
Nayla berjalan ditempat sembari bolak-balik kiri dan kanan berulang kali. Perasaan bahagia sekaligus gugup menyelimuti malam itu. Hingga terdengar suara ketukan pintu dari dalam kamarnya dan secepatnya ia buka pintu itu.
"Meimei?."
"Ya. Aku tahu kakak pasti sangat nervous karna ini pengalaman pertama kakak tapi setelah ini Meimei jamin gak akan nervous lagi. Hihi.."
"Bagaimana kamu akan menjamin nya? Kamu kan enggak merasakannya. Kakak sangat gugup dek."
"Hahahaha.. dengan cara minum teh hangat ini, sengaja Meimei bikin sendiri agar kakak merasakan rileks sejenak sembari menunggu kak Theo mandi."
"Koqq kamu tahu Theo sedang mandi?." Tanya Nayla sembari mengambil teh dari Meimei.
"Yaa tahu lah, aku ini kan adiknya sering bersama kak bahkan saat kalian ada masalah aku akan mengetahuinya." Ucap Meimei sedetail itu mengetahui kehidupan kakaknya.
"Aishh.. aku lupa kamu sangat peka dan teliti tentang apapun itu. Karena nervous aku jadi gak bisa berpikir jernih, maafkan aku ya." Balas Nayla.
"Gak perlu dipikirkan, ya sudah aku ke kamarku ya. Kakak pasti berhasil malam ini. semangat!"
"Makasih support nya. Aku menyayangimu."
"Aku juga, bye." Balas Meimei singkat dan berlalu dari hadapan Nayla. Nayla mengunci pintunya setelah nya langsung minum teh buatan Meimei sampai habis. Tak menyangka Nayla akan sehaus itu karena menunggu Theo.
"Hughh.. aku telah melakukan apa yang seharusnya bisa aku bantu untuk selanjutnya adalah tugas kakak. Hoamm.. bisa tidur nyenyak malam ini karena tugasku udah selesai." Gumam Meimei yang mulai menutup matanya.
"Emm... Perasaan apa ini? A-aku.. sangat panas. T-theo.. emm.." Ucap Nayla saat merasakan sensasi setelah minum teh. Nayla tak bisa menahannya, ia sangat menginginkan tubuh suaminya itu.
Tak lama kemudian Theo keluar dari kamar mandi matanya langsung tertuju pada pemandangan panorama istrinya yang sudah berwajah merah merona dengan menggeliatkan tubuhnya pada kasur. Suara nya tak berhenti memanggil Theo dengan sangat mesra.
"Ada apa ini? Sayang kamu minum wine kah?." Tanya Theo yang masih penasaran.
"A-aku minum teh saja."
Sampai sini Theo baru mengerti jika adiknya itulah yang membuat Nayla seperti ini dan Theo sedikit berterimakasih padanya dengan senyum sumringah melihat Nayla. Dia mengerti harus melakukan apa pada istrinya ini.
"Sayang.. sini.. aku sangat ingin, tolong bantu aku."
Theo mendekati Nayla kemudian menyentuh tubuh nya dan memberikan kecupan mesra. Nayla sangat menikmati setiap tindakan yang dilakukan suaminya itu. Hingga terjadi apa yang selama ini Meimei katakan, melakukan hal yang menyenangkan.
"Kamu sangat pelan, cobalah dengan cepat! A-aku sangat ingin sayang emm... Ahh.."
"Hehe, aku akan melakukan nya lebih brutal lagi."
Dan terjadi lah hubungan suami istri layaknya pasangan lain, jangankan rasa gugup rasa trauma saja sudah hilang dalam benak Nayla. Mereka melakukannya dengan penuh kenikmatan disetiap tindakan pada malam yang penuh dengan kehangatan. Nafsu Theo terbalaskan dengan puas.
Setelah pagi harinya..
Diawali dengan senyuman bahagia dari Theo ketika melihat istrinya itu masih dalam keadaan tidur nyenyak. Ia tak sedikit pun ada niat membangunkan Nayla karena tahu pasti masih kelelahan pikirnya.
Theo turun dan ingin masak khusus untuk istrinya sebagai hadiah karena melayani nya dengan baik.
"Tumben udah bangun pagi gini." Sapa Theo pada Meimei yang berada di meja makan.
"Ahh sudahlah, aku bangun pagi salah. Bangun siang juga salah. Ehh, bagaimana semalam oke kan?." Tanya Meimei yang tidak ada rasa sungkan pada seorang kakak pria.
"Hahahaha.. sangat seru, makasih yaa dek telah banyak membantu. Kamu memang paling tahu apa yang terjadi pada kakak dan selalu menyelesaikan masalah yang kakak hadapi. Jika kamu menikah nanti pasti kakak sangat kesepian." Jawab Theo yang tak ingin kehilangan adiknya.
"Tentu dong, setelah ini harus berjanji kalian akan selalu harmonis dalam berumah tangga. Aku akan memilih takdirku! Kakak jangan terus mengandalkan ku! Jika udah menikah maka aku akan fokus pada keluarga ku." Tutur Meimei.
"Haishhh.. jangan terburu-buru menikah."
"Tumben ingin melanjutkan studi mu, bukannya kamu udah gak mau kemarin ya?."
"Ahh itu karna aku ingin dekat Rakha." Gumam Meimei dalam hatinya.
"Memangnya kenapa jika aku kuliah lagi? Apa kakak gak ingin aku meneruskan bakatku di bidang fashion? Hughh..." Tanya Meimei tak suka.
"Hmm.. siapa yang bilang gak boleh? Justru kakak akan mendukung mu di barisan paling depan."
"Ahh makasih.. kakak memang paling the best yang Meimei punya. Aku akan belajar lebih giat lagi tentang dunia fashion." Tutur Meimei sumringah.
Theo hanya tersenyum mendengarnya. Ia melanjutkan acara masak untuk hadiah istrinya. Bagaimana dengan istrinya? Pagi hari itu Nayla membuka matanya perlahan, pandangan nya tertuju pada bantal yang biasa Theo gunakan. Ia tak mendapati Theo berbaring disana.
"Aduh.. sakit sekali tubuhku, ahh.." ia menggerakkan tubuhnya secara perlahan karena ingin mencari keberadaan suaminya itu. Melihat ke kamar mandi Theo tiada, ia bersusah payah melangkah karena ada sesuatu yang sakit.
"Rasanya sangat enggak nyaman, apakah aku sedang cedera. Mengapa kakiku terasa sulit berjalan, ada bekas yang sangat sakit dari dalam tubuhku. Duhh.." pikir Nayla sembari berjalan sangat pelan karena jika kedua kakinya bertabrakan maka rasa linu itu muncul.
"Untunglah ada lift jadi gak terlalu banyak berjalan. Tapi aku jadi ingat saat pertama kali dibawa kerumah Theo dalam keadaan pingsan. Wajah tampan nya sudah membuatku terpesona pada pandangan pertama. Enggak nyangka jika kami akan berjodoh, ciuman pertama ku juga diambil olehnya dan kini kesucian ku telah diberikan untuknya. Tanpa aku sadari ternyata tubuhku ini adalah milik Theo seutuhnya."
"Aku bahagia bisa memberikan yang terbaik dalam hidupku untuk orang sebaik Theo. Kebersamaan ini akan terus aku jaga sampai kapan pun."
Ting !!!
Suara lift berbunyi dan Nayla berjalan pelan keluar dari lift tersebut, Theo melihat Nayla yang sedang berjalan menghampiri kakak dan adik itu.
"Pagi sayang.." Ucap Nayla pelan.
"Pagi juga kak." Balas Meimei.
"Koqq sudah bangun? Memangnya enggak lelah kah? Harusnya beristirahat lah lebih banyak lagi." Sahut Theo dan Nayla menjawab.
"Aku enggak lihat kamu jadi pergi mencarimu. Aku pikir kamu telah berangkat kerja."
"Oh, hari ini aku mengambil cuti. Aku sedang masak untukmu. Tadinya saat selesai masak aku akan naik ke atas lagi membawakan makanan ini untukmu."
"Aaww.. so sweet banget sih kalian, jadi pengen nikah juga dech." Sahut Meimei iri melihatnya.
"Hahahaha.. katanya mau kuliah dulu." Jawab Nayla dengan senyuman manis.
"Yaa begitulah, tadi juga berkata padaku akan belajar yang giat. Tapi melihat keromantisan kita dia jadi iri hehehe.."Ujar Theo.
"Ehekk.. aku hanya bercanda. Lagian pacar aja belum punya bagaimana aku akan menikah. Kakak lama sekali sih masaknya aku kan udah laper." Jawab Meimei yang tak sabaran.
"Udah selesai koqq, tinggal menuangkan nasi goreng nya ke piring dan menambahkan hiasan sederhana. Tapi ini khusus untuk istriku tersayang, kalau untukmu ambil sendiri ya."
"Haishhh.. seketika aku terlupakan." Ucap Meimei dengan wajah cemberut dan Nayla hanya tersenyum melihat semua ini, ia bahagia memiliki keluarga yang lengkap. Tapi ia tak melihat Putra karena adiknya itu masih terlelap.
"Terimakasih sayang.. masakan mu sangat lezat. Aku ingin makan yang banyak." Puji Nayla yang sangat menikmati masakan suaminya itu.
"Udah gak heran koqq, kak Theo sangat pandai dalam segala hal. Termasuk meluluhkan hati kakak ipar hahahaha.." Ungkap Meimei.
"Makasih atas pujian nya, tapi Meimei selangkah lebih maju dari padaku, hehe." Sahut Theo.
"Aku tahu koqq kalian keluarga terhebat yang aku miliki, aku hanya bisa menyayangi kalian dengan tulus. Terimakasih telah hadir dalam hidupku." Ucap Nayla terharu pada keduanya.
"Oww... Melow." Tutur Meimei segera memeluk Nayla dan Theo hanya memberikan senyuman tulus.