ME AND MY LAST LOVE

ME AND MY LAST LOVE
C88. Lathe Penasaran



"Kakak???." Panggil Lathe pada Xinyue. Ia turun dari mobil karena melihat Xinyue bersama seorang wanita yang tak di kenal nya.


"Lathe? Mengapa akhir-akhir ini jadi sangat rajin menjemput kakak." Ucap Xinyue setelah Lathe mendekatinya.


"Haishhh.. libur panjang sangat membosankan jika hanya di rumah saja. Lebih baik keluar sekalian antar-jemput kakak hehe.. Oya kak Tante ini siapa ya?." Tanya Lathe penasaran.


"Kenalin saya Jia teman masa kecil Dady nya Yuyu." Sahut Jia tersenyum tetapi Lathe malah menatap nya tajam.


"Dady Yuyu? Apa maksud Tante ini." Pikir Lathe.


"Ehmm.. maksudnya teman dekat Dady dek." Ucap Xinyue menjelaskan.


"Oh begitu. Kak! ayo kita pulang mommy udah masak makanan kesukaan kakak loh." Balas Lathe menyeringai ke arah Jia.


"Oya? Marilah." Jawab Xinyue bersemangat.


"Emm.. Lathe masuk mobil duluan ya." Sahut Lathe meninggalkan keduanya.


"Meskipun aku sudah tahu kebenaran nya tapi aku gak bisa melupakan kebaikan mommy. Bagaimanapun juga sedari kecil hanya ada mommy yang menemani ku dengan tulus serta merawat ku layaknya anak kandungnya sendiri. Ibu, beri aku waktu untuk tinggal di sisi mu ya." Ujar Xinyue.


"Tapi kamu juga harus tahu ibu sambungmu itu yang berusaha memisahkan kita, kalau gak ada dia di sisi Dady mu pasti kita gak akan berakhir terpisah. Ibu berjuang sembuh demi kalian jadi, tolong hargai pengorbanan ibu selama ini nak." Jawab Jia menyalahkan kehadiran Nayla di tengah-tengah mereka tapi Xinyue cukup berpikir baik akan semua hal mengenai Nayla jadi ia tak mudah percaya begitu saja. Xinyue mengambil jalan tengah dalam menyikapinya.


Beberapa hari yang lalu Jia terus mendatangi Xinyue di kampus secara diam-diam membuat Xinyue tak bisa mengalihkan pandangannya ke lain sisi. Jia bercerita banyak tentang masa lalu bersama Theo. Hingga mengajak anaknya itu untuk membuktikan kebenaran nya, setelah tes DNA itu terjadi Xinyue baru percaya bahwa Jia adalah ibu kandungnya. Menurut pemeriksaan dari beberapa rumah sakit mengeluarkan hasil Gen nya bersama Jia lebih cocok daripada Nayla. Awalnya Xinyue sangat shock mengetahui kebenaran itu dan ingin langsung menanyakan pada Nayla dan juga Theo. Tapi hatinya berpikiran pasti ada alasan dibalik semua kebenaran ini.


"Aku juga ingin tinggal di keluarga yang lengkap dengan identitas keluarga kandung. Bisakah ibu bersabar lebih?." Sahut Xinyue memeluk Jia dengan erat. Ia meminta agar Jia menunggu keputusan apakah akan tinggal di rumah Jia tanpa peduli Nayla setuju atau tidak.


"Baiklah Ibu akan bersabar untuk itu. Ibu sangat merindukanmu dan Dady. Lain hari ajak lah Dady untuk bertemu Ibu walaupun hanya makan malam bersama atau beberapa jam saja ya. Kamu pasti menginginkan suasana seperti ini kan?." Pinta Jia.


"Iya, aku pasti akan merasa sangat senang jika kita bisa berkumpul Bu, ya sudah Yuyu pulang dulu mohon Ibu jaga diri baik-baik ya." Balas Xinyue.


"Hati-hati di jalan ya nak." Senyum Jia setelah melihat Xinyue semakin menjauh dari sisi nya.


"Gak di sangka saat berhasil keluar dari sakit belasan tahun malah takdir berubah dari sebelumnya, andai dulu gak keras kepala ingin bercerai pasti Theo tetap setia." Gumam Jia.


Setelah berlalu cukup lama akhirnya Nayla melihat anak-anak sampai rumah dengan selamat. Ia khawatir jika Lathe akan mengajak Xinyue berkeliling kota karena anak itu selalu nekat. Tentunya rasa khawatir Nayla sedikit berlebihan melihat anak nya sudah tumbuh dewasa sejatinya bisa melindungi diri sendiri. Mungkin karena Nayla sangat menyayangi mereka, ia ingin menemani anaknya lebih lama lagi karena dahulu kasih sayang orang tua nya hanya sebentar saja dirasakannya.


Ia tak ingin anaknya merasa nasib yang sama seperti dia dan Theo.


"Syukurlah kalian sudah sampai. Bagaimana di kampus lancar dalam belajar nya kah?." Tanya Nayla pada Xinyue.


"Lancar mommy, Oyaa.. Yuyu langsung ke kamar saja ya." Jawab Xinyue seadanya.


"Apa enggak mau makan dulu? Terlalu lelah seharian berada di kampus ya." Tanya Nayla lagi. Agak heran baginya mendengar jawaban Xinyue karena biasanya anak itu akan semangat bercerita padanya dan langsung ingin makan tapi beberapa hari ini selalu berada di kamar.


"Iya mommy aku masuk ke kamar dulu ya?."


"Nak? Gak ada masalah kan? Jangan sungkan bicara kalau ada masalah atau mengganggu pikiran mu. Mommy gak mau kau menjadi lebih kurus lagi atau jika ada masalah mengenai percintaan bisa langsung tanyakan pada mommy. ya?." Ucap Nayla perhatian.


"Mommy jangan khawatir ya Yuyu baik-baik saja tapi belakangan ini memang tugas kuliah lagi menumpuk jadi mengerjakan nya dalam kamar lebih nyaman. Nanti Yuyu akan keluar saat jam makan." Ucap Xinyue menutupi semuanya.


"Baiklah jangan memaksakan diri ya. Jika ada yang gak di mengerti tanyakan saja pada aunty Meimei." Jawab Nayla sembari mengelus rambut Xinyue.


"Iya Yuyu pasti akan bertanya, mommy? Yuyu kembali ke kamar ya." Jawab Xinyue.


"Iya sayang." Balas Nayla singkat. Ia melihat Xinyue berlalu dari hadapannya tetapi matanya mengalihkan pandangannya ke orang di depannya.


"Hmm.. ingin makan bersama mommy?." Tanya Nayla. Dan Lathe hanya mengangguk.


"Mommy ada hal yang ingin Lathe tanyakan."


"Bertanya saja walaupun bukan hal yang penting pasti mommy jawab koqq."


"Emm.. siapa bilang gak penting! Apa di mata mommy Lathe ini hanya anak yang pembangkang?."


"Aiyoyoo wajahmu terlihat kesal ya?." Ledek Nayla melihat raut wajah anak bungsu nya itu.


"Hah.. sudahlah perkataan ku memang gak pernah penting dihadapan mommy." Sahut Lathe.


"Hahaha mommy hanya bercanda, cepat katakan apa yang ingin kamu tanyakan!." Ujar Nayla.


"Emm.. beberapa hari ini Lathe selalu melihat wanita seumur Dady mendekati kakak. Mereka sangat akrab bahkan berpelukan dan wanita itu selalu mencium rambut kakak. Aku pikir ini aneh jadi aku keluar mobil untuk melihat lebih dekat lagi. Belum pernah melihat wanita ini selama hidup 16 tahun jadi itu terasa sangat asing bagiku tapi melihat kakak ia sangat dekat, apa aku saja yang belum mengenal wanita itu?." Ucap Lathe serius.


Nayla langsung menghentikan makan nya lalu meletakkan sendok ke tempat semula, ia berpikir banyak tentang perkataan Lathe.


"Apa kamu gak bertanya langsung pada kakak?." Tanya Nayla sembari menatap Lathe.


"Emm.. enggak sih, selama di mobil ia juga banyak melamun tapi wanita itu sempat mengenal kan dirinya pada Lathe. Ia berkata jika dia adalah teman masa kecil Dady, karna penasaran aku jadi bertanya pada mommy. Mommy? Mommy pasti tahu kan teman masa kecil Dady? Tapi koqq bertemu kakak hanya di kampus aja ya. Mengapa ia gak mau datang langsung kerumah kita." Jawab Lathe sangat heran dengan kejadian ini.


"Apa mungkin itu Jia? Apa Yuyu udah tahu bahwa dia bukan anak kandung ku? Apakah Theo juga tahu perihal ini? Dia telah kembali apa mungkin ingin mengambil semuanya dariku?." Pikir Nayla.


"Teman masa kecil ya? Namanya Jia bukan?." Ucap Nayla santai padahal hatinya sangat bimbang.


"Ya. Mommy tahu juga ya? Kalau begitu mengapa ia gak mau main kerumah kita mom?." Tanya Lathe.


"Mungkin belum saat nya aja. Setahu mommy sih dulu wanita itu sakit keras bahkan gak ada kesempatan untuk hidup tapi ternyata dia berhasil sembuh. Menurutmu apakah Dady sudah mengetahui nya?." Balas Nayla serius.


"Menurutku sih kalau begitu harusnya Dady sudah tahu ya, karna kan teman masa kecil gak bisa di lupakan walaupun gak terlalu penting tapi pasti Dady masih ingat." Jawab Lathe terus terang.


"Apakah mungkin yang dikatakan anak ini benar, aku gak pernah punya teman semasa kecil tapi melihat Putra dan Qiara berteman sejak kecil itu juga sudah membuktikan bahwa pertemanan mereka gak akan tergantikan. Bahkan Putra gak mau jauh dari Qiara. Haishhh.. aku harus bagaimana sekarang? Gak bisa tenang memikirkan Theo dan Jia. Jika cinta lama bersemi kembali aku bisa apa?." Gumam Nayla dalam lamunan.


"Mommy jangan berpikir banyak dulu ya. Jika Dady pulang sebaiknya tanyakan langsung saja, aku yakin koqq Dady pasti akan jujur sama mommy." Sambung Lathe karena melihat Nayla terdiam.


****