
Setibanya Nayla di ruangan Putra, ia melihat Meimei dan Theo sudah menunggu.
"Ibu kecil!! Aku merindukanmu. Semalam ibu kecil diculik kakak huwaaaaa." Tutur Lingmei
"Hahahaha, maafkan ibu kecil ya. Sekarang kan udah kembali, sini... Peluk dulu."
Mereka pun berpelukan, Lingmei bersikap seperti anak kecil saat dihadapan Nayla. Beda sekali saat berada dekat Jia Li, kekasih lamanya Theo. Ia tak bisa bersikap seperti biasa nya. Bahkan terlihat dewasa sekali, ini juga yang membuat Theo memilih Nayla sebagai pasangan hidupnya.
"Kasian sekali Meimei ku, selalu terjaga disini sendirian. Ibu kecil minta maaf ya. Udah sarapan kah?" Sambung Nayla lagi.
"Huhuhu.. belum, Ayuk kita sarapan." Rengek Lingmei di pelukan Nayla.
"Kakak jaga dulu ya, aku mau sarapan sama ibu kecil. Jangan kemana-mana yaa kak."
Nayla tahu Lingtheo juga pasti sudah lapar, kan sama-sama belum sarapan. "Lebih baik mereka sarapan duluan, udah cukup banyak aku merepotkan mereka."
"Emm.. sebaiknya kalian duluan yang sarapan ya, aku jaga Putra dulu. Soalnya belum lihat kondisinya dari kemarin." Ucap Nayla.
"Akan lebih baik jika kita sarapan bertiga, Putra udah dijaga oleh dokter. Sejam lagi juga akan operasi, kita sama-sama belum makan semua." Jawab Theo beranjak meninggalkan tempat duduknya.
"Baiklah, Ayuk ibu kecil ikutin kita ya."
Mereka pun pergi meninggalkan ruangan Putra dan menuju kantin rumah sakit, ada banyak menu yang tersedia disana layaknya resto. Rumah sakit elit, bisa menyewa kamar tidur buat keluarga pasien dan pelayanan terbaik, bersih, dan nyaman.
Sembari mereka sarapan Nayla membuka topik pembicaraan dengan santai.
"Theo? Emm.. aku izin ke makam ibunya Adi boleh gak ya? Sebentar aja kesana nya, aku hanya menganggap nya teman. Kita kan juga pernah merasakan kehilangan. Tapi kalau gak boleh juga gak papa sih." Tutur Nayla dengan lembut.
Belom sempat Theo menjawab, Lingmei udah kasih jawaban duluan. Adiknya ini selangkah lebih maju.
"Boleh dong, lagian ibu kecil hanya ke makam saja. Gak akan ada yang mengambil nya dari kakak. Kakak pasti memberi izin koqq, yaa kann?"
"Adik ini mengapa hidupnya selalu ikut campur urusan kakaknya. Hmm, sebenarnya aku gak ingin Nayla pergi kesana. Masa lalu ya udah berlalu saja, tapi Meimei udah berkata seperti itu. Aku gak mungkin menolaknya." Gumam Theo dihatinya.
"Iya b-boleh sih, tapi jangan lama-lama. Putra butuh kamu, kamu harus selalu disampingnya."
"Iya hanya sebentar aja koqq."
"Ajak Meimei bersama mu. Putra biar aku yang jaga. Ingat jangan lama." Tegas Theo.
"Makasih ya, aku janji gak akan lama. Pasti kamu sangat merindukan ku jika aku pergi lama kan?"
"Hahahaha.." Meimei dan Nayla tertawa bersama.
Mereka pun makan kembali dan setelahnya sesuai janji, akhirnya Theo mengizinkan Nayla bertemu dengan Adi lagi. Walaupun Theo sedikit cemburu.
Sesampainya di pemakaman umum...
Hampir semua pelayat telah meninggalkan pemakaman, tapi masih terlihat Adi disana. Nayla menghampiri Adi, dan Adi melihat kedatangan Nayla, ia senang Nayla bisa datang.
Nayla berkata seperti itu karena sangat takut Adi akan depresi, biasanya Adi akan menghabiskan harinya di bar dan merusak hidupnya. Tidak bisa berpikir jernih, selalu berbuat onar, ia tak tahan dengan semua yang menimpanya. Maka dari itu, Nayla sudah tak bisa melanjutkan perjalanan cintanya bersama Adi.
"Iya aku tau kok, itu terakhir kali aku meminumnya dan berhasil membuat kita berpisah. Tapi mungkin kita memang bukan ditakdirkan bersama."
"Setelah pemakaman ibuku ini, aku dan Qiara akan meninggalkan China dan hidup di Jepang bersama orang tuanya Qiara."
"Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita Nay, aku harap kamu akan terus bahagia bersama pria itu. Maafkan semua kesalahanku ya." Ucap Adi.
"Saat yang berlalu telah tiada, maka kamu harus bisa membangun masa depan dengan kebaikan. Agar hidupmu lebih berharga lagi." Jawab Nayla.
"Di perjalanan mu nanti, pasti akan bertemu cinta yang bisa menerima apapun dari dirimu. ia hanya akan melihat kelebihan mu saja. Karena yang mencintaimu dengan tulus tak pernah melihat semua masa lalu mu. Adi tetaplah jadi pria yang baik, yang selama ini aku kenal oke?"
"Aku berjanji, dan akan melanjutkan hidupku dengan hal yang positif. Meneruskan pendidikan ku, tetap menjadi anak kebangga'an ibuku. makasih ya Nay udah support aku selama ini." Jawabnya.
"Haishhhhhh, aku gak bisa lama-lama. Putra akan segera Operasi tapi Meimei dari tadi pergi ke toilet gak kunjung datang juga sampai detik ini." Pikir Nayla. Ia terus melihat jam ditangan nya.
Nayla hanya tersenyum melihat Adi yang berbicara padahal pikiran nya sudah ingin sekali pulang.
Disamping itu..
Meimei yang bingung mencari keberadaan toilet belum juga menemukan nya. Hidupnya sudah di ujung tanduk, tidak mungkin ia pipis sembarangan apalagi ini pemakaman. Tak lama kemudian ia melihat toilet di ujung pemakaman.
"Hahhh.. jauh sekali, aku udah gak bisa tahan lebih lama lagi." Meimei berlari kencang menuju toilet tersebut tapi langka nya berhenti saat melihat Rakha di depan matanya yang juga sedang ke toilet. Kini, tak jauh dari pandangan nya.
"Hai." Ucap Lingmei
"Ehh ada kamu disini?"
"Kamu sendiri juga rajin kesini ya rupanya. Masih belum bisa melupakan Rina? Yang sabar aja ya."
"Enggak koqq, kesini karena temanku. Ibunya baru saja dimakamkan. Sebentar lagi juga pulang."
"Owh jadi begitu, emm...kita belum kenalan loh, padahal udah dua kali bertemu ditempat yang sama lagi. Hehe, aku Meimei. Kamu siapa?"
"Hahaha.. iya ya, kenalin aku Rakha. Senang bisa mengenalmu." Tutur Rakha
"Hehe, lebih senang lagi jika kamu bisa mengenal hatiku." Celetuk Lingmei.
Rakha hanya bisa terdiam, jantungnya berdegup. Lingmei membuat getaran dalam hatinya. Tapi Lingmei langsung menjawab. "Emm.. hahaha jangan tegang gitu dong, aku hanya bercanda. Ehh udah dulu ya, aku udah gak tahan nih. Bye.."
Rakha hanya tersenyum melihat Lingmei yang berjalan dengan cepat, tetapi tingkah nya seperti cacing kepanasan. Sampai ia salah masuk toilet.
"Hey, itu toilet pria. Kalo wanita disampingnya." Ucap Rakha mengingatkan. Lingmei hanya tersenyum malu. Lalu masuk dalam toilet wanita.
Rakha pun pergi meninggalkan tempat tersebut dan kembali menemui Adi. Ia melihat Nayla yang juga berada disana.