
"haii.."
"Masuklah.. aku sudah memesan tiket nonton kita." Ajak Rakha masuk mobil. tangannya mendorong pintu mobil, karena Rakha tak keluar jadi dibukanya dari dalam mobil saja.
"Tunggu.."
Rina dan Rakha melihat Marisa dikaca mobil, ia berdiri tepat didepan mobil. Ada apa dengan Marisa. Mengapa ia berbicara tunggu seolah ingin pergi bersama. padahal ini hanya untuk berdua, aku tak bisa mengajak nya. Berada dekatnya hanya akan membuat sial saja.
"Tin..Tin..Tin.."
Rakha terus membunyikan suara kelakson mobilnya tetapi Marisa terus saja berada disana dan berkata.
"Tunggu.."
"Menyingkirlah. jika tak ingin terluka karena benturan dari mobilku." Ucap Rakha kesal melihat ulah Marisa.
"Jangan emosi, sebaiknya kita tanya saja dulu apa maksudnya." Tutur Rina menasehati untuk tidak marah.
Lalu Rakha pun membuka kaca mobil, kepalanya keluar jendela kaca. Memandangi Marisa yang berada didepan dengan kedua tangan terlentang
"Ada apa sih? Jangan menggangu. kami akan ketinggalan film nya, menyingkirlah pinta ku menyingkirlah." Ucap Rakha memberi peringatan.
Lalu Marisa mendekati mobil Rakha dan berkata. "Aku ingin ikut." Marisa pun membuka pintu jendela mobil Rakha, yang saat itu tak dikunci.
"Arghhhhh.."
"Pergi gak?"
"Turun.. cepat turun, atau aku paksa"
"Ahh.. aku ingin dipaksa saja."
"Sudah jika kalian terus saja bertengkar. kapan kita akan menonton filmnya." Ucap Rina mengingatkan jadwal film nya di mulai.
"Dasar wanita tak tahu malu." Ucap Rakha kesal sama Marisa yang selalu mengacaukan kebersamaan nya dengan Rina. Rakha pun mengegas mobilnya dengan kencang.
"Hahaha...' aku suka Rakha, apalagi jika marah terlihat lebih ganteng." Jawab Marisa yang terlihat senang.
Rina hanya melihat tingkah laku mereka tapi ia tak berbicara sepatah pun. Entahlah apa yang sedang dipikirkan nya, membuatnya tak ada niat untuk berbicara. pandangan nya terus ke depan melihat jalan, sesekali kepalanya menoleh ke samping guna melihat Rakha yang sedang menyetir mobilnya.
Lalu menolehkan pandangannya ke depan lagi, begitu seterusnya. hingga sampailah pada sebuah mall megah. Terdapat bioskop, tempat karaoke, wahana permainan anak-anak, didepannya terlihat area food court. Lalu turunlah mereka pada bagian area parkir mobil tepat di lantai atas mall.
Karena bioskop nya terletak dilantai paling atas. Jadi, mobil Rakha parkir dilantai atas juga.
"Wahh.. udah sampai, mari secepatnya keluar dari mobil." Marisa menarik paksa tangan Rakha hingga Rakha hampir saja terjatuh dari mobilnya.
"Arghhhhh..."
"Bisa diem gak sihh, Jangan jadi pengacau saja bisanya. Aku udah cukup kesal dengan tingkahmu." Tegas Rakha melepaskan genggaman tangan Marisa yang berada di siku nya Rakha.
"Ayoo Rin, kenapa kamu terlihat lesu. Apakah kamu terlalu lelah. Jika ia kita bisa pulang sekarang saja." Tutur Rakha khawatir pada Rina.
"Aku gak kenapa-napa kok, lagian kita udah rencanain ini dari jauh hari. Ini film kesukaanku, jadi aku gak ingin film nya terlewat begitu saja." Ucap Rina.
"Mari, jangan terlalu banyak mengobrol. kita akan ketinggalan filmnya. Hmm.. tapi aku masih bingung, sebenarnya kita ingin nonton film apa sih?" Ucap Marisa yang terlihat mikir tetapi sambil berjalan mengikuti Rina dan Rakha dari belakang. Karena asik mengobrol Marisa jadi tertinggal jalannya. sambil berlari kecil. Marisa menyusul Rakha dan berkata.
"Kok gak jawab sih!! Aku tanya kalian loh. Aku gak ada minta di teraktir ya, aku hanya ingin dekat dengan Rakha saja." Marisa terlihat kesal karena tak di hiraukan, ingin sekali memukul Rina. Karena merasa Rina lah penghalang dia bersama Rakha. Tetapi tak mampu melakukan nya.
"Lihat saja nanti. Dasar wanita ceroboh. selalu saja merepotkan." Ucap Rakha.
"Hmm.. kapan sih kamu bisa bersikap baik sama aku, kenapa Rina, Rina, dan selalu Rina. Yang kamu pikirkan. kenapa selalu dia yang jadi prioritas dalam hatimu. Rakha.."
"Stop!!! jika bicara sekali lagi. kamu tak akan bisa mendekatiku lagi." Ucap Rakha mengingatkan Marisa dengan kasar.
"Sudah jangan bertengkar, jika Marisa ingin duduk bersama Rakha. yaa silahkan saja." Ucap Rina mengalah.
Sesampainya mereka di depan tiket..
"What??? Jadi yang kalian tonton itu film horor, yahh.. aku gak bisa nonton horor, bisa-bisa aku pingsan lihat hantu nya." Ucap Marisa takut, baru saja melihat trailer dari film nya sudah merinding bulu kuduknya Marisa.
"Bagus dech, ya udah pulang sana. percuma juga kamu ikutin kita sampe kesini kalau gak bisa nonton film horor." Sahut Rakha menyeringai melihat marisa.
"Aku belum ingin pulang, aku akan menunggu di caffe sebelah bioskop ini saja. Tak mengapa, aku setia menunggumu Rakha. cepat kembali aku merindukanmu." Goda Marisa.
"hueekk.."
"Wahh.. kamu sangat merespon perkataanku, aku menyukai muntah yang kau berikan." ucap Marisa bicara tanpa sadar, sangat tergila-gila pada Rakha.
"Gila!! Pergi sana. hushh... Jangan ganggu kencan aku bersama Rina." Tutur Rakha yang mengacungkan tangannya.
"Sudah, kalian selalu bertengkar." Ucap Rina yang hari ini terlihat berbeda lebih banyak diam dari biasanya.
Marisa pun berlalu tanpa menoleh ke belakang, ia terlihat murung.
The gate to theatre number one has been opened. (Pintu menuju studio nomor satu telah dibuka)
Please turn off or silence your phone. (Tolong matikan atau matikan bunyi telefon genggam Anda)
Do not talk during the show. (Jangan berbicara selama film diputar)
The emergency exits are at the front side of the room. (Pintu darurat terletak di bagian depan ruangan)
Do not record the movie. (Jangan merekam film yang sedang diputar)
Lalu Rina dan Rakha pun menonton horor. ditemani popcorn dan minuman cappucino dingin, film nya sangat menyeramkan karena layar bioskop yang sangat besar membuat hantu nya terasa nyata. Ada sebagian berteriak karena ketakutan, ada juga yang menutup kedua matanya. tak ingin melihat, suara dalam film begitu nyaring terdengar hingga membuat jantung berdetak kencang. Menonton film horor dalam bioskop membuat seseorang tersebut berada pada uji nyali.
Karena Rina dan Rakha sudah terbiasa menonton horor, jadi mereka sangat menikmati setiap adegan yang ada dalam film horor tersebut.
"Sangat penasaran sama akhir cerita. Siapa yang membunuhnya?" Bisik Rakha pada Rina yang sedang fokus menonton.
"Aku rasa yang membunuhnya ialah sahabatnya sendiri. Kita nonton saja." Bisik Rina menjawab pertanyaan Rakha.
Tangan kanan mereka masuk dalam paper bag yang berisi popcorn. lalu keduanya pun makan popcorn bersama. walaupun mata keduanya tetap fokus pada layar bioskop tetapi rasa lapar tak bisa di pungkiri.
Ditengah asik menonton film horor sekaligus menegangkan, tiba-tiba sirine kebakaran berbunyi kencang dalam bioskop dan membuat semua orang panik. pikiran mereka teralihkan pada bunyi sirine yang lebih terdengar keras dari pada suara film horor.
Rina melihat api begitu besar berada di belakang kursi yang ia duduki. Rakha sangat panik sehingga dengan cepat meninggalkan tempat duduknya semula.
Orang-orang yang berada didalam bioskop tersebut berteriak dengan keras dan meminta pertolongan, mereka belari kencang tak tahu arah tujuan.
Bahkan Rina dan Rakha akhirnya terpisah, Rina seperti berkeliling ditempat itu-itu saja. Situasi sangat mencekam lebih serem dari film horor yang baru saja mereka tonton.
Nafas Rina mulai sesak dan tak ada tenaga untuk berlari lagi. ia tersadar ternyata lamanya ia berlari kesana kesini karena sudah terjebak dalam bioskop. sehingga tak ada jalan keluar untuknya menyelamatkan diri.
Tubuhnya penuh luka bakar, dan matanya sudah tak bisa melihat dengan jelas. tetapi dilihatnya bayang-bayang orang dalam bioskop sudah tak ada lagi. kemudian Rina pun berhenti bernafas, saat itu nyawanya sudah tak bisa tertolong lagi.
Rina tergeletak dilantai bioskop yang penuh dengan api di sekelilingnya.
Rakha pun selamat dari kebakaran, dan Marisa yang khawatir langsung menuju bioskop dengan cepat.
"Syukurlah kamu selamat Rakha. Aku sangat khawatir padamu. mana Rina, Rakha mana Rina." Teriak Marisa karena tak melihat Rakha bersama Rina.
"Rinaaa..."
Rakha baru mengingat bersama siapa ia menonton bioskop, perasaan nya sangat sedih meninggalkan Rina sendirian dalam bioskop. sehingga memutuskan untuk masuk ke dalam bioskop lagi walaupun itu sangat berbahaya baginya.
"Rinaaa... Rinaaa.."
Rakha terus berlari mencari keberadaan Rina disusul oleh Marisa. tetapi tak bisa mereka mencari lama, kemudian petugas menarik tangan mereka karena berbahaya, lalu tak lama kemudian terdengar suara sirine pemadam kebakaran telah sampai dan mematikan api yang masih menjalar ke atap bioskop, hingga api itu bisa dipadamkan setelah satu jam lamanya.
Rakha menangis sejadi-jadinya, ia sangat menyesal karena tak bisa menyelamatkan Rina. dan ia masih berharap jika Rina baik-baik saja.
Lalu Rakha pun bergegas ke unit kesehatan darurat yang disediakan ambulans untuk menangani korban kebakaran, dicarinya hingga berlari kesana-kemari untuk menemukan Rina.
Tetapi hasilnya nihil, ia tak melihat raga Rina disana. Matanya terus meneteskan air yang jatuh dalam pipinya.
Marisa berada pada pintu bioskop sambil melihat wajah korban dalam kebakaran yang tak bisa diselamatkan.
Dengan panik dan tangannya penuh keringat dingin. ia tetap melihat satu persatu wajah semua korban yang lewat. dibawa memakai tandu darurat rumah sakit. Marisa terus gemetar badannya dan pikirannya sangat kacau.
Rakha pun berlari sekuat tenaga menyusul Marisa, hingga sampailah Rakha pada Marisa.
"Rakha... Mana Rina, jawab aku. Mana Rina, dia pasti ada di unit kesehatan darurat kan? Aku akan pergi kesana sekarang." Ucap Marisa sedikit syok, dia emang membenci Rina selama ini tetapi dia tak ingin melihat Rina dalam bahaya.
Sebenernya Marisa sangat ingin berteman pada Rina tetapi selalu dimakan api cemburu terhadap Rina.
"Huhuhu... Huhu.. Rina tak ada disana, ini semua salahku. Aku emang gak berguna." Tangis Rakha sambil memukul kepalanya dengan keras.
Marisa pun memeluk Rakha dengan menangis. harapannya sudah tiada lagi.
Tetapi mereka tetap memastikan apakah Rina saat itu masih berada didalam bioskop atau sudah keluar. Maka dari itu Marisa dan Rakha terus membuka wajah dan mencari ciri-ciri dari Rina.
Sambil Rakha melihat, Marisa menelpon keluarga dari Rina agar mereka ikut mencari keberadaan Rina.
Suasana saat itu sangat menegangkan, tangisan dari semua keluarga begitu terdengar, panik, terpukul atas hilangnya anggota keluarga mereka.
Hingga sampailah pada jenazah terakhir yang berada dalam bioskop tersebut.
Dengan tangan gemetar hebat, air mata terus saja bercucuran dan akhirnya Rakha bersama Marisa, membuka kain yang menutupi seluruh tubuh dari jenazah terakhir. Terlihatlah sosok Rina yang sudah tiada, berlumuran luka bakar pada tangan, badan, kaki, dan sebelah pipinya.
Dengan terkulai lemas Rakha menangisi kepergian Rina, wanita yang satu-satunya paling dia cintai itu telah tiada. ia sangat menyesal, syok berat yang dirasakan nya, dan terus saja memukul dirinya hingga tak sadarkan diri.
Marisa pun tak bisa berbicara apa-apa lagi, dia turut dalam kesedihan yang dirasakan Rakha.
*****