
Setelah hampir dua minggu mereka di Jepang..
Menghabiskan waktu bersama dalam cinta yang berbalut kebahagiaan, hanya ada tertawa dan berbagi cerita juga berlibur ke tempat wisata. Banyak yang kagum pada keharmonisan mereka, sudah seperti satu keluarga yang utuh. Tapi sampai saat ini Xinyue tidak mengetahui bahwa Nayla hanyalah ibu sambungnya dan mereka belum ada ikatan pernikahan jadi mau tak mau mereka harus meninggalkan Xinyue sebentar untuk mengadakan pernikahan. Karena Xinyue anak yang sangat pengertian, ia dapat menerima kepulangan Theo dan Nayla. Juga Meimei ikut kembali ke China.
Hadirnya Nayla dalam kehidupan Theo memberikan warna lebih hangat lagi, ia berhasil menjadi ibu yang baik untuk Xinyue. Kehidupan inilah yang di idamkan setiap orang, punya keluarga yang lengkap dan harmonis.
"Sebetulnya Yuyu masih ingin mommy dan Dady menemani Yuyu disini, tapi Yuyu juga paham koqq bahwa mommy dan Dady harus kembali bekerja. Jika ada waktu senggang lagi jangan sungkan berkunjung menemui Yuyu yaa." Ujar Xinyue.
"Yaa sayang, jaga dirimu baik-baik ya. Mommy dan Dady akan kembali saat Yuyu melakukan operasi mata. Tidak lama koqq sebulan lagi, mommy dan Dady ingin sekali saat pertama kali Yuyu dapat melihat, yang di lihat Yuyu duluan adalah mommy dan Dady. Jadi, Yuyu harus semangat ya dan jangan takut. Karena Yuyu adalah anak yang kuat. Mommy dan Dady mencintai Yuyu selalu." Jawab Nayla dengan lembut. Ia mengusap tangan kecil Xinyue. Dan Theo juga ikut menimpali.
"Benar perkataan mommy, Yuyu jangan berpikir jika mommy dan Dady pergi jauh itu bukan karena kami tidak menyayangi mu. Tapi karena memang belum saatnya kita bersama, Oma juga pasti sangat kesepian jika Yuyu tak ada dekat Oma kan. Yuyu jangan bersedih ya."
"Baiklah, Yuyu sayang kalian tapi Yuyu juga tak bisa meninggalkan Oma sendirian disini Mommy Dady ingin berpelukan dong." Jawab Xinyue.
"Utututu.. kesayanganku.." tutur Nayla sembari memeluk Xinyue, Theo juga ikut memeluk Xinyue. Meimei yang melihatnya ingin juga memeluk Xinyue.
"Yuyu.. aunty juga mau dong di peluk Yuyu." Ujar Meimei dan Xinyue melepaskan pelukan kedua orangtuanya lalu berjalan ke arah Meimei dan memeluk erat bibi nya itu.
"Jadi tak ada yang ingin berpelukan sama Oma kah?" Ucap Oma, lalu Nayla pun dengan cepat memeluk Oma.
"Oma Nayla pamit dulu ya, ingin melangsungkan pernikahan sebentar. Jaga kesehatan selalu ya Oma tunggu Nayla memberikan Oma cicit baru lagi. Hihihi.." bisik Nayla pelan.
"Hahaha, Oma doakan lancar ya. Maaf Oma tak bisa melihat kalian menikah karena Oma harus mengurus jadwal operasi mata Yuyu. Bahagia selalu sayang, dan jangan lupa untuk mengirim gambar pernikahan kalian." Bisik Oma kembali karena tak ingin di dengar Xinyue.
"Baiklah Oma, secepat mungkin kami akan memberi Oma kabar jika sudah sampai dan juga mempersiapkan pernikahan secepatnya, kalau begitu Nayla pergi dulu ya Oma." Balas Nayla dengan lembut dan memberikan senyuman tulus.
Tak lama kemudian disusul Theo dan Meimei juga berpamitan kepada Oma, hingga mereka berlalu dan rumah menjadi sepi kembali.
Tiga jam perjalanan akhirnya mereka sampai di bandara Shanghai, China. Kemudian perlahan turun, Meimei yang saat itu turun lebih dahulu selalu bisa mengabadikan momen Nayla dan Theo. Mengambil gambar dan mengirimkan nya pada neneknya itu. Nenek jadi tahu tentang keromantisan sepasang kekasih ini dan tersenyum setiap kali melihat foto Nayla dan Theo.
Karena dalam perjalanan sehingga handphone di non aktifkan, setelah sampai di bandara baru lah mereka mengaktifkan kembali dan Nayla mendapatkan kabar dari pihak rumah sakit bahwa Putra sudah pulih kembali. Maklum saja Nayla menghabiskan waktu di Jepang selama dua Minggu lamanya. Tetapi tetap hatinya memikirkan adiknya itu dan terus menghubungi pihak rumah sakit agar bisa mengetahui keadaan Putra.
"Syukurlah, Putra udah bisa di lihat. Aku udah gak sabar dech melihat Putra. Theo? Bisakah kita langsung kerumah sakit sekarang? Tapi jika kamu ingin beristirahat dahulu juga gak apa-apa, aku bisa kesana naik taksi aja bagaimana?." Ujar Nayla menatap Theo dan Theo pun menjawab.
"Jadi keadaan Putra udah baik? Kita bisa melihatnya? Harus segara kesana lagian dalam pesawat kita banyak tertidur. Aku enggak terlalu merasa kelelahan. Bagaimana dengan Meimei?"
Theo melihat adiknya itu dalam kelelahan. Sepertinya tak bisa untuknya melihat Putra sekarang, jadi dia berkata pada Nayla dan juga kakaknya. "Emm, kalian kesana duluan aja ya, nanti malam Meimei menyusul oke? Sebaiknya aku minta jemput sama paman Bai aja. Kakak temani ibu kecil ke rumah sakit."
"Kakak gak bisa biarin kamu sendirian disini, Nayla? Gak apa-apa kan jika menunggu sebentar sampai paman Bai datang menjemput Meimei." Ucap Theo.
"Iya gak apa-apa koqq, kalau gitu kita cari tempat yang enak untuk menunggu ya." Balas Nayla. Dan mereka pun pergi ke sebuah cafe, memesan Coffe dan roti. Lagi-lagi Meimei mengambil gambar mereka, adiknya ini sudah seperti paparazi bagi keduanya jadi mereka hanya diam saja ketika tahu Meimei sedang mengambil gambar. Tak lama kemudian paman Bai sampai di titik tempat mereka berdiam, dan Meimei pun pamit pulang. Paman Bai menyapa dan memberikan senyum kemudian berlalu meninggalkan keduanya.
Sesampainya di rumah sakit Nayla bergegas keruangan Putra dan di depan ruang Putra dokter sedang berjaga menunggu Nayla dan Theo.
"Dokter? Bagaimana keadaan adik saya?" Tanya Nayla dan melihat Putra lewat kaca pintu.
"Putra sudah bisa dilihat ya, tapi jangan bertanya yang bisa membuat trauma nya kembali karena ia belum bisa dikatakan sembuh. Bicara yang baik saja. Atau jangan membuat nya panik saat berbicara." Jawab dokter memberikan penjelasan.
"Baiklah dokter, kalau begitu terimakasih banyak ya atas bantuan nya selama ini." Sahut Theo.
Dokter tersenyum lalu meninggalkan mereka dan Theo bersama Nayla pun masuk ke ruangan Putra dan melihat secara langsung keadaan Putra.