ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
Chapter 12. Kerja Sampingan



Sementara itu dikediaman Nayla..


Nayla memandangi Putra yang tertidur pulas. banyak harapan pada adiknya, bertumbuh besar dan bisa membuat nya bangga itulah alasan mengapa Nayla tak ingin menangis didepan Putra.


Tak ingin membuat Putra merasakan kesedihan nya.


"Ayah.. ibu.. terimakasih telah menitipkan adik yang begitu baik. walaupun aku harus membesarkan nya tanpa kalian. Aku tetap bahagia memiliknya." Gumam Nayla dalam hati yang terus melihat pertumbuhan Putra dengan penuh syukur.


Dgrttt.. Dgrttt... Dgrttt..!!!


"Halo, ada apa Di?"


"Kamu sedang sibuk gak? Aku ingin mengajak mu pergi ke pasar malam. Ini enggak mewah sih, tapi cukup membuat senang. Jika Putra juga ikut bersama kita." Sahut Adi dalam teleponnya.


"Duhh.. gimana yaa Di, maaf sekali aku harus bekerja. Lagian Putra juga sudah tertidur. bagaimana besok saja saat aku libur bekerja, kita bisa ke tempat wisata atau waterboom. Aku juga sudah lama gak aja Putra jalan-jalan. Itupun jika kamu gak keberatan sihh!"


"Oh gitu. Ini sudah malam, harus bekerja lagi kah? Jaga kesehatan mu ya Nay. Jangan terlalu lelah atau kamu akan membuat Putra sedih." Ucap Adi perhatian dengan kesehatan Nayla.


"Iya, jadi bagaimana? Kita bisa jalan-jalan lain kali saja." Pinta Nayla sambil bertanya persetujuan Adi.


"Baiklah, aku ikut katamu saja. Ingatlah untuk berhati-hati saat kerja dan istirahat tepat waktu."


Telponnya pun terputus...


"Kasian kamu Nay, harus bekerja keras untuk kehidupan kamu dan adikmu. Tetapi aku sangat mengagumi sosok dirimu. cantik, pekerja keras, selalu ceria, penyemangat untuk semua orang yang sayang padamu termasuk aku."


Deggg.. deg.. deg..


Jantungku terus berdegup kencang saat memikirkan mu, dan rasa menggebu ingin selalu berada didekatmu. Perasaan ini tak mampu aku sampaikan ke telingamu, aku takut. hatimu akan menolak lalu mulutmu berbicara "maaf" dan makasih sudah mencintaiku tapi pertemanan kita sampai disini saja.


Pikiran itu terus bertarung dengan perasaan yang sangat ingin memiliki mu, aku tak ada keberanian untuk mengungkapkan nya, akan kah perkataan mu akan seperti yang ada dipikiran ku. jika aku mengutarakan perasaanku padamu, Nayla.


Dalam lamunan Adi setelah menelpon Nayla..


Sementara itu Nayla sibuk mencuci piring, sesekali ia mengantarkan pesanan dalam meja.


Kerja part time sangat membuatnya lelah tetapi terbayarkan dengan hasil Yuan untuk tabungan nya.


TRB forbidden city...


Salah satu restaurant terbaik di Beijing, dengan menu masakan khas Eropa. Menjadi restaurant dengan tarif yang berhasil menguras dompet bagi siapa saja yang berkunjung ke restaurant ini.


Tetapi dengan hidangan yang sangat lezat membuat Lingmei selalu tergoda untuk berkunjung.


"Kakak ingin ke toilet sebentar, kamu langsung saja duduk ke tempat yang sudah kakak pesan. Ingat untuk memesan makanan nya agar tak terlalu lama menunggu." Ucap pria tampan.


"Jangan lama-lama ya kak."


Lingmei pun pergi meninggalkan tempatnya semula berdiri, menggunakan lift menuju lantai atas. Menikmati keindahan malam dalam lift, karena liftnya terbuat dari kaca tembus pandang. sehingga berada di dalamnya bisa melihat keindahan pemandangan.


Interior nya sangatlah indah, bahkan saat berada dalam toilet nya disuguhkan dengan pemandangan cantik dari luar jendela yang terbuat dari kaca. Pria tampan memandangi indahnya kemerlap lampu berwarna. dan rumah penduduk yang berada di kaki gunung. Lalu memandangi wajahnya dari kaca wastafell, dengan senyum tipisnya.


Karena tak ingin adiknya menunggu lama. Pria tampan pun bergegas masuk lift yang di khusus-kan untuk karyawan restaurant.


Ting!!!


Telah sampai pada lantai dimana Lingmei menunggu. dan saat pintu lift terbuka tiba-tiba mata pria tampan sangat tajam melihat Nayla yang berada didepannya. Sedang menunggu untuk turun lift karena Nayla baru saja mengambil menu pesanan untuk meja yang berada di sebelah Lingmei.


Nayla Tak bertemu dengan Lingmei karena ada karyawan lain yang berada di meja Lingmei untuk mengambil menu pesanannya.


"Lohh kok ketemu kamu lagi sih, jangan bilang kamu selalu membuntuti semua aktivitas ku." Ucap Nayla merasa kaget melihat pria tampan didepannya.


"Lagi lagi yang ku dengar darinya perkataan seperti ini lagi. Gadis kecil sungguh percaya diri." Gumam pria tampan dalam hati.


"Nayla. Jaga sikapmu kepada langganan restaurant ini, beri hormat padanya." Ucap karyawan reguler yang mengambil menu pesanan dari Lingmei.


"Maaf" ucap Nayla sambil membungkuk kan badannya. Lalu kepalanya tertunduk tanda hormat.


Saat pria tampan keluar dari lift, secara bersamaan Nayla pun masuk ke lift sambil menurunkan kantung matanya dengan tangan kanan, lalu lidahnya pun keluar dengan tujuan meledek pria tampan yang saat itu melihatnya.


Pria tampan hanya bisa menyeringai. dan Nayla pun berlalu.


Sementara itu semua cheff begitu sibuk memasak semua pesanan pengunjung, tak ingin ada kesalahan dalam memasak tetapi karena sudah terbiasa dengan skill yang cepat jadi makanan nya cepat selesai. dan siap disajikan.


"Nay. Tolong antarkan pesanan ini untuk meja yang berada disebelah mu. Aku ingin ke toilet, kerjakan dengan benar dan fokus. Jangan salah kasih hidangan." Ucap karyawan reguler yang mengajak Nayla bekerja di restaurant tersebut sebagai sampingan.


"Iya kak. Nayla kerjakan dengan sebaik mungkin." Sambil meletakkan hidangan demi hidangan dengan pelan agar tak rusak ke dalam meja dorong restaurant khusus mengantar pesanan.


Nayla pun mengantar pesanan dengan cepat.


"Silahkan menikmati hidangan tuan dan nyonya, semoga pas di lidah dan menggugah selera untuk berkunjung lagi di lain waktu." Ucap Nayla dengan suara lembut dan senyuman yang sangat manis.


Tibalah Nayla dalam meja nya Lingmei. yang saat itu sudah duduk kakaknya dengan memainkan handphone nya.


"Permisi tuan dan nyonya, selamat menikmati santap malamnya. Semoga pas di lidah dan menggugah selera untuk berkunjung ke restaurant kami dilain waktu." Ucap Nayla menunduk sambil menaruh hidangan dengan pelan.


"Wahh.. ibu kecil ada disini juga, ibu kecil hebat bisa bekerja dimana saja. Apakah Meimei boleh memeluk ibu kecil?" Ucap Lingmei bahagia bertemu Nayla dan tanpa menunggu jawaban dari Nayla, Lingmei pun memeluk erat tubuh Nayla.


"Kakak!!! Berhenti memainkan ponselmu lihatlah ibu kecilku, aku ingin sekali memperkenalkan ibu kecil pada kakak."


"Hughhh.. aku sudah tau ibu kecilmu." Ucap pria tampan dalam hati tetap pura-pura tak melihat keberadaan Nayla.


Nayla hanya terdiam tetapi Lingmei terus berbicara.


Dan akhirnya handphone pria tampan diambil oleh Lingmei dengan paksa. Wajahnya yang cemberut karena tak di dengarkan, lalu pria tampan pun melihat Nayla agar Lingmei tak cemberut lagi.


"Kenalkan kak ini ibu kecilku. namanya Nayla sangat cantik dan baik seperti ibu kita." Ucap Lingmei yang terus saja memeluk Nayla.


"Meimei makanlah terlebih dahulu atau makanan nya akan menjadi dingin." Ucap Nayla dengan lembut.


"Kita makan bersama ya ibu kecil. Aku ingin ibu kecil juga makan." Pinta Lingmei dengan gayanya yang lucu.


"Tapi.. gimana ya, ibu kecil harus bekerja. Tak bisa menemani Meimei makan bersama, ibu kecil harus mengantar pesanan pengunjung lain. Gimana kalau lain waktu saja kita makan bersama." Jawab Nayla dengan sedikit keberatan jika harus menemani Lingmei.


"Hmm.. ya sudah dech, lain waktu saja. Tapi aku ingin mengenalkan kakak ku dulu sama ibu kecil. Kak kemarilah.." tutur Lingmei memegang tangan kakaknya dan berkata.


"Silahkan kakak perkenalkan diri."


"Hai gadis kecil, kita sering bertemu. Ternyata bukan aku saja yang melihatmu seperti mendiang ibuku, bahkan adikku juga demikian. walaupun sering bertemu dengan keadaan yang tidak di sengaja tetapi adikku cukup menyukai mu. Maka, aku putuskan untuk berkenalan dengan mu. dan tolong percaya dirimu kali ini tak perlu dikeluarkan." Ucap pria tampan


"Perkenalkan namaku Lingtheo, aku kakak dari Lingmei sekaligus pemilik mall yang selama ini tempatmu bekerja."


"Jadi ini alasannya ia sering terlambat bekerja saat pagi, karena malamnya mengambil pekerjaan lain. Gadis kecil ini sungguh menarik." Ucap pria tampan dalam hati matanya terus menatap Nayla yang terlihat kaget.


"Kakak. Jangan menakutinya, tatapanmu membuat nya tak bisa berbicara."


"Ibu kecil jangan takut ya, kakakku pria yang baik hanya saja dia sedang lapar dan banyak masalah dalam cabang mall, lain kali kita bisa bertemu kembali ya." Ucap Lingmei melihat wajah Nayla dengan lembut.


"Tak mengapa, ibu kecil juga harus pamit ingin melanjutkan pekerjaan lagi, silahkan menikmati makanan nya kembali, mohon maaf. Permisi." Ucap Nayla melepaskan pelukannya dari Lingmei lalu berlalu dengan cepat.


"Kakak tak boleh seperti itu, tapi ya sudahlah Meimei mau makan saja." Ucap Lingmei melupakan kejadian nya.


*****


"Oh ya kak, selama aku berada di Jepang. Aku tak pernah mendengar kabar kak Jia Li, bagaimana dengan penyakitnya? Apakah bisa disembuhkan." Ucap Lingmei membuka percakapan selama makan berlangsung.


"Kamu tak perlu memikirkan nya, tetap fokus pada pendidikan mu saja."


"Bukan begitu kak, aku hanya ingin mendengar kabarnya. Lagian aku baru saja libur kuliah dan pulang kerumah. Kenapa harus fokus belajar disaat libur tiba. Kak? bolehkah aku menemuinya." Ucap Lingmei dengan kedua jari telunjuk bertemu sepertinya Lingmei sangat ingin bertemu orang yang bernama Jia Li.


Tetapi kakaknya hanya terdiam, suasana hatinya sedang tak baik. hingga Lingmei tak berani untuk meneruskan ucapannya lalu melanjutkan makan hingga selesai.


Suasana dalam ruangan sangat hening, hanya terdengar suara dari luar, orang sedang asik bercerita sambil tertawa riang bersama keluarga maupun teman.


Lingtheo memakan hidangan nya dengan pelan, terlihat sedang banyak berpikir. Mungkin saja ia memikirkan orang yang


bernama Jia Li tersebut.


Disamping itu..


"Apakah kamu sudah siap? Aku akan datang dalam lima menit. Tunggu saja.


"Baiklah, aku menunggumu."


Pesan singkat lewat aplikasi canggih.


yahh. Pesan itu baru saja dilakukan oleh Rakha dan Rina. Mereka berjanji akan menonton film bioskop bersama.


Tin..Tin..Tin..!!!


Suara kelakson dari mobil Rakha yang berhenti tepat dirumah Rina. Rina yang menunggu didepan pagar pun berlari menuju mobil Rakha.