ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
Chapter 17. Iya. Aku mau



Pada malam harinya..


"Kita mau kemana kak? Ini kan baju baru Putra. yang bulan lalu kakak belikan. Mengapa Putra harus memakainya, apakah kita akan pergi jauh?"


"Kakak ingin mengajak Putra jalan-jalan. maka dari itu, Putra harus terlihat lebih tampan lagi. Saat kakak gajian, kakak akan membelikan Putra pakaian baru lagi." Ucap Nayla sambil merapikan pakaian Putra, memasangkan ikat pinggang pada jeans yang di kenakan nya. Putra terlihat tampan.


"Wahh.. Putra senang bisa jalan-jalan. kakak memang yang terbaik."


"Sudah rapi, dan terlihat tampan. kakak akan mengganti pakaian dahulu ya."


"Baiklah kak, Putra akan menunggu"


Tak berapa lama datanglah Adi bersama Qiara, lalu mereka mengetuk pintu.


"Wow, kakak kecil sangat tampan. Qiara senang bisa bermain sama kakak kecil lagi." Ucap Qiara dengan suara lucunya.


"Adik kecil juga cantik, kita akan bermain kemana emangnya?" Tanya Putra.


"Kata Paman Adi kita akan pergi bermain di wahana yang ada dipasar malam."


"Oh begitu, apakah ini menyenangkan?"


"Tentu dong, ada banyak permainan disana. Mengapa kakak kecil belum mengetahui nya ya." Tanya Qiara.


"Belum, kakak kecil belum pernah bermain di pasar malam." Jawab Putra lugu. Memang selama ini Putra belum pernah bermain keluar rumah.


Tak lama kemudian Nayla keluar dari kamarnya, memakai gaun yang sangat cantik tetapi tak terlalu panjang. Terlihat anggun karena berwarna cream, di pinggang nya melingkar aksesoris manik-manik mutiara putih. Sehingga membuat gaun nya terkesan mewah.


Adi tak berhenti memandangi wajah Nayla yang terlihat cantik, dengan mulut terbuka seperti sedang melihat bidadari yang turun dari langit.


"Paman tutup mulutmu atau lalat akan hinggap dalam mulutmu." Ucap Qiara yang memperhatikan Adi.


Adi tak mendengar perkataan Qiara, ia terus melihat Nayla yang tersenyum manis memandangi nya.


"Kamu kenapa Di?. Ada yang salah dengan pakaian yang aku kenakan, jika iya. Aku akan mengganti dengan pakaian biasa saja." Ucap Nayla berbalik badan menuju kamarnya.


Lalu Qiara pun memukul Adi yang terperangah melihat Nayla.


"Aduh.."


Usap Adi pada kepalanya, dan kembali tersadar. Lalu berkata.


"Kenapa memukul paman? Ini membuat paman sakit kepala, Qiara sungguh kejam. Huhuhu." Ucap Adi berpura-pura.


"Siapa suruh paman diam saja saat Qiara berbicara, terus saja melihat kakak besar dengan mulut terbuka." Tutur Qiara kesal melihat tingkah laku pamannya.


"Eh.. Nay? kamu tak perlu mengganti pakaian mu, aku terdiam tadi hanya sedang berpikir, padahal aku tak mencuri selendang bidadari. Tetapi mengapa aku bisa melihat bidadari di dunia ini. Tepat dihadapan ku ia berada." Ucap Adi merasa bahagia melihat Nayla yang sangat cantik.


"Ahh.. kamu bisa saja, kita bertemu setiap hari dan baru sekarang kamu menyadari nya." Ucap Nayla percaya diri.


"Hahaha..' aku jadi malu." Tutur adi.


"Jadi kapan kita akan pergi?" Tanya Putra. "Memang begitu kak, orang dewasa sangat aneh." Ucap Qiara.


Mereka pun berangkat menggunakan mobil Adi, tak terlalu jauh. karena pasar malamnya hanya berjarak 1km dari rumah Nayla. Mereka mengobrol dengan santai. Lalu Qiara berkata.


"Kakak kecil, apakah kakak sudah mengerjakan pekerjaan rumah?"


"Sudah siang tadi bersama kak Nayla, bagaimana dengan adik kecil?"


"Aku juga sudah selesai bersama paman, orang tua ku selalu diluar negeri. mereka tak bisa belajar bersama ku." Ucap Qiara sedih karena sangat ingin belajar bersama orangtuanya tetapi tak pernah bisa melakukan nya.


"Tak mengapa jangan sedih, orang tuamu bekerja keras untukmu. sama seperti kak Nayla yang berkerja keras untukku."


Tak lama kemudian mereka pun sampai di pasar malam yang ramai pengunjung.


Tetapi Putra melirik di sekitar pasar malam itu, tak ditemukan nya wahana permainan yang di katakan oleh Qiara.


"Ini seperti pasar tradisional, tak ada hal menarik disini." Ucap Putra kesal.


"Putra mengapa? kok jadi tak senang hatinya." Jawab Nayla mengelus kepala adiknya dengan lembut.


"Qiara bilang, katanya dipasar malam ada wahana permainan yang banyak.


"Ini sudah malam, mungkin sudah tutup. Putra jangan cemberut gitu dong. Kita bisa membeli mainan saja, bagaimana?" Jawab Nayla.


"Terus Putra mau apa?"


"Putra ingin makan saja. Sudah lapar, tak ingin ke pasar malam." Ucap Putra kesal.


"Baiklah kita akan pergi ke restaurant yang sudah paman Adi pesan. Tak jauh dari sini. Paman Adi minta maaf telah membuat Putra kesal." Ucap Adi.


Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke restaurant yang sudah Adi pesan.


Adi tak enak hati, padahal ia ingin melihat Putra bahagia tapi malah kebalikannya. Putra jadi cemberut.


"Kakak kecil jangan cemberut gitu, nanti wajahnya tak terlihat tampan lagi. Ini Qiara kasih kembang gula saja. Makanan ini sangat manis dan membuat kakak kecil tak kesal lagi jika memakannya. Coba saja ini enak." Tutur Qiara merayu Putra yang sedang cemberut.


"Ambil dong kembang gula dari adik kecil, Putra kan anak baik." Ucap Nayla.


Kembang gula dibeli oleh Qiara dan Adi saat Nayla membujuk Putra yang cemberut. Lalu Putra pun mengambil kembang gula yang diberikan Qiara dan berkata. "Terimakasih adik kecil."


Suasana hati Putra pun membaik kembali.


Sesampainya di restaurant...


"Sangat sepi, wahh.. sungguh indah." Ucap Nayla kagum melihatnya.


Adi sengaja memesan restaurant ini untuk mereka berdua saja. restaurant nya dikelilingi indahnya bunga peony, Adi mencari tahu tentang aroma bunga dari rambut Nayla. Maka saat ia mengetahui nya, Adi menjadi punya ide untuk merubah dekorasi restaurant dengan semerbak wangi bunga peony.


Nayla yang saat itu melihatnya merasa bahagia. Betapa tidak, bunga yang saat ini ia sukai ada banyak didepan matanya.


"Malam ini banyak sekali hiasan bunga peony, apakah ini malam yang spesial?" Tanya Nayla sembari melihat keindahan warna warni bunga peony.


"Aku tahu, ini adalah bunga kesukaan mu maka dari itu aku menghiasnya khusus untukmu. Sebelum makan malam kita dimulai, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu." Ucap Adi serius.


Deg.. deg.. deg..


"Pandangan mata itu, tak pernah aku lihat sebelumnya. Ada apa dengan Adi." Gumam Nayla dalam hati, jantung nya terus saja berdegup kencang.


"Kakak!!! Kapan kita akan makan, Putra sudah sangat lapar." Ucap Putra melihat kakaknya yang terus saja memandang Adi dengan senyuman.


"Jika masih lama untuk kita bisa makan malam, lebih baik aku pulang saja." Gerutu Putra mengalihkan badannya membelakangi Nayla.


"Hmm.. bagaimana jika kita makan saja dulu, Putra sudah cemberut lagi." Ucap Nayla kepada Adi.


"Baiklah kita makan saja dulu." Adi terpaksa menyetujui permintaan dari Nayla, padahal ia sudah tak sabar ingin mengungkapkan perasaannya pada Nayla. Entahlah Putra sudah tak baik suasana hatinya.


Mereka pun memutuskan untuk makan


Malam terlebih dahulu, saat dimeja makan suasana begitu romantis. terdapat lilin cantik yang menghiasi meja makan yang besar berbentuk bundar itu, entahlah berapa Yuan yang dikeluarkan Adi hanya untuk makan malam bersama wanita yang ia sukai ini.


Terdengar suara indah dari biola yang mengalun mereka pada makan malam itu. Putra bersama Qiara tak dapat mengganggu keindahan pada ruang itu, karena sudah datang baby sister yang biasa menemani Qiara. dan Putra hanya bisa menurut perkataan dari Qiara, untuk makan bersama adik kecil saja.


Nayla sangat terlihat bahagia dan terus memandangi wajah Adi. Lalu Adi mengajak Nayla untuk berdansa bersama tetapi gadis cantik ini belum pernah berdansa selama hidupnya.


"Mari berdansa, aku akan mengajarimu cara berdansa agar kamu hanya dapat berdansa bersama pria sepertiku." Ucap Adi sambil memberi tangannya yang di isi serangkai bunga peony. lalu Nayla pun mengambil bunga nya tetapi dengan cepat menaruh ke atas meja dan memegang tangan Adi.


Mereka pun mulai berdansa dengan suasana yang sangat romantis, lantunan biola mengeluarkan nada lembut yang berisi lagu "my heart will go on" soundtrack dari film Titanic ini berhasil menguras perasaan yang mendengar kan nya. hingga Nayla terbawa suasana.


Walaupun ini pertama kalinya ia berdansa tetapi Nayla cukup tenang, ia terus mengikuti perkataan Adi. hingga Adi berkata.


"Sejak aku pertama melihatmu, entah mengapa jantungku terus berdetak kencang. Perasaanku aneh, tak bisa diungkapkan. tetapi perasaan ingin selalu bersama mu tak bisa aku abaikan. Nayla.. aku ingin kau tau, mencintaimu adalah kebahagiaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Izinkan aku memilikimu, aku berjanji akan selalu menemani mu baik suka maupun duka.


Maukah kau menjadi kekasihku?" Ungkap Adi dengan romantis.


Nayla yang mendengar pertanyaan itu pun menangis terharu, ia sangat bahagia.


Lalu dengan cepat Nayla menjawab.


"Iya. Aku mau."


Adi begitu bahagia atas jawaban Nayla, pernyataan nya diterima dengan baik. tak menyangka gadis cantik ini juga menyukainya, sehingga sangat ingin menciumnya tetapi Adi tak mampu melakukan nya. Karena masih banyak waktu untuk berada didekatnya,


Mereka pun hanya bisa berpelukan ditengah suasana yang hangat.


****