
Meimei melihat kakaknya sangat bekerja keras untuk perusahaan tanpa tahu banyaknya kesulitan yang dihadapi nya. Saat dirumah disembunyikan kan nya beban ini dan masih bisa tersenyum melihat keluarga nya. Sungguh membuat Meimei tersadar akan tanggung yang begitu besar dipikul kakaknya itu.
"Dek?." Ucap Theo.
"Yaa kak." Jawab Meimei.
"Kenapa diam melamun terus sih, nanti kesambet loh." Ucap Theo yang dari tadi memperhatikan adiknya, ia tahu pasti Meimei merasa sedih tapi masalah seperti ini akan segera diselesaikan nya.
"Kakak.. maafkan aku yang selalu memarahi mu dan berkata kau sangat gila dalam bekerja tanpa tahu beban kerja yang sangat berat kau rasakan."
"Hmm.. kakak gak pernah mengambil hati atas perkataan mu, tugas seorang kakak memang seperti ini jadi jangan merasa bersalah ya."
"Perusahaan banyak mengalami kerugian, apa yang bisa aku bantu kak? Aku juga pasti bisa menyelesaikan nya." Inisiatif Meimei agar Theo tak terbebani sendiri dalam masalah perusahaan.
"Bukan apa-apa, untung rugi dalam sebuah bisnis itu hal biasa. Lagian kerugian nya bisa kembali lagi saat kakak mengetahui perusahaan yang memalsukan salah satu nama brand kita. Akan kakak hancurkan secepatnya." Ucap Theo.
"Tok tok tok" suara pintu diketuk.
"Silahkan masuk." Ucap Theo melihat dua karyawan kantornya dengan luka lebam di wajah.
Mereka memberikan map berisi berkas penyelidikan di pabrik busana ilegal tersebut.
Setelah melihat map itu Theo menghela nafas dan memperhatikan wajah keduanya.
"Luka kalian cukup parah. Tapi cuman dapat dua potong pakaian?." Ucap Theo.
"Direktur Ling, sudah bagus dapat dua potong. Dan untungnya hari ini ada Feng Xi, aku tidak tahu kalau tidak ada dia. Saat kami masuk langsung ketahuan, Lima pria kekar memukuli kami. Untungnya aku berani dan punya rencana akhirnya kami punya cara untuk kabur." Ucap Chen.
"Kau pintar, apa kau karyawan baru?." Ucap Theo dan karyawan baru tersebut hanya mengangguk.
"Kerjamu bagus. Pergilah ke rumah sakit dan obati lukamu, perusahaan yang menanggung. Rawat sampai sembuh lalu kembali bekerja." Ucap Theo perhatian.
"Terimakasih direktur Ling, saya permisi." Ucap Feng Xi meninggalkan ruangan Theo.
"Direktur Ling, anda harus balas dendam untuk kami. Anda harus menuntut mereka sampai bangkrut." Ucap asisten kepercayaan nya.
"Kau hadapi masalah ini dengan cara yang memalukan. Jadi kau jangan khawatir, ya?" Ucap Theo dan asisten nya kembali berkata.
"Kalau begitu, boleh aku ke rumah sakit dan berlibur juga?."
"Berlibur setelah urusan ini selesai. Ganti pakaian mu dan ikut aku." Ucap Theo lagi.
"Hahhh?." Sahut nya kaget.
"Kakak, ada aku disini. biarkan aku yang ikut denganmu. Kak Chen obati lukamu dulu ya, maaf kakakku terlalu tegas padamu." Ucap Meimei lembut. Ekspresi wajah Meimei sangat lucu.
"Tidak apa-apa hanya luka luar saja." Jawab Chen dengan tersenyum karena diperhatikan Meimei.
"Haishhh.. ya sudahlah, besok kau kembali bekerja lagi. Banyak urusan yang akan kau selesaikan." Sahut Theo berjalan meninggalkan ruangannya.
Bersebrangan dengan kantor seorang pengacara terkenal, Theo dan Meimei tak cukup lama untuk sampai kesana. Setelah bertemu Theo menceritakan masalahnya.
"Kasus kecil ini, kenapa kau harus turun tangan?." Ucap pengacara yang tak lain adalah temannya.
"Apa maksudmu? Sekarang kau sukses. Jadi tidak mau terima kasus kecil begitu, ya?." Ucap Theo.
"Hahahaha.. hanya bercanda, serahkan saja padaku. minum kopi dulu yuk." Ajak nya santai.
"Baiklah." Sahut Theo.
"Kakak setelah ini kita langsung pulang atau kembali ke perusahaan lagi?." Tanya Meimei.
"Baiklah kak." Tutur Meimei.
Mereka menikmati kopi dan berbincang santai, Theo meminta temannya untuk mengurus semuanya. Ia sengaja datang secara langsung menemuinya karena tak ingin kehilangan martabat teman nya itu. Walaupun temannya pasti mengerti jika Theo menyuruh karyawan saja yang menemuinya. Tapi sifat Theo tak pernah berubah walau sudah menjadi orang ternama di negara nya. Setelah cukup lama membahas permasalahan nya akhirnya Theo dan Meimei pun pulang ke rumah.
"Kakak sedang mengalami masalah, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untukku meminta kakak bekerja sama dengan perusahaan Rakha. Jika enggak ada masalah pasti kakak akan setuju Hmm.. aku gak boleh menambah beban nya lagi." Gumam Meimei melamun dan Theo hanya fokus mengemudi dengan cepat.
Nayla menyiapkan air hangat dalam bathtub untuk suaminya itu, rasa khawatirnya masih dalam benak nya. Ia menunggu suaminya cepat pulang agar bisa melihat keadaannya.
"Air hangat sudah penuh, aku tambahkan lilin aromaterapi disekitarnya agar pikiran nya rileksasi, sayang.. aku harap kau baik-baik saja."
Tak lama kemudian suara mobil terhenti depan rumah nya dan Theo berjalan ke dalam rumah. Ia masuk dan menemui istrinya itu.
"Syukurlah sudah pulang, bagaimana?."
"Apa?." Tanya Theo singkat.
"Apakah benar ada masalah serius. Jika iya, aku harap kamu jangan terlalu memikirkan nya ya pasti ada jalan keluarnya." Jawab Nayla.
"Lumayan, ada mata-mata dalam perusahaan sehingga pakaian yang belum keluar pasar tapi sudah dirancang tiba-tiba menjadi brand abal-abal dipasaran dan dipalsukan." Ucap Theo.
Ia langsung memeluk Nayla dengan erat, dan Nayla membalas pelukan suaminya itu. Ia tahu pasti sangat lelah menjadi Theo.
"Sabar ya sayang.. Pasti cepat terungkap dalang dibalik masalah ini, aku percaya kamu."
"Iya aku tahu. Doakan selalu ya." Ucap Theo.
"Pasti dong, aku gak bisa membantu mu karena enggak mengerti ilmu perusahaan. Oyaa.. aku udah siapkan air hangat untuk mandimu, selama kamu mandi aku akan menyiapkan makan malam untukmu ya sayang." Sahut Nayla.
"Makasih sayang, emmuachhh.." Theo mencium bibir Nayla sebelum ke kamar mandi. Ia menghirup aroma dari lilin membuat nya sangat nyaman.
Theo berterimakasih pada perempuan yang sekarang menjadi istrinya itu, penuh dengan perhatian dan kasih sayang yang tulus.
Disamping itu Meimei dan Rakha bertemu di sebuah cafe, memesan makanan dan minuman karena Meimei belum makan malam saat ini.
"Sangat lapar, gak ada kelas jadi menghabiskan waktu di perusahaan hari ini." Ucap Meimei.
"Oh begitu, aku sibuk juga seharian. banyak tugas kuliah yang belum selesai." Jawab Rakha.
Meimei fokus menyantap hidangan yang ada di depan matanya, Rakha hanya memperhatikannya.
"Hehe, maaf. Aku sangat lapar jadi gak fokus ngomong nya ya." Ucap Meimei menyadari tingkahnya sedang dilihat kekasihnya itu.
"Santai aja, makan yang pelan takut tersendat."
"Baiklah, kamu juga makan ya setelahnya kita bicarakan lagi." Sahut Meimei.
Beberapa saat kemudian...
"Syukurlah kalau begitu." Ucap Meimei.
"Kamu enggak marah nih? Aku sepertinya akan menikahi wanita lain." Ledek Rakha.
"Lebih dari setahun aku mengenalmu, usia seperti kita cepat lambat juga pasti menikah. Jika bukan memberimu permen karet pink mungkin sekarang kau masih meratapi nisan Rina. Hmph.. Mana mungkin aku percaya kau akan menikahi wanita lain." Jawab Meimei cemberut. Rakha tersenyum mendengarnya dan ia melihat permen karet yang selalu dibawanya kemana pun.
"Haihh.. sepertinya calon istriku sangat cerdas. Gak mampu menyembunyikan apapun darimu."
"Hahaha. Gak apa-apa, kau sangat memerlukan pendamping sepertiku ini. Oyaa.. masalah investor perusahaan ayahmu jangan khawatir ya, aku akan coba mengatakan pada kakakku untuk menjadi investor perusahaan ayahmu. Tapi aku hanya bisa membujuknya untuk keputusannya tetep berada ditangan kakak." Jawab Meimei lagi.
"Tentu. Aku akan berusaha semaksimal mungkin, gak akan mengecewakan kakak mu." Ucap Rakha. Ia berkata dengan penuh keyakinan karena yang di inginkan Meimei adalah pria dengan sifat tak mudah mengeluh sesulit apapun keadaannya. Karena Meimei lebih percaya dengan kata-kata semangat dari Rakha walaupun mungkin akan sulit bagi Rakha tetapi ia tak ingin berhenti, kapalnya akan terus berlayar mengarungi samudera.