
Jika Putra sangat bergembira melihat warna warni patung es yang di ukir oleh berbagai seniman hebat di dunia begitu juga dengan kakaknya. Nayla bahagia setelah melihat Xinyue berhasil melakukan operasi matanya.
Dokter membuka perlahan perban yang menyelimuti mata Xinyue hingga lembaran terakhir pun terbuka. Dokter mengarahkan Xinyue untuk membuka matanya secara perlahan. Xinyue membuka matanya secara perlahan dan ia bisa melihat kedua orangtuanya yang telah menunggu di hadapannya.
"Mommy? Dady? Apakah ini kalian?." Kata pertama yang Xinyue ucapkan setelah melihat keduanya dengan mata kepalanya sendiri.
"Anakku... Huhuhu. Apakah Yuyu benar-benar melihat mommy?." Tangis Nayla pecah pada momen mengharu biru ini dan Theo juga menitikkan air matanya.
"Ya, Yuyu melihat kalian. Huhuhu.." Tutur Xinyue pertama kali mengeluarkan air mata dari donor mata seseorang yang telah tiada akibat sakit keras.
"Syukurlah akhirnya anakku bisa melihat dunia lagi." Ucap Theo bahagia.
"Ternyata kalian sangat tampan dan cantik, Yuyu jadi penasaran bagaimana dengan wajah Yuyu?."
"Cucuku.. aku Oma yang selama ini menemani mu. Apakah kau tak melihat Oma?." Sahut nenek.
"Jadi Oma selama ini yang merawat Yuyu juga memiliki wajah yang sangat muda, Oma! bagaimana kau menjadi Oma saat wajahmu masih muda begini. Hah? Cepat katakan!." Ucap Xinyue tak percaya.
"Hahahaha cucuku, darimana kau belajar berbicara seperti ini, pujianmu membuat Oma semakin bahagia saja. Oma udah tua begini dibilang masih muda." Sahut Oma dengan senang hati.
"Yuyu berkata benar Oma, orangtua ku saja yang pergi terlalu cepat jadi tak bisa melihat tumbuh kembang kami saat dewasa. hanya Oma yang kami punya." Ungkap Theo sejujurnya.
"Tidak apa-apa Oma akan selalu menemani kalian." Suasana penuh haru terjadi pagi itu membuat mereka menitikkan air mata kebahagiaan.
"Emm.. Mommy, bisa kah aku melihat wajahku?."
"Tentu, wajah yang sangat cantik sama seperti mommy." Puji Nayla merasa bangga.
"Wahh.. Ternyata aku mirip Dady ya?." Ucap Xinyue melihat persamaan wajah keduanya.
"Hehe, Dady curang. Harusnya kan mirip mommy." Ucap Nayla sembari menatap wajah Theo.
"Mommy yang pelit kasih wajah cantik nya pada Yuyu jadi mirip Dady dech." Sambung Theo.
"Sudahlah, bukan masalah jika mirip Dady ini wajah ku ada sedikit mirip mommy juga koqq." Tutur Xinyue yang terus memperhatikan wajah nya.
"Ehmm, mohon maaf. Karna Xinyue sudah tidak ada masalah dengan matanya jadi sudah boleh pulang ya. Xinyue jangan tidur larut malam ya. Juga jika membaca bukunya jangan terlalu lama." Ujar dokter yang memotong momen keluarga itu.
"Baik dokter, terimakasih banyak ya karena sudah membuat Yuyu melihat dunia ini." Ucap Xinyue berterimakasih dengan sopan dan wajah yang penuh dengan senyuman.
"Sama-sama kalau begitu saya tinggal pergi dulu ya. Bapak/ibu bisa mengurus biaya administrasi."
"Terimakasih dokter." Ucap Theo.
Mereka berpelukan melampiaskan rasa bahagianya dan pulang dengan penyambutan sederhana dari neneknya. Atas suruhan nenek untuk menghias rumah dengan tema anak-anak membuat Xinyue semakin bahagia.
Hingga beberapa hari mereka menikmati kebersamaan di Jepang tetapi Theo telah menyiapkan suprise untuk keluarga nya itu.
"Ada apa? Apakah kita akan pergi ke tempat yang indah? Mengapa perlu persiapan dari siang hari?." Tanya Xinyue pada Theo dan Theo menjawab.
"Tentu, koqq kamu tahu nak?."
"Aku hanya menebak saja mana tahu kalau itu benar. Tapi kita pergi kemana Dady?." Sahut Xinyue lagi karena sangat penasaran.
"Kita akan pergi ke festival lentera sayang." Sambung Nayla yang sedang bersiap-siap.
"Apa itu?." Tanya Xinyue singkat.
"Ahh itu adalah sebuah perayaan dengan banyak lampion indah." Jawab Theo.
Festival ini memiliki banyak makna, salah duanya adalah reuni keluarga dan hari pembebasan. Beberapa orang menyebut Festival Lampion sebagai Hari Valentine China. Saat festival diselenggarakan, banyak tradisi spiritual kuno yang ditampilkan.
Beberapa kegiatan yang dilakukan yaitu menyalakan lampion, melihat bulan, bermain teka-teki, pertunjukan barongsai, menyantap makanan tradisional, dan masih banyak lagi.
"Wahh.. terdengar sangat menyenangkan. Kalau begitu aku juga harus bersiap dari sekarang." Ucap Xinyue sangat bersemangat dan orang tuanya hanya tersenyum melihat tingkah anaknya.
"Baiklah Oma." Sahut Xinyue.
Theo dan Nayla mengikuti Xinyue dari belakang.
Setelah mereka sampai di ruang makan Nayla membuka pembicaraan pada sore itu.
"Oma harus ikut kita ke festival lentera malam ini ya? Karena mumpung cucunya Oma sedang berkumpul."
"Iya Oma mengerti, lantas mengapa Meimei tidak ikut bersama kalian?." Tanya Oma penasaran.
"Adik tak bisa ikut karna harus mengurus kuliahnya jadi hanya kami saja." Balas Theo.
"Anak itu sepertinya telah melupakan ku."
"Tidak Oma, Meimei benar mengurus kuliahnya karena melanjutkan di China saja katanya."
"Apa tidak bisa pengurus saja yang melakukan nya, biasanya dia sangat senang jika pergi ke Jepang!." Lanjut nenek bertanya.
"Jadi begini Oma, sepertinya Meimei mempunyai teman spesial mungkin itulah yang membuat nya tak ingin pergi jauh." Ucap Nayla sembari melihatkan gambar di ponselnya yang dikirim Meimei saat pergi ke Harbin ice festival dan Oma yang melihatnya langsung tersenyum.
"Hahahaha.. tidak disangka anak itu telah dewasa bahkan sudah mengenal cinta." Jawab nenek. Dan Theo melihat gambar nya hanya diam saja.
Mereka melanjutkan makannya dengan cepat dan tibalah malam hari mereka keluar rumah guna melihat festival lentera yang dilakukan setiap setahun sekali. Xinyue sangat bahagia setelah sampai di wisata itu. Sangat ramai dan penuh dengan pernak pernik jualan di festival kali ini.
Nayla juga ikut berbahagia karena baru kali ini dia melihat festival yang sangat indah. Sama seperti Putra Nayla pun tak pernah pergi ke tempat terindah seperti ini. Karena hari-harinya dihabiskan dengan bekerja keras untuk kehidupan nya. Tak disangka takdir sangat baik padanya sehingga bisa melihat keindahan ini dengan orang yang paling disayanginya. Walaupun tak bersama adiknya tapi Nayla cukup tenang karena Meimei juga mengajak Putra ke tempat yang indah.
"Wahh.. sunggu cantik, ternyata dunia begitu indah ya. Yuyu ingin pergi melihat keramaian disana."
"Hati-hati sayang jangan berlari." Ucap Nayla.
"Mommy ayo lihat kesana." Ajak Xinyue.
"Sayang.. cobalah kue bulan ini. Tuhan akan memberimu keberuntungan." Ucap nenek pada Nayla dan Nayla menerimanya dengan senang.
sengaja nenek masak kue khas China ini walaupun sedang berada di Jepang tapi darah keturunan tidak bisa di hilangkan.
"Kue yang sangat lezat. Oma juga harus mencobanya kelak akan membawa Oma pada umur yang panjang dan kesehatan selalu." Balas Nayla memberi suapan pada Oma.
"Hanya Oma?." Sahut Theo.
"Suamiku juga harus memakan nya, bagaimana pun aku tak bisa hidup tanpa mu." dengan tersenyum Nayla memberikan suapan pada suaminya itu.
"Hahahaa.." Theo menerima nya dengan senang hati. semua orang yang berada disana sangat bergembira dan penuh kehangatan padahal cuaca sangat dingin berkumpul dengan keluarga tercinta.
"Mommy, Dady, Oma, kemarilah!. Kita akan meminta harapan melalui lampion terbang ini." Teriak Xinyue.
"Bagiamana kau bisa tahu jika lampion itu akan memberimu harapan yang engkau pinta." Balas Nayla yang tak percaya pada ucapan Xinyue.
"Mommy.. semua orang melakukan hal seperti itu. Terkabul atau tidak itu urusan Tuhan. Yang penting kita melakukan apa yang orang lain lakukan."
"Baiklah aku akan meminta harapan yang banyak mungkin salah satu dari mereka ada yang terkabul." Balas Nayla lagi.
Theo yang melihat keduanya hanya tersenyum bahagia, ia tak menyangka jika Nayla akan secepat ini menerima Xinyue dengan tulus. Tidak terlihat seperti ibu sambungnya, Nayla memperlakukan Xinyue seperti anak kandungnya sendiri. Theo tidak pernah salah dalam memilih. Jika saat bersama Jia Li memiliki hubungan berawal dari kebersamaan yang terus-menerus tidak dengan Nayla. Sepertinya Tuhan menentukan jodoh keduanya. memang menyatukan mereka yang awalnya bukan siapa-siapa menjadi orang yang sangat berarti dalam kehidupan nya.
Semua berubah dengan begitu cepat.
(FESTIVAL LENTERA)