
Setengah jam lagi menunggu sang kekasih datang menjemputnya, Nayla masih di landa rasa gugup yang amat dahsyat.
"Ibu kecil tenang, tarik nafas keluarkan perlahan. Jangan tegang dan jangan takut ya." Ucap Meimei membantu Nayla agar rileks sejenak.
"Hughhh.. " Nayla mengikuti kata Meimei.
"Baiklah, telepon kakak sebentar ya. Tanyakan dia ada dimana? Selanjutnya coba datang lebih cepat lagi. Agar ibu kecil tak menunggu terlalu lama."
Nayla pun kembali mengikuti yang Meimei katakan lalu suara Theo pun terdengar.
"Udah siap ya? Aku lima menit lagi sampai."
Nayla tak membalas perkataan Theo dia hanya tersenyum bahagia. Lalu telepon nya pun berhenti karena mobil Theo sudah berada di bahu jalan. Ia berjalan menuju rumah Nayla. Dengan pakaian seperti biasa, ia selalu memakai jas setelan nya. Karena Theo setiap keluar rumah selalu memakai pakaian formal secara dia adalah onwer dari sebuah perusahaan.
Nayla melihat keberadaan Theo yang semakin mendekati nya. Jantungnya tak bisa berhenti berdegup kencang. Ia memegang tangan Meimei.
"Itu kakak udah datang, semoga malam ini penuh dengan sesuatu yang indah ya." Ucap Meimei. Wajah Nayla memerah mendengar yang dikatakan Meimei, gugupnya mulai bisa di kendalikan.
Theo pun mengetuk pintu rumah Nayla.
"Tok tok tok."
Terdengar suara pintu berderit tanda ada yang membukanya. Keluar Nayla di ikuti Meimei dibelakang nya. Theo sangat terpanah melihat penampilan Nayla, ia sangat cantik dan terlihat wanita berkelas. Darah dari kedua orangtuanya memang tak bisa di bohongi, bahwa ia berasal dari keluarga bangsawan. Walaupun hidupnya selama ini sederhana tapi tak terlihat sederhana dimata orang yang mengagumi nya seperti Theo. Theo tak bisa berkata apa-apa lagi, yang bisa dia lakukan hanyalah menatap wanita di hadapannya itu.
Hingga Meimei membangunkan lamunan keduanya dengan berdeham kecil.
"Ehmmm, mohon maaf ini yaa. Kalau kalian terus bertatapan kapan akan berangkat?"
"Emmm.. kamu udah siap nay?" Tutur Theo.
"I-iya udah siap. Mau berangkat sekarang?"
"Ayo, aku udah pesan tempatnya." Kata Theo.
Mereka pun pergi meninggalkan Meimei yang saat itu hanya bisa tersenyum melihat kedua pasangan itu sangat kakuh, kakaknya juga tak bisa bicara romantis atau memuji make-up nya sedikit saja. Kan itu hasil make-up by Meimei, jadi memujinya juga bukan hal yang susah.
"Haishhhhhh, sudahlah. Aku jadi memikirkan mereka. Mudahan aja malam ini lancar." Gumam Meimei masuk kembali dalam rumah Nayla.
Ketika di dalam mobil, Theo masih terpanah sama Nayla dia diam seperti gugup juga. Dan Nayla juga hanya bisa diam tapi sesekali melihat wajah Theo.
Hingga keduanya membuka suara bersamaan.
"Eemmm, malam ini kamu sangat cantik Nay."
"Makasih sayang, Meimei yang merias wajah ku."
Mendengar perkataan sayang dari Nayla, Theo jadi tambah terpesona pada Nayla.
"Dia memang mahir dalam make-up, tapi sepertinya aku mengenali gaunmu. Sangat bagus dan pas di tubuhmu. Seperti pilihan ku ya."
"Hehee, itu aku dapatkan di mall tempat mu. Dan kebetulan kamu yang memilihnya untukku." Jawab Nayla malu, tapi dia suka sama pilihan kekasihnya itu. Wajahnya kembali memerah.
"Jadi yang membeli gaun itu kamu, kenapa gak keluar saat ada aku? Atau kamu.."
"Bukan begitu, aku bukan gak mau ketemu kamu. Tapi kan jadi gak suprise aja kalo kamu tau itu aku. Terus pasti kamu akan memilih gaun berbeda dari yang di mall. Yang belum pernah terpajang kan? Aku rasa ini juga udah bagus koqq."
"Oh begitu, pilihan ku emang paling bagus. Nayla.. makasih ya udah hadir dalam hidupku, berjanji lah kita akan terus menjadi kekasih selamanya." Ucapan Theo begitu serius hingga Nayla menatapnya dengan senyuman tulus. Dan berkata.
" Aku berjanji akan selalu mencintaimu, ada untukmu, melewati hari-hari bersama mu dan akan selalu percaya padamu. Walaupun salah satu diantara kita pergi dahulu tapi cinta itu akan tetap ada selamanya." Tutur Nayla penuh perasaan.
"Yaa, aku pun berjanji padamu. Akan selalu mencintaimu, menyayangi mu, selalu menjadi pelindung mu, dan hidupku hanya untukmu." Balas Theo dengan serius, ia tak ingin kehilangan kekasih hati untuk yang kedua kalinya. Cukup Nayla menjadi wanita terakhir yang mengisi hatinya.
Tanpa disadari mereka pun sudah sampai di tempat yang khusus Theo pesan untuk makan malam bersama ini, Nayla turun dari mobil yang pintunya telah dibuka oleh Theo. Nayla memegang tangan Theo dan berjalan menuju ruang makan dalam sebuah restoran, ruang makannya tertutup jadi sangat privasi bagi yang memesannya.
Dijalan menuju ruangan semua mata yang melihat mereka pada takjub dengan pasangan ini. Nayla hanya melihat Theo dan Theo membalasnya dengan senyuman. Tak menunggu waktu lama makanan pun sampai dengan cepat. Sembari makan mereka banyak berbincang hingga suasana menjadi sangat hangat. Theo sangat nyaman dengan Nayla.
"Nay? Mengapa kamu dengan cepat menerima pernikahan kita, menerimaku dan Xinyue."
"Karena gak butuh waktu lama untuk mencintaimu, kamu orangnya baik selama aku kenal kamu, hanya bisa mencintai satu wanita saja dalam hidupmu. Aku rasa, wanita yang menolak mu punya kelainan jiwa. Lagi pula untuk apa mencari pria yang belum tentu baik, jika ada yang baik mengapa harus mikir lama ya kan?" Jawab Nayla dengan tulus.
"Kamu benar, dulu aku berpikir gak akan bisa jatuh cinta pada wanita lain selain cinta pertamaku, wanita pertama yang mengisi hatiku. Tapi aku salah, cinta pertama belum tentu bisa membuat kita sebahagia saat bersama cinta yang menerima kita dengan tulus. Seperti kamu."
Balas Theo dengan bahagia. Baru saja mereka menjadi kekasih tapi sudah sangat mengerti definisi dari cinta. Bahwa kepada siapapun kamu jatuh cinta maka berikan lah cinta yang tulus.
"Itu juga karena kamu memiliki hati yang tulus, sehingga tuhan gak akan membuatmu terus dalam kekecewaan. Cinta pertama hanya bagian dari masalalu mu, tapi cinta terakhir mu akan tetap menjadi bagian masa depanmu selamanya."
"Yaa.. aku mengerti maksudmu. Aku sangat mencintaimu." Balas Theo dengan senyuman.
Mereka pun melanjutkan makan malamnya dengan santai karena telah mengungkapkan perasaan satu sama lain, kini mereka sudah tidak sungkan lagi. Tapi tetap dalam keadaan kakuh akan tindakan.