ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C84. Bikin khawatir



Nayla sangat khawatir karena suami dan anak-anaknya belum juga pulang padahal jam segini biasanya sudah pada kumpul di rumah.


"Aneh, koqq belum pada pulang sih. Bikin khawatir saja, apa mungkin ada tugas yang gak bisa di undur mengingat anak-anak sebentar lagi juga ujian di sekolah nya. Tunggu sebentar lagi dech mungkin mereka lagi di jalan. Ya Tuhan lindungilah suami dan anak-anak ku saat jauh dari jangkauan ku. Sabar Nayla oke." Gumam Nayla berbicara sendiri dan para pembantu hanya memperhatikan.


"Nyonya sebaiknya tunggu di dalam saja, di luar angin sangat kencang nanti bisa masuk angin." Saran seorang pembantu bermarga Hua dan Nayla menoleh ke sumber suara.


"Sebentar lagi Bi mungkin mereka akan sampai. Gak tenang jika belum melihat dari luar." Ucap Nayla mondar-mandir dengan gelisah.


"Kalau begitu pakailah sweater tebal ini agar nyonya gak kedinginan." Sahutnya perhatian.


"Baiklah, terimakasih Bi." Jawab Nayla.


"Kalian tolong buatkan sup jahe untuk nyonya." Pinta sang kepala pembantu dirumah itu.


"Permisi nyonya." Ucap mereka menunduk lalu pergi ke dalam rumah.


"Nyonya tenang ya." Sahut Bibi Hua dan Nayla hanya tersenyum meski wajahnya terlihat cemas.


Tak lama kemudian Theo pun sampai rumah di ikuti Nathe yang juga bersama dalam mobil. Setelah pulang sekolah Nathe langsung membantu Theo di perusahaan nya. Karena Nathe di didik menjadi penerus sang ayah jadi selalu belajar tentang dunia bisnis membuatnya jarang bersama kembarannya yakni Lathe.


"Mommy." Ucap Nathe.


"Syukurlah kalian pulang juga." Sahut Nayla.


"Ada apa sayang? Koqq di luar. Masuk yuk tubuh mu udah kedinginan bisa kena flu nanti." Tanya Theo setelah melihat Nayla dengan heran.


"Aishh.. aku khawatir banget dengan kalian sampai melupakan tubuh yang dingin ini." Jawab Nayla setelah di ajak Theo masuk.


"Mommy jangan khawatir ya, kau harus menjaga kesehatan mu. Aku pergi bersama Dady karena ada urusan, mommy selalu perhatian membuatku merasa bersalah. Maafkan Nathe mommy."


"Sayang.. Nathe anak baik mana boleh minta maaf begini, andai Lathe punya pemikiran seperti kamu pasti mommy sangat senang." Ucap Nayla.


"Nay? Jangan membandingkan anak kita ya. Lathe masih muda jadi belum menemukan jati dirinya aja nanti juga mengerti koqq." Sahut Theo.


"Aku hanya berpikir bukan membandingkan lagian anaknya juga lagi gak disini. Aku gak akan melukai hatinya tapi aku juga gak bisa menerima sifatnya yang seperti ini, kamu selalu melindunginya."


"Aku hanya gak ingin kamu banyak khawatir sehingga mengganggu pikiran mu, jika dia salah siapa yang mau melindungi nya tentu aku ada di pihakmu sayang." Tutur Theo lembut.


"Memangnya Lathe kemana mom? Sudah malam seperti ini dia belum kembali?" Tanya Nathe.


Nathe bertanya karena memang di sekolahkan dengan sekolah yang berbeda dari adiknya itu jadi ia tak melihat Lathe seharian.


"Itulah yang membuat mommy khawatir, berangkat sekolah gak mau di antar sifatnya yang ceroboh takut membuat masalah." Jawab Nayla.


"Hughhh.. Lathe selalu membuat mommy khawatir, jika dalam sejam gak pulang juga aku akan mencarinya mom. Mommy tenang aja ya pasti Lathe akan baik-baik aja." Sahut Nathe.


"Ya sayang, kamu bersih-bersih gih. Setelah itu makan bersama mommy dan Dady ya." Pinta Nayla.


"Baiklah mom." Jawab Nathe sembari melepaskan tangan ibunya yang sedari tadi dalam genggaman hangatnya.


"Dady gak ingin mandi juga kah? Apa perlu Mommy bantu mandiin Dady." Goda Nayla menatap Theo.


"Hehehe... Ayok mandi bareng ya." Sahut Theo tertawa mendengar perkataan istrinya.


"Aku udah mandi loh, dingin sayang."


"Gak apa-apa ada aku yang menghangatkan." Ucap Theo menggendong Nayla dengan tersenyum lebar tetapi Nayla malah tersipu malu padahal ia yang menggoda suaminya duluan.


Ditempat yang berbeda Xinyue dan Lathe sangat menikmati musik disco yang diputar dengan kencang, meminum wine membuat mereka makin melayang dengan kebebasan. Dugem di tengah kerumunan sangat menyenangkan bagi keduanya.


"K-kamu mabuk dek, ayok kita pulang." Jawab Xinyue tersenyum dengan tatapan sayu.


"Hah? Aku mabuk hahahaha.. lihatlah dirimu seperti apa, bahkan udah gak bisa melihat dengan jelas. Aku disini heii.." Sahut Lathe memegang pundak Xinyue yang saat itu membelakangi nya lalu membalikkan tubuh kakaknya dengan benar.


"Hahaha.. tubuhmu menjadi banyak, yang asli yang mana nih. 1 2 3 4." Ucap Xinyue menunjuk Lathe.


"Haahh.. kakak bicara apa sih mending kita berdansa aja bersama pangeran." Tutur Lathe ngelantur dalam khayalan nya.


"Sepertinya mereka sudah mabuk berat lebih baik kita mengantarnya pulang saja." Ucap Weina salah satu teman Xinyue. Dan Zhang hanya mengangguk.


"Yuyu ayo pulang aku akan mengantarmu."


"Ahh.. kalian, kelab nya belum tutup kenapa harus pulang lebih awal hah? Ayo kita minum lagi."


"Hmm.. sudah mabuk seperti ini masih ingin minum benar-benar gak waras ya." Sahut Zhang.


"Siapa yang gak waras? Kamu berani mengatakan kejelekan ku saat mabuk ya. Akan ku kirim kau ke neraka. Brukkkkk... " Xinyue pun terjatuh.


"Hahahahaha malah tertidur di lantai dia." Ucap Zhang bahagia melihat temannya menderita.


Tak lama kemudian Nathe masuk ke kelab malam itu, ia yakin jika Lathe ada disana karena sebelumnya Lathe selalu berusaha mengajaknya pergi ke kelab tapi Nathe selalu menolaknya.


"Hmm.. jika aku menemukan nya akan ku pukul wajahnya pakai sepatu." Gumam Nathe kesal.


Lalu Xinyue dan Lathe berpapasan dengan Nathe. Keadaan mereka sudah sempoyongan tak bisa melihat jelas, tetapi ada teman-temannya yang membantu dengan baik.


"Kakak? Lathe?." Ucap Nathe.


"Ehh.. ada Nathe. Ingin membawa Lathe ya?." Sapa Liu yang juga teman masa kecil Nathe dan Lathe.


"Iya, maaf merepotkan mu. Lathe sangat nakal." Jawab Nathe cemberut.


"Gak apa-apa, aku bantu sampai depan ya." Sahut Liu dengan tersenyum.


"Kamu pulang sama siapa?." Tanya Nathe.


"Ada Lala koqq teman Lathe juga." Jawab Liu.


"Oh begitu hati-hati ya~" balas Nathe.


"Kamu juga hati-hati ya, aku pulang dulu kalau begitu. Bye.." Ucap Liu dan Nathe hanya tersenyum. Kemudian memandang Lathe dan kakaknya setelah masuk mobil.


"Loh koqq ada bayangan Nathe? Kakak bangun dong coba lihat kenapa Nathe ikut dugem bersama kita. Hahaha.. pasti dia juga penasaran makanya menyusul kita kesini." Ucap Lathe sembari menggoyangkan tubuh Xinyue yang saat itu sudah tertidur pulas.


"Hughhh.. benar-benar menyebalkan." Jawab Nathe mencubit pipi Lathe dengan sedikit keras.


"AaaaaAaaa.. sakit Nathe!!! aku masih sadar ihh.. ku pukul kau karna menyakitiku." Teriak Lathe.


"Siapa suruh bikin khawatir mommy." Ucap Nathe dan tak lama kemudian Lathe melayangkan sepatunya ke wajah Nathe, dengan cepat Nathe mengerem laju kendaraan nya.


"Arghhhh.. masih ada tenaga menyiksa ku!!! Wajahku ohh.." Teriak Nathe yang dengan cepat melihat keadaan wajahnya di kaca mobil yang berada di atas keningnya. Tanda merah yang membekas di wajahnya seperti telapak sepatu.


"Latheee...!!!!" Ucap Nathe sangat kesal tetapi adiknya itu hanya tersenyum menutup rapat matanya. Walaupun tubuhnya mungil tapi tenaganya sangat kuat karena di latih kungfu dari kecil melalui kelas khusus kungfu.


******