya yang tak lain sesama polisi yang sedang bertugas.