ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C61. Menikah!



Hari terus berganti hingga tiba hari dimana Theo akan menikahi Nayla semua persiapan telah selesai dan puncak acara pernikahan nya terjadi pada malam harinya. Pagi-pagi sekali Theo dan nayla telah mengucapkan janji suci pernikahan lalu mereka pun pergi ke kantor sipil guna mengambil akte pernikahan. Hari ini hari yang sangat bersejarah bagi keduanya waktu sangat cepat berlalu, hingga tidak terasa niat baik Theo telah terlaksana tanpa adanya hambatan.


Berhasil mempersunting seorang wanita cantik dan bersifat baik tentu membuat Theo sangat bahagia. Ia tak berhenti menatap wanita yang kini menjadi istrinya itu dan Nayla hanya bisa tersenyum.


"Akhirnya selesai juga mengambil buku pernikahan kita, aku benar-benar malu saat mereka mengambil gambar bersama dan mengarahkan untuk terus tersenyum. Tapi banyak sekali pasangan yang menikah pada hari ini ya." Ujar Nayla saat di mobil usai dari kantor sipil pernikahan.


"Hehe iya kita kan menikah di tanggal cantik jadi pasti banyak perayaan atau acara pernikahan, oyaa.. makasih ya sayang udah menjadi perempuan yang sangat spesial di hidupku. Aku berjanji akan selalu ada menemanimu dan melindungi mu lebih dari nyawaku sendiri." Ungkap Theo.


"Iya tapi seharusnya aku yang berterimakasih padamu karna kamu telah mengubah kehidupanku menjadi lebih bahagia lagi dan kamu juga tulus menerima Putra sebagai adikmu." Balas Nayla.


"Kita sama, kamu juga menerima Yuyu sebagai anakmu. Nanti kita ajak Yuyu tinggal bersama kita ya? Kamu gak apa-apa kan Yuyu tinggal dirumah kita?." Tanya Theo dengan serius.


"Aku malah seneng bnget kalau Yuyu tinggal bersama kita ada Meimei juga pasti lebih berwarna lagi kehidupan ku. Selama ini aku dan Putra hanya berdua aja padahal sebelum kedua orang tua ku meninggal aku berkata pada mereka untuk memberiku dua adik lagi dan mereka bilang iya tapi takdir berkata lain." Ucap Nayla kembali mengingat kenangan bersama kedua orangtuanya.


"Sudah ya, sekarang ada aku yang bisa mewujudkan keinginan mu. kita akan memiliki banyak anak nantinya hahahaha.." ledek Theo dengan tertawa dan Nayla menatapnya.


"Jangan berbicara seperti itu aku sangat malu memikirkannya. Hahahaha.." balas Nayla meledek.


"Iihhh.. kirain kamu marah karna aku berbicara seperti itu ternyata kamu ikut meledekku ya." Balas Theo diiringi senyuman.


"Hehe, emm.. aku jadi ingat kembali saat kita di kantor sipil tadi." Ujar Nayla kembali mengingat.


Flashback


Saat Nayla turun dari mobil mewah yang di ikuti Theo disampingnya semua mata terpanah pada sepasang kekasih ini. Mereka berhasil menjadi goals couple (kekasih ideal) karena itulah semua memujinya dan Nayla merasa sangat bahagia.


"Wah selamat yaa sudah menjadi suami istri, semoga terus bersama sampai maut memisahkan. Ayo mengambil gambar bersama agar kami sepasang kekasih ini ikut bangga pernah foto bersama goals couple hahaha'. Heh? Tolong bantu saya mengambil gambar ya." Ujar perempuan yang juga baru saja mengambil akte pernikahan.


"Oke senyum ya 1 2 3 cekrekk.." balasnya


"Tolong ambil gambar yang banyak." Ujarnya lagi.


"Baiklah tolong gigi nya di perlihatkan dan juga lekuk tubuhnya jangan terlalu kakuh." Balasnya lagi dan Nayla sangat tak nyaman berasa menjadi seorang model majalah yang sangat profesional. Sedangkan Theo hanya tersenyum melihat Nayla.


"Emm.. mohon maaf ya sudah dulu soalnya kami masih ada urusan tapi terimakasih sudah mengatakan kami goals couple dan berfoto bersama kami dengan senang hati." Ucap Nayla ingin segera pergi meninggalkan mereka.


"Baiklah kalau begitu senang bisa bertemu dengan kalian, mulai saat ini kalian akan menjadi idolaku." Jawabnya dengan perasaan kagum.


"Hahahaha.. yaa makasih yaa." Balas Nayla dengan senyum yang ditahan.


Belum lama berjalan mereka sudah di ajak berfoto lagi oleh sepasang kekasih lain dan ada diantaranya menikah beda negara. Nayla sangat tak nyaman dan ingin segera pergi, Nayla berpikir ada apa dengan hari ini mengapa semua merasa berbeda. sebelumnya saat Nayla berjalan kemana pun tak ada yang mempedulikan nya lalu Nayla melihat kekasihnya itu. Theo benar-benar merubah hidupnya lebih berarti lagi.


Lalu Nayla dengan semangat menggandeng tangan Theo dan berjalan hingga sampai ditempat pengambilan akte pernikahan itu.


"Ya, maaf. kami ingin mengambil akte yang sudah di pesan pada tanggal dihari ini." Jawab Theo.


"Oh begitu, atas nama siapa ya?." Tanya nya lagi.


"Lingtheo dan Nayla Xiu." Jawab Theo singkat.


"Baiklah mohon tunggu sebentar ya tuan."


Sekitar lima menit berlalu akte pernikahan mereka pun jadi dan sepasang kekasih ini mengambil gambar untuk di buku nikah masing-masing. Buku nikahnya berwarna merah terang terdapat foto keduanya.


"Selamat atas pernikahan nya, kami harap jangan pernah kembali kesini lagi. terus bersama dalam suka dan duka sebuah pernikahan." Ujar petugas kantor tersebut dengan wajah yang turut berbahagia atas sah nya sebuah pernikahan.


"Terimakasih kami berjanji akan selalu bersama." Tutur Nayla dengan senyuman dan mereka pun pergi meninggalkan kantor sipil pernikahan itu.


****


Meimei melihat kakaknya itu telah datang bersama ibu kecil yang kini menjadi saudara iparnya. Ia sangat bahagia karena pernikahan mereka berjalan lancar dan sudah tak sabar menunggu malam hari tiba. Meimei membayangkan pasti sangat cantik jika ibu kecil nya itu memakai gaun pengantin yang sudah di motif manik-manik termahal hasil karya nya. Tidak hanya Nayla dan Theo yang berbahagia atas pernikahan mereka tetapi semua orang yang mengenal mereka pun ikut merasakan kebahagiaan itu.


"Kakak lihat apa?." Tanya Putra pada Meimei.


"Ahh itu, hanya melihat kak Theo dan ibu kecil." Jawab Meimei sembari menunjuk mobil Theo dan Nayla yang semakin mendekati teras rumah.


"Oh begitu jadi mereka sudah sah menikah?." Tanya Putra lagi ia sangat cepat akrab pada orang yang baru dikenalnya itu.


"Sepertinya begitu, apakah Putra tidak senang?."


"Aku senang kakak sudah mendapatkan pria yang tepat untuk menjadi kekasihnya. tapi apakah kakak tidak akan peduli lagi denganku?." Tanya nya lagi mengeluarkan semua pikiran nya.


"Tentu tidak seperti itu, Putra tetap menjadi nomor satu dihati kak Nayla jadi Putra tidak boleh berbicara begitu ya? Kakak juga menyayangi Putra lohh." Tutur Meimei dengan lembut. Ia sangat mengerti rasa takut karena orang yang paling dia sayangi itu memiliki kehidupan lain dan patah hati terbesar seorang adik ialah melepaskan kakaknya untuk pria atau wanita lain itulah yang Meimei rasakan juga.


Tapi semua itu bisa di tahan nya karena baginya adalah melihat kakaknya bahagia dan mampu berjuang untuk orang yang disayanginya itu saja sudah cukup. Tetapi tidak dengan Putra ia masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya. Maka dari itu Meimei memberi Putra nasehat agar tak berpikiran begitu.


"Yaa kak, aku tahu semua menyayangi ku." Balas Putra dengan wajah sendu nya.


"Jangan sedih ya, kita kan masih tinggal serumah. Aku juga seorang adik bagi kak Theo jadi aku mengerti perasaanmu. Kita memiliki perasaan yang sama tapi Putra harus berpikir jika kakak Nayla bahagia berarti Putra juga berhak bahagia. Dan setelah dewasa Putra akan menjemput takdir Putra bersama perempuan yang akan menjadi kekasih mu nanti sama seperti kak Meimei juga begitu." Ujar Meimei dengan panjangnya tidak tahu apakah Putra paham dengan arah pembicaraan Meimei.


"Baiklah aku mengerti kak, mungkin maksudnya kakak jika aku sudah besar seperti kak Nayla maka aku akan menikah seperti yang kak Nayla rasakan sekarang kan?." Ucap Putra mengerti.


"Anak cerdas, sekarang kamu bilang pada kak Nayla jika kamu bahagia sekali melihat kakak sudah menikah dengan pria tampan hehe."


"Baiklah akan ku sampaikan, mari kita temui kak Nayla dan kakak ipar." Ajak Putra pada Meimei dan mereka pun beranjak dari tempat semula menuju teras depan rumah.