
Dokter tersenyum lalu meninggalkan mereka dan Theo bersama Nayla pun masuk ke ruangan Putra dan melihat secara langsung keadaan Putra.
"Sayang, kakak sangat bersyukur karena kakak masih bisa melihat Putra disini, Putra sangat kuat seperti kakak. Terimakasih sayang karena masih ingin menemani kakak." Ujar Nayla terharu.
"K-kakak, Putra belum bisa bicara dengan keras. Bagian rahang Putra masih terasa sakit maafkan Putra yang selalu menyusahkan kakak." Jawab Putra pelan suaranya sangat kecil tapi Nayla bisa dengan jelas mengerti apa yang diucapkan adiknya itu. Nayla sangat ingin memeluk Putra tapi tidak bisa karena perban nya belum dibuka. Putra hanya sudah sadar saja keadaan nya masih sangat lemah.
"Huhuhu.. jangan bicara begitu sayang, kakak hanya ingin Putra cepat sembuh dan menemani hari-hari kakak lagi. Jangan katakan apapun ya." Sahut Nayla dengan hatinya yang pilu. Melihat Nayla menangis Theo jadi berpikir bahwa kekasihnya ini mempunyai hati yang sangat lembut. Belakangan ini dia sering kali menangis, ada banyak hal yang membuatnya sedih. Saat bertemu Xinyue juga Nayla menangis. Melihat nenek juga menangis terharu. "Nayla hatimu sangat lembut tapi aku gak bisa melihatmu terus menangis seperti ini." Batin Theo yang terus menatap Nayla.
"Hai Putra, anak lelaki harus kuat ya. Agar bisa melindungi kakakmu ini, tapi karena kamu sedang sakit jadi yang menjaga kak Nayla beralih ke kakak. Cepat sembuh ya, soalnya kakak gak ingin melihat kak Nayla menangis seperti ini. Hanya kamu yang bisa menghibur kakakmu." Ucap Theo lalu Nayla melihat ke arah Theo. Ia sedikit malu karena terus menangis di depan Theo, karena sadar perkataan Theo Nayla pun mengusap air matanya.
"Hehehe, kakak enggak akan menangis lagi koqq. Maaf kakak sangat cengeng tapi Putra jangan berpikir bahwa Putra telah menyusahkan kakak. Justru Putra lah yang membuat kakak kuat." Tutur Nayla, seperti nya perkataan Putra telah membuat Nayla tersentuh.
"Oyaa, kakak ingin bilang sesuatu sama Putra bahwa pria yang berada disamping kakak ini yang bilangnya menjaga kakak karena Putra sedang sakit. Dia adalah kekasih hati kakak, apakah Putra gak keberatan jika kakak menikah dengannya?" Sambung Nayla lagi, ia tersenyum pada Putra lalu kemudian melihat Theo dan Putra melihat keduanya yang saling pandang.
"Gak masalah koqq kak, aku percaya dengannya kakak pasti lebih aman. Karena kakak ini udah menjaga kakak selama Putra sakit. Terimakasih kak, kakak telah menjaga kak Nayla." Jawab Putra, ia bisa menerima Theo menjadi kakak ipar nya. Karena pacarnya yang dulu tak bisa melindungi kakaknya bahkan mencelakai kakaknya.
"Terimakasih sayang saat perbanmu dibuka saat itu juga kakak akan menikah. Maaf mungkin ini terlalu cepat untukmu tapi kakak bisa terus menjagamu sampai dewasa nanti. Kasih sayang kakak gak akan pernah berubah untukmu."
Putra hanya merespon perkataan Nayla dengan mengangguk, kemudian ia terpikir pada Qiara yang saat itu berjuang keluar dari hutan bersama dia. Putra memikirkan keadaan Qiara, apakah dia baik-baik saja tanpa luka saat di dorongnya dengan keras. Rasa sakit di kepalanya kembali muncul tapi Putra menahannya. Ia ingin menanyakan kabar Qiara pada kakaknya itu.
"Kak? Bagaimana keadaan Qiara?." Tutur Putra singkat dan Nayla memandang nya dengan sedih.
"Eeemmm... Qiara ya? Dia.." Nayla tak ingin memberi tahu Putra karena keadaan Putra masih sangat lemah.
"Qiara baik-baik aja kan kak?." Tanya Putra.
"Sudah, jangan berpikir yang lain dulu ya. Kamu harus mikirin kesembuhan mu sayang. Qiara baik-baik aja kok." Ujar Nayla.
"Tapi kenapa kakak terlihat sedih begitu, lagian kakak tau kan aku sama Qiara berteman. Hal yang wajar bukan jika khawatir dengan Qiara?" Jawab Putra lagi, ia sedikit kecewa dengan raut wajah Nayla. Dan Nayla pun kembali berkata.
"Jika Putra tahu sesuatu, apakah Putra akan baik-baik aja? Karna dokter bilang Putra gak boleh banyak berpikir dahulu, harus fokus dengan kesembuhan. Istirahat yang cukup juga."
"Eeemmm.. Qiara pergi, maksudnya dia disuruh tinggal bersama kedua orangtuanya di luar negeri. Putra jangan bersedih ya, dia menitipkan sesuatu untukmu dek." Ucap Nayla sembari memberikan gelang dari Qiara untuk kenangan yang sempat dititipkan nya ke Nayla.
"J-jadi dia meninggalkan ku kak? Apa gak ingin melihat ku bangun seperti ini dulu baru dia pergi? Apa dia melupakan pertemanan kami?." Tanya Putra dengan raut sedih sambil memandang gelang yang diberikan Nayla.
"Sayang, dia ingin sekali melihatmu. Tapi dokter melarang nya menunggu mu bangun tapi kan belum ada kepastian. Ini saja kamu bangun lewat dua minggu dari kepergiannya. Dia juga akan selalu mengingatmu katanya dan berdoa untuk kesembuhan mu juga. Jangan marah padanya ya."
"Aku ingin istirahat, kakak boleh keluar gak?." Jawab Putra dan Nayla hanya bisa menatapnya dengan sendu. Ia dan Theo kemudian berjalan keluar ruangan Putra. Putra hanya memperhatikan punggung keduanya yang semakin jauh.
"Huhu, apa benar begitu? kok Qiara tega sih ninggalin aku padahal aku udah baik banget dengan dia. Apa dia marah karena kejadian kemarin?."
Mungkin bagi Nayla, Putra hanyalah seorang anak kecil tapi siapa sangka jika anak ini begitu dewasa saat berpikir bahkan dalam hal pertemanan.
Putra sangat sedih karena Qiara, tapi ia tetap memakai gelang kenangan yang diberikan Qiara.
Sementara itu Nayla takut Putra kenapa-napa tapi Theo menenangkan hatinya nya dan berkata.
"Putra butuh waktu, pertemanan kecil itu bukan hal yang biasa. kita akan mengingatkan nya sampai dewasa jadi biarkan dia sendiri dulu. nanti lama-lama dia bisa melupakannya mungkin karna Putra khawatir padanya jadi terkesan berlebihan. kamu jangan takut ya, dia didalam dengan keadaan baik-baik aja kok hanya sedang sedih aja."
"Hughhh.. aku sedikit lega mendengar mu berbicara begini, saat aku kecil aku gak pernah berteman dengan siapa pun. Selalu dalam rumah, sekolahnya aja home schooling jadi aku gak bisa merasakan apa yang saat ini Putra rasakan makasih ya sayang sangat bisa menenangkan hatiku." Tutur Nayla menatap Theo sangat lembut.
"Ya sayang, emmuachhh." Theo memeluk Nayla lalu mencium keningnya dengan tulus.
"kamu beristirahat lah sebentar ya, kan abis dari perjalanan jauh aku akan membawakan makanan untuk kita tunggu diruang yang aku pesan buatmu ya sayang." sambung Theo lagi dan Nayla hanya tersenyum melihat perhatian calon suaminya itu.
Theo pun berlalu meninggalkan Nayla ia pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli makanan.
****