ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C80. Anniversary



Beberapa hari kemudian..


Tamu bulanan pun hari menyapa Nayla dan ia sangat kecewa tapi Theo telah menyiapkan kejutan untuk sang istri.


"Gak apa-apa nanti kapan-kapan kita ke dokter lagi ya. Oyaa.. aku ada suprise untukmu."


Nayla masih termenung sembari menatap kalender tiada henti, ia tahu jika sebentar lagi adalah anniversary pernikahan nya yang pertama. Pasti suaminya akan menyiapkan segala cara untuk membahagiakan nya.


"Emangnya kejutan nya apa?." Tanya Nayla.


"Rahasia dong, kalau di kasih tahu bukan kejutan namanya." Jawab Theo tersenyum.


"Semeriah apapun kejutan itu tetap aja rumah terasa sepi." Ucap Nayla tak bersemangat.


"Kamu lihat saja nanti." Jawab Theo sembari pergi meninggalkan Nayla.


"Apa perkataan ku kasar ya, seharusnya aku bersyukur punya suami yang terus berusaha membahagiakan ku. Aku malah mengeluh di depan nya." Pikir Nayla setelah melihat Theo pergi.


Setelah Nayla tak terlihat lagi Theo mengeluarkan handphone nya lalu menghubungi neneknya.


"Halo?. Apa kabarnya Oma? Jaga kesehatan selalu ya. Oyaa aku sangat merindukan Yuyu."


"Ya. Keadaan Oma dan Yuyu baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkan kami ya, Oma dan Yuyu juga merindukan kalian. Ditunggu ke Jepang nya ya."


"Hmm.. pekerjaan sangat banyak Oma, baru saja menyelesaikan masalah dalam perusahaan."


"Kalau begitu jaga kesehatan agar diberikan kelancaran ya." Sahut Oma.


"Bagaimana jika Oma dan Yuyu saja yang ke China, sejak kedua orangtuaku tiada Oma tak pernah mengunjungi ku dan Meimei juga sudah berada disini. Apa tak ingin melihat perusahaan yang telah aku bangun?." Sambung Theo.


"Hahaha. Sungguh pintar dalam berkata ya, baiklah Oma dan Yuyu akan berangkat ke China." Tutur neneknya dengan senang.


"Yes, terimakasih Oma selalu pengertian. Love you.. Theo tunggu di bandara nanti ya. Hati-hati dalam perjalanan Oma, semoga selamat sampai tujuan." Jawab Theo bahagia.


"Hmm.. Dasar anak kecil jika ada maunya pasti mengatakan mencintaiku padahal melakukan ini demi sang pujaan hatinya." Gerutu nenek.


"Hehe, bagaimana pun Yuyu dapat menghiburnya. Dengan begitu suasana hatinya tak akan buruk terus kan?." Balas Theo.


"Ya. Baiklah, mungkin besok baru sampai."


"Tepat sekali dengan ulang tahun pernikahan kami yang pertama."


"Ya Oma tahu koqq, Meimei selalu bercerita."


"Hmm.. Mei selalu menjadi paparazi."


"Jangan salahkan adikmu, Oma yang selalu meminta kabar kalian. Saat jauh begini hanya bisa berkabar lewat handphone saja."


"Baiklah Oma hati-hati ya." Ucap Theo lagi.


Sambungan telepon nya pun terputus. Theo berjalan mencari keberadaan Meimei ternyata anak itu ada kelas jadi sudah berangkat kuliah di pagi hari.


Dikampus Meimei dan Rakha dengan rajin membuat pakaian yang akan menjadi nilai dalam ujian praktek nya, busana wanita dan pria musim baru selalu menjadi kegemaran dalam bidang fashion ini.


"Sudah belum?." Tanya Rakha.


"Sudah koqq, sangat gampang pengerjaannya. Gaun pengantin yang sulit saja bisa dengan mudah ku selesaikan. Emm... Ikut kuliah karna ingin dekat denganmu saja, hahaha.." sahut Meimei.


"Memang beda, entah pantas atau tidak bersanding denganmu. Nona muda mahir dalam segala hal sedangkan aku anak biasa tanpa banyak pengetahuan, apakah ini adil bagi mu?." Ucap Rakha tak percaya diri.


"Karena aku telah bersedia bersama mu maka jangan pernah kecewakan aku, berubah atau enggak perasaan cintaku itu tergantung padamu." Jawab Meimei tersenyum manis.


"Sudah ku duga jawabannya pasti tentang perlakuan ku padamu, sudah pernah merasa kehilangan dan aku gak ingin merasakan untuk kedua kalinya lagi." Ungkap Rakha.


"Tidak pernah memiliki maka tidak akan merasakan kehilangan atau kesedihan, untuk apa kesana lalu membuka kenangan pahit yang dibuatnya. Apakah aku pria yang mengharapkan saat kepergian dan mengabaikan dirinya saat berada dekat denganku?."


"Hehe.. aku hanya bercanda, kalaupun ziarah tentu lebih memilih menemanimu ke nisan Rina."


Rakha hanya tersenyum kemudian mereka saling tatap tiba-tiba Meimei mengingat perkataan kakaknya jika selesai urusan kuliahnya langsung pulang.


"Ehh aku lupa harus segera pulang nih." Ujar Meimei bergegas dan Rakha menyahuti nya.


"Memangnya ada apa? Koqq buru-buru banget. Aku masih merindukanmu loh."


"Hehe, akan ada perayaan anniversary pernikahan kak Theo. kamu mau ikut aku juga boleh koqq."


"Tapi kalau sekarang desain ku belum selesai nih." Ucap Rakha lagi dan Meimei menjawabnya.


"Ya sudah selesaikan dulu ya, aku beneran harus pergi. Oma juga bilang jika dia dan Yuyu akan terbang ke China harus ada persiapan juga."


"Oh gitu ya sepertinya acara keluarga kalau begitu aku enggak ikut dech." Ujar Rakha.


"Tenang, masih besok koqq perayaannya Oma sekarang juga masih di Jepang sih. Kamu juga kan termasuk dalam keluarga ku." Jawab Meimei tersenyum dan Rakha membalas senyuman itu.


"Oke, besok aku kesana ya." Tutur Rakha.


"Baiklah, bye." Balas Meimei singkat sembari meninggalkan Rakha.


Petang berganti malam kesibukan mendekorasi rumah masih dilakukan mereka, Nayla ikut membantu juga.


"Sayang, apa perlu semeriah ini?." Tanya Nayla.


"Tentu. Apa kamu gak menyukainya."


"S-suka sih cuman dalam hidupku belum pernah mempersiapkan acara seperti ini kayak tradisi gitu ya." Ucap Nayla memperhatikan pernak pernik rumah dan Theo hanya mengangguk.


"Gak apa-apa kak, semua ini kakak lakukan hanya untuk membahagiakan kakak ipar." Sahut Meimei.


"Terimakasih sayang." Balas Nayla tersenyum pada adik ipar nya itu.


"Kakak ipar sangat baik pada kakakku, jika sudah dewasa aku akan melakukan hal yang sama seperti kakak ipar." Sahut Putra bahagia.


"Anak baik, menjaga wanita adalah tugas lelaki sejati. Banyak kekerasan terhadap perempuan jadi sangat bagus jika Putra punya pikiran seperti kakak ipar ya." Balas Theo tersenyum.


Keesokan harinya..


Nayla membuka matanya dengan pandangan pertamanya adalah buket bunga yang sangat besar telah berada di dekatnya. Ia melihat nya dengan senyuman lebar tetapi Theo tak berada disana. Kemudian Nayla mencium aroma segar dari bunga mawar yang bejejer rapi di buket itu.


Karena akan ada perayaan Nayla mandi dan memakai gaun yang telah di siapkan, setelah wangi Nayla turun ke lantai bawah dengan lift.


"Lohh Meimei dan Rakha? Sedang apa kalian." Sapa Nayla di pagi itu.


"Sarapan dong, kakak ipar Ayuk makan dulu." Ucap Meimei, Nayla menatap Rakha yang pagi buta sudah berada dirumah pacarnya.


"Silahkan, Oyaa kak Theo kemana?." Tanya Nayla.


"Eemm.. sepertinya ada urusan dech, Oyaa.. kak! Sengaja Rakha disini untuk membantuku memasang tirai, jangan heran ya." Tutur Meimei.


"Oh gak apa-apa koqq, tumben sepagi ini Theo meninggalkan rumah ya. katanya ingin merayakan anniversary pernikahan bahkan aku belum mengatakan apa-apa padanya. Orangnya udah hilang aja." Balas Nayla kebingungan.


"Katanya tadi sebentar sih." Sambung Rakha dan Nayla melihat Rakha. Lanjut sarapan dengan santai tanpa berpikir banyak lagi.


"Kakak ipar gak tahu aja bahwa kak Theo sedang menjemput Yuyu di bandara, hari yang menyenangkan. Akhirnya bisa melihat Yuyu yang sudah bisa melihat. Ini adalah pertemuan pertama ku dengan anak kecil itu. Sangat merindukannya dan ingin segera memeluknya." Gumam Meimei bahagia.