ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
Chapter 14. Penyesalan Rakha



Sepulangnya Nayla dari tempat bekerja..


Di tengah malam itu ia berjalan menyusuri jalanan yang cenderung sepi, tetapi ada beberapa mobil dan motor yang berlalu lalang.


"Hahh.."


Nayla membuang nafas panjang. dilihatnya, jam ditangan menunjukkan pukul 23.30 waktu setempat.


"Aku harus cepat sampai kerumah."


pikir Nayla, karena biasanya Putra akan bangun lalu membuka pintu kamar Nayla. Entahlah apa yang dipikirkan adiknya itu. sudah kebiasaan nya bangun tengah malam lalu memastikan bahwa kakaknya sedang tidur terlelap.


yahh.. memang adiknya tak tahu, jika kakaknya kembali bekerja pada malam harinya. Nayla tak ingin memberi tahu Putra karena takut Putra akan merasa sendiri lagi.


"Wiw..wiw..wiw.."


Mobil ambulans dengan cepat melaju tepat didepan Nayla yang saat itu berjalan, nyaris saja Nayla akan tertabrak tetapi sopir ambulans dengan cepat mengelak.


"Astaga. Hampir saja aku terjatuh." Gumam Nayla. Kemudian matanya teralihkan pada beberapa orang paru Bayah yang berlari dengan cepat.


"Bapak.. mohon maaf, ada apa ya disana?" (dalam bahasa Mandarin). Tanya Nayla sangat penasaran.


"Telah terjadi kebakaran mall lebih tepatnya digedung bioskop.(dalam bahasa Mandarin), kemudian mereka pun berlalu meninggalkan Nayla tanpa jawaban.


"Ya tuhan, kasihan orang-orang yang berada disana. Ingin sekali melihatnya, lokasinya juga tak terlalu jauh dari sini tapi aku harus segera pulang kerumah." Gumam Nayla dalam hati.


"Krekk.. krek.."


Suara pintu dibuka secara perlahan. Nayla takut membangunkan Putra tetapi untung saja Putra tak terbangun dengan suara bising pintu rumah.


"Hughh.. hari yang melelahkan. saatnya istirahat, sudah ngantuk banget." Tutur Nayla berbicara sendiri sambil mengganti pakaiannya dengan piama.


Tiba-tiba Nayla terasa haus lalu pergi ke dapur untuk minum air, setelah ia ingin ke kamarnya kembali. ternyata melihat Putra yang sedang memperhatikan nya.


Lalu dengan tingkah lucunya Nayla berpura-pura tidur berjalan. Memejamkan kedua matanya, tangan diangkat tepat sejajar bahu. dengan gaya seperti vampir, tidak melompat. hanya berjalan saja menuju kamarnya.


"Hmm.. lagi lagi kakak tidur berjalan." Ucap Putra dengan mengangkat kedua tangannya ke atas guna meraih tangan Nayla lalu menuntun nya ke kamar.


Nayla pun tertidur di kasur nya dan Putra kembali ke kamar nya melanjutkan tidur.


Mata Nayla kembali terbuka dan dilihatnya Putra sudah berlalu.


"Drgttt.. Drgttt..Dgrttt..."


"Hmm, gak biasanya Rakha telpon saat udah larut begini. Ada perlu apa ya?" pikir Nayla sambil melihat ponsel nya.


"Haloo.. Ada apa Kha?"


"Mmmm.. hiksss.. Nayy.. Rina.."


"Kamu kenapa? Rina? Coba cerita pelan-pelan saja. Kamu kenapa nangis? Rina kenapa? Rakhaa.."


Nayla merasa sangat khawatir, sehingga tubuh yang semula berbaring santai dengan cepat duduk dan berbicara panik.


Rakha terus saja menangis dan Nayla tetap tak mengerti.


"kamu tenang dulu ya, jangan menangis. berbicara lah dengan pelan." Ucap Nayla.


"Mmm.. Rin.. Rina sudah tiada Nay. Ini semua salahku." Tutur Rakha.


"Apaaa!!! kamu sekarang dimana? Tolong jawab aku. kamu dimana?" ucap Nayla panik langsung berdiri dan ingin segera pergi menemui Rakha.


"Huhu.. Mmm.. aku masih dilokasi kejadian tapi ingin berangkat ke rumah sakit, karena jasad Rina akan di identifikasi terlebih dahulu." Jawab Rakha menangis lalu menjelaskan kepada Nayla.


"Ya sudah aku bersama Adi akan langsung ke rumah sakit saja, menunggu disana. Pasti rumah sakit terdekat kan?" Tanya Nayla sembari merapikan pakaian nya dan bersiap-siap.


"Iya, huhu.. Mmm.."


"Kamu tenang yaa, aku akan segera kesana." Ucap Nayla tak ingin membuat Rakha semakin panik.


Akhirnya Nayla menelpon Adi menceritakan semuanya, mereka pun pergi ke rumah sakit bersama. Mobil Adi melaju dengan kecepatan tinggi sehingga dengan cepat sampai tujuan.


Dilihatnya semua keluarga Rina sudah berkumpul dan menangis histeris, ada juga keluarga Rakha yang turut menemani. Mereka tak menyangka, Rina akan secepat ini pergi meninggalkan dunia. Nayla yang baru saja datang, berlari sekuat tenaga meninggalkan Adi. Lalu Nayla mencari keberadaan Rakha.


"Rakha.."


Rakha pun menoleh ke arah Nayla, air matanya tak henti mengalir. dengan cepat Nayla memeluk erat tubuh Rakha yang masih gemetar, ia merasa sangat terpukul atas kehilangan Rina secara mendadak. Jiwa nya begitu tak terima.


"Rakha, sabarkan dirimu. Aku sangat mengerti perasaan mu saat ini." Ucap Nayla dalam pelukan Rakha.


"Ini salahku. Aku gak berguna, aku bahkan gak bisa melindungi Rina."


"Enggak. Ini adalah takdir, sudah jalannya. jangan menyalahkan dirimu. kita gak bisa mengubah, apa yang udah menjadi kehendak nya."


Lalu Rakha dan Nayla pun menangis dalam pelukan, suasana begitu berduka.


Lalu Nayla dan Adi memutuskan untuk melihat jasad Rina yang sudah terbaring di ruang jenazah. dengan tangan gemetar, berkeringat dingin, dan perasaan kacau. Nayla membuka kain putih yang berlapis tubuh Rina.


Nayla menangis dengan kencang. Ia tak mampu melihat jasad sahabatnya yang penuh dengan luka bakar. Tak menyangka semua akan secepat ini.


Adi terus memeluk Nayla yang terlihat syok. Nayla bisa saja terlihat tegar didepan keluarga Rina maupun Rakha. Tetapi ia sangat lemah saat melihat jenazah Rina. kini sahabatnya tersebut sudah tiada. Adi tak sanggup melihatnya.


Mereka menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga Rina.


Melalui sosial media, dan berencana jika esok tiba akan mengikuti pemakaman dari temannya bernama Rina tersebut.


"Nay? kamu terlihat lelah. biar aku saja yang menemani Rakha, istirahat lah terlebih dahulu. lalu esoknya akan aku jemput lagi untuk ke pemakaman. Putra juga sendirian dirumah, itu akan membuat nya mencari keberadaan mu saat ia terbangun." Ucap Adi perhatian.


"Baiklah jika begitu, jangan biarkan Rakha sendiri. selalu temani ia dan berikan ia nasehat. Agar tak berpikir pendek." Jawab Nayla mengelap air matanya yang basah di pipi.


"Aku pulang sebentar, esok pagi akan kerumah Rina untuk menghadiri pemakaman. kamu jangan lupa istirahat ya, jangan menyiksa dirimu." Ucap Nayla sambil memeluk Rakha yang masih duduk terdiam di depan pintu kamar jenazah. Lalu mengelus tangan Rakha dan Nayla pun berlalu.


Adi mengantar Nayla hanya di depan jalan besar saja. Lalu kembali menemani Rakha, saat itu sudah pukul 03.00 pagi.


"Sabar ya bro, biarkan dia tenang disurga tuhan. dia akan menangis jika kamu terus menyalahkan dirimu." Ucap Adi sembari menepuk pundak Rakha dengan pelan.


*****


"Aku begitu merasa menyesal. aku sangat mencintainya, tapi selama ia berada dekat dengan ku, aku tak pernah ada keberanian untuk mengatakan nya. dan saat ia butuh pertolongan aku malah menghilang dari dekatnya. hingga akhirnya Rina pergi jauh dalam hidupku." Ucap Rakha.


"Aku berpikir. Tuhan terlalu cepat memisahkan kami, aku belum sempat membuatnya bahagia. kenapa gak dari dulu aku mengungkap kan semua perasaanku padanya. kata itu terus bergumam dalam hatiku." Sambung Rakha berbicara dengan penyesalan.


"Mungkin dia tercipta. memang bukan untuk menjadi jodohmu, hanya untuk menjadi teman masa kecil mu. Yang akan selalu kamu rindu kan jika mengingat nya. Kamu harus tetap tegar." Ucap Adi menenangkan perasaan Rakha.


Rakha hanya terdiam. Kepalanya terus menunduk dengan kaki yang menahannya, karena terus duduk dan menunggu proses identifikasi.


Mendengar perkataan Rakha. Adi mengingat akan perasaan nya pada seorang wanita yang bernama Nayla, ia ingin segera mungkin mengungkapkan perasaannya, agar tak ada penyesalan. apapun jawaban Nayla akan diterima nya dengan ikhlas. keberanian Adi muncul setelah Rakha berkata.


"Sebaiknya kamu minum terlebih dahulu Kha, agar pikiran mu sedikit tenang." Ucap Adi sambil memberi Rakha air mineral yang habis dibelinya dijalan saat mengantar Nayla.


"Terimakasih Di." jawab Rakha.


Mereka menunggu cukup lama, Rakha belum tidur semalaman. Terlihat matanya bengkak dan kantung mata yang hitam. Tak ingin makan, saat Adi mengajak nya untuk makan. Rakha terus saja menunggu proses identifikasi.


Sampai akhirnya jenazah Rina sudah boleh dipulangkan. Tetapi Adi tak ikut, karena harus mengantar sekolah Qiara dan Putra. Secepatnya Adi datang saat proses pemakaman nanti.


"Aku akan datang bersama Nayla. Menunggu di tempat pemakaman saja. karena harus ke sekolah Putra dahulu." Ucpa Adi memberi tahu.


"Tak mengapa nak, jenazah Rina akan disemayamkan dulu dirumah duka." Sahut ibunya Rakha, karena Rakha tak berbicara saat ditanya Adi.


"Baiklah Bu, izin pamit dahulu. Permisi." Ucap Adi menunduk. Melewati Rakha dan ibunya. Adi pun berlalu.


Karangan bunga dari kerabat dekat maupun teman-teman Rina terus berdatangan, hingga memenuhi jalan yang berada didepan rumahnya.


Ibunya Rina terus saja menangis dan sangat terpukul tetapi tetap diam dirumah menunggu kedatangan jenazah anaknya tersebut.


Disamping itu. Karena Nayla libur bekerja maka, ia memutuskan untuk ikut mengantar Putra sekolah. Nayla belum melihat sekolah barunya Putra.


"Berjalan dengan pelan, jika terjatuh akan melukai tubuhmu." Ucap Nayla mengingat kan Putra yang berlari kencang, melihat mobil Adi yang sudah terparkir dibahu jalan.


"good morning uncle." sapa Putra pada Adi dengan keceriaan nya.


"Hi, good morning." Jawab Adi.


Putra hanya tersenyum kepada Qiara. Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju sekolahnya.


"Putra terlihat ceria dan penuh semangat di sekolah barunya, syukurlah banyak teman yang menyayanginya. Aku bahagia melihat adikku bahagia." Gumam Nayla dalam hati.


Sesampainya disekolah..


"wahh.. sekolahnya sungguh indah." Ucap Nayla merasa kagum melihatnya.


"Kakak.Putra ingin masuk kelas dulu ya."


"Jaga adik kecil juga ya. Jadilah anak yang pandai dan jangan nakal." Ucap Nayla yang kemudian ikut turun dari mobil Adi. Tiba-tiba guru Ani datang menghampiri Nayla. Karena Adi melihat, jadi Adi ikut turun juga.


"Emm.. itu anaknya ya Bu, dan yang dalam mobil suaminya ya. saya salah kemarin sempat mengajak suami ibu berkenalan. Hahaha.!!" Ucap Ani.


"Wahh.. kami belum menikah, dan siswa tadi adalah adikku. Kami hanya.."


"Ehh.. sayang, aku menunggumu di mobil. kirain kamu lama karena ke toilet dahulu. Ayoo kita pulang atau kita akan terlambat." Ucap Adi memotong pembicaraan Nayla dengan cepat.


"Ini.." tutur Ani.


"Oh ada Bu guru Ani, iya perkenalkan ini pacar saya. Mohon maaf ya Bu kami terburu-buru. Permisi.." Ucap Adi pergi dengan cepat sambil memegang bahu Nayla. Agar terlihat mesra.


Ketika masuk dalam mobil dan perlahan meninggalkan sekolah.


"Maksudnya apa sih, kenapa bilang kita mempunyai hubungan?." Ucap Nayla.


"Aku hanya ingin cepat pergi saja. tak ingin terlambat datang ke pemakaman." Ucap Adi menutupi salahnya.


Nayla hanya terdiam tak membalas perkataan Adi, mungkin ada benarnya, pikir Nayla. Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke pemakaman dengan cepat. Sebelum jenazah Rina datang dikebumikan mereka sudah sampai di tempat pemakaman dahulu.


Rina dikebumikan dengan lancar dan tanpa hambatan, semua yang menghadiri merasa kehilangan sosoknya.


Rina dikenal baik dan ceria, hingga taburan bunga warna-warni menutupi tanah makam Rina. Isak tangis yang menghadiri pemakaman Rina terus saja terdengar. Hingga mereka meninggalkan pemakaman Rina ketika usai prosesi.


*****