
Beberapa hari kemudian...
"Emm.. Meimei? Apakah sedang sibuk?." Ketik Rakha di handphone nya. Tak lama kemudian Meimei membaca pesan dari Rakha.
"Enggak terlalu sibuk koqq. Ada apa Rakha?." Tulis Meimei setelah membaca pesan dari Rakha. Tak lama kemudian handphone nya berbunyi.
"Halo?. Ada apa Rakha?." Tanya Meimei
"Kalau gak sibuk jalan yuk?." Ucap Rakha.
"Serius mau ajak jalan? Aku sih mau aja. Emangnya mau kemana?." Ucap Meimei antusias.
"Nahh itu masih bingung mau kemana nya. Ada ide gak?." Tutur Rakha lagi.
"Bagaimana kalau kita nonton bioskop aja?." Ide Meimei tapi Rakha sangat trauma dengan itu.
"Aku gak suka begituan, ada yang lain?." Tanya Rakha sembari bergetar. Ia masih ingat betul kejadian yang menimpah Rina.
"Oh begitu." Balas Meimei singkat.
"Apakah kamu gak suka saat aku berbicara begini? Maaf aku gak bisa ke bioskop lagi." Jawab Rakha sedih tapi Meimei menjawabnya lagi.
"Hahahaha.. kamu serius banget sih, aku hanya bercanda. Apapun yang membuatmu gak suka detik itu juga aku gak akan menyukainya sama seperti hal yang kamu rasakan."
"Hughh.. aku kira kamu marah, bercanda mu bikin kaget aja. Bagaimana kalau kita pergi ke Harbin ice festival?." Ajak Rakha semangat.
"Deall !! Ketemuan disana aja ya. Gak usah jemput."
"Yeyyy.. aku tunggu jam 8 malam oke."
"Oke dech, walaupun aku belum pernah ke festival itu tapi aku yakin pasti indah." Ucap Meimei.
Selama ini Meimei tinggal di Jepang, perayaan di China sering kali tak pernah dikunjunginya. Baru kali ini dia pergi mengunjungi wisata musim salju di China, tentu membuat Meimei sangat bersemangat untuk pergi kesana.
"Mengapa? Kan belum tahu tempatnya seperti apa. Massa udah yakin akan keindahannya."
"Karena tempat terindah itu bukan dimana tapi dengan siapa?." Ungkap Meimei lembut.
"Terimakasih, sering kali membuat hatiku bergetar mendengar apapun yang kamu katakan."
"Hahaha.. intinya dimana aja asal bersama kamu pasti akan membawa kebahagiaan untuk ku."
Meimei sangat romantis dalam berbicara dan Rakha jadi baper dibuatnya. Semakin nyaman dekat dengan Meimei karena membawa aura yang sangat positif dalam hidup Rakha.
"Hehe kamu bisa aja." Tutur Rakha. "Ingin ku berkata aku mencintaimu tapi mengapa sulit sekali." Gumam Rakha dalam hati nya.
"Ya, sudah dulu ya. Aku ingin mempersiapkan beberapa pakaian untuk kesana nanti."
"Iya aku percaya padamu, anak desainer gak mungkin salah dalam memilih." Ujar Rakha.
"Hahahaha.. sama seperti mu. Satu frekuensi kan kita kalau begitu semangat kuliah dari awal lagi."
"Semangat dong, kan ada kamu yang menemani."
"Hehe, yaudah yaa bye." Ucap Meimei mengakhiri sambungan telepon nya. Rakha hanya tersenyum memandang handphone nya kemudian ia juga bersiap untuk pergi ke Harbin ice festival.
Harbin, ibu kota provinsi Heilongjiang yang dingin di ujung utara Cina, menjadi tuan rumah festival patung es terbesar di Cina setiap musim salju. Acara ini berakar dari tradisi kuno pembuatan lentera es di daerah ini. Lentera tersebut kini digantikan oleh patung cantik berukuran besar yang terbuat dari es, plastik, dan lampu warna-warni. Banyak turis yang terkejut saat merasakan betapa dinginnya daerah ini di musim dingin, namun suhu rendah tersebut membantu pameran es luar biasa karya seniman lokal dan internasional ini untuk bertahan di luar ruangan. Olahraga musim dingin seperti seluncur salju dan kereta luncur adalah atraksi lain yang populer.
"Percuma memakai gaun indah tetap ditutupi oleh sweater yang sangat tebal. di musim salju orang-orang lebih memilih untuk diam dirumah tapi festival kali ini gak boleh lewat begitu saja. Aku juga akan membawa syal yang tebal agar enggak dingin. Yang ini bagus. Oke, yang ini juga." Ucap Meimei berbicara sendiri sembari melihat pakaian yang akan dikenakannya.
Setalah siap berangkat Meimei sangat gembira tapi belum keluar rumah matanya tertuju pada anak kecil yang merasa sendiri, wajahnya yang ditekuk membuat Meimei berpikir apa yang sedang dipikirkan oleh Putra.
"Apalagi yang bisa aku lakukan kak, bahkan teman bicara pun tak ada. Andai orang tuaku masih ada aku tak akan mungkin kesepian seperti ini. Kak Nayla sudah meninggalkan ku, aku tak disayanginya lagi." Ungkap Putra mengutarakan apa yang ada dibenaknya.
"Sayang.. Putra tidak boleh berkata seperti ini, jika kak Nayla mendengar nya pasti sangat terluka. Kakak tetap menyayangimu, hanya saja tugasnya sebagai seorang ibu tidak bisa ditinggalkan. Dia menemani suaminya pergi itu juga sebagian dari tugasnya, kelak jika kau dewasa pasti akan mengerti. Selama ini dari kau masih kecil dialah yang merawat mu, sekarang tugasnya jadi lebih banyak. Saat Putra bisa sendiri maka lakukanlah tanpa meminta bantuan kak Nayla ya." Sahut Meimei dengan lembut. Ia tak ingin Putra berpikir jahat tentang kakak iparnya itu.
"Aku berterimakasih untuk itu, maaf. Aku hanya bosan berada dirumah ini. Kak Nayla pergi ke Jepang bersama kakak ipar membuatku makin kesepian." Tutur Putra.
"Baiklah, mengapa harus memikirkan mereka. Aku juga sebagai adiknya merasa kesepian. kalau begitu kita akan bersenang-senang malam ini." Ucap Meimei dengan semangat.
"Apa maksudmu dengan bersenang-senang, kakak bilang anak seumur ku tidak boleh melakukan hal yang orang dewasa lakukan. Katanya itu sangat berbahaya bagiku." Ujar Putra dengan kewaspadaan yang sangat tinggi.
"Haishhh.. maksudku, aku akan mengajakmu pergi jalan-jalan ditengah keramaian. Jika kau tak ingin ya sudah aku pergi sendiri saja." Tutur Meimei.
"Ehh tunggu kak, setelah dipikir-pikir kakak adalah orang ketiga yang baik padaku jadi aku akan ikut bersama kakak."
"Kalau begitu pergi ambil pakaian tebal karena cuaca sangat dingin." Ucap Meimei perhatian.
Setalah sejam perjalanan mereka sampai di tempat wisata musim dingin dengan pemandangan pahatan patung es yang menakjubkan.
"Wahhh.. ini sangat indah, terimakasih kak udah mengajak ku ke tempat seindah ini. Aku sangat bahagia kak ini pertama kalinya aku melihat pemandangan seindah ini." Ujar Putra bahagia.
"Syukurlah jika kamu menyukainya." Balas Meimei sembari menggendong Putra. Ia sangat menyayangi Putra walaupun tidak ada hubungan darah diantara keduanya. Tak lama Meimei melihat Rakha yang sudah menunggunya ditempat perjanjian.
"Hai.. udah lama kah?." Sapa Meimei
"Emm.. belum terlalu lama, ehh ada Putra juga ya? Aku pikir hanya kamu yang kesini." Ucap Rakha.
"Ahh itu, aku sengaja ajak Putra karna kan dirumah sepi. Kakak dan kakak ipar pergi ke Jepang bulan madu. Hihihi.." Tutur Meimei tertawa.
"Hahahaha.. kakak yang sangat baik, Putra ayo turun biarkan kakak yang gendong." Ujar Rakha.
"Emm.. kak Mei, bolehkah aku turun saja? Aku ingin berjalan ditengah salju." Pinta Putra dengan sopan dan Meimei hanya membalasnya dengan senyuman.
"Hati-hati ya, jangan pergi jauh. Selalu dekat dengan kakak jika ingin bermain bilang kakak dulu." Ujar Meimei sangat perhatian pada Putra.
"Iya, kakak mari kita pergi melihat patung es yang lain. Aku ingin bermain seluncur salju juga boleh tidak?." Balas Putra bergembira. Ia ingin melakukan banyak hal padahal cuaca sangat dingin.
"Boleh saja tapi jangan lama-lama ya. Kalau tidak kau akan sakit." Ucap Meimei dan Rakha juga mengikuti kemanapun mereka pergi.
"Tempat yang kau pilih sangat bagus aku sangat senang. Baru kali ini melihatnya" Sambung Meimei sembari mengambil beberapa gambar Putra yang sedang bermain lalu mengirim kan nya pada Nayla.
"Syukurlah jika kamu suka, aku juga menyukai mu." Balas Rakha yang ikut mengambil gambar Meimei di handphonenya. Ia tersenyum melihat Meimei yang saat itu fokus pada Putra.
"Apa katamu?." Tanya Meimei lagi.
"Emm.. maksudnya aku menyukai juga tempat indah ini, siapa pun yang melihatnya pasti akan menyukainya kan." Jawab Rakha mengalihkan pembicaraan awalnya tetapi masih fokus pada Meimei dan Meimei menjawabnya.
"Tentu, makasih ya udah ajak aku ke tempat ini. Pakailah syal jika keluar musim dingin begini." Meimei memberikan syal yang sengaja dibawa nya dari rumah karena Meimei tahu jika Rakha pasti tidak akan memakai syal.
"Koqq kamu tau kalo aku gak pake syal?."
"Pria cenderung melupakan hal-hal kecil seperti ini." Jawab Meimei bantu memakai kan syal ke Rakha dan Rakha menerimanya dengan bahagia.
"Makasih ya." Mereka pun menikmati setiap keindahan yang tercipta.
(Harbin ice festival, China.)