ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C82. Buah hati



SETAHUN KEMUDIAN...


Aku merasakan kebahagiaan yang selama ini selalu menyertaiku mungkin ibu dan ayahku telah menjaga ku lewat dimensi yang berbeda hingga kesedihan tak pernah menghampiri jalan hidupku. Baru saja merasakan menjadi seorang ibu yang tumbuh dari rahimku sendiri membuatku lebih banyak bersyukur lagi. Suami baik dan pengertian serta adik ipar yang sama baiknya seperti adik kandung ku. Tanpa mereka jelas diriku tak akan sebahagia ini dan memberikan warna pelangi walau hidup selalu cerah. Orang mengatakan akan tumbuh pelangi setelah hujan badai berlalu tapi pelangi itu telah tumbuh sebelum adanya hujan badai dalam hidupku. Keberuntungan ini akan selau ku genggam.


"Kakakkkk.." ucap seorang adik yang memecahkan lamunanku kala itu.


"Ada apa dek?." Jawabku tersenyum.


"Haishhh.. apa sih yang di pikirin, hati-hati! baru saja melahirkan bisa jadi kerasukan jika sering melamun. Mending bercerita aja denganku bagaimana? Aku pemberi ide yang sangat handal loh.." kata-kata seperti ini selalu aku dengar dari mulut manis adikku, Meimei sangat perhatian.


"Hahaha.. kau selalu sibuk dengan asmaramu bagaimana bisa selalu peduli perkataanku."


"Kakakkk.. kau akan selalu menjadi prioritas ku." Balasnya dengan serius, berada disampingnya akan selalu membuatku tersenyum.


"Sayang.. kakak mengerti, tapi jangan lupa kau juga mempunyai kekasih ya." Jawabku.


"Hehee.. hubungan ku dan dia baik-baik saja koqq. Perlahan perusahaannya juga pulih kembali walaupun butuh proses tapi bukan masalah bagiku. Mencintainya tanpa syarat adalah perasaan mutlak bagiku." Setiap kali menyinggung pembicaraan kekasihnya ia akan dengan semangat menjawab nya, aku hanya bisa jadi pendengar baik untuknya.


"Hatimu sangat baik, lembut seperti sutera dan memiliki sifat seperti air bisa berada di wadah mana saja dan mengikuti arusnya."


"Ahh.. kakakkk.. bisa saja." Jawabnya malu karena selalu ku puji, tapi pujian itu tak pernah membuatnya besar kepala. Ia tetap Meimei yang pertama aku kenal.


"Asik sekali bercerita nya. Jangan menganggu kakak ipar dong, ia kan gak bisa istirahat jadinya." Sapa suamiku yang baru saja pulang dari kantornya. Ia tak bisa meninggalkan tugasnya sebagai direktur sekaligus CEO dalam perusahaan nya. Terbiasa bekerja saat masih muda.


"Iiihhhh kakak.. aku kan kangen sama si kembar, walaupun mereka sedang tidur tapi melihatnya saja sudah cukup." Jawab Meimei.


Yahhh.. beginilah kehidupan ku sekarang, berkat bantuan Oma aku berhasil hamil kala itu. Emm... Gak tahu karena ritual yang mana tapi setelah itu aku mengalami gelaja kehamilan awal. Saat di test pack benar-benar garis dua terang, Tuhan banyak cara dalam sebuah persoalan. Mungkin caraku mendapatkan buah hati hanya dengan melalui Oma saja bukan dari dokter kandungan dalam bentuk usaha ya. Dan kejutan itu datang membuatku bahagia lebih membuatku bahagia lagi setelah tahu jika aku akan memiliki anak kembar.


"Hahahaha... Dady juga kangen dong, setelah seharian gak ketemu. Cium dulu aahhh.." sambung Theo tetapi langsung di cegah oleh Nayla.


"Mandi dulu sayang, habis dari luar kan? Takut ada debu yang menempel jika langsung mencium si dedek. Nanti dedek nya sakit gimana dong."


"Ehh jangan sampai sakit dong anaknya Dady. Baiklah Dady mandi dulu ya. Eemm.. cium mommy nya aja dech." Jawab Theo yang langsung mencium kening Nayla. Lalu berlari ke kamar mandi.


Semenjak melahirkan Nayla dan Theo jadi pindah kamar, ia lebih menetap ke lantai bawah biar tak menyusahkan untuk mengambil kebutuhan dapur. Putra dan Xinyue juga sangat bahagia, tak berhenti memberikan ciuman pada pipi si kembar.


"Yuyu lebih suka adik perempuan nih, pasti besarnya nanti akan menemani Yuyu pergi belanja banyak pakaian yang bagus-bagus." Sahut Xinyue sembari melihat wajah adik perempuannya.


"Kalau begitu kamu harus menjadi kakak yang bisa menjaga adiknya, jika ia di bully kamu harus bisa melawan yang membully nya oke." Jawab Putra.


Aku mengingat saat itu adikku juga pernah menjadi korban bullying di sekolah nya, tak ada yang bisa menjaganya dan aku terlambat menyadari nya, memberikan pakaian dan makanan yang layak saja sudah sangat bersyukur bagiku. Tapi aku sangat menyesal tak bisa memberikan yang terbaik untuk nya, entah berapa lama ia menahan sulitnya sewaktu di sekolah itu. Tak ingin menyusahkan ku ia bertahan di sekolah dengan banyaknya bullying yang diterima nya. Dan ia tak ingin anakku bernasib sama seperti yang dirasakannya itulah mengapa Putra berkata demikian pada Xinyue.


"Siapa yang berani membully nya, jika ada yang menyentuhnya saja akan ku hajar sampai kakinya patah dan tulang pada tangan nya berubah dari semula, adik ku akan terus aku lindungi." Sahut Xinyue dan Putra hanya melihat ia berbicara.


"Dek? Kemarilah." Pintaku pada Putra.


"Sayanggg.. jangan pergi, sini." Ucapku, yang ingin ku ucapkan adalah kata maaf karena gak bisa menjaganya saat itu. Tapi aku gak bisa mengatakan nya hanya bisa mengeluarkan air mata.


"Baiklah, kasih tahu aku jika kakak merasa sakit ya." Jawabnya lembut. Ia menghampiri ku dan aku langsung memeluknya dengan erat.


"Maafkan kakak gak bisa jagain kamu waktu di bully teman sekolah mu dulu."


"Eemm.. aku telah salah dalam berkata, maaf kak bukan maksudku mengingat kejadian diriku tapi hanya mengingatkan Yuyu agar menjadi sosok kuat seperti kakak. Lagian itu juga salahku karena tak berbicara pada kakak saat di bully."


"Kakak mengerti, hanya takut rasa trauma itu masih ada padamu. Jika kamu sudah dalam keadaan baik maka kakak juga gak merasa khawatir lagi sayang." Ucapku setelah mendengar bahwa Putra gak bermaksud membuat ku merasa bersalah karena memang ia gak mau bicara saat itu.


"Ya sudahlah gak akan ada yang berani membully ataupun merendahkan kalian lagi, karena kakak mengangkat kehidupan kalian lebih baik dari sebelumnya. Aku bangga memiliki kakak seperti kak Theo." Sahut Meimei. Dan memang benar suamiku tulus mencintaiku seperti Meimei mencintai Rakha tanpa syarat. Apapun keadaannya ia tetap melangkah bersama.


Tiba-tiba suamiku muncul dan mendekati kami yang kala itu bercerita banyak hal, yang terasa manis maupun terasa pahit ada dalam alur itu.


"Sayang ingin makan kah?." Tanya Nayla.


"Kamu ingin makan? Kita makan bersama ya. Kamu harus makan makanan bergizi agar anak kita cerdas seperti aku." Jawab Theo.


"Hahaha.. aku juga cerdas dong." Sahut Meimei.


"Dady... Apakah kau tak melihat ku?." Sambung Xinyue cemberut setelah melihat Theo yang tak menanyainya.


"Anak Dady yang paling cantik, maaf kau terlalu kecil jadi tidak kelihatan dech. Makan yang banyak agar besar dan Dady bisa melihatmu." Jawab Theo tersenyum tetapi Xinyue masih cemberut.


"Hmphhh.."


"Aiyoyoo..." Ucap Theo yang langsung memeluk Xinyue dan berjalan ke meja makan.


Meimei memegang tangan Putra dan tersenyum. Ia mengajak Putra ke meja makan juga. Setelahnya Theo kembali dan memapah istrinya yang masih sulit berjalan.


"Untung saja kamu bilang saat itu jika gak bisa melihat darah, jadi anak kita baik-baik saja saat kamu melahirkan mereka. Dokter juga memperbolehkan untuk operasi Caesar karena anak kembar lebih beresiko jika lahiran normal."


Ucap Theo perhatian.


"Iya, ada kejadian yang gak bisa aku ucapkan lagi. Sejak saat itu aku benar-benar gak bisa melihat darah." Jawab Nayla.


"Sangat membekas ya. Aku juga gak ingin memaksamu menceritakannya. Yang penting kamu saat ini baik-baik saja dan kita masih bertemu di kehidupan ini. Aku sangat mencintaimu." Balas Theo setulus hatinya. dan Nayla terhanyut dalam perkataan Theo. Ia ingin mencium bibir Theo dan Theo bersiap untuk menerima nya tapi sebelum itu terjadi teriakan Meimei memecahkan adegan itu.


"Bisa-bisanya mereka akan berciuman di depan anak kecil, jika hanya ada satu saja anak kecil nya mungkin aku bisa membantu nya menutup mata agar gak kelihatan adegan ini tapi ada dua anak kecil bagaimana aku akan menutup empat mata sekaligus. Haishhh.. Kakak sangat enggak tahu tempat." Gumam Meimei menatap keduanya.


Mereka berdua hanya bisa tersenyum malu dan melanjutkan langkah kakinya ke meja makan. Lalu mereka makan bersama dengan tenang.