ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C75. Sebab-akibat



Tak cukup lama untuk Theo menghancurkan perusahaan yang meniru produk pakaian nya itu, dalam beberapa hari saja ia telah mengembalikan nilai pasar penjualan dengan kenaikan signifikan. Dan berkat pengacara terkenal yang tak lain adalah temannya itu berhasil mendapatkan semua biaya kerugian perusahaan Theo dari perusahaan yang bernama Bumi Karisma.


"Sayang.. wajahmu terlihat sangat lelah dalam beberapa hari ini, apakah sudah ada titik terang nya kah?." Ucap Nayla perhatian.


"Kalau aku jatuh miskin bagaimana? Kamu masih bersedia bersama ku gak?." Jawab Theo.


"Haishhh.. untuk apa kamu bertanya gini, beberapa tahun belakangan aku masih sangat giat dalam bekerja. Bersamamu bukan karna kamu memiliki kekayaan atau jabatan tapi karna kamu punya hati yang tulus dan menghargai wanita. Tak masalah jika aku harus kembali bekerja lagi, masih muda tenaga juga masih kuat yang penting kita selalu bersama ya." Jawab Nayla dengan senyuman.


Theo menatap Nayla dalam senyuman niatnya hanya bercanda, tak di sangka mendengar jawaban yang begitu indah dari istrinya. kemudian Theo berpikir tak masalah jika kedepannya berjalan dalam kesulitan ia akan percaya bahwa Nayla akan tetap bersamanya.


"Hahaha.. saat kekayaan ku hilang tapi percayalah tubuhku yang kekar ini akan selalu melindungi mu dan berusaha untuk membahagiakan mu."


"Aku tahu koqq, suami yang baik seperti mu gak akan membiarkan aku berjuang sendiri. Tapi, aku harus bekerja dimana ya karna selama ini hanya bisa melakukan kerjaan kasar saja menjadi pelayan cafe atau restoran." Ucap Nayla berpikir.


"Ehmm.. secepat ini kamu memikirkannya. Kalau begitu layani aku saja ya nanti akan ku kasih cinta sepenuhnya." Jawab Theo tersenyum.


"Hah? Kamu bercanda ya. Hmphhh.." tutur Nayla cemberut karena merasa di bohongi.


"Hahaha. Jangan marah dong, aku bercanda. Mana mungkin menyuruh kamu bekerja lagi, kamu selalu mengkhawatirkan ku sampai kurus seperti ini."


"Dasar pembohong! Kalau begitu aku akan memukulmu awass.. kamu ya!." Ucap Nayla tetapi saat ingin memukul Theo ia jadi terpeleset dan menghantam tubuh Theo. Secepatnya Theo memeluknya, perlahan memberikan kecupan pada bibir sang istri hingga Nayla tak mampu berkata apapun lagi.


Disamping itu..


"Sial !!! Tidak bisa! Perjodohan ini tidak boleh batal." Ucap ayahnya Marissa.


"T-tapi bos, mereka telah mengembalikan semua model yang pernah bos tanam di perusahaannya. Ada masalah yang lebih penting dari pada sebuah perjodohan ini." Ucap karyawan nya.


"Apa katamu! Tidak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan anakku."


"Bos, perusahaan kita sepertinya tak bisa diteruskan lagi."


"Hmm.. aku mengerti, tapi sulit bagiku untuk menjelaskan kepada anakku. Kalian silahkan pergi karena perusahaan ini akan di tutup dan aku tak menemukan cara untuk mengembalikan nya."


"Baiklah." Ucap mereka meninggalkan perusahaan yang sudah tidak ada sisa nya lagi akibat dari pemalsuan produk yang dijalani ayah Marissa selama ini. Tak lama Marissa datang setelah para karyawan itu meninggalkan ruangan kerja ayahnya.


"Sungguh ayah akan bangkrut? Aku akan hidup susah lagi? Kerja keras kita selama merantau di kota akan sia-sia saja? Jawab ayahhh!!!." Pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh ayahnya. Marissa yang selama ini sangat angkuh itu hanya bisa menangis tidak terima akan nasibnya.


"Maafkan ayah, kita jatuh miskin lagi karna perbuatan ayah dan tidak menjodohkan mu dengan pria pilihanmu juga kesalahan ayah. Ayah tak tahu harus berbuat apalagi untuk kehidupan kita."


"Ayah, aku tak mau hidup miskin lagi. Cari cara agar perusahaan ayah kembali seperti dulu lagi. Ini semua salah ayah!!!." Teriak Marissa.


"Kau menyalahkan ayah? Dasar anak tak berguna. Andai tak memilih dalam mencari pria mungkin kau bisa hidup enak dengan pria kaya. Kau! anak yang tak bisa di andalkan selalu menjadi bebanku saja. Mati saja kau hah!!!" Ujar ayahnya emosional.


"Ayah, apa yang kau katakan? Aku benci ayah!!." Marissa menangis mendengar ayahnya memaki dirinya dengan tajam, ia pergi dalam keadaan emosi dan mengemudi mobil nya dengan kecepatan tinggi.


Sementara Rakha sangat senang masalah yang dihadapi keluarga nya terselesaikan, ia menjemput kekasihnya untuk menemui kedua orangtuanya. Yah, Rakha ingin memperkenalkan calon istrinya di hadapan ayah dan ibunya. Meimei juga merasa bahagia tetapi ia tak ingin memberikan kesan buruk di awal pertemuan dengan calon mertua. Ia membawa banyak buah tangan untuk menyenangkan kedua orang tua Rakha.


"Emm.. aku masih ingin membeli buah di depan jalan ya, kakek itu sangat semangat di usia nya yang sudah enggak muda lagi jadi aku selalu beli disana. Buah nya juga dalam keadaan segar." Ucap Meimei setelah berada di motor Rakha.


"Ini sudah sangat banyak, sudah seperti hantaran pernikahan saja. Hahaha.." Sahut Rakha.


"Haishhh.. kue-kue ini sengaja aku bikin dari rumah agar ibumu merasakan masakan anak perempuannya hehe, kalau buah sengaja beli biar terasa lengkap saja. Kamu banyak protes ya!"


"Hahaa.. gak berani lagi dech." Ucap Rakha singkat. Ia berpikir jika Meimei bisa beradaptasi dengan lingkungan mana pun karena Meimei anak yang cerdas. Rakha tak berpikir banyak lagi.


"Tapi aku sedikit gugup sih, takut seperti yang di drama film bahwa mertua nya sangat jahat karna merasa anaknya akan berpihak pada menantunya padahal jika anak menikah itu tandanya menambah satu anggota keluarga bukan nya malah jadi musuh." Sahut Meimei membayangkan film yang sering di tonton nya sewaktu senggang.


"Ibu dan ayahku baik koqq, jangan takut ya. Apalagi di rumah gak ada anak perempuan dengan kehadiran mu, kamu pasti menjadi anak kesayangan mereka." Jawab Rakha selama perjalanan hingga membeli buah dan sebentar lagi akan sampai rumah Rakha selalu memberi Meimei semangat. Tidak ada yang harus di takuti, baik buruknya mertua ada pada pilihan menantu nya.


"Iya aku yakin mereka akan menerimaku karena aku bisa masak makanan enak. Kata kak Theo jika kita ingin mengambil hatinya harus di awali dengan perutnya dulu. Hihi.." tutur Meimei mengingat pepatah kakaknya, pantas saja kedua adik kakak ini sangat mahir dalam urusan memasak.


Tak lama kemudian ibunya Rakha melihat anaknya itu tertawa ceria bersama seorang wanita berada disampingnya, ibunya hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Di perhatikan nya selalu.


"Hahahaa.. kamu bisa saja, ehh sampai lupa masuk. Ayok! Ibu sudah menunggu tuh depan pintu."


"Selamat siang Bu." Sapa Meimei sopan.


"Siang juga, masuk nak." Pinta ibunya.


"Bu? Ayah mana ya. Aku ingin mengenalkan calon istri ku, hehe." Sahut Rakha.


"Rakha? Kita belum mau menikah. Lebih tepatnya kekasih saja ya." Bisik Meimei.


"Ehh.. ada tamu." Ucap ayahnya Rakha mendengar keributan di ruang tamunya. Dan Meimei memberi hormat pada ayah Rakha dengan sopan.


"Siapa namamu nak? Maaf jadi merepotkan ya. Ibunya Rakha selalu mengatakan ingin berkenalan."


"Iihhh ayah, ibu penasaran wanita yang selalu Rakha ceritakan hihihi."


"Maaf Meimei baru bisa bertemu ayah dan ibu, kedepannya mungkin akan merepotkan kalian. Oya ini sedikit kue bikinan Meimei sendiri silahkan di cobain." Ucap Meimei senyum.


"Anak baik, sangat sopan dan pintar masak. Lain hari kita masak bersama ya, kamu pasti banyak menyimpan resep rahasia. Hahaha.." sahut ibunya senang, baru bertemu sudah kelihatan akrab.


"Hehe, Meimei sangat bahagia jika bisa masak bersama ibu. Masakan ibu tidak ada duanya dan selalu bikin rindu." Tutur Meimei.


Mereka berbincang hangat, kedua orang tua Rakha sangat senang kehadiran Meimei dan Meimei sangat nyaman berada di tengah keluarga itu. Ia juga merindukan kedua orangtuanya, berbagi cerita kebahagiaan dan saling perhatian sedikit mengurangi kerinduannya pada sosok ayah.


Saat Meimei dan Rakha berbahagia berbanding terbalik dengan Marissa, ia mengalami kecelakaan tragis hingga kehilangan nyawanya dan ayahnya sangat terpukul melihat Marissa pulang tinggal nama, ayahnya sangat menyesal mengatakan kematian dalam emosinya. Ia terus menyalahkan dirinya membuat Marissa tak terima kebangkrutan perusahaan dan tak pernah dapat apa yang diinginkannya. Ayahnya pun berjanji akan membalas semua kepedihan ini pada musuhnya.