
Rakha dan Meimei telah berada di sebuah toko yang menjual khusus kebutuhan bayi, Meimei senang melihat pakaian bayi yang sangat lucu.
"Tuan dan nyonya ada yang bisa kami bantu?." Sapa Pramuniaga yang sedang bekerja.
"Oyaa.. untuk kado lahiran sebaiknya kami memilih yang mana ya?." Tanya Meimei.
"Oh begitu saya kira untuk persiapan baby kalian, mari saya tunjukkan tempatnya."
"Eemm.. saya belum jadi nyonya, masih menjadi nona muda di sebuah keluarga." Sahut Meimei.
"Maafkan saya telah lancang dalam bertutur kata." Balas pramuniaga dengan senyum malu.
"Sedang di usahakan, doakan saja ya. Hehe.." Ucap Rakha tersenyum pada pramuniaga tersebut tetapi Meimei menatap tajam ke arah Rakha.
"Ehmm.. dimana tempatnya?." Tanya Meimei.
"Silahkan kak." Jawabnya sopan dan mengarahkan ke tempat pernak pernik kado bayi membanjiri ruangan itu. Meimei terkesima melihatnya.
"Wowww.. sangat cantik, pilih yang ini. Pilih yang itu dan ambilkan yang ini juga lalu..." Ucap Meimei kalap membeli beberapa dus kado.
"Sayang.. udah ya. Jangan banyak-banyak, inikan hanya teman bukan kakak ipar yang lahiran." Potong Rakha dan Meimei kembali tersadar.
"Hehe, yang itu gak jadi ya. Ambil yang ini saja." Balas Meimei malu setelah melihat sangat banyak pembelian nya dan Rakha hanya tersenyum.
Di lain tempat Nayla dan Theo juga membeli gaun bayi dengan seperlunya saja. Nayla juga mengambil sepatunya jikalau anaknya tumbuh besar dan bisa berjalan pasti dibutuhkan ibunya.
Keinginannya sangat besar untuk mempunyai anak tapi tak mampu berbuat apa-apa karena mutlak pemberian sang pencipta. Keduanya pergi ke rumah sakit yang di tunjukkan Adi mereka sudah tahu jika teman nya itu pasti akan berkunjung, Ani juga sudah lebih baik keadaannya. Asi nya sangat deras dan melimpah membuat bayinya makin gemuk saja.
"Sayang kapan kita pulang?." Tanya Ani.
"Sepertinya besok, dokter mengatakan kondisi mu sangat sehat jadi sudah boleh pulang keesokan harinya." Jawab Adi sembari menggendong buah hatinya, Adi terbiasa dalam urusan bayi karena Qiara selama ini juga di asuh olehnya.
"Paman aku ingin mencium nya dong." Pinta Qiara.
"Boleh, pelan-pelan ya sayang." Jawab Adi menurunkan dirinya agar Qiara lebih dekat dengan bayinya itu. Mahendra juga ada di ruangan itu ikut membantu keperluan anaknya, ia juga mengingat saat Adi dilahirkan ke dunia untuk pertama kalinya ia menjadi seorang ayah tapi kata itu tak pantas untuk nya. Terlalu banyak kesalahannya pada keluarga jadi sangat tak pantas disebut ayah.
Tak lama kemudian Meimei dan Rakha mengetuk pintu dan Mahendra membukanya.
"Cie.. jadi ayah nih? Selamat ya Di." Sapa Rakha setelah melihat Adi menggendong anaknya.
"Hahaha.. kalian kapan menyusul? Ada anak perempuan nih jika jauh dari generasi nya akan susah menjodohkan nya." Ledek Adi bercanda.
"Masih kuliah, hehe.." Balas Meimei merona.
"Kuliah sambil menikah juga bukan masalah." Sahut Ani tersenyum dan Rakha hanya menggaruk tengkuknya dengan rasa malu.
Di sela pembicaraan mereka hadirlah Theo dan Nayla di ikuti oleh Putra adiknya, Qiara melihat Putra datang dan ia sangat senang.
"Kakak? Kau kesini juga? Wahh.. sangat ramai yang datang demi dedek bayi ini. Dedek bayi kau akan disukai banyak orang saat besar nanti." Ujar Qiara suka dengan pemandangan seperti ini tapi Mahendra malah keluar dari ruangan itu.
"Tentu, mengapa aku tak datang saat semua orang rumah pergi." Jawab Putra singkat.
"Ehh.. lucunya, boleh aunty gendong nak?." Ucap Nayla setelah melihat bayinya.
"Hehe, sini sayang ikut paman." Sahut Theo dan Nayla hanya melihat suaminya itu.
Adi memberikan buah hati nya kepada Theo, lalu Theo mengajak Nayla berbicara. Ani hanya diam melihat Adi yang menatap Nayla.
"Utututuu.. cantiknyaa kak, Meimei ikut gendong dong." Pinta Meimei. Mereka sangat senang melihat bayi itu, di sela nya Nayla mendekati Ani.
"Bagaimana rasanya?." Tanya Nayla.
"Eemmm.. gak bisa diungkapkan dengan kata-kata perjuangannya, sangat sakit tapi terbayarkan setelah melihat nya lahir ke dunia."
"Sayang sekali aku belum dikasih amanah untuk itu." Sahut Nayla berkaca-kaca matanya.
"Sabar dong, aku yakin kamu pasti merasakannya. Nikmati dulu masa-masa muda bersama suami. kata orang yang sudah mempunyai anak, tentu akan sulit bagi suami istri menghabiskan waktu berdua." Jawab Ani tersenyum lembut.
"Begitu ya?." Tanya Nayla singkat.
"Eem. Jalan kita berbeda, aku memiliki nya karna sebuah kecelakaan bagiku tapi kamu menunggu nya juga bukan sebuah kesalahan mu. Jadi menurutku yang terpenting kita masih bersama dengan orang yang kita cintai maka semua akan terlihat baik." Tutur Ani menjelaskan.
"Iya, aku mengerti maksudmu." Senyum Nayla.
Adi keluar mencari ayahnya karena di dalam ruangan itu tidak melihat keberadaan ayahnya.
"Pa? Mengapa termenung saja." Tanya Adi.
"Di dalam lumayan sumpek jadi menunggu di luar saja sambil berpikir, andai dulu gak membuat mama mu menderita mungkin sekarang masih diberi umur yang panjang untuk melihat cucu pertama nya." Jawab Mahendra menyesal.
"Gak apa-apa, ada papa disini juga sudah mewakili kehadiran mama. Nanti setelah ada waktu kita pergi ke makam mama bersama ya?."
Mahendra menatap Adi, sifat ibunya jatuh pada anaknya ini. Dengan mudah memaafkan kesalahannya dan masih menganggap anggota keluarganya. Mahendra lalu memeluk Adi yang masih berdiri di depan nya, ia bangkit dan memberikan pelukan untuk anakya. Adi tersenyum tanpa memberontak.
"Yuk kita makan dulu pa, menjaga mereka sangat melelahkan harus punya banyak tenaga. sementara biarkan teman-teman ku yang menjaganya dulu." Ajak Adi dan Mahendra hanya mengikuti.
Dalam ruangan itu baby nya kembali di tidur kan karena cukup lama mereka menggendong nya. Tetapi baby nya sangat baik, tak menangis walau di sekitarnya penuh dengan suara.
"Sangat beruntung punya anak perempuan pasti akan menjagamu dengan baik." Tutur Theo.
"Hahaha, sama seperti istrimu. Anak perempuan yang dapat di andalkan untuk adik nya nanti." Balas Ani ramah dan Nayla menjawabnya.
"Tentu dong, tapi sepertinya sama saja semua anak akan baik dan berbakti jika kedua orangtuanya mendidiknya dengan benar. Namun jika mendidiknya dengan keras anak akan menjadi pembangkang bukan penurut."
"Jika ingin jadi anak yang penurut hanya perlu tegas dalam berkata, bukan kasar dalam bertindak." Sambung Theo.
"Benar, ada banyak sekali sifat anak-anak. Aku selalu mempelajari karakter anak didik ku dan diantaranya gak bisa hanya dengan berkata lembut. Harus dengan hukuman agar sang anak mengerti. Sulitnya memberi hukuman yang sesuai dengan karakteristik nya." Ucap Ani.
"Itulah mengapa banyak anak tapi seperti gak punya anak, karena kita kurang memahami karakter si anak. Banyak orang tua yang terus memaksa anaknya mengikuti semua keinginan nya tanpa tahu apa yang betul-betul menjadi keinginan anak itu. Lalu si anak akan berlawanan dengan perintah itu." Sahut theo memahami.
"Haishhh.. aku jadi lebih banyak mengerti dari penjelasan kalian, selama ini juga mendidik Putra gak terlalu terasa berat sih tapi anaknya cepat mengerti jadi gak menemukan kesulitan sih." Sambung Nayla.
"Putra anak yang spesial untuk apa menyusahkan mu. Cerdas dan mengerti kondisi kakaknya." Jawab Theo, lalu mereka melihat Putra yang saat itu bermain dengan Qiara di dampingi oleh Meimei dan Rakha di sampingnya. Mereka tertawa saat tim Putra dan Rakha kalah, lalu pasrah menerima hukuman dari kedua wanita itu.