ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
Chapter 34. Misi Berhasil



Berkesiur suara angin pada cuaca panas, rasa lelah dan mengantuk membuat para penculik beristirahat sejenak dari pikiran kacau tentang salah culik anak.


"Hmm.. badut bodoh! Ini semua salahmu. Aku ingin tidur sebentar, bagian kau jaga dua anak ini. Ingat jangan sampai melukainya dan tetap berjaga agar mereka tak kabur. Ini juga akibat kau salah culik. Aku pusing memikirkan nya. Sore hari kita akan menghubungi keluarganya kembali." Ucap pria bertubuh bongsor tersebut, ia dalam keadaan mengantuk berat.


"Baiklah aku akan menjaga anak-anak ini, bagaimana aku tahu salah culik? jika yang tertinggal disekolah hanya ada anak ini saja. Ini kesalahan supir, mengemudi dengan sangat pelan sehingga sekolahnya sudah usai kita belum juga sampai." Balas badut tak mau disalahkan.


"Kalian disini saja, jangan mencoba melarikan diri karena rumah kosong ini dekat dengan hutan, walau tak terlalu lebat tapi cukup bisa membuat kalian tersesat jika kabur dari sini. Jadi berkerja sama lah dengan kami agar selamat."


"Kami kan anak kecil, mana bisa kabur. Sekuat kami berlari pasti sangat mudah bagi om badut dan om gendut menemukan kami, jadi om badut tenang saja kami tak akan kabur." Ucap Putra.


"Betul kata kakak kecil, om badut? Qiara juga mau permen. bagi permen untuk Qiara, aku sangat lapar belum makan. Jika aku mati kalian gak bisa dapat uang loh." Tutur Qiara dengan wajah melas.


"Hmm.. permen nya udah om badut makan semua sewaktu di mobil, kini permen nya sudah habis. kami belum mendapatkan uang tebusan dari orang tua kalian malah keluar uang untuk kasih makan kalian. Hughhh.."


"Makanya itu jangan menculik, lebih baik om badut sulap saja pasti banyak dapat uang. Cari penonton ditengah keramaian. Enggak ada susah sedikit pun. sekarang kami lapar bagaimana? kami bisa pingsan lohh." Sambung Putra.


"Kakak kecil benar, huwaa.. Qiara lapar, Qiara akan mati. Om badut tolong kasih Qiara makan. Huwaa.." rengek Qiara.


"Ahh.. kalian hanya merepotkan ku saja. sebentar aku akan menyuruh supir membelikan kalian makan. Jangan mencoba kabur dari sini. Diam!!"


"Diamlah Qiara, nanti om badut akan memberi kita makan. Tunggu sebentar ya." Bujuk Putra didepan badut tersebut.


Lalu badut tersebut mencari keberadaan sang supir, guna meminta tolong agar membelikan makanan untuk tawanan.


Meninggalkan Putra dan Qiara walaupun masih ada penculik bertubuh bongsor yang sedang tertidur tetapi seorang badut tersebut percaya bahwa Putra dan Qiara hanya seorang anak kecil yang polos dan tak akan bisa kabur.


"Kakak kecil, kondisi sudah aman. Aku sudah membantu kakak dalam menyelesaikan misi ini. Selanjutnya kita harus bagaimana?" Bisik Qiara bersemangat untuk melarikan diri.


"Kamu sangat pintar, ini sangat membantu ku. Sebaiknya kita segera sembunyi di tungku penghangat ruangan rapat ini. Tapi tahan lah sebentar saat terkena abu arang dan debu. Jangan bersuara mungkin kita akan mengalami bersin tapi kakak sudah ada ide agar tak terhirup abu arang dan juga debu." Ucap Putra sembari melepaskan dasi yang mengikat di kerah baju sekolah mereka.


" Untuk apa dasi itu kak?" Jawab Qiara penasaran yang akan dilakukan Putra, tetapi mengikuti Putra melepaskan juga dasi yang terikat di leher nya.


Qiara cukup cerdas memahami semuanya walaupun umurnya masih sangat muda, ia tak ingin bertingkah seperti anak kecil saat dalam bahaya. Ini membuat Putra berpikir untuk terus melindungi Qiara dan sesaat amarahnya sudah meredam. Sebetulnya Putra menyayangi Qiara seperti adiknya sendiri saat pertama bertemu.


"Ssstt.. kakak akan memakai kan dasi ini dibagian hidungmu, dan setelah selesai berjalannya dengan pelan ke arah tungku itu, ikutin arah pembuangan asapnya ya. Itu akan menuju keluar rumah ini. Kakak akan mengikuti mu dari belakang." Ucap Putra pelan.


"Baiklah Qiara akan mengikuti perintah kakak. Jangan sampai misi ini gagal ya, Qiara tunggu kakak diluar." Balas Qiara.


"Oke, kakak akan membuat jebakan terlebih dahulu."


Qiara pun berjalan pelan tanpa bersuara, melirik sekeliling guna memastikan keadaan masih aman. Dan Putra menaburkan cat gambar, kelereng, dan juga pensil warna di depan penculik bertubuh bongsor dengan pelan. Lalu Putra pun berjalan ke arah tungku menyusul Qiara yang sudah lebih dulu berjalan. Tibalah Qiara di ujung pembuangan asap tungku. Ia melihat keluar dengan senang. Dedaunan penuh dan banyak pohon bambu disana. Ia menunggu kedatangan Putra.


Ia mengusap wajah nya agar pandangan nya terlihat jelas. ia mendapati om badut dan juga sang supir sedang berbicara.


"Krak.. krak.. krak.." suara kayu yang di injak Putra terdengar jelas hingga membangunkan penculik bertubuh bongsor tersebut, ia kaget melihat Putra yang akan kabur dan serentak langsung berdiri tanpa melihat banyak kelereng dan juga pensil warna hingga ia tergelincir. Tangan nya tersentuh cat gambar membuatnya tergelincir kembali saat ingin berdiri. Putra yang mengetahui itu bergegas lari dalam terowongan pembuangan asap.


"Ahh sial, kemana badut bodoh itu. Tak bisa menjaga anak kecil yang masih baik anyir ini. Badut...!! Kemari kau..!!" Teriak penculik bertubuh bongsor itu, ia tak bisa beranjak sendiri dari tempat duduknya. Tubuhnya terlalu bongsor.


"Mengapa aku seperti mendengar bos sedang memanggil, apa kau juga terdengar?" Tanya badut tersebut.


"Iya aku sangat mendengar nya. Ayoo bergegas kesana. Sepertinya ada masalah. Apa anak itu membuat ulah." Jawab sang supir dengan cepat.


"Mereka masuk, gawat. Apa kakak ketahuan sehingga mereka ingin menangkap kakak." Tutur Qiara panik.


Gemerisik suara daun membuat Qiara semakin takut jika kakak kecil tertangkap lagi. Ia berpikir untuk menyusuri terowongan asap tersebut dan kembali lagi, tapi kemudian tak lama datanglah Putra menyusulnya dengan wajah hitam legam dan sedikit batuk.


"Kakak.. ayoo kak kita pergi, mereka sudah mengetahui misi ini." Teriak Qiara dengan ketakutan, tubuhnya gemetar.


Putra berlari dengan kencang sambil memegang tangan Qiara erat. Ia mencoba meninggalkan rumah seram itu dengan cepat. Wajah keduanya hampir tak bisa dikenali karena hitam arang menempel pekat pada tubuh keduanya. tak membuat mereka menyerah melihat jalan keluar, Putra menabrak dedaunan yang menjuntai ke bawah tanpa dirasa lagi.


"Kakak apa kita gak nyasar dalam memilih jalan, mengapa kakak seperti yakin sekali akan jalan ini?"


"Ini jalan mobil, kamu lihat saja ada bekas rumput mati yang di tindas ban mobil. Diamlah, kakak akan menyelamatkan mu dan kita bisa pulang secepatnya." Tutur Putra masih dalam keadaan berlari.


"Badutt....!!!"


"Ada apa bos, sudah bangun tidurnya. Aku baru saja hendak kembali." Ucap badut tanpa melihat bos nya tersebut.


"Bodoh..!! Benar-benar gak bisa diandalkan. Kerja gak becus."


"Bos juga bodoh. Berdiri sendiri saja tak bisa." Ucap badut tersebut lalu ia membantu bangun penculik bertubuh bongsor dengan dibantu sang supir.


"Berani nya kau berbicara begitu.!! Tak tahu malu, lihatlah tugasmu gak ada becusnya menjaga anak kecil saja. Mereka kabur, cepat temukan mereka."


Tegas penculik tersebut dengan amarah meluap hingga melempar kan bangku dengan kencang.


"Baiklah bos, kami akan menemukan anak itu lagi." Ucap sang supir yang beranjak pergi keluar di iringi badut.


Kemudian penculik itu melihat tungku penghangat ruangan jika musim dingin tiba, ia mencoba masuk tetapi tubuhnya cukup bongsor untuk menyusuri nya sehingga tak bisa baginya masuk kesana.