
Pernyataan cinta Adi kepada Nayla telah usai, dan mereka sekarang sudah mempunyai hubungan lebih dari seorang teman.
Kehidupan Nayla dan Adi menjadi berbeda setelah cinta itu datang. Adi pria yang begitu pengertian akan kehidupan Nayla. sehingga tak ada kabar dari Nayla tak membuat Adi menjadi sedih. Hanya rindu yang selalu menghantuinya.
Tetapi Adi selalu ada disaat Nayla membutuhkan nya. Menemani hari-harinya dengan penuh kebahagiaan.
Nayla berencana akan melanjutkan tugasnya untuk menemani Lingmei dalam pembuatan iklan.
Mereka sudah menentukan tanggal untuk melakukan proses syuting iklan tersebut. Tetapi tiba-tiba semuanya tak berjalan lancar.
"Apa!! Kenapa bisa terjadi. Bagaimana dengan proses iklan ini. Astaga, anda harus membayar finalti pada perusahaan kami." Ucap Lingmei dengan kesal.
Nayla yang mendengarnya pun terengah dengan ucapan Lingmei. yahh.. orang yang biasa memanggil Nayla dengan sebutan ibu kecil itu saat ini sedang marah. Biasa bersikap lembut dan manja. Ternyata ia bisa marah juga.
"Kacau.. ini sangat kacau. bagaimana aku bisa menjelaskan ini pada kakak. Aku gagal menjalankan tugas yang diberi kakak. Bahkan tugas ringan saja aku tak bisa kerjakan dengan baik." Tutur Lingmei setelah mendengar kabar dari manajemen aktris terkenal Peiyu.
"Tenang lah, Apakah ada masalah? Anak baik, semua masalah bisa diselesaikan dengan baik jika kita bercerita dengan orang lain." Ucap Nayla yang dari tadi memperhatikan, lalu memberi Lingmei dengan segelas air minum.
Lingmei mendengar perkataan Nayla dan meminum air yang diberikannya.
"Aku tak habis pikir ibu kecil. bagaimana saat hari pertama syuting, aktris bintang iklan kita malah terjadi kecelakaan." Ucap Lingmei sedih.
"Astaga, kecelakaan bagaimana? Apakah itu sangat parah sehingga memutuskan untuk membayar finalti."
"Manager Peiyu baru saja menelpon, ia berkata tak bisa syuting untuk beberapa bulan kedepan. Ini terlalu lama, jadi manager Peiyu putuskan untuk membayar finalti saja. Peiyu terjatuh dari anak tangga yang tingginya mencapai 2 lantai rumahnya. Cedera pada kaki karena sebelum jatuh ia sempat tergelincir di anak tangga teratas." Ucap Lingmei menjelaskan.
"Kenapa ini terjadi saat pembuatan iklan brand kita, aku harus bilang apa dengan kakak, ibu kecil. Meimei menjadi sedih akan hal ini." Sambung Lingmei bercerita pada Nayla.
Lingmei takut, Lingtheo akan kecewa terhadap nya. baru saja ia mempercayakan tugas ini untuk adiknya itu tetapi semua dengan cepat menjadi kacau. Lingmei tak punya waktu untuk mencari aktris lain dengan cepat, soalnya kebanyakan aktris harus mem-booking nya dari jauh hari. Tak bisa secara mendadak dan seenaknya.
Nayla pun kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa, maka dari itu ia hanya terdiam melihat wajah Lingmei.
Dalam lamunan Lingmei. Ia berpikir keras, lalu terus memandangi wajah Nayla yang saat itu terdiam melihatnya.
"Wajah ibu kecil sungguh cantik, tak jauh cantik dari pada para aktris. Aku rasa ibu kecil bisa menjadi bintang iklan brand kita." Ucap Lingmei tergerak hatinya untuk menjadikan Nayla bintang iklan brand tersebut. Dengan cepat Nayla berkata.
"Ini tak mungkin, bagaimana bisa aku melakukan nya. Berada disini saja sudah membuatku gemetar. Aku tak mampu. Jangan aku, tak ada pengalaman untukku menjadi bintang iklan brand ini. Yang ada aku hanya membuat semuanya makin kacau saja." Nayla melambaikan tangan dengan menggelengkan kepalanya. Ia tak bisa melakukan yang dipinta oleh Lingmei.
"Ayolah ibu kecil. Meimei sangat berharap ibu kecil saja yang menggantikan aktris Peiyu. Aku akan memberi tahu kakak dengan cepat. Tetapi aku ingin meminta kakak untuk menyetujui lokasi syutingnya di negara Jepang saja. Aku ingin ibu kecil mengetahui tempat dimana aku dilahirkan." Ucap Lingmei senang.
"Hmm.. ini sedikit berat, jika aku melakukan kesalahan. Aku malah akan mengacaukan semuanya nak." Jawab Nayla khawatir tentang dirinya.
"Ini akan baik-baik saja. kakak sering kali mengucapkan ibu kecil terlalu percaya diri, maka Meimei percaya bahwa ibu kecil sebetulnya sangat percaya diri."
Sepertinya permintaan Lingmei tak bisa ditolak oleh Nayla. Ia terus saja menjawab saat Nayla berkata tak bisa. Dengan terpaksa Nayla mengiyakan.
"Apa? Yang benar saja. Kenapa harus gadis kecil itu. Apakah kamu yakin ini bisa menembus pasar penjualan kita. Target penjualan kita kali ini cukup tinggi, apalagi harus mengadakan pengambilan gambar di negara Jepang. Kakak tak percaya kamu bisa berpikiran untuk mengganti bintang iklan dengan gadis kecil itu." Ucap Lingtheo berbicara dengan panjang di telepon bersama Lingmei.
"Ahh.. selain manja. kamu juga tak bisa diajak untuk merubah keinginan mu. Sudahlah, karena kakak sudah mempercayakan tugas ini padamu. Kakak hanya bisa mendukung mu saja." Ucap Lingtheo sambil menutup telepon nya.
"Yess, semua berjalan sesuai rencana. besok kita akan pergi ke Jepang bersama ibu kecil dan kakak Lingtheo. Aku sungguh bahagia." Ucap Lingmei.
"Apakah secepat ini, berapa lama kita ke negara Jepang? Meimei tahu kan. Ibu kecil mempunyai adik yang harus di urus. Tak bisa terlalu lama meninggalkan Putra seorang diri. Pekerjaan ini cukup berat untuk ibu kecil lakukan." Tutur Nayla tak ingin meninggalkan Putra.
"Oh iya, hanya seminggu saja. Meimei akan melakukan syuting di beberapa tempat. Aku harap ibu kecil bersedia." Ucap Lingmei memohon pada Nayla.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa meninggalkan Putra. Aku ingin sekali menolaknya. Pekerjaan ini membuat aku merasa pusing." Gumam Nayla dalam hati.
"Seminggu? Ini waktu yang terlalu lama. Bagaimana jika 2 sampai 3 hari saja." Ucap Nayla menawar waktu yang diberikan Lingmei. Ia berpikir bagaimana dengan Putra. Nayla tak akan tega meninggalkan Putra dalam kesendirian.
Drgttt.. Drgtt.. Drgtt..
"Halo, ada apa sayang? Sebentar lagi aku akkan pulang." Ucap Nayla di telepon.
"Ahh.. makasih sayang." Ucap Nayla pada kekasihnya itu.
"Siapa yang menelepon ibu kecil. Kelihatan buru-buru sekali." Ucap Lingmei yang tak suka.
"Oh ya. Seminggu adalah waktu yang sebentar untuk melakukan proses pengambilan gambar bu. Aku harap ibu kecil bisa melakukan nya dengan baik." Sambung Lingmei melanjutkan pembicaraan nya.
"Akan aku pikirkan kembali nanti." Nayla merasa terbebani dengan tugasnya sekarang. Ia berpikir untuk menyudahi pekerjaan nya saja. Tetapi ia ingat kembali finalti yang harus dibayar, sedangkan tabungan Nayla sangat tipis.
Bagaimana Nayla bertahan dalam situasi ini? Apakah langkah selanjutnya?
Dengan semua diskusinya pada Lingmei tak membuat nya berada pada titik temu. Nayla pun memutuskan untuk berbicara pada Adi, langkah apa yang akan Nayla ambil? Apakah ia akan berhenti pada pekerjaan nya.
Tin.. tin.. tin..
"Haloo sayang, emuach." Cium Nayla pada Putra yang terdiam melihatnya.
"Kakak sore sekali bekerja nya sampai harus dijemput sama paman Adi. biasanya kakak bisa pulang sendiri. Terus kenapa kakak tidak memakai seragam yang biasa kakak pakai saat kerja." Pertanyaan Putra begitu banyak.
"Ahh.. huhuhu.. Tuhan, adikku Putra sudah tidak sayang pada kakaknya. Lihatlah ia Tuhan, tak ingin mencium kakaknya saat pulang bekerja." Ucap Nayla dengan mengusap kedua matanya menggunakan tissue, menangis tetapi tak mengeluarkan air matanya. Meledek adiknya yang sedang mengintrogasi nya.
"Oh sayang, tolonglah kekasihmu ini. Adikku sudah tak menyayangi ku lagi." Ucap Nayla kepada Adi.
"Huhu.. sungguh kasihan kekasihku." Adi pun mencium pipi Nayla sembari memeluk kakaknya tersebut. di depan Putra yang terdiam, lalu dengan cepat Putra melepaskan pelukan Adi pada kakaknya itu. Langsung mengambil tissue yang berada ditangan Nayla, kemudian mengelap pipi Nayla tepat berada pada posisi yang di cium kekasih nya yang bernama Adi itu.
Putra pun mencium pipi Nayla berkali-kali pada pipi yang dicium Adi. lalu memeluknya dengan erat. kemudian Putra berkata sambil tersenyum melihat kakaknya, tatapan tulus dan penuh kasih sayang itu.
"Putra sayang sekali sama kak Nayla."
"Hahaha..' terimakasih sayang, mari kita pulang lalu kakak akan masak makanan kesukaan Putra dan paman Adi." Tutur Nayla bergegas menggendong Putra masuk ke dalam mobil bersama Adi yang mengikuti nya dari belakang.
Dalam perjalan menuju rumah..
"Aku ada tugas kerja ke negara Jepang, proses pengambilan iklan dilakukan di Jepang. Aku harus bagaimana? Karena aktris Peiyu dalam musibah, Meimei inginkan aku untuk menjadi pengganti bintang iklan nya. Aku terus terang sangat keberatan tetapi aku tak mampu menolak nya, jika berhenti bagaimana menurut mu?" Tanya Nayla berbicara serius dengan Adi. Karena sebagai kekasihnya, Adi berhak memberi saran.
"Tugas ini cukup bagus untuk karier mu, sayang jika ditolak. Kenapa tidak lanjutkan saja?"
"Emm.." Nayla terdiam sejenak.
"Prosesnya memakan waktu cukup lama. Paling sebentar seminggu di Jepang. Aku berpikir Putra tak mungkin bisa aku ajak, karena baru saja masuk sekolah baru. Tak mungkin bisa meminta izin pada kepala sekolah." Ucap Nayla kebingungan ia tak ingin Putra ketinggalan pelajaran.
"Jadi itu permasalahan nya. Kamu tenang saja, Putra bisa tinggal bersamaku untuk sementara waktu saat kamu berada di Jepang. Tetapi jangan lupa untuk selalu memberi kabar, karena Putra pasti merindukan mu selalu." Jawab Adi.
"Wahh.. makasih sayang, maafkan aku selalu merepotkan mu untuk menjaga Putra. Tetapi apakah Putra saja yang akan merindukanku?" Tatap Nayla.
"Aku sudah pasti merindukanmu. Tak perlu ditanya lagi ya. Aku dan Putra sudah dekat, lagian Putra anak yang baik. Walaupun masih kecil, anak ini begitu mengerti keadaan." Tutur Adi sambil memperhatikan Putra yang berinisiatif pindah ke kursi belakang, lalu membiarkan Nayla duduk dikursi depan bersama Adi.
Ini yang membuat Adi semakin mencintai kakaknya yang baik sekaligus mendapatkan adiknya yang sangat lucu.
"Putra tak keberatan kan, jika kak Nayla pergi bekerja selama seminggu tak pulang, demi Putra seorang. Ada kak Adi yang akan selalu menemani Putra." Ucap Adi memberi tahu Putra.
"Baiklah, ingat untuk memesankan makan siang Putra ya kak?" Tutur Putra beranjak ke depan menolehkan kepalanya pada Nayla, kedua tangannya memegang bahu kursinya Nayla dan Adi.
"Hmm.. kan ada kak Adi, kak Adi akan selalu makan bersama Putra. Jadi Putra tak perlu menyuruh kak Nayla untuk memesan makan siang Putra. Karena kak Nayla malamnya juga tak pulang."
"Paman? Sejak kapan aku memanggilmu kakak. Jangan coba rebut kak Nayla dariku ya, karena aku hanya punya kak Nayla seorang." Ucap Putra mengingatkan Adi, dengan gaya lucunya.
"Ehh.. iya paman salah. paman hanya menyukai Putra saja. Jadi paman akan tidur bersama Putra selama kak Nayla tak ada dirumah." Jawab Adi sambil tersenyum.
Nayla hanya terdiam mendengarkan cerita kekasihnya dan adik semata wayangnya, Nayla bahagia bisa memiliki keduanya. dan penuh rasa syukur.
*****