ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
Chapter 19. Jepang



Dengan adanya Adi di sisi Nayla, itu membuat Nayla merasa lebih lebih baik dalam menjalankan tugasnya pada pembuatan iklan kali ini. Nayla sudah tenang mempercayakan Putra pada Adi.


Akhirnya Nayla memberi kabar pada Meimei, jika besok berangkat ke Jepang maka, Nayla sudah siap untuk berkata iya. Perjalanan kali ini membuatnya semangat. Ini di lakukan nya untuk adiknya tersayang yakni Putra.


"Halo, bagaimana nak? kapan kita bisa berangkat ke negara Jepang? Ibu kecil sudah menyetujui nya."


"Wahh.. Meimei sangat senang mendengar yang baru saja ibu kecil ucapkan. Secepatnya kita bisa berangkat.


Apakah ibu kecil sudah mempunyai paspor?" Tanya Meimei.


Paspor adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dari suatu negara yang memuat identitas pemegangnya dan berlaku untuk melakukan perjalanan antar negara.


"Untuk semua dokumen, sudah aku persiapkan. Aku tahu ini akan dibutuhkan sewaktu-waktu jadi aku mempersiapkan nya dari dahulu." Ucap Nayla menjelaskan pada Lingmei.


"Ibu kecil memang teliti dan tak pernah ingin merepotkan orang lain, saat dibutuhkan semua sudah siap. Itulah aku sangat sayang pada ibu kecil, sifatnya dan wajah ibu kecil begitu mirip dengan ibu kandung ku."


"Mungkin kita bisa berangkat besok sorenya saja jika ibu kecil tak keberatan." Sambung Lingmei.


"Sama sekali tidak. Ini sudah menjadi tugasku, aku akan mengikuti perkataan Meimei." Jawab Nayla bertanggung jawab akan tugasnya.


"Terimakasih ibu kecil."


Telpon nya pun tertutup. Nayla, Putra dan Adi makan malam bersama menikmati hidangan dari masakan Nayla. Setelahnya, Adi pun berpamitan untuk pulang.


"Nay? Aku pulang dahulu ya. Jaga dirimu baik-baik dan tak perlu cemas tentang Putra. Aku akan menemaninya selalu. berangkat lah dengan penuh semangat dan berikan yang terbaik." Ucap Adi.


"Terimakasih sayang atas perhatian mu, aku sangat mencintaimu." Ucap Nayla.


"Aku juga mencintaimu." Jawab Adi memegang tangan Nayla dengan lembut.


Adi pun berlalu meninggalkan Nayla. hingga keesokkan harinya, Nayla sibuk mempersiapkan keberangkatan nya untuk ke negara Jepang. Sebetulnya ia merasa sedih meninggalkan Putra dalam seminggu ini, tetapi dia berjanji akan selalu menghubungi Putra melalui sambungan video call pada sebuah aplikasi canggih sehingga merasa dekat bersama Putra maupun Adi.


Nayla dan Lingmei saling terus memberi kabar satu sama lain, hingga sore hari tiba. Mereka memutuskan untuk berangkat ke Jepang. Adi dan Putra ikut mengantar kepergian Nayla.


Dicium nya Putra berkali-kali, sangat ingin menangis perasaaan Nayla saat meninggalkan Putra. Tetapi ia tak ingin Putra melihatnya meneteskan air mata.


"Anak baik, anak pandai, kakak sangat menyayangimu. Jangan nakal dan jaga dirimu dengan baik." Ucap Nayla melihat Putra dengan pandangan mata yang berkaca-kaca. Sesekali melihat ke atas langit-langit bandara Internasional China. guna menahan air matanya menetes.


"Kakak, ingat untuk selalu menghubungi ku. Aku akan menjadi anak yang baik. kakak harus semangat dalam bekerja. Jika aku sudah besar, kakak tak akan aku izinkan untuk bekerja lagi." Tutur Putra yang terlihat dewasa saat bicara tetapi tetap dengan gayanya yang lucu.


Kemudian Nayla yang sudah dari tadi sedih. ingin sekali menangis, tiba-tiba jadi tertawa bahagia mendengar perkataan Putra. Adikku, aku tak ingin engkau cepat bertumbuh besar. Aku selalu ingin melihat mu seperti ini. Nayla terjaga dalam lamunannya saat melihat Putra.


"Ibu kecil, Putra sangat lucu. Ia pandai berbicara, dan sangat sopan. Tetapi sudah waktunya tiket pesawat kita untuk check-in. Ini hanya seminggu, ibu kecil jangan bersedih ya." Ucap Lingmei menenangkan hati ibu kecil nya tersebut.


Lalu Nayla pun meninggalkan Putra untuk pertama kalinya, kisah sedih bercampur haru membuat Nayla meneteskan air matanya. saat tubuhnya berbalik membelakangi Putra. air mata mengalir dengan derasnya tetapi secepat mungkin ia lap menggunakan tissue. dan mengalihkan tubuhnya ke hadapan Putra kembali. Tak mampu berbicara, hanya tersenyum dan melambaikan tangan kepada adik tersayang nya itu.


Kakak yang berkerja keras untuk masa depan adiknya, walaupun harus meninggalkannya tetapi semata-mata untuk membahagiakan adiknya tersebut.


Ini mungkin salah di mata orang lain, tetapi sudah menjadi komitmen Nayla untuk bertanggung jawab penuh atas hidup Putra.


Lingmei hanya memperhatikan Nayla yang tertidur, melihat wajah nya dengan tersenyum. Perjalanan ini membuat Lingmei bahagia. Tak lama kemudian mereka mendarat dengan selamat.


"Ibu kecil, maaf mengganggu ibu kecil yang sedang tertidur, tetapi kita sudah sampai di Jepang." Ucap Lingmei senang.


"Wahh.. kita sudah sampai, aku ingin menghubungi Putra dahulu. Bolehkah? Sebentar saja. Mohon maaf." Tutur Nayla meminta izin pada Lingmei.


"Tak mengapa, aku juga akan menelpon kakak. Karena dari kemarin ia sudah berada di Jepang." Jawab Lingmei.


Secara bersamaan mereka menghubungi Lingtheo dan juga Putra.


"Kakak sudah sampai, apakah Putra sudah makan malam?" Tanya Nayla.


"Wahh.. tempatnya indah kak, jika aku sudah besar ingin pergi bersama kak Nayla kesana." Tutur Putra senang.


"Hati-hati ya Nay, tak perlu memikirkan Putra disini, aku selalu menemani nya. Tetap fokus pada pekerjaan mu, dan cepat kembali ya." Sahut Adi.


"Apakah kalian sudah makan malam? Jangan terlambat makan ya. Aku baru saja sampai tujuan, sudah dulu ya. Nanti akan aku telepon lagi." Ucap Nayla terburu-buru karena jemputan nya sudah sampai tepat di depan mereka menunggu.


"Baiklah, jangan lupa untuk makan. Aku dan Putra baru saja selesai makan." Jawab Adi dengan perhatian.


"Sampai jumpa lagi kak." Ucap Putra.


Lalu percakapan mereka lewat video call pun berakhir. walaupun panggilan keluar negeri lumayan mahal, tetap saja Nayla berusaha untuk menghubungi adiknya tersebut sesering mungkin.


Lingmei dan Nayla dijemput menggunakan mobil mewah sehingga orang-orang dibandara cukup terperangah ketika melihatnya.


Tak lama kemudian sampailah mereka pada rumah yang sangat mewah nan megah itu, disitulah Nayla mengikuti langkah kaki Lingmei turun. dilihatnya ke atas ke bawah, sekeliling bangunan yang megah tersebut sangat mirip dengan desain rumahnya Lingtheo yang berada di China.


"Jangan bilang dalam rumahnya nanti akan ada lift tercanggih yang pernah aku lihat." Gumam Nayla dalam hati.


Para pelayan datang berhamburan, tak bisa menghitung betapa banyaknya jumlah pelayan dirumah megah ini. Nayla sampai menggelengkan kepalanya berkali-kali, melihat betapa kaya raya kehidupan mereka. kemudian Nayla merasa minder atas penglihatannya.


"Ibu kecil mengapa? Biarkan mereka saja yang membawakan kopernya. Aku akan mengantar ibu kecil menuju kamarnya. Lalu beristirahat lah sebentar kemudian kita akan makan malam bersama." Ucap Lingmei dengan wajah tersenyum.


Dan benar saja Lingmei mengajak Nayla untuk naik lift tercanggih, terdapat bnyak kode dalam lift tersebut. lalu akan terbuka jika pemilik rumah tersebut saja yang mendekatinya lift nya.


"Wahh.. lift ini sungguh canggih, mengapa aku tak mengetahui bahwa adanya lift canggih didunia ini yang di desain hanya untuk pemilik rumahnya saja." Ucap Nayla kagum sekaligus penasaran pada lift tersebut.


"Iya. ibu kecil memang betul, lift ini khusus dipesan oleh kakakku dan langsung keluar dari idenya sendiri untuk membuat lift seperti ini. Lift ini tak dijual dipasaran bu, lift ini hanya ada dalam keluarga Ling saja." Ucap Lingmei menjelaskan pada ibu kecil.


Mereka lalu menaiki lift untuk pergi ke lantai atas rumahnya keluarga Ling, yang hanya di huni oleh Lingmei seorang. sesekali paman dan bibinya datang dari negara lain, hanya untuk menginap karena mereka datang untuk perjalanan bisnis terkadang menikmati keindahan kota tokyo saja.


Lift terbuka saat Lingmei mendekatinya dan otomatis berjalan ke atas tanpa harus ditekan tombol nya. Lalu Lingmei mengantar ke kamar Nayla tepat bersampingan dengan kamar Lingtheo.


Tak nampak wajah dari Lingtheo, apakah benar ia ada di Jepang. Tapi kenapa tak menemui Lingmei dan Nayla? Sepertinya Lingtheo orang yang sangat sibuk, lalu Lingmei dan Nayla pun pergi beristirahat dikamar masing-masing.


*****