
Pagi itu Ani dengan bahagia menghangatkan tubuh nya di bawah mentari yang menyinari bumi dengan cahaya nya, membuat tubuh Ani tampak lebih segar dan sesekali melakukan gerakan olahraga ringan. Di masa kehamilannya yang tinggal menghitung hari dari hari perkiraan lahir sang bayi, ia sangat gugup karena pengalaman pertama nya menjadi wanita hamil. Bayi dalam kandungannya sangat sehat dan kuat itu berkat sang ibu yang siap memberikan asupan makanan bernutrisi, hasil terakhir dari seorang bidan bahwa Ani tak lama lagi akan melahirkan.
"Sayang.. jangan terlalu kelelahan ya. Kamu harus menjaga anak kita." Ucap Adi perhatian.
"He'em jangan khawatir. Aku menjaganya dengan sebaik mungkin hanya saja pasca melahirkan aku menjadi lebih sering bergejala."
"Kata dokter normal koqq, jangan tegang ya. Pasti bisa melahirkan dengan lancar karna kan waktu bikinnya sangat lancar. Hehehe.." sambung Adi.
"Hughh.. saat anak kita lahir kamu akan puasa lama lohh, yakin nihh gak pengen lagi?." Goda Ani.
"Gak apa-apa koqq. Aku akan bermain sama anak kita nanti, lagian aku lihat nya gak tega banget. Takut debay nya kenapa-kenapa kalau keseringan hubungan intim." Jawab Adi polos.
"Hahaha.. kan dokternya bilang jika melakukan nya sering saat hamil tua itu bagus jadi membuka jalan lahir nya sang bayi." Ujar Ani tersenyum.
"Emm.. tapi tetep aja gak tega bawaan nya."
"Beneran?." Tanya Ani.
"Hehe, nanti malam ya kita cobain." Jawab Adi.
"Hahaha.. makasih ya sayang selalu menemaniku walaupun suasana hatiku sering berubah akibat hormonal." Ucap Ani tulus.
"Ahh.. udah kewajiban ku sebagai suami mu."
"Dan aku adalah istrimu."
"Oya.. mengapa kamu sangat cepat mencintaiku?." Tanya Ani sembari menatap Adi.
"Karena kau tampak bahagia saat kau benar-benar bahagia dan tampak tidak bahagia saat kau merasa tidak bahagia. Jika kau suka sesuatu kau akan menyukainya dari lubuk hatimu, jika tidak suka kau akan menunjukkan rasa bencimu, kau tidak seperti mereka selalu bertele-tele sebelum mengatakan yang mereka inginkan. mereka tersenyum sambil berkata sebaliknya. Jadi, saat aku bersama mu aku juga bisa tertawa saat aku bahagia dan aku bisa menunjukkan amarahku saat aku marah." Jawab Adi mengutarakan semua pikiran nya.
"Kita akan menjadi diri sendiri saat didepan orang yang kita cintai, berekspresi dengan semua tingkah laku kita dan berkata dengan apa adanya. Tidak perlu menutup diri karena yang tulus akan selalu membuka sifat kita pada kenyataan." Ujar Ani tersenyum dan Adi langsung memeluknya.
Bincang hangat itu membuat keduanya makin bahagia. Tak lama kemudian pria paruh baya datang kekediaman Adi dan satpam penjaga rumah membuka pintu dan membiarkan pria itu masuk.
Ani melihat dari kejauhan sosok tersebut yang semakin mendekati mereka.
"Sayang itu siapa?." Tanya Ani penasaran.
"Untuk apa lagi sih dia datang!." Gerutu Adi.
"Jangan marah ya, mungkin ada kepentingan sama kamu." Sahut Ani.
"Hmm.. belum cukup puas apa atas kelakuannya bikin Mama menderita di akhir hayatnya."
"Apa? Jangan-jangan..." Pembicaraan Ani terpotong setelah ayahnya Adi menatapnya.
"Untuk apa papa kembali lagi? Belum puas nyakitin aku dan mama. Hah?." Tanya Adi kasar.
"Nak maafkan papa, selama ini mengabaikan mama dan kamu di saat-saat terakhir mama. Papa sungguh menyesal terhasut wanita murahan itu." Jawab ayahnya Adi menatap Adi sendu.
"Kau sendiri yang menginginkan nya jadi untuk apalagi menyesali nya, maaf mu juga gak akan bisa bikin mama hidup kembali. Pergi sanaaa..!!!"
"Papa memang gak pantas lagi muncul dihadapan mu, kesalahan papa gak bisa di maafkan lagi." Ucap ayahnya dengan kesedihannya.
"Aduhh.. pusing sekali kepalaku. Sayang.. tolong ambilkan minyak aroma terapi dalam kamar di bawah bantal ya." Ucap Ani berdalih sembari memegang kepalanya.
"Sayang? Ayo kita masuk ke dalam saja. Disini memang gak bagus untuk bayi kita. Apalagi ada aura negatif seseorang." Jawab Adi khawatir.
"Sayang kamu ambilkan dulu minyaknya biar aku gak tegang menghadapi persalinan ini." Ucap Ani lagi dan Adi hanya bisa menuruti permintaan istrinya itu, ia bergegas meninggalkan Ani dan masuk ke dalam rumah.
"Nak? Kamu istrinya Adi?." Tanya Mahendra.
"Iya pa, masuk dulu yuk ngopi." Jawab Ani sopan.
"Adi beruntung mendapatkan istri sebaik kamu tapi papa seperti nya sudah gak bisa masuk rumah itu lagi. Kamu lihat betapa bencinya Adi padaku tadi kan? Mungkin ini salah satu cara untuk membuat Adi melupakan kesalahan papanya dengan memutuskan ikatan ayah dan anak. Ini cukup adil bagiku dan dia." Ucap Mahendra sembari mengerutkan keningnya yang terlihat sedih.
"Sebesar apapun kesalahan pintu maaf haruslah tetap terbuka, kelihatan papa lebih menderita akhir-akhir ini. Jadi aku akan berusaha membujuk Adi agar memaafkan mu kembali." Sahut Ani sembari berjalan santai dan Mahendra mengikuti dari belakang.
"Aku meninggalkan orang terpenting dalam hidupku demi cinta buta semata dan menghancurkan semua kebahagiaan Adi selama ini, aku bukan ayah yang baik dalam ingatan nya. Sangat kasar dan semenah-menah pada hidupnya, ini kesalahan yang sangat besar. Aku mengerti Adi bersikap seperti itu karna terlalu banyak luka yang di dapatkan nya dariku. Tapi sebelum meninggal aku ingin meminta maaf agar di neraka dendam nya tak menyalah terus menerus jadi lebih meringankan beban ku." Ucap Mahendra putus asa, agar waktu bisa di ulang kembali mungkin tak akan semenderita ini di masa tua nya.
"Hughh, Adi hanya kecewa saja nanti juga baik lagi, sifat baiknya gak mungkin tega membuang ayahnya sendiri." Sahut Ani menyadarkan papanya Adi bahwa perlakuannya memanglah salah.
Ani menuangkan teh hangat untuk Mahendra dan Mahendra minum teh itu dengan gemetar. Kemudian Adi melihat keduanya dengan tatapan tajam.
"Sayang jangan dekat dengannya." Ucap Adi menjauhkan Ani dari Mahendra tetapi Ani menepuk tangan Adi dengan lembut.
"Minumlah dulu." Balas Ani sembari menbantu Adi duduk di sebelah ayahnya.
"Aku sebagai istrimu, anggota keluarga yang sangat dekat denganmu dan sebentar lagi kita akan mempunyai anak lalu ia tumbuh dewasa sering berjalan nya waktu ketika itulah akan menanyakan banyak pertanyaan tentang keluarga, siapa kakek dan neneknya, siapa paman dan bibi nya, siapa aja keluarga ayah dan ibunya. Kamu tentu akan menjawab semuanya tetapi saat ia bertanya kakeknya? Lalu kamu akan mengingat kejadian masalalu yang mungkin sangat sakit bagimu oleh karna itu selesaikan apa yang bisa di selesaikan dalam sebuah masalah. Untuk apa terus menyimpan kenangan buruk jika bisa menciptakan kenangan indah." Tutur Ani menengahi konflik ayah dan anak ini, ia hanya ingin mereka berbaikan. Adi menatap langit-langit dengan wajah sendu. Ia tak membiarkan pipinya di basahi oleh air mata.
"Aku sudah bahagia memiliki kamu, yang tulus mendampingi ku dalam kesulitan. Tapi bayangan kejam itu selalu menghantui pikiran ku saat melihat wajahnya." Ucap Adi tegas.
"Maafkan papa nak! Pukul saja sampai mati jika bisa menebus semua kesalahan papa. Orang tua bodoh sepertiku gak layak hidup hiksss.." Jawab Mahendra sujud di kaki Adi dengan menangis.
"Paa, jangan paa!!! Sayang.. lepaskanlah semua dendam mu dan kita mulai dari awal lagi." Teriak Ani sembari membantu Mahendra berdiri.
"Hmmm... Baiklah, aku beri kesempatan papa sekali lagi untuk memperbaiki semuanya. Tetapi jangan pernah menemui perempuan itu lagi." Ucap Adi dan Ani menjadi lega mendengarnya.
"Terimakasih nak, papa berjanji gak akan mengulangi kesalahan untuk keduanya kalinya. Dan papa sudah bercerai dengan wanita itu." Sahut papa nya Adi dengan tersenyum.
"Aku pegang janji papa." Jawab Adi tersenyum.
"Syukurlah kamu sudah memaafkan papa, aku ikut bahagia. Hubungan ayah dan anak gak boleh putus hanya karna seorang wanita liar, pelajaran untuk kedepannya agar menjalin hubungan lebih baik lagi ya." Tutur Ani lega dan Adi menjawabnya.
"Siap Bu guru cantik. Maaf membuat anak kita kaget dengan kejadian seperti ini."
"Hahaha.. anak kita tentu bangga memiliki ayah sebaik kamu, super hero dan bijaksana katanya." Jawab Ani tertawa dan Mahendra ikut tersenyum melihat Ani.
"Katanya ingin di usap kakek." Sambung Ani lagi.
"Hahaha.. anak manja, cucuku sayang." Tutur Mahendra dan Adi menatapnya lalu mengangguk.
Mahendra mengusap perut Ani dengan rasa terharunya, begitu banyak hal yang ia tinggalkan bahkan sekarang akan memiliki cucu dari menantu yang baru saja di lihatnya. Membuat nya ingin hidup lebih lama lagi.