
Seminggu kemudian...
Nayla terus menjaga Putra hingga tiba hari dimana Putra melepas semua perban nya dan melihat wajah baru nya. Nayla begitu bersemangat ingin melihat adiknya itu tetapi dokter mengatakan perban Putra bisa dibuka saat siang harinya.
"Sayang, semangat ya.. Jangan sedih dong."
"Aku gak sedih kak hanya takut aja wajahku jadi lebih buruk, bagaimanapun juga wajahku sangat hancur kan?." Ucap Putra.
"Enggak kok, pasti lebih tampan yang sekarang." Sahut Nayla berusaha menghibur Putra.
"Hmm apa benar begitu kak?" Balas Putra
"Benar dong, banyak orang yang melakukan operasi padahal udah punya wajah indah tapi mereka merasa kurang percaya diri. Maka dari itu Putra juga harus bisa percaya diri walaupun operasi nya dengan cara enggak di sengaja kan tapi hasilnya sama aja dari kata operasi."
"Emm.. kakak benar, aku gak boleh takut melihat wajah baruku nanti. Makasih yaa kak udah selalu baik sama Putra." Jawab Putra.
"Yaa sayang, kakak akan selalu ada untuk Putra karna kamu kan adik kesayangannya kakak." Balas Nayla sembari memeluk tubuh Putra.
Tak lama kemudian ada suara ketukan pintu, Nayla heran siapa dibalik pintu tersebut karena biasanya jika yang datang Theo atau Meimei pasti mereka langsung masuk atau memberi tahu akan datang.
"Tok tok tok." Suara itu terus bergema dan Nayla akhirnya berjalan membuka pintu.
"Halo, benar ini ruangan Putra?." Tanya nya.
"Oh iya benar, silahkan masuk ya tapi pelan-pelan saja karena Putra masih sakit." Jawab Nayla.
Dan ternyata yang datang berkunjung menemui Putra adalah Bu guru Ani dan teman-teman Putra disekolah nya, Qiara? Dia tidak datang karna belum masuk sekolah. Hanya ada Xi, Aldi, dan Gita.
Setelah masuk mereka melihat keadaan Putra alih-alih sedih karena temannya sedang sakit, mereka malah tertawa menghibur Putra dan Putra ikut tersenyum. mereka bercerita banyak hal dan membawa mainan serta buku komik untuk Putra.
"Maaf saya baru berkunjung karena tidak tahu jika Putra mengalami kecelakaan, saat itu saya cuti mengajar soalnya ada urusan pendidikan." Ujar Bu Ani membuka pembicaraan.
"Tidak apa-apa, lagian Putra baru seminggu belakangan ini bisa di kunjungi. aku juga gak bisa melihatnya secara langsung seperti sekarang." Jawab Nayla tersenyum.
"Oh begitu ya, semoga Putra lekas sembuh ya."
"Mudah-mudahan ya, emm.. kalau boleh tau Bu guru bisa tahu ruangan Putra dari siapa ya? Aku ingat aku gak punya nomor handphone Bu guru, dan belum pernah bertemu ibu sebelumnya."
"Ahh jangan sungkan, panggil aja aku Ani. Masalah itu aku dan Adi seminggu belakangan ini saling menghubungi jadi aku tau dari Adi. Katanya dia pernah datang kesini juga." Sahut Ani.
"Oh jadi begitu, aku kira kamu tahu dari siapa ternyata dari Adi. tapi sayang anak itu pindah ke Jepang, dia teman yang baik bagiku." Balas Nayla.
"Ahh tidak, Adi masih di kota ini. gak jadi pindah ke Jepang karna kan harus mengurus perusahaan nya. sekarang dia sangat sibuk bekerja, emm.. aku sampai lupa, kalian punya hubungan ya?." Tanya Ani serius karena terakhir bertemu Nayla sangat akrab dengan Adi. tapi Ani tak mau tahu banyak, yang dia tahu dia menyukai Adi. tapi karena melihat wajah Nayla ia jadi penasaran.
"Jadi begitu ceritanya, bagus dong Adi udah bisa bangkit dan meneruskan perusahaan ini suatu pemikiran yang sangat baik. apalagi untuk masa depan nya nanti." Balas Nayla.
"Iya, aku juga ikut bahagia melihatnya." Tutur Ani.
"Ibu guru menyukai Adi?." Tanya Nayla serius.
"Emm.. aku menyukainya tapi kalau dia udah punya kekasih, aku mengerti aku bukanlah jodohnya. makanya aku tanya karena aku melihat dia sangat dekat dengan kamu." Senyum Ani.
"Baiklah, maaf aku menggangu hubungan kalian. kamu jangan salah paham ya bukan maksudku merusak semuanya. Aku memang menyukai nya tapi mulai sekarang aku berhenti berharap padanya." Belum selesai Nayla berkata Ani telah memotong pembicaraan nya, sedikit kecewa dengan yang didengar nya. Ia pun hendak berdiri guna pamit pulang tapi Nayla menahan nya.
"Kenapa buru-buru sekali, aku belum menyelesaikan perkataanku loh. duduk sebentar ya." Nayla berusaha menahan Ani dan Ani duduk kembali, ia mendengarkan apa yang Nayla katakan.
"Aku pernah menjadi bagian dalam hidupnya tapi karna ada sesuatu hal yang gak bisa buat kami bersama lagi, dia hanya masalalu ku dan aku udah gak ada rasa sama Adi lagi. aku tau kamu suka dia aku mendukungmu bersama nya karena aku sebentar lagi akan menikah. aku sudah memiliki pria yang tepat untuk menjalin cinta." Ungkap Nayla.
"Benar kah? Aku senang mendengar nya makasih ya Nay udah mengerti perasaanku. Jadi kapan kalian menikah? Apakah aku dan Adi boleh datang ke acara pernikahan kalian?." Sahut Ani dengan senyuman merekah dan Nayla menjawab.
"Sekitar tiga minggu lagi, tentu dong! Aku ingin kalian datang siapa tahu abis datang ke pernikahan gak lama dari itu jadi ikut menyusul juga kan? Hahaha.." Balas Nayla tertawa.
Ani merasa Nayla sangat mudah akrab dengan orang yang baru dikenalnya, Ani merasa nyaman bincang sama Nayla ia ingin menjadi teman Nayla.
"Boleh aku minta nomor handphone mu? Aku ingin berteman lebih dekat lagi bolehkah?." Tutur Ani.
"Senang berkenalan dengan mu kita bisa makan atau bertemu lain waktu ya, ini nomor handphone ku." Jawab Nayla santai ia menyodorkan handphone nya dan Ani mengambil nomor handphone Nayla.
"Permisi.. maaf mengganggu, karena ini udah jadwal Putra untuk membuka perban nya." Ucap dokter diiringi suster masuk perlahan keruangan Putra, dan Nayla mendekati Putra disusul Bu guru Ani dibelakangnya.
Mereka ingin secepatnya melihat wajah Putra, tetapi Putra hanya bisa terdiam ia sedikit takut tapi karena banyak teman yang memberikan semangat ia jadi senang bisa buka perban dihari ini tepat saat teman-temannya datang.
"Semangat Putra, kami akan selalu menemani mu ya. Jangan takut ada aku." Ucap Gita.
"Aku juga ada untuk Putra, gak sabar melihat wajah baru Putra." Sahut Aldi bersemangat.
Perlahan dokter membuka helai demi helai kain kasa yang menutupi wajah Putra, hingga ke helai terakhir nya suster yang memegang cermin wajah telah bersiap untuk membantu Putra melihat.
"Wahh.. kamu jauh lebih tampan Putra.!!" Ucap Gita senang bisa melihat wajah baru Putra. Tapi Putra hanya diam saja, ia belum terbiasa dengan wajah baru dan lebih menyukai wajah yang dulu.
"Adik kesayangan ku.. sangat tampan wajahnya masih seperti biasanya selalu bikin kakak makin sayang sama kamu dek." Ujar Nayla.
"Terimakasih kak selalu menghiburku, juga teman-teman yang luar biasa memberiku semangat. Aku bahagia mempunyai kalian sekali lagi terimakasih aku ucapkan."
"Sayang sama Putra." Ucap Gita beranjak memeluk Putra dan teman-teman lain nya ikut memeluk.
"Jangan sekolah dulu ya Putra tunggu keadaan mu benar-benar sembuh. Kalau begitu ayo anak-anak pamit dulu sama Putra kalian harus pulang." Ucap Bu guru Ani dan mereka pun berpamitan.
"Terimakasih bu guru udah besuk Putra hari ini."
"Sama-sama, cepat sembuh ya nak." Balasnya.
Nayla menyuruh Putra untuk istirahat saja sedangkan kakak nya itu mengantar Bu guru dan temen-temen pergi keluar ruangan.
Dokter dan juga suster ikut keluar, tetapi sebelum itu Putra berkata pada susternya.
"Suster apakah aku boleh meminjam cermin nya sebentar lagi? nanti kakak akan mengantar cermin nya kembali pada suster."
Susternya pun memberikan kembali cermin yang hendak di pinjam Putra kemudian ia berlalu meninggalkan Putra sendirian, anak itu masih penasaran dengan wajah barunya ia menatap wajahnya di cermin dengan berbagai sudut pandang namun kemudian ia tersenyum tipis.