ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C51. Surat wasiat



Setelah Adi selesai dengan semuanya ia pun memutuskan untuk tidak jadi berangkat ke Jepang. Tiket yang sudah dia pesan pun tak jadi ia pakai karena menurut nya lebih penting mengurus surat wasiat dari mama nya ketimbang berangkat ke Jepang. Qiara yang mendengar berita tersebut sangat senang dan bersemangat lagi.


"Paman tidak bohong kan? Tapi kenapa begitu cepat setuju dengan saran Qiara? Emm.. maksudnya Qiara, apa Paman juga lebih senang tinggal di kota ini daripada ikut ke Jepang?." Tanya Qiara pada Adi.


"Tidak, paman hanya kasihan lihat Qiara yang sangat berat untuk pindah ke Jepang. Tinggal disini juga bukan masalah." Jawab Adi tersenyum.


"Asyikkkk... Paman memang selalu menjadi yang terbaik untuk Qiara. Aku sangat sayang sama paman. Ibu, maaf yaa bukan Qiara tidak sayang ibu tapi Qiara sangat suka kota ini." Tutur Qiara.


"Ya sayang tidak apa, yang penting Qiara harus bisa jaga diri. Ibu tak ingin kejadian kemarin terulang lagi, bersyukur kamu tidak kenapa-napa. Niat ibu ingin kalian berangkat ke Jepang juga tidak memaksa. Sebelumnya kan paman Adi sudah setuju, kalau sekarang berubah pikiran ibu juga tidak bisa paksa untuk ikut nak." Balas ibu Qiara dengan tulus, ia sedikit heran mengapa Adi jadi tak ingin pindah padahal sebelumnya sangat ingin cepat-cepat pergi dari kota ini.


"Terimakasih ya kak, aku memang tak bisa pergi dari sini walaupun sangat ingin karena tadi kuasa hukum mama menghubungi Adi, ia berkata akan memberikan surat wasiat dari mama berupa harta warisan, tapi Adi masih bingung kenapa mendapatkan harta warisan sedangkan semua asset di pegang oleh papa. Itu yang membuat Adi tak bisa pergi. Kakak tidak apa-apa kan berangkat sendiri kesana?." Tutur Adi serius.


"Bukan masalah jika memang harus berangkat sendiri, mendengar cerita mu itu tandanya semua harta kemungkinan besar adalah milik mama kamu. Kamu harus merebut semua apa yang seharusnya jadi milik kamu, sepertinya mama mu tidak ingin hartanya jatuh ke tangan papa mu. Itulah kenapa mama mu menulis surat wasiat itu." Ucap Ibunya Qiara. Ia tak pernah tahu akan cerita harta kakaknya itu yakni ibunda Adi. Karena selama ini juga tinggal di luar negeri. Lagi pula ibunda Adi hanya kakak tirinya jadi ia tak terlalu mengenal nya, Qiara bisa tinggal bersama mereka karena dari bayi Qiara sudah di asuh kakak tirinya itu.


Qiara terpaksa ditinggal saat masih bayi karena ibunya menikah lagi dengan pria lain.


"Kakak benar, aku akan tetap disini untuk mama. Qiara akan tinggal bersama ku disini ya kak." Jawab Adi yang tak ingin Qiara jauh darinya.


"Iya, paman tenang saja Qiara akan tinggal bersama paman ya. Ibu pasti setuju." Sahut Qiara.


"Iya tidak apa-apa. Tolong jaga Qiara baik-baik ya dek, jangan sampai terluka apalagi sampai di culik seperti kejadian kemarin." Jawab ibunya Qiara.


"Aku janji akan lebih hati-hati lagi dalam menjaga Qiara kak, bila perlu aku akan menunggu nya di sekolah agar ia tetap aman." Balas Adi.


"Ya sudah kakak pergi dulu ya, pesawat nya sebentar lagi akan lepas landas." Ucap Ibunya Qiara sembari memeluk erat Qiara setelah nya mencium dengan wajah sendu. Qiara hanya tersenyum membiarkan ibunya melepas rindu walau sebentar saja. Qiara sudah terbiasa tanpa hadirnya seorang ibu disampingnya.


"Jangan lupakan aku ya Bu, aku janji akan merawatmu seperti yang paman Adi lakukan untuk ibunya jika sudah dewasa nanti." Ucap Qiara.


Ibunya Qiara menangis terharu mendengar putri kecilnya bicara dengan sangat cerdas. Tangisan itu berusaha ditahan nya, jika ada air mata yang hendak jatuh ia pun akan melihat langit-langit.


"Paman, mari kita pulang."


"Baiklah anak manis, Paman akan membelikan kamu makanan yang enak untuk hari ini paman akan traktir kamu sepuasnya." Ujar Adi dan Qiara sangat senang mendengar nya.


"Horee.. Terimakasih paman terbaikku." Balasnya.


Mereka pun dengan bahagia keluar dari bandar udara internasional tersebut. Kemudian kembali lagi kerumah Adi yang dihuni papa nya dan juga calon istrinya. Namun mereka tetap berhenti sebentar di sebuah tempat makan. Qiara sangat lahap menyantap hidangan yang ada di depan matanya hingga ia kekenyangan dan tertidur sepanjang jalan.


Sesampainya dirumah Adi masuk dengan perasaan tegar, ia memang masih dalam kekalutan yang menyelimuti hatinya namun ia harus melawan rasa itu. Semua ini demi masa depan yang diharapkan ibundanya. Tak lama kemudian seorang wanita berbicara padanya.


"Loh kok kembali lagi?." Tanya nya heran.


"Memangnya kenapa, inikan rumah ku." Jawab Adi.


"Jangan terlalu percaya diri, ini semua milik papa mu. Dan aku adalah istrinya sekarang karna tadi pagi kami sudah mengambil akte pernikahan. Apa yang papamu miliki sama dengan kepunyaan ku juga. Jadi lebih baik kamu pergi sekarang.!!" Ucap Rika yang merasa berkuasa atas rumah ini.


"Hahahaha anda sangat pandai menciptakan lelucon di keluarga ini, perempuan murahan yang masuk ke dalam rumah orang dengan menjilat." Hina Adi.


"Kurang ajar!!" Rika sangat marah dan ingin melemparkan tamparan ke pipi Adi. Tetapi langsung di tepis oleh Adi, ia pun berkata lagi.


"Kalau pun ada yang harus keluar dari rumah ini, itu bukanlah aku orangnya. Karena aku adalah pemilik rumah ini." Adi pun meninggalkan Rika.


"Dasar pengacau!! Gak tahu malu, lihat saja nanti bagaimana cara ku menendangmu dari rumah ini."


"Untung saja aku sudah sah menjadi istri dari papa nya, aku akan membalas apa yang telah kamu perbuat denganku saat ini. Adi, hidupmu hanya menumpang. cepat lambat aku akan mengusirmu." Ucap Rika yang sangat kesal dengan kembalinya Adi dirumah itu.


Para pembantu hanya terdiam, raut wajah mereka sangat tak suka pada Rika. Tapi mereka juga sedikit senang karena Adi tak jadi meninggalkan rumah itu. Lalu Qiara pun di gendong masuk ke dalam kamarnya dalam keadaan tertidur oleh seorang supir.