ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C83. Nathe dan Lathe



15 Tahun kemudian... Kehidupan begitu indah yang dirasakan oleh kedua sepasang kekasih dalam mengarungi bahtera rumah tangga hingga suatu saat...


"Lathe... Ayo buruan nanti telat loh.." Ucap Nayla pada anak perempuannya. Sifatnya sama persis dengan nya, sangat repot bagi seorang ibu dengan anak yang susah bangun pagi karena harus buru-buru saat sekolah. Usianya yang kini tak muda lagi itu membuat nya kewalahan.


"Iiihhh Mommy kenapa sih selalu mengantar ku, aku bisa loh pergi sendiri. Seperti anak kecil aja selalu diantar kayak gini." Gerutu Lathe.


"Usia mu bentar lagi 16 tahun tapi belum bisa membuat mommy tenang, sikapmu juga seperti ini pada mommy bagaimana mommy gak khawatir."


"Hmm.. mommy khawatir berlebihan terus, aku gak bakal membuat kekacauan koqq. Mommy, biarkan aku menyetir sendiri ya." Ucap Lathe yang langsung mengambil kunci mobil dari tangan ibunya itu lalu bergegas pergi meninggalkan ibunya.


"Latheee.. anak ini selalu bertindak semaunya." Teriak Nayla memanggil nama anak nya tetapi percuma saja, setelah dewasa anak punya pemikiran sendiri. Ia membiarkan Lathe yang pergi sendiri tanpa di antar nya.


Mempunyai anak kembar memiliki tantangan tersendiri sebagai orang tua, sifat keduanya sangat berbeda. Jika Lathe lebih periang Nathe malah sebaliknya, jika Nathe mempunyai pemikiran dewasa Lathe malah sebaliknya. sifat Lathe sangat kekanak-kanakan membuat Nayla tidak bisa tenang dalam memikirkan nya. perempuan dan laki-laki tentu berbeda tetapi sangat bersyukur mempunyai anak seperti mereka. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu sejak kelahiran keduanya Nayla dan Theo tak ingin memiliki anak lagi.


"Eemm.. daripada pergi sekolah mending ke kampus kakak aja dech, ada kesempatan baik mengapa gak di manfaatkan. bisa jauh dari mommy sangat membuatku senang, orang tua mana mengerti arti kebebasan. Jika sudah menikah mana bisa pergi ke club' minum wine sampai mabuk, huff.. gak ingin cepat menjadi orang tua. Nathe sangat kuno gak bisa di ajak seperti ini." Gumam Lathe memutar balik arah, ia mengemudi dengan kecepatan tinggi ke kampus kakaknya.


"Dokter..!!" Panggil seorang perawat.


"Yahh.. apa keadaan nya makin buruk?." Tanya dokter yang berlari menghampiri ruangan Jia.


"Tidak dokter, nyonya Jia sudah melewati masa kritis nya dan saat ini sudah siuman."


"Apa? Benar-benar mukjizat. Dia memiliki kesempatan hidup kembali sangat beruntung." Sahut sang dokter kaget sekaligus bahagia.


Dokter tampan yang selama ini dengan penuh kesabaran menjaga Jia Li antara hidup dan mati. terus menunggu dan berdoa untuk perempuan yang selalu menjadi prioritas nya dalam bekerja. Kini ia dapat melihat perempuan yang ada dalam doa nya dengan keadaan sangat baik.


"Syukurlah semua nya dalam kondisi baik, penyakit yang di derita selama ini juga sudah hilang tanpa bekas. Nyonya? selamat datang kembali dalam hidupmu." Ucap dokter Rangga.


"Terimakasih dokter telah merawatku selama ini, emm.. apakah aku tertidur sangat lama? Karena seluruh tubuh ku terasa kakuh." Jawab Jia.


"Sangat lama. lebih dari 10 tahun nyonya, tapi bersyukurlah diberi kesempatan bertemu kehidupan baru. Aku turut berbahagia." Ucapnya.


"Apa??? Selama itu. Wajahku sudah tua dong, apakah Theo akan menerimaku? Tidak, aku harus terlihat cantik di depan nya. Dokter jangan bilang jika aku sudah sadar ya, aku ingin merawat diriku dulu. Sangat tidak percaya diri dengan kondisiku yang sekarang." Sahut Jia yang segera melihat kaca dan dokter Rangga hanya menatap nya.


"Dokter? Kau mendengarkan ku?." Tanya Jia.


"Selama puluhan tahun ini aku selalu menjagamu, menghabiskan sisa umurku demi merawatmu, saat kau di nyatakan sembuh orang pertama yang kau tanyakan adalah pria itu. Peduli ku selama ini mungkin hanya kau anggap sebagai dokter dan pasien saja. Tapi kenapa denganku? Terasa sakit di hatiku padahal tak ada ikatan hubungan dengannya apakah mungkin aku menyukainya? Tidak, ini pasti ada kesalahan. Karena aku terlalu bahagia melihat pasienku yang kuat berjuang untuk hidup. Yah, benar seperti ini." Gumam dokter dalam hatinya.


"Rangga?." Panggil Jia dan dokter Rangga pun tersadar dari pemikiran nya.


"Eh, hah? Ada apa nyonya, apa yang dirasa?"


"Ahh.. dokter tak perlu sungkan, panggil Jia saja. Kita seumuran kan? Panggilan mu sangat formal. Oya aku tadi bicara jangan sampai Theo tahu dulu ya, bantu aku agar pulih dengan cepat dong." Pinta Jia pada dokter Rangga.


Sementara Lathe telah sampai di kampus dengan bangunan megah tempat Xinyue menuntut ilmu.


"Kakak? Usshhhh... Kak! WOII.." Panggil Lathe dalam mobilnya, ia melihat Xinyue sedang duduk santai dengan gadget nya.


"Lathe!! Kenapa kamu disini dek, bukannya sekarang masih jam belajar ya." Ucap Xinyue heran melihat adiknya tiba-tiba muncul di hadapan nya. Dan Lathe menjawabnya.


"Kakakkk... Naik mobil dulu dech."


Xinyue pun mengikuti perkataan Lathe, ia naik mobil dengan cepat. Lalu bertanya pada Lathe.


"Ada apa sih dek? Mommy mana? kenapa kamu menyetir sendiri, jika Dady tahu kau pasti habis."


"Haishhh.. kenapa sih kakak takut banget sama mereka, paling di marah sedikit nanti juga baik lagi. Orang tua kasih peluk dan cium aja luluh kembali koqq." Jawab Lathe.


"Bukan begitu dek kasihan lihat mommy marahin kamu terus, selalu bandel dan gak mau nurut beda banget sama Nathe." Sahut Xinyue.


"Hmphhh.. kalau kakak naik mobil hanya untuk berkata seperti ini lebih baik kakak turun aja. Aku yang dimarahin kenapa jadi kasihan sama mommy, kasihan sama aku dong seharusnya!."


"Sudahlah, jadi maksud kamu menemui kakak untuk apa?." Tanya Xinyue serius.


"Emm.. karena aku bisa bawa mobil tanpa adanya mommy yang artinya kita bebas. Jadi, bagaimana jika kita pergi bersenang-senang ke kelab malam minum wine dan dugem, oke kan? Kapan lagi kayak gini kak mumpung masih muda. Sejenak lupakan semua peraturan dunia yang bikin kepala pusing." Jawab Lathe memberi tahu tujuan nya.


"Gak mau ahh nanti mommy dan Dady marah. Kita harus bagaimana? Walaupun sangat asik sih tapi bikin jantungan jika ketahuan mereka." Tolak Xinyue tetapi Lathe terus merayu kakaknya itu.


"Ayolah kak! Sebentar aja koqq gak bakal ketahuan, bilang aja ada tugas belajar bareng temen jadi pulang nya sedikit telat. Ini kesempatan bagus loh! gak bakal datang dua kali, sayang sekali jika dilewatkan begitu saja."


"Iya juga sih, tapi jangan sampai mabuk ya."


"Eeemmm.. gak bakal mabuk, kita cari cogan juga siapa tahu bisa jadi pacar." Sahut Lathe.


"Apanya! cowok di kelab kebanyakan gak bener dek, jangan mau ya." Ucap Xinyue mengingatkan.


"Haishhh.. lama-lama kakak seperti mommy banyak ngatur, buat senang-senang aja kak. Bukan buat hubungan serius ngerti gak sih kak!"


"Hmmm.. baiklah." Jawab Xinyue menyerah.


"Nah gitu dong, kita kan bisa kungfu jika mereka macam-macam bisa kita lawan. Tapi sepertinya kakak takut jadi kita gak akan berkenalan dengan cowok manapun di kelab itu." Ucap Lathe mengerti perasaan kakaknya hanya dengan melihatnya.


Mereka pun mencari kelab malam dengan pengunjung yang ramai, dan terpercaya agar tidak menimbulkan masalah bagi keduanya. Walaupun lumayan mahal tetapi Xinyue tetap mengajak Lathe ke kelab itu karena penjagaan nya bagus untuk menikmati malam tanpa gangguan apapun atau kerusuhan yang tak berarti. Xinyue juga menghubungi beberapa teman nya agar ikut bergabung dalam pesta wine dan Lathe juga melakukan hal yang sama. Tak peduli pria atau wanita keduanya dengan cepat mengajak temannya agar lebih seru lagi.