
Beberapa hari kemudian....
Operasi Putra berjalan sangat lancar, kendati demikian Putra belum bisa di ajak bicara ataupun hanya dengan melihatnya saja. Karena butuh pemulihan lebih dalam lagi, Nayla terus setia menemani adiknya diruang tunggu berbentuk kamar yang di sewa Theo untuknya.
"Hmm, jenuh sekali.. udah beberapa hari ini aku terus menunggu disini, udah gak sabar banget pengen lihat Putra secara langsung. Semakin hari juga keuangan ku semakin menipis, udah hampir sebulan aku enggak bekerja. Yaa.. walaupun Theo sering kali memberi uang tapi jika kelamaan aku juga gak enak sih. Kecuali kalau udah menikah dengan nya. Theo pria yang baik, jadi rindu. Jika menelpon nya aku akan menggangu kerjaan nya gak yaa, tapi gak papa dech sebentar aja ganggu nya. Hihi." Gumam Nayla ditengah kejenuhan nya. Baru saja Nayla menekan kontak di handphone nya tiba-tiba suara dering handphone nya berbunyi.
"Koqq tau banget sih kalau aku merindukan nya. Jodoh emang gak kemana, haha." Nayla tersenyum memandang handphone nya yang bertuliskan Theo.
"Halo?"
"Ehm, yaa. Ada apa?" Jawab Nayla tersenyum.
"Gak papa, sedang apa? Putra bagaimana?"
"Santai sih, lebih tepatnya jenuh. Putra seperti biasa belum bisa di lihat, hanya bisa lihat dari kaca pintu aja. Aku melihat nya masih penuh dengan perban seperti mummy tapi cute banget. Hihi"
"Hehe, jangan bicara gitu ya kurang baik sayang."
"Maaf, habisnya aku bingung harus ngapain. Apa aku kembali kerja aja ya. Lagian disini juga Putra gak bisa diganggu. Aku jadi jenuh banget." Ujar Nayla yang ingin aktivitas kembali karena selama ini ia selalu punya kesibukan. Saat berdiam diri begini ia jadi tak nyaman.
"Eemmm... Sebaiknya kamu jangan bekerja ya, Putra harus tetap dijaga." Jawab Theo. Sebenarnya ia sudah tak ingin melihat kekasihnya itu terus bekerja keras. Theo ingin dirinya bisa diandalkan oleh Nayla dan juga tak ingin Nayla terlalu kelelahan. Begitu perhatian Theo pada Nayla, pria ini sangat sempurna di mata semua wanita. Nayla hanya diam saja dan Theo pun berbicara lagi padanya.
"Nay? Apa kamu masih mendengarkan ku?"
"Eemmm.. yaaa, aku masih disini."
"Eh, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
"Maaf yaa bukannya dari tadi kita udah bicara?"
Theo tersenyum, seperti nya Nayla benar-benar sudah jenuh. Ia tak bersemangat saat Theo melarangnya kembali bekerja.
"Nay? Maksudku, aku ingin bicara hal lebih penting dari pembicaraan kita sebelumnya. Apakah kamu udah siap melihat Xinyue? Jika iya, kita bisa berangkat besok bagaimana? Aku tahu kamu jenuh, aku ingin mengajakmu jalan-jalan sekalian meminta restu pada nenek." Sambung Theo.
Deg' Deg' Deg'
"Ya Tuhan, secepat ini aku menjalin hubungan dengan seorang pria. Apakah masalah dalam hidupku akan berakhir bahagia bersama Theo. Duhh... Aku seneng banget denger Theo ngomong gitu, aku akan memiliki keluarga lengkap lagi. Terimakasih Theo telah hadir dalam hidup ku." Gumam Nayla dalam hatinya, saking bahagianya ia sampai lupa menjawab pertanyaan Theo.
"Aku juga merindukan mu, kalau begitu aku jemput kamu jam delapan ya. Kamu ingin pulang terlebih dahulu gak? Apa perlu aku pesankan taksi untuk mu? Perlu pakaian baru gak? Mungkin semacam gaun atau pakaian yang bikin kamu nyaman aja gimana?" Theo begitu antusias pada meet dinner bersama Nayla. Ia begitu semangat karena ini momentum pertama kali setelah mereka menjadi sepasang kekasih.
"Hahaha, kamu berlebihan. Tapi makasih banyak udah begitu perhatian denganku. Tugasmu hanya menjemput ku tepat jam delapan aja ya. Theo, aku bahagia banget menjadi kekasihmu."
"Baiklah kalau begitu, sampai bertemu nanti malam ya. Aku lebih bahagia. Love you sayang."
"Love you too honey." Ucap Nayla sembari menutup telponnya. Ia sangat bahagia tanpa sadar melompat-lompat di ruang rumah sakit.
"Ahh, aku harus tampil lebih cantik lagi. Theo benar aku butuh sebuah gaun. Aku akan pergi membelinya, apa perlu bantuan Meimei ya? Tapi takut mengganggu nya. Aku selama ini belum pernah membeli gaun setelah kedua orang tua ku tiada. Tapi kali ini aku harus membelinya supaya gak bikin malu Theo. Aku harus menyesuaikan dengannya karna sekarang aku kekasihnya. Ohh... Theo, aku sungguh mencintaimu." Gumam Nayla dimabuk cinta lalu ia pun keluar dari ruangan itu namun tiba-tiba ada sosok pria memperhatikan nya. Nayla pun menyapa nya dengan senyum.
"Adi? Ada apa ya? Apa perlu sesuatu?"
"Enggak Nay, aku cuman mengantar Qiara yang ingin bertemu Putra sebelum berangkat ke Jepang. Bagaimanapun juga mereka berteman." Jawab Adi. Nayla melihat Qiara disamping Adi.
"Oh jadi Qiara ingin melihat kakak besar ya? Tapi mohon maaf sayang, kakak besar belum bisa dilihat begitu kata dokternya." Tutur Nayla lembut.
"Yahhhh, sebentar saja kakak cantik. Boleh ya, Qiara rindu kakak besar. Tolonglah kakak sekali ini saja ya." Balas Qiara, ia ingin sekali bertemu Putra. Meski itu terakhir kali melihatnya dan juga ingin memberi sebuah hadiah kecil untuk nya. Karena telah menolong Qiara dari kecelakaan itu.
Tapi Nayla tak bisa berkata apa-apa. Karena dokter emang melarang semua yang ingin menemui Putra demi pemulihan nya.
"Maaf sayang, kakak juga ingin sekali bertemu Putra tapi belum bisa. Bagaimana jika Qiara melihat kakak besar di kaca pintu saja? Biar Qiara tau keadaan kakak besar ya." Jawab Nayla.
"Oh begitu ya kak, baiklah. Melihat kakak besar lewat sana juga gak papa dech." Sahut Qiara tetap dengan wajah kecewa.
Setelah melihat keadaan Putra lewat kaca pintu, Qiara terlihat lebih sedih. Dia juga berdoa untuk kesembuhan Putra, tak lama kemudian dia turun dari tubuh Adi yang dari tadi menggendong nya.
"Kakak besar, maafkan aku telah mengusahakan mu. Ini bukan keinginan ku, dan maafkan aku meninggalkan mu. Aku harap kamu tak melupakan aku kak, aku pasti akan merindukan kebersamaan kita." Gumam Qiara sembari mengelap air matanya.
"Kakak cantik, Qiara titip ini untuk kakak besar ya. Ini gelang di bikin khusus untuk kakak besar, agar dia bisa memakai nya sampai kapan pun. Karena ini bisa menyesuaikan bentuk tangan." Qiara menyodorkan sebuah kotak kepada Nayla.
"Anak baik, terimakasih banyak ya. Nanti pasti kakak kasih untuk Putra. Kamu jangan sedih lagi ya, semoga suatu saat bisa bertemu kembali." Ucap Nayla sembari mengusap kepala Qiara dengan pelan. Anak sekecil ini sudah mempunyai jiwa yang begitu besar. Usia begini begitu peduli pada temannya.
"Baiklah, kakak besar Qiara pamit ya."
Qiara berlari kencang meninggalkan semuanya karena begitu sedih melihat keadaan Putra.