ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C49. Hadiah untuk Xinyue



"Yahhh.. Omaaa.. Hmm..." Tutur Xinyue tak bersemangat lagi.


"karena udah waktunya makan sebaiknya Yuyu makan terlebih dahulu ya, mommy janji akan menunggu Yuyu sampai selesai makan. Sup buatan Oma pasti enak sekali, kalau dibiarkan dingin rasanya jadi kurang enak." Kata Nayla.


"Ya udah dech Yuyu makan dulu ya." Sahut Xinyue sembari pergi ke dapur karena tadi mereka di dalam kamar Xinyue.


"Eeemmmm.. emangnya hadiah apa yang ibu kecil ingin berikan pada Yuyu?" Tanya Meimei yang juga penasaran dan Nayla menjawab nya.


"Hadiahnya Yuyu sebentar lagi dapat melihat, karena sudah mendapatkan donor mata."


"Oh cuman itu doang, kirain apaan tadi. Soalnya seperti penting sekali kalau itu Meimei juga udah tau dari kak Theo. Hehehe.." tutur Meimei.


"Ya kan, kamu yang udah tau. Yuyu masih belum tau apa-apa dia. Kakak ingin Nayla aja yang memberi tau Yuyu, pasti Yuyu sangat bahagia." Balas Theo tersenyum kepada Nayla dan Nayla membalas senyuman nya. Meimei yang melihatnya hanya bisa menggores tembok yang tak bersalah dengan jari-jari nya.


"Haishhhhhh, aku seperti nyamuk. Lebih aku membersihkan diriku dan hatiku yang telah ternoda oleh cinta kalian. Bye." Ucap Meimei pergi dengan rasa iri nya melihat sepasang kekasih itu.


"Hahahaha.." mereka hanya bisa tertawa.


Kemudian kembali terdiam, Theo menatap lekat wajah Nayla, dan Nayla tersipu malu.


"Apakah Theo akan melakukan sesuatu, seperti ciuman mungkin." Pikir Nayla, ia hanya bersiap.


"Emmuachhh.." Theo mencium bibir Nayla. Dan Nayla hanya tersenyum menerimanya.


"Maaf, hehe.. keceplosan. Tapi makasih ya lain kali aku akan izin dahulu padamu." Tutur Theo.


"Gak apa-apa, sudah seharusnya kamu lakukan. Kita kan kekasih jadi gak perlu minta maaf atau minta izin ya." Jawab Nayla sembari menatap Theo dengan senyuman.


"Hehe, eemuach." Theo mengecup kening Nayla.


Wajah Nayla merah merona, mereka pun tertawa bersama. Sedangkan Meimei dalam kamar nya merenung berpikir tentang pertemuan nya dengan rakha beberapa hari yang lalu.


"Tugasku untuk mencarikan kakak pengganti kak Jia udah selesai habis ini aku harus ngapain lagi ya? Setiap hari aku melihat mereka makin mesra, seperti kurang kerjaan hidupku saat ini." Meimei baru menyadarinya bahwa ia selalu memikirkan kakaknya tanpa disadari ia juga butuh kekasih.


"Hughhh.. saat ketemu sama Rakha kemarin kenapa aku enggak meminta nomor telepon nya aja ya? Aku sama sekali gak kepikiran padahal kan aku menyukainya. Bagaimana ya agar bisa bertemu Rakha lagi? Apa harus ke pemakaman? Tapi masa iya dia disana. Tapi dua kali ketemu juga di pemakaman sih, arghhhh.. koqq jadi mikirin dia sih." Gumam Meimei dalam hatinya.


Tanpa sengaja Rakha juga terpikir Meimei.


"Wanita itu, hanya dia yang bisa membuat aku bergetar. Dia sangat lucu, tapi punya pikiran yang sangat positif. Aku jadi ingin bertemu dengannya lagi. Tapi aku sibuk bekerja berkat dia aku jadi memikirkan hidup, apa mungkin dia sengaja dihadirkan dalam hidupku karena dia jodohku."


"Rin, apa kamu bisa mengetahui isi hatiku. Jika iya, tolong jangan marah ya. Bagaimana pun juga dia yang membuat aku tersadar enggak menyalahkan diriku atas kepergian mu. Makasih untuk kenangan indah yang kamu ciptakan masa lalu kemarin."


Lalu keduanya pun terlelap saat saling memikirkan tetapi Theo dan juga Nayla masih menunggu Xinyue datang ke kamarnya.


"Theo, aku bahagia sekali bertemu Yuyu. Ternyata dia anak yang sangat cerdas ya. Sempat gugup diriku tapi setelah melihatnya aku jadi terharu."


"Yaa.. kamu benar, dia sangat mudah akrab dengan siapa aja. Anaknya periang juga ya." Ujar Theo.


"Iya, tapi kemana dia? Jangan-jangan udah ketiduran di dapur. Sebaiknya kita lihat Yuyu aja gimana?." Saran Nayla dan Theo pun setuju.


Setelah mereka sampai di dapur, Yuyu masih makan disuapi oleh Oma. Tapi sedikit lagi makanan nya akan habis jadi Nayla tetap menunggu Yuyu selesai. Theo masih setia menemani Nayla.


Lima menit kemudian Yuyu baru menyelesaikan makan malamnya..


"Sudah selesai sayang?" Tanya Nayla.


"Eemm.. sejak kapan mommy disini? Apa Dady juga ada disini?" Jawab Xinyue.


" Yaa sayang.. Dady juga ada disini, kan Dady juga penasaran hadiah apa yang akan diberikan oleh mommy untuk Yuyu." Sahut Theo.


"Kalau begitu sama dong, Yuyu juga penasaran. Aunty tidak ikut penasaran ya?" Tanya Xinyue karena tidak mendengar suara Meimei.


"Aunty saat selesai mandi ia langsung tertidur mungkin masih kelelahan sayang." Jawab Nayla.


" Jadi hadiah nya apa mommy?."


"Hadiahnya adalah.."


"Apa mommy, Yuyu ingin tahu sekali."


"Hehe, hadiahnya Yuyu dalam waktu dekat ini bisa melihat kembali. Dady dan mommy berhasil mendapatkan donor mata untuk Yuyu. Jadi Yuyu bisa melihat Dady, melihat mommy dan melihat yang lainnya juga melihat seluruh dunia. Mommy sangat bahagia karena hal ini." Jawab Nayla sambil mencium kepala Yuyu. Ia juga memeluknya.


Xinyue berpikir sejenak, antara bahagia sekaligus terharu, ibu yang setiap saat dia rindukan itu ternyata bersusah payah mencari pendonor untuknya dapat melihat lagi, bersyukur Xinyue tak pernah menyalahkan kedua orangtuanya karena tak pernah ada untuknya selama bertahun-tahun terutama ibunya. Mungkin begini dalam pikiran Xinyue jadi ia terharu langsung memeluk Nayla.


"Huhuhu, hiks.. mungkin ini hadiah terindah yang pernah Yuyu terima, selain dari Dady karena telah menghadirkan mommy dalam hidup Yuyu. Yuyu juga mendapatkan banyak hadiah kebahagiaan dari kalian secara bersamaan. Yuyu sangat menyayangi mommy dan Dady. Terimakasih telah menjadi orangtua Yuyu." Tutur Yuyu di iringi dengan tangisan bahagia. Ia tak menyangka karena sebentar lagi dapat melihat dunia yang menurutnya sangat indah dan penuh kebahagiaan.


"Terimakasih sayang telah hadir dalam hidup mommy dan Dady, kamu adalah sumber kekuatan kami. Tetap menjadi anak yang baik yaa." Ujar Nayla ikut merasakan kebahagiaan Yuyu.