
Dilihatnya ia berada dalam jeruji besi sebagai tahanan. Apa yang membuatnya berada disana. Lalu ia mengingat kejadian pada malam itu..
"Setelah dari club' malam, aku bergegas ke rumah Nayla untuk memberi tahu kabar mamaku yang sedang berada dirumah sakit. Tapi mengapa bisa sampai menjadi tahanan. Apa salahku."
Ia terus berusaha keras mengingat semua kejadiannya. tetapi rasa pusing nya semakin menjadi.
"Tak perlu memikirkan nya sekarang. setelahnya mungkin kamu akan ingat atas apa yang kamu perbuat. Yang aku tahu saat bertanya kepada polisi yang bertugas. kamu dilaporkan atas tuduhan penganiayaan terhadap perempuan."
"Apa? Ini tak mungkin, aku tak mungkin melukai kekasihku sendiri. Nayla.. Apakah benar aku telah melukai mu."
Adi menangis atas apa yang di perbuat nya. Mengapa ia begitu jahat kepada Nayla. Ia berpikir Nayla pasti sangat membencinya, apa yang harus ia lakukan. Ia menyesali perbuatannya. sangat jelas itu adalah Nayla, mengapa yang terlihat wajah Rika dalam dirinya.
"Nayla. bagaimana dirimu sekarang? Aku memang pantas dihukum. Aku benar-benar tak ada keinginan untuk menyakitimu. Mengapa bisa aku melakukan nya terhadap mu." Ucap Adi.
"tenanglah. masih untung perempuan itu tak sampai kehilangan nyawanya. aku rasa pasti ada yang menyelamatkan nya dengan cepat." Ucap pria tersebut.
"Kita punya nasib yang sama. tak bisa berpikir jernih saat dilanda masalah. kekasihku selingkuh bersama teman baikku, saat itu pikiran ku sangat kacau, aku tak bisa menerima kenyataan, rasa sakit pada hatiku sangat dalam. kekasihku berkhianat, orang yang paling aku cintai melukai perasaan ku. lalu aku memutuskan untuk pergi ke club' sampai mabuk hingga tak sadar melukai kekasihku yang saat itu berada sendiri dalam rumahnya."
"Aku melukai nya dengan sangat kejam. Perasaan sakit hatiku, aku luapkan pada pukulan yang sangat keras terhadap nya. Aku tak bisa berpikir baik, yang ada dalam pikiran ku saat itu adalah kekecewaan terhadap cintanya, hingga aku melakukan semua kekerasan padanya, menghancurkan harga dirinya yang sudah bertahun-tahun aku jaga. ku rampas semua kehormatan yang ia miliki. Hingga nyawanya tak bisa tertolong lagi. Aku telah melakukan kejahatan yang lebih. dari yang dia perbuat."
Pria itu bercerita semua pengalaman yang membuat ia berada di jeruji besi. Ia menangis bila mengingat kejadian itu. ia membuat masalah baru dalam hidupnya yang tak akan pernah bisa ia lupakan.
Kini hanya penyesalan yang selalu datang menghampiri dalam mimpinya.
"Ceritamu membuatku tersadar, bahwa saat kita mempunyai masalah terbesar dalam hidup, cobalah untuk melihat manusia lain yang mempunyai lebih banyak masalah dalam hidupnya. rasa sulit yang menghampiri tak akan menyelesaikan masalah dengan kita pergi ke club'. Itu hanya akan membuat kita berada pada masalah baru."
"Kekasihku pasti sangat membenci diriku, perbuatan ku tak bisa di maafkan." Ucap Adi berbicara panjang.
"Rasa ikhlas memang sulit untuk kita bisa menerimanya. tetapi dengan cara itu lah membuat kita tersadar bahwa kehidupan tak selalu berjalan dengan baik. tetapi dengan berpikir baik, kita bisa terhindar dari hal yang tidak baik."
"Jika dia mencintai mu, dia akan mengerti keadaan mu, perbaiki dirimu mulai sekarang. Mengumpulkan keberanian untuk menerima kenyataan walaupun itu pahit. tetapi saat kekasihmu tak ingin bersama mu lagi, lepaskanlah ia demi apa yang membuatnya bahagia." Ucap pria tersebut. Seharusnya ia bisa melepaskan kekasihnya bersama teman baiknya tetapi semua sudah terlambat.
"Lebih baik kita pergi menjauhi nya dari pada terus berada didekat nya namun yang kita lakukan hanya bisa melukainya aku telah merasakan nya, terus menahan nya untuk mencintaiku padahal aku tahu cinta nya bukanlah untukku. hingga masalah baru akan terus muncul dalam kehidupan ku, karena tak adanya ke ikhlasan dalam diriku."
"Perkataan pria ini ada benarnya. Mungkin papaku memang sudah tak bisa bersama mamaku lagi. Ia sudah tak bahagia menjalani kehidupan bersama mamaku. salah satu jalan yaitu perceraian mereka. Ini mungkin berat untukku mengikhlaskan nya. tapi mungkin inilah yang terbaik." Pikir Adi.
"Terimakasih, ceritamu membuatku berpikir untuk menerima semuanya."
"Sama-sama, aku hanya belajar dari kesalahan yang aku perbuat saja."
"Nayla.. sedang apa dirimu. Maafkan aku melukaimu, aku sungguh mencintaimu."
Adi terjaga dalam lamunannya.
"Uhuk. Uhuk. Huk."
"Ibu kecil minumlah dengan pelan, dirimu sampai tersedak begini, apa yang sedang ibu kecil pikirkan." Ucap Lingmei sambil mengelus dada belakang Nayla.
"Tidak, aku hanya berpikir untuk mengantar Putra ke sekolah nya saja."
"Tak perlu, biarkan Meimei yang mengantar Putra bersama paman Bai. Tubuh ibu kecil masih terlalu lemah. beristirahat lebih lama lagi, Putra sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Kakak juga sudah berangkat kerja."
"Meimei meninggalkan ibu kecil sebentar, ada tetangga yang ingin membesuk ibu kecil yang sedang sakit. Mereka akan menemani ibu kecil." Tutur Lingmei menjelaskan kepada Nayla.
"Baiklah jika begitu, terimakasih sudah membantuku dan mohon maaf selalu merepotkan mu dan kakakmu."
"Hmm.. tak ada yang merasa direpotkan, jangan banyak berpikir saat sedang sakit." Balas Lingmei dengan senyum.
Lingmei pun berpamitan dengan Nayla untuk pergi ke sekolah bersama Putra.
Dalam kesendirian Nayla memikirkan bagaimana keadaan Adi disana, "apakah ia baik-baik saja. tak seharusnya Adi disana saat orang tua nya dalam keadaan kritis dirumah sakit. Aku ingin menemuinya. yahh.. aku harus bertemu dengan nya." Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar, sahutan tetangga Nayla yang baru saja datang memekikkan telinga nya hingga Nayla tersadar dari lamunannya.
"Masuk saja bu, tak dikunci."
"Tak mengapa bu, kejadiannya sangat cepat. menurutku ia tak sengaja melukaiku karena sedang mabuk."
"Syukurlah yang penting kamu tak apa-apa, sebaiknya tak usah terima tamu saat udah larut malam. disamping tak ada yang menjaga mu, juga hanya akan mengganggu waktu istirahat mu saja."
"Tak akan aku ulangi lagi bu."
"Ya sudah beristirahat lah, kami ingin pulang dahulu. akan menoleh ke arah rumahmu agar tetap terjaga dari rumah kami. Cepat sembuh ya." Ucap tetangga Nayla sembari memberikan bingkisan.
"Terimakasih bu."
Nayla beranjak dari tempat tidur nya. Ia kemudian bercermin, melihat wajahnya yang penuh dengan luka lebam. Ia memegang wajahnya dengan tangan kanannya. Tetapi keinginan nya untuk menemui Adi sangat kuat. Ia pun berganti pakaian dengan cepat lalu menuju kantor polisi.
"Sampai jumpa lagi, sekolah yang pintar ya. Ini adalah makananmu. Jangan lupa dimakan saat jam istirahat. kakak pulang dulu ya, Putra kerajaan yang sangat gagah. Ibu Ratu ingin kembali ke istana dahulu. Ha ha ha." Ucap Lingmei menaruh kedua tangannya di pinggang.
Putra pun tertawa bahagia. Ia memasukkan wadah makanan dalam tasnya lalu mencium tangan Lingmei. Ia masuk ke kelasnya dengan santai.
"Aku pulang kerumah dulu deh, ada sesuatu yang harus aku urus. Tak bisa menghubungi ibu kecil, apa aku kerumah nya saja dulu sebentar. Hmm.. aku langsung pulang saja deh, lagian ada tetangga nya yang menjaga ibu kecil." Tutur Lingmei berbicara sendiri.
Sesampainya Nayla dikantor polisi..
"Saudara Adi. silahkan keluar dahulu."
" Ada apa pak, apakah saya sudah bisa bebas?" Tanya aja sedikit senang.
"Bukan. Ada yang ingin bertemu dengan mu." Ucap pak polisi tersebut.
"Siapa yang mengunjungiku. Apa papa udah tau keberadaan ku saat ini. Sejak kapan ia peduli padaku dan mama." Pikir Adi sembari keluar dari ruang tahanan.
"Nayla.."
"Tuhan terimakasih akhirnya aku bisa bertemu dengan Nayla. Aku ingin bersujud dikakinya meminta ampun atas kesalahan ku melukainya." Gumam Adi dalam hatinya. Ia begitu senang bisa bertemu dengan Nayla.
"Jangan dekati aku."
"Nay.. aku salah aku minta maaf, aku melukaimu dengan kasar. Pukul saja aku yang tidak berguna ini." Adi memukul kepalanya sendiri sampai beberapa pukulan. Nayla yang melihatnya tak kuasa menahan tangis. Ia pun mendekati Adi. Lalu memeluknya dengan lembut.
"Jangan sakiti dirimu, aku sudah memaafkan kesalahan mu. Aku tahu, kamu tak sengaja melakukan itu padaku." Nayla menatap mata Adi dengan ketulusan nya.
Adi melihat wajah Nayla penuh dengan luka, dilihatnya bagian tangan Nayla terdapat banyak lebam.
"Mengapa wanita ini masih bisa menangis untuk orang yang telah melukainya. Mengapa aku bisa memperlakukan nya dengan begitu buruk. Luka yang aku ciptakan dalam tubuhnya. tak membuatnya membenci diriku, aku tak pantas mendapatkan wanita sebaik dirimu." Pikir Adi memperhatikan wajah Nayla.
"Mengapa menemuiku, aku telah menyakitimu. Aku tak bisa menjaga dirimu. Aku bukan pria yang baik untuk berada didekatmu." Ucap Adi.
"Aku yang lebih mengenalmu. Itulah sebabnya aku berada disini menemuimu. Aku menghilangkan semua rasa trauma ku pada malam itu, demi dirimu."
"Tidak.. tidak seharusnya kamu berbuat sebaik ini pada diriku. Hukum aku. Aku telah berbuat jahat padamu."
"Ingatlah ibumu. Ia begitu membutuhkan mu, aku ingin mengeluarkan mu dari sini. Akan aku lakukan demi ibumu."
"Mama? Terimakasih Nayla, aku berhutang banyak padamu. Kamu sudah bersedia membantuku."
Adi mengingat mama nya yang terbaring lemah dirumah sakit. Ia ingin segera bebas agar bisa menjaga mama nya.
Nayla kemudian berbicara pada polisi dan mengatakan masalah ini tak perlu di perpanjang lagi. Tetapi polisi itu berkata Nayla tak bisa mencabut laporannya. Karena yang melaporkan Adi atas nama Lingtheo, hanya Lingtheo yang bisa mencabut tuntutan nya.
Adi yang mendengar pernyataan dari kepolisian merasa sedih. Tubuhnya langsung merasa lemas, mungkin emang jalannya ia harus mendekam di penjara. Semangat nya tiada lagi, ia hanya berdoa semoga ibunya segera pulih kembali.
Tetapi ada Nayla disampingnya. membuat Adi semangat untuk pulang, Nayla berjanji akan membebaskan nya dalam jeruji besi yang dingin itu. Bagaimana Nayla bisa berbicara pada Lingtheo?
****